NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Jangan Ada Laki-laki Lagi

Di sela istirahat pagi, Hana menelepon lagi dan mengulang pertanyaan yang semalam belum dijawab Senja: apakah ia benar-benar menikah dengan mahar Rp 288 juta?

"Benar," jawab Senja akhirnya. "Tapi kamu jangan ikuti caraku."

Ia menyuruh Hana memblokir nomor Bapak dan Emak. Jika mereka mendatangi kampus atau mencoba membawa paksa, Hana harus meminta bantuan satpam dan membuat laporan polisi.

"Nanti kamu cari kerja sampingan atau ikut audisi yang kamu mau. Aku kirim biaya hidup."

"Kakak sendiri gimana? Suamimu tua? Jahat?"

Senja teringat Damar menggendong Bintang yang sakit tanpa memedulikan muntah di kemejanya.

"Umurnya tiga puluh dua, beda sepuluh tahun. Tapi masih muda kelihatannya. Orangnya baik, lurus, dan enggak pernah memaksa aku."

Kalimat terakhir terasa seperti pembelaan untuk pernikahan yang belum ia pahami.

Saat makan malam, Senja terus memikirkan Hana. Bintang menyenggol lengan Damar.

"Papa, Mama sedih. Hiburin."

"Kalau ada masalah, bicara," kata Damar.

Senja menggeleng. "Enggak ada."

"Suami bisa bantu," ujar Bintang, meniru nada orang dewasa. "Kata Eyang, keluarga harus bantu."

Damar menatap Senja. "Sejak kamu meminta aku menikahimu, kamu seharusnya sadar sebagai istri orang. Jaga sikap."

Senja membeku. Ia baru sadar teguran itu tentang pertemuannya dengan Reza.

"Saya enggak melakukan apa-apa."

"Aku tidak meminta penjelasan."

Keesokan hari, Vania mengambil alih tugas mengganti obat Rayhan. Baru masuk, ia sudah diusir.

"Aku enggak mau kamu," kata Rayhan. "Panggil Senja."

"Kamu masih bela dia? Dia mantan Reza."

"Dan kamu teman sekamarnya yang mengambil mantannya. Bangga?"

Vania memerah. "Senja perempuan murahan. Dia mau naik kelas lewat keluarga kita."

"Keluar sebelum aku panggil kepala perawat."

Senja yang datang membawa obat berpapasan dengan Vania di pintu. Perempuan itu menyenggol bahunya lalu pergi.

Rayhan menatap Senja lebih serius dari biasanya. "Aku suka kamu dari dulu. Cuma waktu itu kamu pacar teman. Sekarang kalian sudah putus."

Senja meletakkan obat. "Rayhan, saya tidak punya ruang untuk hubungan baru."

"Aku bisa bantu kamu."

"Saya bukan masalah yang harus dibayar seseorang."

Rayhan terdiam.

"Mulai sekarang saya juga tidak akan menerima uang atau membawakan makan," lanjut Senja. "Cari orang lain. Saya akan menjauh dari laki-laki mana pun."

Ia meninggalkan kamar dengan dada berat. Damar menuduhnya tidak menjaga sikap, sedangkan lelaki lain terus menawarkan uang seolah itulah satu-satunya bahasa yang ia pahami.

Di nurse station, Senja memindahkan uang Rayhan ke rekening terpisah. Ia menghitung semua pembelian makanan, menyimpan struk, dan menulis jumlah yang harus dikembalikan. Ia juga menghapus percakapan lama dengan Reza. Dua tindakan kecil itu terasa seperti menutup pintu.

Vania lewat sambil membawa baki dan mencibir. "Sok jual mahal. Kemarin masih ambil uang Rayhan."

"Saya mengembalikannya."

"Siapa yang percaya?"

"Saya enggak butuh kamu percaya."

Kepala perawat memanggil Senja sebelum pertengkaran berkembang. Di ruang obat, Senja bekerja dengan fokus berlebihan agar kemarahan tidak membuatnya salah dosis.

Saat istirahat, Hana mengabarkan Bapak dan Emak sudah berada di perjalanan. Senja menghubungi keamanan kampus, memastikan identitas mereka dicatat, lalu menyuruh Hana menginap di kamar teman berbeda.

"Aku merasa seperti penjahat," kata Hana.

"Kamu sedang melindungi diri."

"Kalau mereka sakit di jalan gara-gara aku?"

"Itu bukan tanggung jawabmu. Mereka orang dewasa."

