NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Langkah Kematian di Koridor Sunyi

Kabut tipis Puncak merayap pelan, menyelip di antara celah-celah pilar beton Rumah Sakit Medika Mulia Bogor. Suasana di sekitar area belakang rumah sakit begitu lengang, hanya diselingi oleh deru angin malam yang berhembus menembus ranting-ranting pohon beringin tua. Di bawah keremangan lampu pendar pelataran parkir, dua bayangan bergerak tanpa suara, menyatu sempurna dengan kegelapan malam.

Tania dan Xander melangkah beriringan menaiki tangga darurat menuju lantai tiga. Tidak ada percakapan di antara mereka, namun koordinasi gerak keduanya terjadi secara alami. Xander bergerak bagaikan sosok pemburu tak kasatmata—setiap tumpuan alas sepatunya pada anak tangga beton tidak menghasilkan bunyi sedikit pun. Di sampingnya, Tania melangkah dengan keanggunan seorang pesilat ulung, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut lorong melalui celah kaca pintu darurat.

Ketika mereka sampai di bordes lantai tiga, Xander menghentikan langkahnya. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat dua jari. Di ujung koridor lantai tiga yang remang-remang, dua orang serdadu bayaran Teratai Merah tampak berjaga di depan pintu ruang ICU Nomor 304. Keduanya memegang senjata laras pendek dengan tatapan mata yang gelisah, tanda bahwa mental mereka telah terkuras oleh kepanikan.

Xander melirik Tania, lalu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sanggup membekukan darah musuh. Tanpa bersuara, Xander menunjuk ke arah penjaga sebelah kiri, sementara Tania mengangguk pelan menandakan ia mengambil penjaga sebelah kanan.

Fuuu...

Dalam satu helaan napas, pintu darurat terdorong terbuka tanpa derit. Tania melesat cepat bagaikan kilat melintasi lantai marmer yang licin. Sebelum penjaga sebelah kanan sempat mengarahkan moncong senjatanya, Tania sudah berada di jarak dekat. Tangan kiri Tania menyambar pergelangan tangan musuh, memutarnya hingga terdengar bunyi patahan tulang yang halus, sementara telapak tangan kanannya menghentam dagu pria itu dengan pukulan Buncang Harimau. Tanpa sempat mengaduh, penjaga itu roboh pingsan ke pangkuan Tania sebelum tubuhnya menyentuh lantai secara perlahan.

Di saat yang bersamaan, Xander menangkap leher penjaga sebelah kiri dari belakang, mencengkeram titik saraf karotisnya dengan teknik taktis melumpuhkan dalam hitungan dua detik. Kedua penjaga itu tumbang tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun atau memicu bel darurat.

Xander menarik tubuh kedua penjaga itu ke dalam ruang penyimpanan linen yang kosong, sementara Tania melangkah mendekati pintu kaca buram ruang ICU Nomor 304.

Melalui celah kaca, pemandangan di dalam ruangan itu membuat dada Tania serasa dihantam bongkahan batu besar.

Di atas ranjang ICU, terbaring sesosok tubuh renta berbalut selimut putih. Kakek Suratman—pria tua berhati emas yang telah memungut Tania dari tepian hutan dua puluh tahun lalu dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang—terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Wajahnya yang keriput tampak sangat pucat, dan monitor detak jantung di samping ranjangnya memancarkan bunyi bip yang lambat dan rapuh.

Di samping ranjang itu, Hendra berdiri dengan kemeja kusut yang basah oleh keringat dingin. Wajah pria itu sangat tirus, matanya merah padam dikelilingi lingkaran hitam bagaikan orang gila. Di tangan kanannya yang gemetar hebat, ia mengacungkan sebuah pistol tepat ke arah dahi Kakek Suratman. Sementara itu, Rika—istri Hendra—sedang berlutut di lantai sambil memeluk sebuah tas duffel hitam besar berisi bundelan uang tunai, menangis histeris tanpa suara.

"Cepat telepon helikopter sewaan itu, Rika!" bentak Hendra dengan suara bisikan yang sarat paranoia. "Kita tidak punya waktu lagi! Baskoro sudah ditangkap! Jika polisi atau wanita iblis itu menemukan kita di sini, kita selesai!"

"Aku sudah meneleponnya sepuluh kali, Mas!" tangis Rika sambil meremas jarinya yang gemetar. "Operatornya bilang penerbangan dibatalkan karena ada blokade udara di seluruh Jawa Barat! Kita terjebak, Mas! Kita akan membusuk di penjara seperti Siska!"

"Diam kau, wanita bodoh!" maki Hendra, matanya makin liar. Ia menekan moncong pistolnya lebih dalam ke pelipis Kakek Suratman yang tak berdaya. "Kita masih punya tua bangkai ini! Selama kita memegang nyawa ayah angkat Tania, wanita itu pasti akan menyerahkan seluruh saham Mawar Hitam dan paspor diplomatik untuk kita kabur!"

