Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Tekad Dan Dendam
Robby tidak berusaha mendorong tubuh Brian yang masih mencengkeram kerah kemejanya.
Pria yang telah memasuki usia kepala lima itu justru mengangkat satu tangannya, kemudian menyentuh bahu Brian dengan tenang.
"Tuan Muda..."
Brian masih menatapnya tajam.
"Keadaan Tuan Besar menurun sekitar dua jam yang lalu," ucap Robby.
Cengkeraman Brian perlahan mengendur.
Robby menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Dokter mengatakan kondisi beliau masih sangat kritis."
Brian akhirnya melepaskan kerah Robby sepenuhnya, ia mundur satu langkah, lalu segera kembali mengambil map hitam yang tergeletak di atas meja.
Tangannya membuka lembar terakhir surat wasiat tersebut.
Matanya kembali jatuh pada sebuah nama yang sangat ia kenal.
Barra Prayoga Aristama.
Di bawah nama itu terdapat tanda tangan yang tidak mungkin salah, tanda tangan milik kakeknya.
Brian terdiam.
Wajahnya memerah, bukan karena kesedihan, melainkan karena amarah yang sedang ditahannya.
Urat-urat di sisi pelipisnya terlihat menegang.
Jemarinya mencengkeram sisi berkas itu begitu kuat hingga beberapa lembar kertas di dalamnya mulai kusut.
Kakeknya...
Bahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri, pria tua itu masih meninggalkan satu amanah yang harus ia jalankan.
"Tuan Muda." Suara Robby kembali terdengar. "Anda sebaiknya menjenguk Tuan Besar."
Brian tidak menjawab.
"Jika beliau masih bisa mendengar..." Robby berhenti sejenak. "Mungkin suara Anda dapat membuat beliau mengetahui bahwa amanahnya akan dilanjutkan, dan semoga akan membuat keadaan beliau kembali stabil."
Brian perlahan mengangkat kepalanya, tatapannya berubah, tidak lagi hanya dipenuhi amarah.
Kini ada sesuatu yang jauh lebih kuat di sana.
Tekad.
"Baik." Suaranya terdengar rendah. "Aku akan melakukannya."
Brian menutup map tersebut.
Dan sejak saat itu, tekadnya untuk membawa Rania kembali ke sisinya terasa semakin kuat.
Begitu pula dendamnya kepada Daffa.
Pada awalnya...
Brian hanya ingin memberikan pelajaran kepada Rania.
Mereka memang sudah bercerai.
Namun Brian tidak pernah berniat membiarkan Rania menjadi milik pria lain.
Ia ingin membuat wanita itu menyadari bahwa meskipun pernikahan mereka telah berakhir, Rania tetap tidak akan mudah melepaskan diri darinya.
Karena perlahan, ia akan membuat Rania kembali kepadanya.
Terlebih sekarang, wanita itu sedang mengandung darah dagingnya.
Anak yang seharusnya mereka jaga bersama.
Namun semuanya berubah setelah Brian mengetahui keberadaan Daffa.
Sahabat yang selama ini ia percaya.
Sahabat yang bahkan ia titipi Rania ketika dirinya berada dalam keadaan terpuruk setelah kecelakaan.
Brian mengira Daffa akan menjaga Rania.
Namun ternyata...
Daffa justru memanfaatkan keadaan ketika Brian terbaring tak berdaya, Daffa membawa Rania pergi.
Sungguh...
Itu adalah langkah yang sangat cerdas, dan sekaligus pengkhianatan yang tidak akan pernah Brian lupakan.
Brian mengepalkan tangannya. "Daffa..." Nama itu keluar dari bibirnya dengan suara dingin.
Persahabatan mereka telah retak.
Tidak.
Mungkin lebih tepatnya. Sudah hancur.
Kini Brian tidak lagi merasa bingung mengenai apa yang sebenarnya ia inginkan.
Rania Almira.
Wanita itu telah membawa hatinya pergi. Membawa bagian dirinya yang selama ini tidak pernah ia sadari. Dan kini, Rania juga membawa benih cintanya.
Anak mereka.
Brian mengembuskan napas panjang. "Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang."
Robby menatapnya.
Brian menoleh kepada pria itu. "Aku akan membawa Rania kembali."
Tatapannya begitu yakin.
"Dan aku akan memastikan Daffa menyesali apa yang telah dia lakukan." Brian kemudian melirik serpihan kaca dari vas bunga yang masih berserakan di lantai.
Pernikahannya telah retak.
Persahabatannya juga telah hancur.
Namun kali ini...
Brian tidak berniat membiarkan semuanya berakhir begitu saja.
Ia akan merajut kembali rumah tangganya bersama Rania. Dan bersama anak mereka.
Namun sebelum Brian sempat melangkahkan kaki menuju pintu, terdengar suara.
Klik!
Pintu kantor terbuka.
Rio masuk dengan langkah cepat. "Tuan."
Brian menoleh.
"Ada informasi baru," ucap Rio.
"Katakan?" tanya Brian.
Rio berhenti beberapa langkah di hadapan Brian. "Kami menemukan kemunculan mobil milik Tuan Daffa di sebuah rumah sakit di Kota Laven."
Tatapan Brian langsung berubah. "Daffa?"
Rio mengangguk. "Ya, Tuan."
Brian yang sebelumnya hendak pergi menjenguk kakeknya, kini kembali berhenti.
"Apa yang dia lakukan di sana?" tanya Brian.
"Salah satu orang yang saya tugaskan mengikuti pergerakan Daffa melihatnya membawa Nyonya Rania ke rumah sakit."
Brian terdiam.
"Nyonya Rania menjalani pemeriksaan ke dokter kandungan dan dokter mata."
Sorot mata Brian berubah semakin dalam. "Kandungan..." gumam Brian lirih.
Tanpa sadar, jemarinya menyentuh cincin yang masih tersemat di jarinya.
Cincin pernikahannya dengan Rania.
Rio melanjutkan, "Kemungkinan besar Daffa ingin memastikan kondisi kesehatan Nyonya tetap terjaga."
Brian memutar cincin tersebut perlahan, meskipun pernikahan mereka telah berakhir, Rania masih menjadi satu-satunya wanita yang memenuhi pikirannya.
Dan Rio tetap menyebutnya Nyonya Rania. Bukan karena status pernikahan mereka. Melainkan karena ia tahu persis bagaimana perasaan Tuannya sekarang.
Dulu Brian mungkin pernah menolak wanita itu. Bahkan sempat menyakiti dan merendahkannya.
Namun kini...
Pria itu telah menyadari bahwa dirinya justru tidak mampu hidup tenang setelah kehilangan Rania.
Rio menundukkan kepalanya. "Saya siap menerima perintah selanjutnya, Tuan."
Brian belum menjawab, tatapannya masih tertuju pada cincin di jarinya.
Sementara itu, Robby melangkah mendekat satu langkah. "Tuan Muda."
Brian mengangkat wajah. "Bicaralah."
Robby membungkuk sedikit. "Jika Anda mengizinkan, saya mempunyai sedikit rencana untuk Anda."
Ketiga pria itu terdiam, namun dari tatapan mereka, seolah sudah ada sesuatu yang mulai tersusun.
Rio akhirnya melangkah mendekat, Robby juga ikut mendekat. Brian berdiri di tengah keduanya, senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya, ketika Robby menjelaskan rencananya.
Pagi itu...
Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang direncanakan Brian Aristama.
Bersambung...