NovelToon NovelToon
SISTEM GACHA RAJA KULINER

SISTEM GACHA RAJA KULINER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Galang membuka gulungan kertas itu dan membaca deretan syarat yang tertulis rapi dengan tinta emas.

Matanya menelusuri setiap kata dengan sangat teliti sebelum akhirnya ia tertawa pelan.

"Lalu apa yang saya dapatkan kalau saya berhasil mengalahkan koki andalan kalian di festival itu?" tanya Galang menatap utusan tersebut.

Pria berjas itu tertawa keras seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu abad ini.

"Mengalahkan Chef Hasan? Mimpi saja kamu anak jalanan," ejek utusan itu meremehkan.

"Tapi kalau keajaiban konyol itu terjadi, Pak Wijaya bersedia memberikan uang tunai lima ratus juta rupiah dan plakat gelar Raja Kuliner asli kepadamu."

Mendengar angka setengah miliar rupiah disebutkan, suasana kedai kembali riuh oleh gumaman para pengunjung.

Itu adalah angka yang sangat fantastis dan bisa digunakan Galang untuk membuka tiga cabang kedai besar sekaligus.

Tepat pada detik Galang sedang menimbang-nimbang keputusan itu, suara lonceng mekanis kembali berdentang di dalam kepalanya.

DING.

Layar biru transparan yang sudah sangat ia tunggu-tunggu akhirnya muncul melayang di udara menutupi wajah utusan tersebut.

[Misi Utama Tahap Dua Tersedia.]

[Tugas: Terima tantangan duel di Festival Kuliner Kota dan hancurkan reputasi Bintang Samudera di depan umum.]

[Batas Waktu: Tiga hari dari sekarang saat acara puncak festival berlangsung.]

[Hadiah: Uang Tunai Rp 1.000.000.000, Peningkatan Level Sistem, dan Fitur Evaluasi Lidah Dewa.]

[Hukuman jika gagal: Semua memori tentang resep sistem akan dihapus dan Host akan kehilangan indera perasa selamanya.]

Napas Galang sedikit tertahan membaca deretan hadiah yang sangat tidak masuk akal dari sistem kali ini.

Satu miliar rupiah tunai.

Itu adalah tiket instan untuk mengubah hidupnya dari sekadar pemilik kedai menjadi pengusaha kuliner raksasa dalam satu malam.

"Bagaimana pengecut? Kau tidak berani kan menerima tantangan dari bos kami?" provokasi utusan berjas itu karena Galang terlalu lama diam.

Galang menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sambil melipat kembali surat undangan tersebut.

"Katakan pada bosmu yang bersembunyi di balik jas mewahnya itu," ucap Galang dengan suara bariton yang menggema di seluruh kedai.

"Tantangannya saya terima, dan suruh dia menyiapkan uang setengah miliar itu tunai di atas panggung besok lusa."

"Karena saya tidak akan pulang tanpa membawa uang itu dan gelar Raja Kuliner yang memang menjadi hak saya."

Utusan berjas itu mendengus kasar merasa sangat tersinggung dengan kesombongan pemuda jalanan di depannya.

"Kau akan menangis darah di atas panggung nanti anak muda, camkan itu," ancam utusan tersebut sebelum berbalik dan pergi meninggalkan kedai.

Setelah orang-orang utusan Wijaya itu pergi, Bima langsung memegang kepalanya dengan kedua tangan seolah sedang frustrasi.

"Bang Galang ini nekat banget sih, lawan kita ini pengusaha raksasa yang bisa menyogok juri pakai uang miliaran," protes Bima dengan nada sangat khawatir.

"Kalau kita kalah, kedai yang baru buka ini bakal disegel dan resep abang dirampas mereka."

Galang menepuk bahu Bima dengan sangat keras hingga karyawan kurusnya itu sedikit terhuyung ke depan.