Di luar pintu, jemari Tania mencengkeram bingkai pintu kayu hingga kuku-kukunya memutih. Rasa amarah yang membakar dadanya terasa begitu menyiksa. Pria yang di dalam sana adalah pria yang mengajarinya cara berjalan, pria yang selalu membagikan separuh piring nasinya saat mereka kelaparan di desa, dan kini pria tua itu dijadikan umpan oleh manusia berhati iblis seperti Hendra.

Tania menoleh ke arah Xander yang berdiri di sampingnya. Pria berambut perak itu menatap Tania dengan pandangan yang dalam, seolah mengerti penuh penderitaan yang sedang dirasakan oleh wanita di depannya.

Xander memegang bahu Tania lembut. "Masuklah. Aku akan menjagamu dari belakang."

Tania mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang, menetralkan emosi yang bergejolak di dadanya, lalu mendorong pintu sliding kaca ruang ICU tersebut hingga terbuka lebar.

Klek.

Bunyi gesekan pintu kaca itu memecah keheningan ruangan. Hendra dan Rika tersentak hebat, berputar cepat ke arah pintu dengan mata terbelalak ketakutan.

"Jangan bergerak satu senti pun, Tania!" teriak Hendra histeris. Tangannya yang memegang pistol gemetar makin hebat hingga moncong senjata itu bergetar di atas dahi Kakek Suratman. "Satu langkah lagi kau maju, aku akan meledakkan kepala tua bangkai ini di depan matamu!"

Rika menjerit ketakutan, merangkak bersembunyi di belakang ranjang pasien sambil tetap mencengkeram tas uangnya. "Tania! Tolong kami, Tania! Kami ini paman dan bibimu! Kami melakukan ini karena terpaksa! Baskoro yang memaksa kami!"

Tania melangkah masuk secara perlahan. Sorot matanya yang dingin menatap Hendra tanpa ada sedikit pun rasa takut. "Terpaksa, Bibi Rika? Apakah terpaksa juga saat kalian menyiksa Dea setiap hari di rumah itu? Apakah terpaksa saat Paman Hendra mencoba menjual Dea kepada pengusaha asing untuk melunasi utang judi kalian?"

Wajah Hendra memerah padam karena malu dan panik. "Tutup mulutmu! Kau tidak tahu apa-apa! Kami yang membesarkan Dea selama ibunya mati! Kami berhak atas uang Mawar Hitam itu!"

"Kalian tidak membesarkannya," potong sebuah suara berat yang menggelegar dari balik kegelapan lorong di belakang Tania.

Xander melangkah masuk ke dalam ruangan. Postur tubuhnya yang tegap dan balutan jas hitam mahalnya memancarkan aura dominasi yang begitu pekat, membuat ruangan ICU yang sempit itu mendadak terasa sesak dan mencekik. Mata biru Xander mengunci pandangan Hendra dengan dingin.

Hendra terhuyung ke belakang satu langkah, kakinya lemas melihat sosok pria asing yang memancarkan kewibawaan mengerikan tersebut. "S-siapa kau?! Jangan ikut campur urusan keluargaku!"

Xander tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju secara perlahan, setiap jejak langkahnya bagaikan ketukan lonceng kematian bagi Hendra. Xander melepaskan sarung tangan kulitnya, melemparkannya ke lantai dengan santai.

"Nama saya adalah Xander von Hapsburg," ucap Xander dengan nada suara yang begitu tenang namun sanggup merontokkan keberanian siapa pun yang mendengarnya. "Dan pria tua yang kau acungi senjata itu... adalah orang yang telah membesarkan wanita yang merawat putri tunggal saya."

Napas Hendra tercekat. Xander von Hapsburg? Penguasa bayangan benua Eropa yang rumornya sanggup melenyapkan satu klan dalam semalam?

"Kau... kau ayah kandung Dea?" bisik Hendra dengan suara bergetar, peluh dingin bertetesan dari dagunya.

"Turunkan senjatamu," perintah Xander. Ia tidak mengacungkan pistol. Ia hanya berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya, namun tekanan intimidasinya begitu kuat hingga membuat Rika di pojok ruangan menangis tersedu-sedu karena ketakutan yang amat sangat. "Jika kau menurunkan senjata itu sekarang, aku akan memastikan kau mendapatkan hukuman penjara yang adil. Tapi jika jemarimu bergeser satu milimeter saja di atas pelatuk itu... aku akan memastikan seluruh keturunan keluargamu terhapus dari muka bumi sebelum matahari terbit."

Hendra panik luar biasa. Otaknya bekerja liar, menyadari bahwa ia tidak memiliki jalan keluar lagi. Di puncak keputusasaannya, kelicikan Hendra kembali muncul. Ia tidak menurunkan senjatanya. Sebaliknya, dengan tatapan mata gila, Hendra mengalihkan jari telunjuk kiri tangannya ke arah kabel utama mesin pendukung hidup (life support) yang terhubung ke dada Kakek Suratman.

"Kalau begitu kita mati bersama!" raung Hendra histeris. "Aku akan mencabut kabel ini! Biar tua bangkai ini mati kehabisan oksigen!"

