NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: DMAM

"Ya Allah..."

Aisyah menarik napas panjang sekali. Napasnya terasa berat, namun ada kejelasan yang sangat mendalam merayapi jiwanya. Rasa ragu yang membayangi hatinya selama berbulan-bulan kini musnah, berganti dengan kesadaran yang sangat benderang.

Ia menatap ibunya. Bu Rahmi pun menatap Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca, seakan menyalurkan kekuatan lewat genggaman tangan mereka yang saling bertautan.

Aisyah lalu menegakkan punggungnya. Ia menatap Tante Rosma dan seluruh keluarga besar yang hadir.

"Tante Rosma, Paman, dan seluruh keluarga besar Mas Dimas yang saya hormati," suara Aisyah terdengar begitu tenang, sangat jernih, dan seketika menghentikan seluruh bisik-bisik di ruangan.

"Ya, Aisyah? Kenapa? Kamu mau bilang makasih karena Mami sudah siapkan semuanya?" seru Tante Rosma seraya membetulkan letak selendangnya.

Aisyah menggeleng perlahan dengan senyuman tipis yang sangat sopan.

"Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas iktikad baik Tante Rosma dan keluarga yang sudah berkenan hadir di rumah kami yang sederhana ini," ujar Aisyah runtut. "Namun... setelah melihat dan mendengar sendiri apa yang terjadi barusan, juga apa yang terjadi selama ini... Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya."

Tante Rosma mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa?"

"Saya tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini. Lamaran ini... saya tolak."

DUARRR!!!

Bagaikan disambar petir, seluruh kerabat yang hadir memekik saking terkejut. Tante Rosma mendelik lebar, wajahnya yang penuh bedak mahal seketika memerah padam.

"Apa kamu bilang?! Kamu nolak lamaran anak saya?!" jerit Tante Rosma histeris. "Kamu cuma guru honorer miskin, Aisyah! Anak saya itu kaya, tampan, punya segalanya! Kamu harusnya bersyukur ada keluarga seperti kami yang mau memungut kamu jadi menantu!"

Mendengar penuturan tante Rosma, Aisyah tidak gentar sedikit pun. Pandangannya tetap lurus dan bermartabat.

"Mas Dimas memang kaya, Tante. Tapi kekayaan itu bukan milik Mas Dimas, melainkan milik Tante Rosma. Mas Dimas adalah seorang laki-laki yang akan menjadi suami dan kepala keluarga. Tapi bagaimana mungkin dia bisa memimpin saya dan anak-anak kami kelak, kalau untuk urusan dirinya sendiri saja ia tak pernah tau bagaimana rasanya bekerja?"

"Dia itu anak tunggal saya! Wajar kalau saya memanjakan dia!" potong Tante Rosma berang.

"Memanjakan dan mematikan kedewasaan itu dua hal yang berbeda, Tante," balas Aisyah tegas. "Seorang laki-laki sejati harus tau cara berdiri di atas kakinya sendiri. Dia harus tau rasa lelahnya mencari nafkah, agar dia bisa menghargai setetes keringat istrinya. Tapi Mas Dimas? Hampir setiap usaha mengandalkan mami. Menyelesaikan masalah diserahkan pada Mami. Ada kemauan harus mami turuti saat itu juga."

Aisyah lalu berdiri dari duduknya, diikuti oleh Bu Rahmi yang menggenggam erat jemari anaknya dengan rasa bangga yang luar biasa.

"Saya memang hanya seorang guru honorer anak yatim dari keluarga menengah ke bawah, Tante," lanjut Aisyah dengan nada yang membikin merinding karena kebersahajaannya. "Saya hidup sederhana, tapi saya diajarkan oleh almarhum Ayah dan Ibu saya tentang arti kehormatan, kemandirian, dan rasa tanggung jawab. Saya mencari pasangan hidup yang siap menjadi nakhoda, bukan seorang anak kecil bertubuh dewasa yang terus berteriak memanggil ibunya setiap kali diterjang ombak kehidupan."

"Kamu... kamu menghina anak saya?!" Tante Rosma berdiri sambil menunjuk muka Aisyah dengan jari yang gemetar.

"Saya tidak menghina, Tante. Saya hanya menyatakan kebenaran yang selama ini Tante tutupi dengan tumpukan uang," jawab Aisyah dingin. "Pernikahan dalam Islam adalah ibadah berat yang menuntut kepemimpinan seorang suami. Dan sampai hari ini, Mas Dimas belum menjadi seorang laki-laki. Dia masih seorang 'anak mami'."

Paman Dimas menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang. "Aisyah benar, Rosma... Kita yang sudah salah merawat Dimas selama ini."