Senja mengatakan kalimat tersebut kepada Hana, tetapi belum mampu mengatakannya untuk dirinya sendiri. Setiap kali Emak meminta uang, ia masih merasa wajib mengirim.

Sore hari, ia menjemput Bintang. Anak itu bercerita tentang guru yang mengatakan tubuh setiap orang milik dirinya sendiri dan tidak boleh dipaksa. Senja terdiam mendengar pelajaran sederhana yang bahkan tidak pernah diberikan keluarganya kepada anak-anak perempuan mereka.

"Kalau Bintang enggak mau dipeluk, bilang apa?" tanya Senja.

"Enggak mau."

"Pintar. Mama juga akan belajar bilang begitu."

Di rumah, Damar melihat Senja mengajari Bintang membuat batas dengan orang dewasa. Ia berdiri di ambang pintu, tidak ikut masuk. Ketika Bintang berkata Mama juga harus belajar, pandangannya beralih kepada Senja yang tersenyum pahit.

Damar tidak tahu ancaman apa yang sedang dihadapi perempuan itu. Yang ia tahu, Senja menolak uang, menolak Rayhan, dan masih saja tampak seperti orang yang siap lari setiap saat. Ketidaktahuan itu justru membuat prasangkanya semakin mudah tumbuh.

Keesokan paginya, Senja meminta kepala perawat tidak lagi menugaskannya khusus untuk kamar 18. Permintaan itu ditolak karena Rayhan masih membutuhkan pemantauan yang sudah ia pahami, tetapi kepala perawat mengizinkan petugas lain masuk setiap kali tindakan tidak memerlukan Senja.

"Saya enggak mau ada salah paham," jelas Senja.

"Selama kamu bekerja sesuai prosedur, urusan pribadi pasien bukan tanggung jawabmu," jawab kepala perawat. "Tapi kalau dia melewati batas, laporkan. Jangan merasa harus menanggung sendiri."

Kalimat terakhir menempel di kepala Senja. Ia mampu menyuruh Hana mencari satpam dan polisi, tetapi ketika menyangkut dirinya sendiri, ia masih terbiasa diam supaya tidak dianggap merepotkan.

Di kamar 18, Rayhan tidak lagi bercanda. Ia menerima obat, lalu bertanya apakah pengakuannya membuat Senja tidak nyaman.

"Iya," jawab Senja jujur. "Bukan karena Mas Rayhan orang buruk. Saya cuma enggak bisa memberi harapan."

"Karena Reza?"

"Bukan. Karena hidup saya sudah cukup rumit."

Rayhan menatap cincin tipis yang Senja sembunyikan di balik sarung tangan, tetapi tidak sempat melihat jelas. Ia akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Oke. Aku enggak akan paksa. Soal makanan juga selesai."

Senja menunjukkan catatan pengeluaran dan jumlah sisa transfer. Mereka menyepakati pengembalian setelah semua struk cocok. Tidak romantis, tidak dramatis, hanya angka-angka yang memisahkan pekerjaan dari utang budi.

Saat istirahat, Hana mengirim foto gerbang kampus. Dua petugas keamanan berjaga, sementara kendaraan Bapak dan Emak belum terlihat. Senja meneruskan nomor pengaduan perempuan dari lembaga bantuan hukum setempat dan meminta adiknya menyimpan rekaman setiap ancaman.

"Kalau mereka datang, jangan keluar sendiri," tulisnya.

Balasan Hana hanya satu kata: `Siap.`

Sebelum pulang, Senja berpapasan dengan Vania. Perempuan itu melirik kamar Rayhan, lalu mengejek bahwa penolakan Senja pasti hanya taktik agar dikejar.

"Mas Rayhan sudah menerima jawaban saya," kata Senja. "Sekarang giliran kamu menerima bahwa urusan ini bukan milikmu."

Ia berjalan pergi tanpa menoleh. Untuk pertama kalinya sejak bertemu Reza lagi, Senja tidak sekadar berkata akan menjauh. Ia benar-benar menutup pintu itu di depan semua orang.

Di lift karyawan, dadanya baru terasa sesak. Menutup pintu bukan berarti lima tahun kenangan hilang, tetapi setidaknya tidak ada lagi lelaki yang boleh menentukan harga dirinya dengan uang atau perhatian. Saat pintu lift terbuka, Senja menghapus air di sudut mata, merapikan name tag, dan kembali menjadi perawat yang tidak berutang jawaban kepada siapa pun.

Termasuk kepada Rayhan, Reza, ataupun suaminya sendiri yang belum belajar mempercayainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!