NovelToon NovelToon
OVERRATED

OVERRATED

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Penyesalan Keluarga / Romansa Fantasi
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.

Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.

Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

"Mph...!"

Suara tenggelam itu tertahan di pangkal tenggorokan Parrie. Udara di sekitarnya seolah mendadak lenyap, berganti dengan aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang mengintimidasi dari pria di hadapannya.

Cengkeraman tangan pria itu di belakang kepalanya begitu mengunci, memaksanya menyatu dalam pertautan yang brutal tanpa celah untuk melarikan diri.

Parrie setengah mati menolak, memukul dada bidang bertumpuk kain mewah itu, serta mendorong sekuat tenaga. Namun, upayanya tak lebih dari kepakan sayap burung kecil yang terperangkap dalam genggaman elang.

Ciuman itu justru bergerak semakin dalam, menuntut, dan menyesakkan. Rasa dingin dari jam tangan pria itu menyentuh kulit leher Parrie, memicu sensasi merinding yang menjalar hebat ke seluruh sarafnya. Amarah, kehinaan, dan rasa takut bercampur aduk menjadi satu gumpalan pekat yang menyumbat dadanya.

Hingga akhirnya, pagutan paksa itu terhenti seketika saat sebuah suara pria lain memecah keheningan koridor luar.

"K-Kae... sejak kapan kau jadi eksibisionis?"

Suara itu terdengar santai namun tersirat ketakutan yang samar. Cengkeraman di leher Parrie melonggar perlahan. Pria yang menciumnya menarik wajahnya beberapa inci, memperlihatkan manik mata tajamnya yang masih berkilat tegang, dipenuhi emosi mendalam yang tak bisa dibaca.

Parrie menyandarkan tubuhnya yang gemetar pada batang pohon oak di belakangnya. Ia berusaha mengatur napasnya yang patah-patah, menghirup udara pagi New York seolah-olah baru saja selamat dari tenggelam di kedalaman samudra. Dadanya naik turun hebat, tenggorokannya terasa terbakar.

"Kau mengganggu, sialan," umpat pria itu dingin, suaranya berupa geraman bergelombang rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.

Pria yang berdiri beberapa meter di dekat jalan setapak—pria yang baru saja mengganggu momen gila tersebut—seketika terdiam. Wajahnya yang semula jenaka langsung menyurutkan tawa. Pria bernama Emilio itu mengangkat kedua tangannya ke udara, menampakkan gestur menyerah yang kikuk. "Sorry, Brother. Aku tidak tahu kau sedang... sibuk."

Di saat perhatian pria berkharisma gelap itu teralih sejenak kepada temannya, kesempatan emas itu langsung dimanfaatkan oleh Parrie.

Dengan sisa kekuatan yang terkumpul dari amarahnya yang memuncak, Parrie menghantamkan siku tangannya sekuat tenaga, mengarah tepat ke perut pria di depannya.

UHG!

Hantaman telak itu membuat pria tersebut mengerang pendek dan agak membungkuk, refleks memegangi perutnya. Cengkeramannya lepas sepenuhnya.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Parrie langsung berbalik dan berlari secepat yang ia bisa. Langkah kakinya menerjang rumput basah dan jalan beraspal kampus.

Rasa panas menjalar di pipinya yang memerah akibat malu dan murka.

Sebelum tubuhnya menghilang di balik belokan gedung Fakultas Seni, Parrie memutar sedikit kepalanya dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi—memberikan acungan jari tengah yang tegas ke arah pria itu dari kejauhan.

Emilio yang menyaksikan pemandangan itu terbelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka karena terkejut luar biasa.

"Wah... Kae, kau memaksanya?" gumam Emilio tak percaya. Belum pernah ia melihat ada mahasiswi di kampus ini yang berani memukul—apalagi memberikan acungan jari tengah—pada sosok berbahaya di sebelahnya.

Pria yang baru saja disikut perutnya itu perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Ia tidak mengejar Parrie. Sebaliknya, seulas senyum sinis terukir perlahan di sudut bibirnya saat menatap sosok gadis yang berlari menjauh itu.