Hendra mencengkeram kabel listrik tersebut dan menariknya dengan sekuat tenaga!

"Ayah!" jerit Tania.

Pada pecahan detik yang sangat krusial itu, ketika kabel listrik hampir terlepas dari stopkontak dinding, Tania tidak membuang waktu untuk berpikir. Seluruh dorongan kasih sayang dan rasa sayangnya pada sang ayah angkat meledak menjadi gerakan refleks yang luar biasa.

Tania melompat melewati atas ranjang ICU, memutar tubuhnya di udara bagaikan seekor harimau betina yang melindungi anaknya. Kaki kanannya melesat menghantam pergelangan tangan Hendra yang memegang kabel dengan tendangan lurus yang amat presisi!

PLAK!

Cengkeraman Hendra pada kabel terlepas seketika. Sebelum tubuh Hendra sempat stabil, Tania mendarat di lantai dan melancarkan serangkaian serangan jarak pendek—sikutan keras ke dada Hendra, disusul oleh kuncian leher memutar yang membuat senjata di tangan kanan Hendra terlempar jauh dan jatuh ke lantai marmer.

BRAK!

Tubuh tegap Hendra terhempas keras ke dinding ruangan, lalu tersungkur tak berdaya di lantai. Tania berdiri di atasnya, menekan leher Hendra dengan lutut kanannya, mengunci gerakan pria itu sepenuhnya.

Rika yang melihat suaminya dilumpuhkan dalam hitungan detik mencoba merangkak kabur menuju pintu sambil menyeret tas uangnya. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, Xander sudah berdiri di depannya, menghalangi jalan keluar bagaikan tembok batu abadi.

Xander menunduk, menatap Rika dengan pandangan jijik. Dengan ujung sepatu kulitnya, Xander menggeser tas duffel berisi uang ratusan miliar itu menjauh dari cengkeraman Rika.

"Uang ini tidak akan pernah bisa membeli kebebasanmu, Nyonya," desis Xander dingin.

Dua prajurit elite pimpinan Freya menerobos masuk ke dalam ruangan, langsung memborgol tangan Hendra dan Rika yang kini meraung-raung meratapi nasib mereka. Kedua penjahat yang telah menyengsarakan hidup Dea dan Tania selama bertahun-tahun itu akhirnya terseret keluar dalam kehancuran yang tak tersisa.

Setelah suasana ruangan kembali hening, Tania segera berbalik menuju ranjang ICU. Tangannya yang gemetar menyentuh jemari Kakek Suratman yang dingin.

"Ayah... Ayah, ini Tania..." bisik Tania, air matanya menetes membasahi kasur pasien.

Monitor detak jantung di samping ranjang berbunyi sedikit lebih cepat. Perlahan-lahan, kelopak mata Kakek Suratman yang berat terangkat. Mata tuanya yang kabur menatap wajah Tania yang dipenuhi air mata.

Dengan sisa tenaga yang sangat sedikit, tangan tua yang penuh keriput itu terangkat perlahan, mengusap pipi Tania dengan lembut.

"Tania... anakku..." suara Kakek Suratman terdengar sangat parau, hampir seperti bisikan angin, namun dipenuhi kehangatan yang tak terhingga. "Jangan menangis, Nak... Ayah... Ayah tahu kau pasti datang..."

Tania menggenggam tangan ayahnya, mencium jemari tua itu berulang kali sambil menangis sesenggukan. Rasa takut kehilangan sosok yang paling dicintainya itu akhirnya mencair menjadi keharuan yang luar biasa.

Xander berdiri di tepi pintu, menyaksikan pemandangan emosional tersebut dengan dada yang berdesir hangat. Untuk pertama kalinya, sang penguasa bayangan memahami bahwa kekuatan sejati seorang manusia tidak terletak pada seberapa banyak nyawa yang bisa ia cabut, melainkan pada seberapa besar cinta yang sanggup ia lindungi.

Namun, ketenangan momen itu mendadak terganggu. Ponsel taktis terenkripsi milik Hendra yang tergeletak di atas lantai bekas reruntuhan pertarungan tadi tiba-tiba menyala dan bergetar hebat.

BZZZZT... BZZZZT...

Xander melangkah mendekat, memungut ponsel berlayar hitam tersebut. Di layarnya, tidak ada nomor telepon yang tertera, melainkan sebuah pesan singkat bertuliskan tulisan berwarna merah darah:

“Baskoro dan Hendra hanyalah pion kecil yang mudah dibuang, Dominus Umbrae. Mawar Hitam dan putri kandungmu akan segera kembali ke pemilik aslinya. Sampai jumpa di Zurich.”

Mata biru Xander menajam seketika. Musuh yang sebenarnya—pemimpin tertinggi sindikat Teratai Merah yang selama belasan tahun bersembunyi di balik bayang-bayang—akhirnya menampakkan taringnya. Pertempuran untuk melindungi Dea dan Mawar Hitam belum berakhir; pertempuran itu baru saja berpindah ke panggung utama dunia.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!