Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. MALU SETENGAH MATI
Tabib tua itu melangkah mendekat dengan wajah penuh kelegaan. Didampingi oleh Elaine yang sibuk menyiapkan perban bersih dan mangkuk berisi air hangat bercampur ramuan disinfektan, sang tabib berlutut di sisi ranjang dengan sangat cermat.
"Syukurlah, Yang Mulia Putri. Ritme napas Anda sudah jauh lebih lancar, dan denyut nadi Anda telah kembali stabil. Sungguh ketahanan tubuh yang sangat mengagumkan," ucap tabib tua itu seraya memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Virelia.
Virelia hanya mengangguk pelan, membiarkan tabib itu membuka lipatan kain gaun tidur katunnya untuk memeriksa perban di sisi perut kirinya. Rasa nyeri yang tajam dan menusuk langsung menjalar ketika jari-jari tabib menyentuh area sekitar luka jahitan tersebut, membuat Virelia menahan napas dan menggigit bibir bawahnya rapat-rapat.
Kael, yang berdiri tepat di samping tempat tidur, langsung memerketat cengkeraman tangannya pada jemari Virelia, memberikan kehangatan dan kekuatan.
"Bagaimana dengan lukanya, Tabib?" tanya Kael mendesak, matanya tak lepas dari raut wajah sang istri yang menahan sakit.
"Luka tusukannya sudah mulai mengering, Yang Mulia Duke. Proses penjahitannya berhasil dengan sangat baik. Namun, racun pelumpuh saraf yang sempat masuk sebelumnya telah menguras hampir seluruh energi vital Duchess. Karena itu, Yang Mulia harus menjalani istirahat total selama setidaknya dua minggu ke depan," lapor sang tabib setelah mengganti balutan perban dengan yang baru.
Tabib tua itu berdiri, menegakkan punggungnya, lalu menatap Virelia dengan raut wajah sangat serius.
"Mohon perhatikan ini baik-baik, Yang Mulia Duchess. Anda tidak boleh melakukan gerakan mendadak, tidak boleh mengangkat beban, dan yang paling penting ... jangan pernah mencoba untuk turun dari tempat tidur tanpa bantuan. Jika luka di perut Anda robek kembali, pendarahannya bisa berakibat fatal," tegas sang tabib.
"Saya mengerti, Tabib," jawab Virelia pelan dengan suara parau.
"Bagus sekali," sambung tabib seraya mengumpulkan tas obatnya. "Saya akan terus memantau perkembangan Anda setiap pagi dan malam. Nona Elaine, pastikan Duchess meminum ramuan penguat darah ini setelah makan siang," tambahnya.
"Baik, Tabib. Saya akan memastikannya!" jawab Elaine penuh semangat, membungkuk hormat mengantarkan tabib keluar ruangan.
Begitu pintu jati kamar besar itu kembali tertutup rapat, suasana kamar berubah menjadi hening. Hanya tersisa suara deru perapian yang membakar kayu cedar dan embusan angin sore di luar jendela.
Kael kembali duduk di tepi tempat tidur. Pria bertubuh tegap itu menatap Virelia dengan binar mata biru yang dipenuhi oleh kehangatan, kelegaan, dan ... sebuah seringaian godaan yang sangat kentara.
Virelia yang merasakan tatapan itu perlahan membuang mukanya ke samping, menghindari kontak mata secara langsung. Pipinya yang pucat mendadak merona merah muda.
"Nah, kau sudah mendengar sendiri apa kata tabib kan, Istriku?" panggil Kael dengan nada suara bariton yang berat namun sangat santai.
Virelia bergumam tidak jelas, pura-pura sibuk memandangi ukiran tirai tempat tidur.
Kael mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, melipat kedua tangannya di atas pangkuan.
"Tidak boleh ada gerakan mendadak. Tidak boleh turun dari kasur. Dan yang paling krusial ..." Kael jeda sejenak, membuat suaranya terdengar makin menggoda, "... tidak boleh ada aksi menyusup keluar jendela di tengah malam untuk menjadi pembunuh bayaran."
Virelia menelan ludahnya susah payah. Wajahnya yang memerah semakin membara.
"Ah, satu hal lagi," lanjut Kael, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar. "Sepertinya kau juga tidak perlu bersusah payah melakukan aksi gila seperti melempar vas bunga, berteriak pada tembok, atau mengamuk karena pasukan bebek raksasa menyerang tokomu," ujarnya penuh godaan.
Mendengar kata-kata itu, benteng pertahanan rasa malu Virelia runtuh sepenuhnya.
PLAK!
Virelia langsung menutupi seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya sendiri. Ia menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi sebagian dadanya, menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah padam hingga ke ujung telinga.
"Kael! Hentikan! Jangan katakan apa-apa lagi!" teriak Virelia serak dari balik telapak tangannya, suaranya teredam kain selimut.
Bagaimana tidak malu setengah mati? Selama berminggu-minggu di Kediaman Duke ini, ia telah membuang seluruh harga dirinya sebagai Raven, sang ketua pembunuh bayaran yang ditakuti di dunia hitam, hanya untuk berguling-guling di rumput, memakai tudung lampu di kepala, dan berteriak-teriak ngawur.
Dan ternyata ... pria di hadapannya ini sudah tahu semuanya sejak awal! Pria ini menonton seluruh pertunjukan gilanya sambil menahan tawa di balik wajah datarnya!