Pria itu adalah Dimitriou Kaetos Ashford.

Kaetos menjilati bibir bawahnya yang terasa sedikit asin—mungkin bekas sapuan paksa beberapa detik lalu—kemudian terkekeh rendah, sebuah kekeh dingin yang menyimpan daya hancur. Ia menunduk, matanya menangkap sebuah benda berbalut kulit kusam yang tergeletak di atas rumput basah.

Buku diary milik Parrie yang jatuh saat Penarikan tadi.

Kaetos mengulurkan jemarinya yang panjang dan berkelas, memungut buku harian tua itu. Ia mengusap sampul kulitnya dengan ibu jari secara perlahan. Tidak ada yang tahu apa yang sedang berputar di dalam benak pria Ashford tersebut saat matanya meneliti buku itu.

Emilio yang berdiri tak jauh darinya mendadak menelan ludah dengan susah payah. Melihat tatapan Kaetos yang berubah samar dan sukar ditebak, Emilio memilih untuk menutup rapat mulutnya, berusaha mematung dengan tenggorokan yang terasa mencekat.

Sementara itu, Parrie berlari tanpa henti hingga langkah kakinya membawanya tiba di depan pintu kaca tebal Gedung Administrasi Utama. Gadis itu bersandar pada pilar batu yang dingin, bersedekap, dan berusaha keras mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

Jantungnya masih berdegup bagai ditabuh genderang perang. Sentuhan kasar, kehangatan yang tak diundang, dan rasa terkoyak dari ciuman tadi... ah, tidak! Dia dipaksa.

Dia dilecehkan secara terang-terangan di area terbuka kampus ini. Parrie memejamkan mata erat-erat, meremas jemarinya sendiri. Ia sudah berusaha menolak dan melawan sebisanya, namun perbedaan tenaga yang mencolok membuatnya merasa begitu lemah.

"Parrie Rose?"

Suara panggilan lembut dari arah depan membuyarkan lamunan Parrie yang bisa-bisanya masih terngiang dengan ciuman serta sentuhan pria asing nan mesum tadi. Parrie tersentak pelan, cepat-cepat merapikan rambutnya yang agak berantakan.

"I-iya, Bu! Saya!" jawab Parrie cepat.

Di balik meja pelayanan, seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi dengan kaca mata menggantung di lehernya tersenyum ramah. Dialah staf bagian kemahasiswaan dan administrasi beasiswa.

"Berkasmu sudah selesai diproses, Sayang. Kartu tanda mahasiswa dan jadwal kuliahmu sudah siap," ujar wanita staf itu seraya menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.

Setelah Parrie menandatangani beberapa dokumen bukti penerimaan, wanita itu melihat jam di tangannya. "Gedung Fakultas Bisnis cukup jauh dari sini, dan kelas pertamamu akan dimulai sepuluh menit lagi. Ayo, ibu kebetulan mau ke arah sana, naik motor matik ibu saja di parkiran belakang."

Parrie sempat tertegun, namun rasa syukur langsung membuncah di dadanya. "Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih..."

Sepanjang perjalanan singkat membelah area kampus yang luas di atas sepeda motor matik sederhana milik staf tersebut, wanita itu menaikkan volume suaranya agar terdengar di balik hembusan angin pagi.

"Nona Rose, dengarkan ibu baik-baik ya," kata wanita staf itu dengan nada penuh perhatian. "Menjadi mahasiswi penerima beasiswa penuh di universitas ini tidaklah mudah. Lingkungan di sini didominasi oleh anak-anak dari keluarga sangat kaya dan berpengaruh. Saran ibu, jauhi hal-hal yang bisa membuat fokus belajarmu terganggu."

Parrie mengangguk pelan dari jok belakang. "Baik, Bu."

