NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Naik Motor Berdua, Bara Mengakui Arum Miliknya

"Mundur dari dia."

Itulah kalimat pertama Bara.

Reyhan tidak langsung bergerak. "Ini urusan saya dan Arum."

"Arum sudah meminta jalan dan memanggil petugas. Sejak saat itu, ini urusan keamanan asrama."

Dua petugas yang tadi berada di gerbang sudah tiba. Mereka berhenti beberapa langkah di belakang Bara, menunggu perintah tanpa menyentuh Reyhan.

"Saya tidak melakukan kejahatan," kata Reyhan.

"Kalau begitu, patuhi permintaannya. Mundur."

Reyhan akhirnya bergeser, tetapi matanya tetap menatap Arum. "Kamu membiarkan dia bicara untukmu sekarang?"

Arum keluar dari balik bahu Bara. "Saya sudah bicara sebelum beliau datang. Kamu yang tidak mau mendengar."

"Dia memanfaatkan saat keluargaku jatuh."

Bara menatapnya datar. "Keluargamu jatuh karena bukti, bukan karena aku."

"Arum seharusnya menikah denganku."

"Tidak ada persetujuannya."

"Keluarga sudah mengatur."

"Kamu hidup di Jakarta dan membiarkan seorang perempuan bekerja delapan tahun untuk keluargamu. Sekarang kamu pulang membawa kayu kecil dan menyebut itu hak."

Reyhan menggenggam tusuk konde hingga buku jarinya putih. "Setidaknya saya mengenalnya sejak kecil. Pak Mayor baru mengenalnya beberapa minggu."

"Dan dalam beberapa minggu aku belajar satu hal yang belum kamu pahami bertahun-tahun." Bara merendahkan suara. "Kalau dia bilang tidak, berhenti."

Orang-orang di gerbang mulai berkumpul. Bu Lastri berdiri dekat pagar, sementara Bu Yanti datang tergesa dari arah blok perumahan.

Reyhan melihat para saksi, lalu menurunkan nada. "Arum, ikut aku bicara dengan Ibu sekali saja. Setelah itu kalau kamu tetap menolak, aku pergi."

"Tidak."

Jawaban Arum kali ini tidak bergetar.

Bara memberi isyarat kepada petugas. "Catat identitas dan jelaskan larangan mengganggu penghuni. Kalau dia pergi dengan tertib, tidak perlu tindakan lain."

Petugas mendekati Reyhan. "Silakan ikut ke pos untuk pencatatan pengunjung."

"Saya akan pergi sendiri."

Reyhan menatap Arum untuk terakhir kali. "Nanti kamu sadar siapa yang benar-benar ada sejak awal."

Arum menjawab, "Orang yang ada sejak awal belum tentu orang yang berhak tinggal sampai akhir."

Wajah Reyhan menegang. Ia memasukkan tusuk konde ke saku dan berjalan menuju pos tanpa pamit.

Baru setelah jaraknya jauh, Bara berbalik kepada Arum. "Dia menyentuhmu?"

"Hampir. Saya mundur."

"Lenganmu?"

"Tidak apa-apa, Pak Mayor."

Bara tetap memeriksa dari jarak aman, melihat kedua pergelangan tangannya tanpa memegang. Setelah yakin tak ada bekas, bahunya sedikit turun.

Bu Yanti tiba sambil terengah. "Nduk, kamu baik-baik saja?"

Arum mengangguk. "Saya sudah bilang tidak. Berkali-kali."

"Dan semua orang mendengar," kata Bu Yanti. Ia melirik Bu Lastri serta kerumunan. "Biar besok tidak ada yang bilang Arum masih ragu."

Bu Lastri buru-buru mengalihkan pandangan.

Bara mengambil kunci motor dari saku. "Ayo."

"Ke mana?"

"Keluar sebentar. Kamu butuh udara yang tidak dipenuhi omongan mereka."

Arum melihat motor dinas di dekat gerbang. "Naik berdua?"

"Kamu boleh menolak."

Setelah sore yang penuh dengan seseorang yang menolak menerima kata tidak, tawaran sederhana itu terasa sangat berbeda.

"Saya mau," jawab Arum.