Melihat istrinya yang biasanya begitu dingin, tegas, dan kejam sebagai ketua Black Dawn kini justru merengek malu sambil menutupi wajah seperti anak kecil, tawa Kael yang renyah dan lepas akhirnya meledak.
"Hahaha! Kenapa disembunyikan? Wajahmu yang merah itu jauh lebih menarik daripada saat kau pura-pura kesurupan roh badai salju," gelak Kael.
Kael tertawa hangat, suara tawanya memenuhi seluruh sudut kamar. Pria itu mengulurkan tangan dan berusaha memegang pergelangan tangan Virelia, mencoba melepaskan tangannya yang menutup wajah.
"Kael! Diamlah! Kau sungguh sangat menyebalkan! Kau pria paling jahat di seluruh benua ini!" geram Virelia, berusaha mempertahankan tangannya di wajah.
"Jahat? Aku tidak jahat. Aku hanya menikmati pertunjukan dari istriku yang sangat berbakat," Kael terkekeh pelan, jari-jarinya yang kuat dengan lembut menarik jemari Virelia hingga wajah gadis itu kembali terekspos.
Virelia menatap Kael dengan mata bulatnya yang menyalang galak, meski rona merah di pipinya menggagalkan sama sekali kesan menyeramkan yang ingin ia buat.
"Kau membiarkanku mempermalukan diriku sendiri setiap hari! Kenapa kau tidak menghentikanku saat kau tahu, huh?!" protes Virelia dengan bibir cemberut.
Kael tersenyum amat lembut. Ia tidak melepas jemari Virelia, melainkan mengelus punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya secara perlahan.
"Kalau aku menghentikanmu sejak awal, kau mungkin akan langsung melompati pagar dan kabur dariku," jawab Kael jujur, suaranya berubah menjadi sangat dalam dan hangat.
Virelia mendengus.
"Lagi pula, aku ingin melihat seberapa jauh kau akan bertahan demi menyembunyikan rahasiamu dariku. Tapi ... aku harus mengakui sesuatu," kata Kael.
Virelia mengerutkan alisnya. "Mengakui apa?"
Kael mendekatkan wajahnya, mengecup singkat ujung hidung manis Virelia yang memerah, membuat sang gadis terkejut dan membeku seketika.
"Akting gilamu sebenarnya sangat menghibur. Tapi dari semua peran yang pernah kau mainkan ... aku paling menyukai peranmu saat ini," goda Kael dengan bisikan rendah di depan bibir Virelia.
Virelia mengerjap bingung, jantungnya kembali berdebar kencang di luar kendali.
"Peran apa?" tanya Virelia gugup.
"Peran sebagai istriku yang sebenarnya. Tanpa topeng 'Putri Gila', dan tanpa jubah 'Raven'. Hanya kau ... Virelia Dravenhart," bisik Kael mantap, menatap lurus ke dalam mata perak Virelia dengan ketulusan yang memabukkan.
Napas Virelia tertahan di tenggorokan. Kalimat sederhana itu menghantam bagian terdalam di hatinya yang selama ini selalu dingin dan tertutup rapat.
Sepanjang hidupnya, ia selalu memakai topeng, sebagai putri yang dibuang, sebagai penderita gangguan jiwa untuk bertahan hidup, dan sebagai pembunuh berdarah dingin di dunia malam. Tidak ada seorang pun yang pernah menerima dirinya apa adanya tanpa peduli topeng mana yang ia kenakan.
Kecuali pria di hadapannya ini. Sang Serigala Perang Valdoria yang seharusnya menjadi musuh politiknya, tetapi justru menjadi satu-satunya orang yang memeluknya dengan penuh kehangatan.
Virelia memalingkan wajahnya sedikit, mencoba menyembunyikan fakta bahwa matanya mulai berkaca-kaca karena terharu. Ia menggigit bibirnya pelan.
"Kau benar-benar pandai bersilat lidah, Duke Kael Dravenhart," gumam Virelia lirih, berusaha mengalihkan pembicaraan meski sudut bibirnya tak bisa menahan senyuman kecil.
"Aku hanya menyampaikan kebenaran, Duchess Virelia Dravenhart," balas Kael terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur di samping tangan Virelia.
Virelia menatap suaminya itu lebih lembut kali ini.
"Nah, sekarang karena sandiwaramu sudah terbongkar total, tidak ada alasan lagi untuk menolak sup atau ramuan herbal dari Elaine, bukan?" tambah Kael.
Virelia mendengus sebal, teringat pada Elaine yang biasa membujuknya makan dengan khayalan galaksi.
"Jangan bilang kau juga akan membujukku makan sambil membawa-bawa nama 'Ratu Awan' lagi?" protes Virelia.
Kael tertawa lepas mendengarnya. "Hmm, ide yang bagus. Akan kucoba nanti malam."
"Kael!" seru Virelia kesal sambil memukul bahu tegap Kael pelan dengan tangannya yang bebas, disusul oleh tawa hangat sang suami yang kembali menggema di dalam kamar.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Kediaman Duke Dravenhart tidak lagi dipenuhi oleh ketakutan atau teriakan histeris, melainkan oleh kehangatan cinta yang baru saja mekar sempurna.
Dan kegilaan tentu saja.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