"Dan satu hal yang paling penting," lanjut wanita itu memperingatkan dengan nada yang berubah serius. "Jangan pernah ikut campur dengan apa pun yang berkaitan dengan perselisihan orang lain. Biarkan saja. Jangan sok menjadi pahlawan agar kau bisa tenang menyelesaikan studimu di kampus ini. Termasuk... jika kau melihat wanita berambut merah terang, dan pria berkacamata tipis berbingkai emas dikelasmu. Ibu tidak perlu menjelaskan panjang lebar, karena kau akan tahu sendiri alasannya nanti jika sudah lama di sini."

Parrie Rose menyimak setiap kata itu dengan penuh konsentrasi. "Saya paham, Bu. Terima kasih banyak sudah memberi tahu dan mengingatkan saya."

Wanita itu melirik sedikit dari kaca spion motornya, lalu menambahkan lagi, "Satu lagi... jika kau melihat segerombolan pria yang terlihat sering berbuat onar atau berkumpul di area paviliun barat, jangan pernah membuat masalah dengan mereka. Abaikan saja. Anggap mereka tidak ada jika mereka lewat di depanmu. Ibu mengatakan hal ini karena ibu peduli padamu. Banyak anak beasiswa sebelum dirimu yang harus pulang dengan tangan hampa hanya karena berurusan dengan orang yang salah."

Lagi-lagi Parrie mengangguk mantap. Ia sangat memahami realitas sosial seperti ini. Hal-hal terkait diskriminasi dan hierarki kekuasaan sebenarnya sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak ia duduk di bangku High School.

Di dunia orang kaya, aturan dibuat oleh mereka yang memegang uang.

Dan yang paling utama dari seluruh rentetan peringatan itu... Parrie menyumpahi dirinya sendiri untuk menjauhi pria gila tadi—Kaetos.

Ya, pria bertubuh tegap yang tadi melecehkannya di tempat terbuka tanpa rasa bersalah itu bernama Kaetos. Nama yang kini terpatri di benak Parrie sebagai sosok paling berbahaya dan terbelakang secara moral yang pernah ia temui.

Motor akhirnya berhenti tepat di depan pelataran Gedung Fakultas Bisnis yang megah, bertiang marmer putih tinggi dengan arsitektur gaya Yunani modern.

Setelah turun dari motor dan mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya, Parrie membungkukkan tubuhnya dalam-dalam untuk memberi hormat. "Terima kasih banyak atas tumpangannya dan nasihatnya, Bu."

Wanita staf itu tersenyum hangat dan mengangguk pelan. "Sama-sama. Beri tahu ibu di gedung administrasi jika kau membutuhkan sesuatu nanti, ya. Semoga harimu menyenangkan."

"Pasti, Bu."

Parrie membalikkan badan dan langsung disambut oleh kemegahan koridor utama Fakultas Bisnis. Lantai porselen mengilap memantulkan bayangan tubuhnya yang bersahaja. Gadis itu menarik napas panjang, mengusir sisa kemelut emosi yang sempat mengacaukan paginya. Di fakultas inilah ia akan memulai segalanya. Di tempat inilah ia akan membina masa depannya demi menghormati mendiang ibunya dan melepaskan diri dari bayang-bayang hinaan keluarga Ford.

Dengan langkah mantap, ia menyusuri koridor hingga menemukan papan petunjuk menuju ruang kelas utamanya.

Pintu kayu jati berukir itu sedikit terbuka. Parrie memulaskan senyum ceria di wajahnya, berusaha menampilkan kesan positif. Setelah mengetuk pintu pelan dan mendapatkan izin masuk dari dosen paruh baya yang sedang berdiri di depan papan tulis digital, Parrie melangkah masuk.

Suasana kelas yang mendadak hening membuat Parrie segera melangkah cepat agar tidak terlalu lama menjadi pusat perhatian semua orang di ruangan bertingkat yang megah dan luas itu. Kelas sebenarnya sudah dimulai beberapa menit lalu, namun dosen menyambutnya dengan pemakluman sebagai mahasiswi baru.

Parrie mengedarkan pandangannya, mencari bangku kosong yang bisa ia tempati. Di baris ketiga dari belakang, dekat jendela besar yang mengarah ke taman, terdapat satu kursi kosong di sebelah seorang mahasiswa.