Bara mengambil helm cadangan dari petugas. Ia memasangkannya tanpa menyentuh lebih dari yang perlu, memastikan talinya tidak terlalu ketat. Kerumunan memandang ketika Arum duduk di belakang motor.

"Pegang yang kuat," kata Bara.

Arum ragu, lalu mencengkeram sisi jaketnya.

"Kalau cuma kain, kamu bisa jatuh."

Pipinya memanas. Perlahan ia melingkarkan kedua tangan di pinggang Bara.

Mesin menyala. Mereka melintas di depan gerbang, meninggalkan tatapan puluhan orang dan wajah Reyhan yang masih terlihat dari pos.

Angin sore memukul sisi helm. Arum sempat kaku, tetapi ketika motor keluar dari jalan kompleks menuju kawasan yang lebih ramai, napasnya mulai longgar. Punggung Bara kokoh di depannya, gerak motor stabil meski lelaki itu menghindari lubang agar kaki kanannya tidak menerima benturan.

Mereka berhenti di sebuah toko pakaian kecil di pusat kota.

"Pak Mayor, saya tidak perlu apa-apa."

"Aku perlu membeli sesuatu."

Ternyata yang ia pilih adalah sebuah gaun biru tua sederhana. Tidak berlebihan, tetapi bahannya lembut dan potongannya rapi.

"Untuk siapa?" tanya Arum, meski sudah tahu.

"Untuk orang yang hari ini berani berkata tidak di depan masa lalunya."

"Saya tidak bisa menerima terus."

"Kalau tidak suka, katakan. Kalau hanya merasa tidak pantas, itu alasan yang berbeda."

Arum menyentuh kainnya. Seumur hidup, pakaian datang kepadanya sebagai barang bekas yang harus disyukuri. Memilih sesuatu karena ia menyukainya masih terasa seperti pelanggaran.

"Saya suka," akunya.

"Berarti selesai."

Bara membayar, lalu mengajaknya ke warung kecil di seberang. Ia memesan teh hangat dan pisang goreng. Mereka duduk di meja dekat jendela, jauh dari seragam dan tatapan asrama.

"Pak Mayor marah?" tanya Arum.

"Ya."

"Karena Reyhan?"

"Karena dia tidak berhenti ketika kamu sudah jelas."

"Bukan karena dia pernah dijodohkan dengan saya?"

Bara menatap cangkir. "Aku juga tidak suka bagian itu. Tapi rasa tidak sukaku bukan izin untuk mengatur jawabanmu."

Arum menahan senyum. "Pak Mayor cemburu?"

Untuk pertama kalinya, Bara tampak kehabisan jawaban singkat. Ia meminum teh meski masih terlalu panas.

"Makan pisangnya."

Arum tertawa kecil. Suara itu membuat pemilik warung ikut tersenyum dari belakang meja.

"Itu bukan jawaban," goda Arum, keberaniannya tumbuh karena mereka jauh dari gerbang.

Bara meletakkan cangkir. "Aku tidak suka dia membawa kenangan lama seolah bisa menukarnya dengan kamu. Aku juga tidak suka dia berdiri terlalu dekat."

"Jadi memang cemburu."

"Ya."

Pengakuan lugas itu justru membuat Arum kehilangan kata. Bara mencondongkan tubuh sedikit, tatapannya serius.

"Tapi dengarkan. Kalau suatu hari kamu memilih bukan aku, aku akan marah dan sakit. Aku tetap tidak akan menarik tanganmu paksa."

Arum melihat bekas luka tipis dekat buku jarinya. Lelaki itu mampu menjatuhkan preman dalam hitungan detik, tetapi justru kekuatan yang paling menyentuhnya adalah keputusan untuk tidak memakai tenaga tersebut pada dirinya.

"Saya tidak sedang memilih orang lain," katanya pelan.

Bara diam. Mata mereka bertemu terlalu lama sampai Arum buru-buru mengambil pisang goreng.

Pemilik warung datang membawa tambahan piring. "Untuk pasangan muda, gratis satu."

"Kami belum..." Arum mulai membantah.

"Terima kasih," potong Bara sambil menggeser piring ke arahnya.