"Diam kamu!" bentak Tante Rosma pada adiknya itu. Ia kemudian menatap Aisyah dengan pandangan yang penuh dendam. "Bagus! Kamu akan menyesal Aisyah! Kamu gak akan pernah menemukan laki-laki sekaya Dimas! Ayo semuanya kita pulang! Tempat ini tidak level buat kita!"

Tante Rosma menyambar tas mewahnya dan berjalan menghentakkan kaki keluar dari rumah. Kerabat-kerabatnya berjalan menyusul dengan wajah yang tertunduk malu, sambil bergantian mengucapkan permohonan maaf yang tulus kepada Bu Rahmi dan Aisyah sebelum meninggalkan ruangan.

**

Dalam waktu singkat, rumah kayu itu kembali hening. Kotak-kotak katering mahal yang ditinggalkan begitu saja di sudut ruangan tampak seperti monumen kesombongan yang tak berarti.

Aisyah berjalan perlahan menutup pintu depan dan menguncinya rapat-rapat dari dalam. Luapan emosi yang menahan hatinya akhirnya mencair. Ia berbalik dan melihat ibunya berdiri di tengah ruangan sambil merentangkan kedua tangan.

Aisyah langsung berlari ke dalam pelukan ibunya. Tangisnya pecah, bukan karena sedih kehilangan calon suami, melainkan tangis karena pelepasan atas beban berat yang hampir saja meremukkan masa depannya.

"Ibu... maafin Aisyah ya..." bisik Aisyah di ceruk leher ibunya. "Aisyah udah batalin... Aisyah buat Ibu malu di depan kerabat..."

Bu Rahmi mengelus lembut punggung berbalut hijab anaknya, sambil meneteskan air mata kebanggaan. "Tidak, Nak. Kamu tidak membuat Ibu malu sedikit pun. Justru malam ini, Ibu sangat bangga pada kamu. Kamu wanita yang kuat, Syah. Kamu tau harga diri kamu dan kamu tau jalan mana yang diridhoi Allah."

"Aisyah takut... Aisyah takut sempat salah mengambil langkah..."

"Allah menyelamatkanmu sebelum semuanya terlambat, Nak. Laki-laki yang tidak bisa melepaskan tali pusar dari ibunya tidak akan pernah bisa menjadi pelindung bagi istrinya. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang menghormatimu, yang mau berjuang bersama dari nol, bukan yang hanya tau meminta."

Ibu Rahmi menuntun Aisyah duduk di karpet. Ia kemudian mengambil piring berisi kue talam dan dua gelas es cendol yang tadi disingkirkan oleh petugas katering.

"Mari kita makan masakan kita sendiri," ujar Bu Rahmi dengan senyum hangat. "Masakan yang dibuat dengan keringat dan rasa cinta, jauh lebih nikmat daripada makanan mahal yang disajikan dengan keangkuhan."

Aisyah mengambil sepotong kue talam dan mengunyahnya perlahan. Rasa manis gula merah dan gurihnya santan memenuhi rongga mulutnya, memberikan kehangatan yang meresap hingga ke dalam hati. Senyum ceria yang sempat hilang pun kini kembali memancar utuh di wajah cantiknya.

**

Keesokan harinya, matahari terbit dengan sinar yang sangat cerah melingkupi SDN 04 Pagi. Suara riuh anak-anak sekolah menyambut kedatangan Aisyah saat ia melangkahkan kaki melewati gerbang utama.

"Bu Guru Aisyah!" panggil Rangga dan teman-temannya sambil berlarian mendekat dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Selamat pagi, anak-anak pintar!" sapa Aisyah dengan suara merdu dan tawa renyah.

Sementara itu di ujung koridor, Bu Maya berdiri memperhatikan Aisyah. Melihat raut wajah Aisyah yang begitu lapang dan cerah tanpa beban, Bu Maya tersenyum lega.

Ia tau, gadis muda itu telah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, sebuah keputusan untuk memilih kehormatan dan kebahagiaannya sendiri.

Aisyah lalu melangkah masuk ke dalam kelas, meletakkan tas kainnya di atas meja guru, dan membuka buku presensi. Ia memandang ke luar jendela dan menatap langit biru yang membentang luas tanpa batas.

Ia memang seorang guru honorer yatim yang hidup serba sederhana. Tapi harinya penuh dengan ketenangan, hatinya penuh dengan rasa syukur, dan langkah kakinya sepenuhnya milik dirinya sendiri.

Ia tidak ingin terburu-buru menemukan pendamping hidup, karena ia percaya, di waktu yang paling tepat nanti, Allah akan mengirimkan seorang laki-laki sejati, bukan seorang anak mami, yang siap menggandeng tangannya menuju surga.

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!