Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
BAB 29
SETIAP JUMAT
Pada Jumat pertama, Wulan berdiri di balik tirai jendela sampai mobil Pak Anto pergi.
Sedan hitam itu tiba pukul tujuh tepat, menunggu di gang selama tiga puluh menit, lalu berangkat tanpa klakson. Bram tidak mengirim pesan untuk bertanya kenapa ia tidak datang.
Wulan seharusnya lega.
Jumat berikutnya, ia berjalan ke gang pukul tujuh lewat dua puluh tujuh.
Pak Anto membuka pintu belakang tanpa komentar. "Selamat malam, Bu Wulan."
"Pak Bram di mana?"
"Menunggu di restoran. Kalau Ibu berubah pikiran, saya bisa antar kembali sekarang."
Wulan masuk.
Keputusan itu hanya memerlukan satu langkah, tetapi rasa bersalah mengikutinya sepanjang jalan.
***
Bram tidak mengubah setiap Jumat menjadi kencan mewah.
Malam pertama mereka makan soto di ruang privat sebuah restoran kecil. Malam berikutnya mereka hanya duduk di mobil sambil minum kopi karena Wulan harus pulang sebelum Dika tidur. Bram bertanya tentang minggu Wulan, lalu benar-benar mendengarkan jawabannya.
Ia ingat nama wali kelas Dika. Ia ingat Wulan tidak suka kopi terlalu manis. Ketika Wulan mengeluh atap rumah orang tuanya bocor, Bram tidak langsung mengirim tukang. Ia bertanya dulu apakah Wulan menginginkan bantuan mencari tiga penawaran harga.
"Cuma carikan kontak," kata Wulan. "Jangan bayar."
"Baik."
Keesokan harinya, tiga nomor kontraktor lokal masuk ke ponselnya bersama perkiraan biaya. Tidak ada transfer uang atau orang asing yang tiba di rumah orang tuanya tanpa izin.
Perhatian yang tidak mengambil alih hidupnya terasa lebih mewah daripada hadiah mahal.
Pada Jumat ketiga, Bram membawa sebuah buku catatan kosong karena Wulan pernah berkata ia lupa apa yang disukai sebelum menikah. Mereka membuat daftar tanpa menjadikannya janji besar. Wulan suka menghitung pengeluaran, menata pesanan, dan pernah membantu tetangga menjual kue melalui WhatsApp.
"Kalau saya mau kerja lagi, siapa yang menerima ibu rumah tangga tanpa pengalaman resmi?" tanyanya.
"Pengalaman Ibu bukan nol. Hanya belum ditulis dalam bahasa lamaran kerja."
"Pak Bram mau kasih saya pekerjaan?"
"Tidak di perusahaan saya. Itu akan membuat posisi Ibu tergantung pada hubungan kita dan bisa merugikan Mas Dimas juga." Bram membuka situs pelatihan publik di ponselnya. "Kalau Ibu mau, ada kelas administrasi dan pemasaran digital yang bisa diikuti dari rumah. Saya kirim tautannya, bukan mendaftarkan Ibu."
Wulan mengangguk. Malam itu ia pulang membawa dua alamat kursus gratis dan satu pekerjaan rumah: menuliskan keterampilan yang selama ini dianggap bukan keterampilan.
Ia belum mendaftar. Namun lembar daftar itu disimpan di belakang jurnal hijau, lebih dekat ke harapan daripada rahasia.
Kadang Bram meminta memegang tangan. Kadang Wulan yang lebih dulu menyandarkan kepala di bahunya. Mereka berciuman dua kali selama tiga Jumat dan selalu berhenti ketika Wulan mengatakan harus pulang.
Tak pernah ada keluhan.
"Kenapa Bapak sabar sekali?" tanya Wulan pada Jumat ketiga.
"Karena saya ingin Ibu datang dengan kemauan sendiri."
"Kalau suatu Jumat saya berhenti datang?"
"Mobil tetap menunggu beberapa kali. Setelah itu saya akan anggap Ibu memilih selesai."
"Nggak akan cari saya?"
"Tidak, kecuali Ibu minta."
Jawaban itu menenangkan dan menakutkan sekaligus. Wulan menikmati kepastian bahwa Bram ada, tetapi kepastian tersebut tidak pernah berubah menjadi kurungan.
