Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Langkah kaki Farra terhenti sebentar di depan pintu kelas XII Kesehatan Hewan 1. Setelah menyapu pandang dan memastikan situasi aman, ia melangkah masuk lalu duduk di bangkunya yang terletak di barisan tengah. Tak lama kemudian, Gabriella dan Amelia menyusul, langsung menghampiri meja Farra dengan ocehan khas pagi hari tentang tumpukan kisi-kisi simulasi UN.
Di ujung lain ruangan, Barra masuk bersama Farraz dan Ben. Sesuai kesepakatan awal, Barra dan Farra hanya saling melempar tatapan singkat—dingin dan formal—seperti biasa. Namun, begitu bel masuk berbunyi dan guru mata pelajaran Kedokteran Hewan Dasar mengumumkan sesi diskusi kelompok, skenario rahasia yang sudah dirancang Farra mendadak berantakan.
"Karena materi hari ini membahas kasus klinik ternak besar, silakan bentuk kelompok berpasangan," ujar Sang Guru.
Farra baru saja hendak membalikkan badan ke arah Amelia, namun sebuah bayangan jangkung sudah lebih dulu berdiri di samping mejanya. Tanpa meminta izin, Barra menarik kursi kosong di sebelah Farra lalu duduk dengan santai, meletakkan buku catatan tebalnya di atas meja yang sama.
Farra melotot kecil, menahan napas. "Barra? Kamu ngapain di sini?" bisiknya sepelan mungkin.
"Diskusi kelompok. Kamu kan yang paling hafal dosis obatnya, aku yang paham analisis kasusnya. Efisien, kan?" jawab Barra datar, namun matanya memancarkan nada godaan yang amat sangat Farra kenali.
Dari barisan sebelah, Gabriella dan Amelia saling melempar pandang dengan alis terangkat tinggi. Farraz dan Ben yang ditinggal di belakang pun melongo heran. Sejak kapan Barra—si siswa paling tak tersentuh yang biasanya hanya mau sekelompok dengan Farraz—tiba-tiba berinisiatif menghampiri meja Farra?
Kecurigaan itu makin menjadi-jadi saat jam istirahat tiba.
Farra sedang duduk bertiga bersama Gabriella dan Amelia di pojok kantin, menikmati mangkuk bakso mereka. Tiba-tiba, sebuah mangkuk kaca kecil berisi strawberry panna cotta dingin diletakkan begitu saja di samping mangkuk bakso Farra.
"Buat kamu. Tadi di kantin atas ada dessert, aku ingat kamu suka manis," suara Barra terdengar santai dari atas kepala Farra. Tanpa menunggu balasan dan tanpa memedulikan tatapan melotot Farra, Barra melenggang pergi begitu saja bergabung dengan meja Ben dan Farraz.
"Tunggu, tunggu..." Gabriella meletakkan sendoknya, menatap panna cotta itu lalu beralih menatap Farra dengan pandangan menyelidik. "Farra, sejak kapan Barra tahu kamu suka dessert manis? Dan sejak kapan dia jadi waiter pribadi kamu?"
"Iya, Far," timpal Amelia curiga, memajukan tubuhnya. "Barra Saputra yang dingin kayak es kutub itu... ngasih makanan dessert ke kamu? Kalian ada yang disembunyiin, ya?"
Pipi Farra mendadak panas. "Eng-nggak kok! Mungkin... dia cuma mau balas budi karena tadi aku bantuin catat rumus di kelas."
"Balas budi pakai panna cotta mahal?" gumam Gabriella masih tak percaya, sementara di meja sebelah, Ben sedang mendesak Barra dengan pertanyaan serupa yang hanya dibalas Barra dengan senyum miring misterius.
Puncaknya terjadi saat sepulang sekolah di perpustakaan. Farra yang ingin menghindari Barra sengaja bersembunyi di balik deretan rak buku penanganan ternak, menikmati keheningan sembari membaca. Namun baru sepuluh menit ia duduk di meja pojok yang agak tersembunyi, sebuah kursi di hadapannya ditarik.
Barra duduk di sana, menyandarkan dagu di atas kedua tangannya sembari menatap Farra tanpa henti.
"Barra, stop," panggil Farra setengah berbisik, panik kalau-kalau ada murid lain yang melintas. "Kamu janji kita bakal jaga jarak di sekolah! Gabriella sama Amelia udah curiga banget dari tadi siang!"
Barra terkekeh pelan, suaranya seperti bisikan halus yang menggetarkan dada Farra. Ia mengikis jarak di atas meja, meraih jemari Farra di bawah tumpukan buku tebal lalu menggenggamnya erat.
"Aku nyoba jaga jarak dari pagi, Farra... tapi susah banget ngeliat istri sendiri cuma diam diatur-atur jaraknya," bisik Barra lembut dengan tatapan matanya yang hangat. "Lagipula, biarin aja mereka curiga. Cepat atau lambat mereka juga harus tahu kalau kamu punya aku."
Farra berusaha menarik tangannya, tetapi genggaman Barra begitu hangat dan protektif. Di balik seluk-beluk rahasia dan ancaman kecurigaan teman-teman mereka, Farra tak bisa menampik rasa membuncah manis di dadanya—melihat bagaimana Barra, si cowok angkuh sekolah, kini begitu terang-terangan berusaha selalu ada di sisinya.