Parrie melangkah menuju bangku kosong tersebut. Ia bersiap untuk memberikan senyuman terbaiknya pada teman sebangkunya yang saat itu sedang menunduk, tampak sibuk memutar-mutar sebuah pena mahal di jemarinya.

Namun—

DEG!

Jantung Parrie rasanya berhenti berdetak seketika. Langkah kakinya terpaku di atas lantai.

Mahasiswa yang tadinya menunduk itu perlahan mengangkat kepalanya. Paras tampan yang dingin dengan garis wajah tegas itu kembali terpampang nyata di depan matanya.

K-Kaetos...!

Seketika itu juga, seluruh tubuh Parrie menegang hebat. Darah seolah berhenti mengalir di dalam pembuluh darahnya, meninggalkan rasa dingin yang membekukan jemarinya.

Sementara itu, pria bernama Kaetos yang kini duduk tepat di sebelah bangku kosongnya sudah mengulas senyum tipis. Sebuah seringai puas dan penuh kemenangan terukir jelas di bibirnya yang tebal.

Matanya menatap Parrie tanpa kedip, lalu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, bibir Kaetos bergerak perlahan membentuk dua kata yang sangat jelas dibaca oleh Parrie:

'Hai, Jalang.'

1
Vtree Bona
penjahat nya banyak banget Kak Thor pusying saya kak Thor 🤣
Rosdianah 🌷: author juga pusing 😭🤣🤣
total 1 replies
Vtree Bona
kasian banget sih kaetos trauma nya banyak banget 😭
Vtree Bona
suruh parie cepet bilang sama kaetos kak Thor bahwa papa dia yg jahatin kaetos
Rosdianah 🌷: huhuhu ia nanti author sampaikan ya 🤭🤣
total 1 replies
safaana
meskipun di senggol gak akan marah dia karna lagi sama pawangnya
Rosdianah 🌷: hahha iya lagi🤣
total 1 replies
safaana
berat banget hidupmu kae,meskipun kaya TPI tetap saja menyedihkn
Rosdianah 🌷: huhu🥲
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
masalah kaetos lebih beratt drpd Leander
Rosdianah 🌷: huhu🥲
total 1 replies
Vtree Bona
duh ko aku yg deg deg an yah kak Thor 🤭
Rosdianah 🌷: huhuhu author juga deg degan 🤣
total 1 replies
safaana
trima kasih crazyy up nya thorr
Rosdianah 🌷: okay kak🫶
total 1 replies
safaana
kenapa pas hubungannya membaik godaannya datang dari mana2,,hati2 parrie banyak lintahnya
Rosdianah 🌷: wkwkw lintah darat😭
total 1 replies
safaana
baru saja berdoa,udah ada pengganggunya,,jangan sampai kalah parrie lawan atau bicara sama kae
Rosdianah 🌷: Minim komunikasi 😭🤣
total 1 replies
safaana
semoga lancar2 aja yah hubungannya tanpa ada gangguan dari ular2 betina,dan semoga sehat slalu buat othor,
Rosdianah 🌷: Ma'aciww ya kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
semangat Thor 🔥🔥🔥
update terusss😍😍😍
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 kencangkan komentar biar author semangat 🤭🤣
total 1 replies
safaana
janganlah berburuk sangka dulu parrrie,alangkah bagusnya kau jangan tolak undangannya,jdi bkln tau apa yang di bicarakn
Rosdianah 🌷: nah benar
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
thank you thor up nya
Rosdianah 🌷: sama2 kak🫶
total 1 replies
Lilla Ummaya
Ditunggu kaa
Rosdianah 🌷: siap kak 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak tau aja mommy tessa kalau calon mantun nya badas gak kalah sama pearl
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut banyakk thoor
Lilla Ummaya: Seruu kaka
total 2 replies
Vtree Bona
satu kata buat Kak Thor, MANTAP 🤣
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Vtree Bona
akh jgn sampe parie sama kae berpisah kak Thor
Vtree Bona
jahat banget
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!