Setiap pulang, ia melepas aroma parfum Bram dari kerudung dengan angin sebelum masuk rumah. Ia menghapus riwayat lokasi, lalu membenci dirinya karena mulai mahir menyembunyikan sesuatu.
Di sajadah, rasa bersalah terasa paling keras.
Ia tetap berkata tidak akan bercerai. Ia tetap membuat sarapan untuk Dimas, merawat Dika, dan membantu Bu Suminah berbelanja. Dari luar, tak ada yang berubah. Justru itulah yang membuat kebohongannya semakin jelas bagi diri sendiri.
***
Kartu hitam itu baru digunakan pada minggu keempat.
Wulan berdiri di toko buku dengan sebuah jurnal bersampul hijau. Harganya tidak lebih mahal daripada makan siang di pusat perbelanjaan, tetapi ia sudah memegang kartu selama sepuluh menit tanpa berani menyerahkan.
Ia tidak membeli kebutuhan Dika. Ia tidak membeli obat orang tuanya. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, Wulan memilih sesuatu yang hanya ia inginkan untuk dirinya sendiri.
"Pakai yang ini," katanya kepada kasir.
Mesin meminta PIN. Enam nol. Transaksi berhasil.
Tak ada petir atau alarm. Kasir memasukkan jurnal ke kantong kertas dan mengucapkan terima kasih.
Ponsel Wulan bergetar beberapa menit kemudian.
`Semoga apa pun yang Ibu beli membuat hari Ibu lebih baik.`
Ia tahu notifikasi transaksi masuk kepada pemegang rekening utama. Bram tidak bertanya barang apa, tidak mengejek nilainya yang kecil, dan tidak menghubungkan pembelian itu dengan pertemuan.
Wulan membalas satu kata.
`Terima kasih.`
Jurnal itu menjadi tempat ia menulis hal-hal yang tidak pernah bisa dikatakan di rumah. Bukan nama Bram, melainkan daftar sederhana: ingin bekerja lagi, ingin punya tabungan sendiri, ingin didengar, ingin bisa mengatakan tidak tanpa dimusuhi.
Di halaman pertama, ia menulis satu kalimat.
`Aku masih ada.`
***
"Kamu tiap Jumat ke mana?" tanya Dimas suatu malam.
Wulan sedang melipat pakaian. Tangannya berhenti sepersekian detik.
"Kadang arisan, kadang ke rumah orang tuaku."
"Arisan apa tiap minggu?"
"Beda-beda."
"Ibu bilang kamu belakangan sering pulang malam."
Bu Suminah yang lewat di depan kamar ikut menyahut, "Perempuan punya anak jangan sering keluyuran. Kapan mau serius kasih Dika adik?"
Wulan menaruh kaus Dika ke lemari. "Aku selalu pulang sebelum dia tidur atau sudah memastikan dia bersama orang dewasa."
"Bukan itu pertanyaanku," kata Dimas.
"Lalu apa?"
Dimas tampak tidak siap karena Wulan balik bertanya. "Ya, jangan aneh-aneh."
"Kalau ingin tahu jadwalku, Mas Dimas juga bisa mulai memberi tahu kapan kamu pulang."
Suaminya mendecakkan lidah dan keluar kamar.
Wulan duduk di tepi ranjang, napas pendek. Ia baru saja berbohong, lalu memakai kelalaian Dimas sebagai tameng. Tak ada cara membuatnya terasa benar.
***
Jumat berikutnya, Wulan memakai kartu tambahan untuk membeli sebotol losion di kasir swalayan.
Mesin POS memproses lebih lama. Kasir membalik kartu, memandang nama bank, lalu menatap Wulan.
"Tunggu sebentar, Bu. Sistemnya lambat."
Antrean bertambah. Keringat muncul di telapak Wulan meski pendingin ruangan dingin. Setelah hampir satu menit, layar menunjukkan transaksi berhasil.
Ia memasukkan kartu dan struk ke dompet dengan terburu-buru.
Di rumah, Wulan menaruh losion di kamar mandi lalu membantu Dika mengerjakan matematika. Ia tidak menyadari struk tadi terselip di antara kantong belanja dan jatuh dekat meja makan.
Dimas pulang lebih awal.
Ia memungut kertas itu, melihat empat digit terakhir kartu, lalu membandingkannya dengan kartu rumah tangga yang biasa dipakai Wulan.
Nomornya tidak sama.
"Wulan," panggilnya dari ruang makan. "Ini kartu siapa?"