Pipi Arum kembali panas. Di bawah meja, ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. Bara menarik kaki kanannya sedikit karena nyeri lama mulai menusuk setelah perjalanan, gerakan kecil yang tertangkap Arum.

"Kakinya sakit?"

"Sedikit."

"Kita pulang lewat jalan yang rata."

"Baik."

Kali ini Bara menerima perhatian tanpa menolak. Kesetaraan kecil itu membuat sore mereka terasa bukan sekadar penyelamatan.

Dalam perjalanan pulang, Bara memilih jalan memutar yang melewati pepohonan dan lapangan kota. Matahari hampir tenggelam, membuat udara lebih dingin. Arum memegang pinggangnya tanpa disuruh lagi.

"Pak Mayor," katanya, sedikit menaikkan suara melawan angin, "tadi Reyhan bilang dia ada sejak awal."

"Aku dengar."

"Tapi orang yang paling awal membela saya bukan dia. Bu Inah yang diam-diam memberi makan, Bu Yanti yang berdiri di depan gosip, lalu Pak Mayor yang meminta saya memilih sendiri."

Bara menurunkan kecepatan. "Kamu tidak berutang cinta pada siapa pun yang berbuat baik. Termasuk aku."

Arum memeluknya sedikit lebih erat. "Saya tahu."

Jawaban itu justru membuat dada Bara terasa penuh.

Mereka kembali ke asrama saat lampu-lampu halaman mulai menyala. Motor memasuki kompleks dengan Arum masih memeluk pinggang Bara dan kantong gaun tergantung aman di depan.

Bu Yanti berdiri bersama beberapa istri prajurit di dekat lapangan. Bisik-bisik langsung muncul, tetapi kali ini dipenuhi kekaguman.

"Mayor membawa Arum jalan-jalan."

"Belikan baju juga."

"Sudah jelas itu orangnya."

Bara berhenti tanpa tergesa. Ia turun lebih dulu, lalu menahan motor agar Arum bisa turun. Ketika Arum melepas helm, rambut halusnya berantakan tertiup angin. Bara merapikan tali helm yang tersangkut di kerahnya.

Reyhan masih berada di seberang gerbang, menunggu kendaraan untuk pergi. Ia melihat seluruh adegan itu.

Bara tidak sengaja memamerkan kemesraan. Ia hanya tidak lagi menyembunyikan siapa yang dipilihnya untuk dijaga.

"Dengar semuanya," katanya cukup keras bagi orang-orang terdekat. "Arum adalah calon istri seorang perwira TNI. Siapa pun boleh tidak suka, tetapi tidak seorang pun boleh memaksa atau mengganggunya."

Arum menatapnya, jantung berdebar. Kata calon istri belum menjadi lamaran, tetapi pengakuan itu meletakkan masa depan di hadapan semua orang.

Bu Yanti tersenyum lebar. Bu Lastri yang berada jauh di belakang memilih pergi.

Seorang prajurit muda yang lewat langsung memberi hormat. Bara membalas, lalu menyuruh kerumunan membubarkan diri dengan sopan.

"Tidak ada tontonan," katanya. "Kalau ada masalah keamanan, lapor ke pengurus. Kehidupan pribadi Arum bukan bahan rapat halaman."

Ketegasan itu penting. Bara sudah mengakui niatnya, tetapi ia tidak ingin pengakuan tersebut menjadi izin baru bagi semua orang untuk menguliti kehidupan Arum.

Bu Yanti menggandeng Arum. "Ayo masuk, calon Bu Mayor. Sebelum semua orang menambah bunga pada cerita."

"Bu!" Arum memprotes.

Para perempuan tertawa. Tidak ada hinaan di dalamnya. Untuk pertama kali, suara ramai di halaman tidak membuat Arum ingin bersembunyi.

Reyhan akhirnya menaiki kendaraan dan menghilang dari gerbang, tusuk konde kayu tetap tersimpan di sakunya.

Arum membawa kantong gaun menuju Blok C-3. Di tengah jalan, tangannya kembali mencengkeram ujung jaket Bara.

Kali ini bukan karena motor bergerak cepat.

Ia hanya belum siap melepaskan rasa aman yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!