"Siapa bilang kita akan kalah Mas Bima? Mulai hari ini kita harus percaya diri bahwa masakan kitalah yang paling enak di kota ini," jawab Galang dengan senyum yang sangat lebar.

"Lagipula ini kesempatan emas untuk promosi gratis besar-besaran di acara yang disponsori musuh kita sendiri."

Beberapa pelanggan mahasiswa ikut bersorak mendukung keputusan berani dari pemilik kedai langganan mereka itu.

"Tenang saja Bang Galang, kami semua bakal datang ke alun-alun buat jadi suporter setia kedai ini!" teriak mahasiswa berkacamata dari sudut ruangan.

"Iya Bang, kami siap ramaikan festivalnya dan teriaki koki tua sombong itu nanti!" tambah mahasiswi lainnya.

Galang menundukkan kepalanya memberi hormat pada para pelanggan setia yang sudah menganggap kedainya seperti rumah kedua.

"Terima kasih banyak atas dukungannya teman-teman, saya berjanji tidak akan mengecewakan lidah kalian di festival nanti," ucap Galang dengan sangat tulus.

Sore harinya setelah kedai tutup, Galang dan Bima duduk berdua di meja dapur untuk menyusun strategi menghadapi festival.

"Menurut informasi dari grup kampus, festival itu mewajibkan peserta untuk memasak secara langsung di atas panggung," Bima membacakan info dari ponselnya.

"Temanya bebas, tapi porsinya harus cukup untuk dibagikan ke tiga puluh juri tamu dan tiga kritikus makanan nasional Bang."

Galang mengangguk-angguk paham sambil terus mencatat kebutuhan bahan baku di buku kecilnya.

"Berarti kita tidak bisa mengandalkan fitur dapur otomatis untuk persiapan di atas panggung nanti Mas Bima," gumam Galang menganalisis situasi.

"Saya harus memotong, meracik, dan memasak semuanya murni pakai kecepatan tangan saya sendiri di depan ribuan mata."

Untungnya, Galang sudah memiliki set pisau naga emas yang bisa membantunya memotong bahan dengan kecepatan kilat.

Ia juga memiliki fisik yang prima berkat sering mengonsumsi makanan pemulihan dari resep sistemnya sendiri.

"Mas Bima, besok pagi tolong belikan lima ekor ayam kampung betina yang paling sehat dan bumbu rempah kualitas nomor satu di pasar induk," perintah Galang menyodorkan beberapa lembar uang merah.

"Saya akan memasak Sup Ayam Penghangat Jiwa dipadukan dengan Mie Tarik Naga Pedas sebagai senjata pamungkas kita."

Bima menerima uang itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena gugup memikirkan skala kompetisi yang akan mereka hadapi.

"Siap Bang Bos, saya pastikan semua bahan yang dibeli besok adalah bahan terbaik yang pernah ada di pasar," jawab Bima memantapkan hatinya.

Galang menatap ke luar jendela dapur yang gelap dengan pandangan mata yang sangat tajam dan penuh tekad.

Tiga hari lagi, di tengah keramaian alun-alun kota, takdir kerajaan kulinernya akan dipertaruhkan hidup dan mati.

Ia tidak sabar untuk melihat wajah sombong Pak Wijaya hancur lebur saat mencicipi kekuatan penuh dari resep bintang tiga milik sistem.

1
Dhewa Shaied
lanjut thor
Khalita Aazahra
lanjut
Wega Luna
perlu dicoba tuh ,,,aku suka daging bekicot yg disalah itu waktu hamil dulu bisa habis 10 tusuk langsung makan , berarti nasi goreng ala seafood yh
Nissa Safira: Bener juga sih... ayam lebih mahal dari bekicot 🤣 Oke deal, nanti kalau Galang bagi resep Nasi Goreng Bekicot aku share di sini. Mbak yang pertama cobain di rumah ya, kabarin kalau bocil-bocil pada ketagihan🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!