NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Yang Membimbingmu Aku

Pukul tujuh tepat, Sebastian melihat jam tangannya.

Amaya baru muncul di ujung koridor tiga menit kemudian.

"Maaf. Lift berhenti di setiap lantai."

"Terlambat tiga menit. Kurang dua poin."

"Bukannya satu menit satu poin?"

"Aku sedang murah hati."

Amaya menatap angka 98 yang ia tulis di papan kecil. "Besok aku akan berangkat dari seberang pintu lima menit lebih cepat."

"Jangan membawa urusan tempat tinggal ke rumah sakit."

Nada Sebastian sedingin jas putihnya. Seolah tadi malam ia tidak pernah menutup mata di bawah telapak Amaya.

"Baik, Dokter Sebastian."

Amaya sudah bangun pukul lima tiga puluh, mandi, memeriksa tabel, dan berdiri di depan lift pukul enam empat puluh lima. Masalahnya, salah satu lift servis sedang diperiksa sehingga semua penghuni memakai dua lift utama.

Ia punya alasan yang nyata. Sebastian tetap tidak mengembalikan dua poin.

"Kartu aksesmu," katanya.

Amaya menyerahkan kartu. Sebastian menambahkan stiker kuning yang menandakan akses pendampingan, lalu memasangnya kembali pada tali pengenal di dada Amaya tanpa menyentuh kulit.

"Kuning berarti tidak boleh masuk zona terbatas tanpa staf. Kalau alarm berbunyi, ikuti perawat, bukan aku. Aku mungkin harus menangani pasien."

"Dipahami."

"Ulangi."

"Keselamatan pasien lebih penting daripada mengikutimu."

"Bagus."

Pukul tujuh lewat lima, tim penelitian berkumpul di laboratorium lantai atas. Sebastian memperkenalkan Amaya sebagai koordinator Adhikara yang akan melakukan validasi ulang data selama satu bulan.

"Aksesnya terbatas pada kebutuhan proyek," jelasnya. "Semua pertanyaan operasional dicatat. Tidak ada data pasien yang keluar dari sistem."

Amaya membungkuk kecil. "Mohon bantuannya. Aku akan mengikuti alur kerja unit dan nggak mengganggu pelayanan."

Seorang dokter muda di barisan depan tersenyum. Name tag-nya bertuliskan dr. Bayu Pranata.

"Mbak Amaya, nanti kalau bingung bisa tanya saya. Saya sering di unit riset."

Bayu terlihat sebaya dengan Nathan, dengan senyum mudah dan lengan jas yang digulung sampai siku. Berbeda dari Sebastian yang membuat seluruh ruangan otomatis merapikan punggung, Bayu tampak seperti dokter yang akan mengobrol dengan pasien sambil menunggu hasil.

"Terima kasih, Dokter."

"Boleh tukar WhatsApp sekalian? Biar lebih cepat koordinasinya."

Amaya belum sempat membuka ponsel ketika suara Sebastian memotong.

"Jangan sibuk bersosialisasi saat orientasi."

dr. Bayu tertawa canggung. "Untuk pekerjaan, Dok."

"Gunakan grup proyek. Semua komunikasi harus punya jejak."

"Kalau pertanyaannya bukan soal proyek?" Bayu mencoba bercanda.

Beberapa peneliti menahan senyum.

Sebastian menatapnya. "Kalau bukan soal proyek, tanyakan setelah jam kerja dan kalau orangnya berminat. Sekarang dia bekerja."

Amaya menaikkan alis. Jawaban itu terdengar seperti perlindungan batas, tetapi cara Sebastian berdiri membuatnya mirip peringatan wilayah.

"Baik."

Mereka masuk ke ruang penyimpanan sampel. Seorang peneliti menjelaskan zona suhu, log penerimaan, dan alur akses. Amaya mencatat setiap titik yang cocok dengan tabel merahnya.

Udara di dalam lebih dingin. Setiap rak memiliki kode, sensor suhu, dan catatan siapa yang membuka pintu. Amaya menemukan bahwa data lama mencatat nomor rak tetapi menghilangkan riwayat pemindahan antarzona.

"Kalau sampel pindah rak, sistem membuat jejak otomatis?" tanyanya.

"Untuk sistem baru, iya," jawab peneliti. "Dulu sebagian masih manual."

"Log manualnya disimpan berapa lama?"

"Lima tahun. Gudang arsip bawah."

Amaya langsung menambahkan lokasi tersebut ke daftar hari kedua.

Sebastian membaca catatannya dari bahu. "Jangan turun sendiri. Gudangnya bercampur dengan arsip identitas."

"Aku akan minta pendamping."

"Minta kepadaku."

Bayu yang berdiri tak jauh mendengar kalimat itu dan memandang keduanya bergantian.

Saat kelompok berpindah, dr. Bayu kembali mendekat.

"Dokter Sebastian sibuk operasi. Kalau perlu, saya bisa membimbing Mbak selama di sini. Lebih santai juga."

Sebastian berhenti di depan pintu.

Ia menggeser posisi hingga berdiri di antara Bayu dan Amaya.

"Yang membimbingnya aku."

Kalimat itu singkat, tetapi seluruh kelompok mendengarnya.

Bayu mengangkat kedua tangan. "Siap, Dok. Saya cuma menawarkan bantuan."

"Bantu periksa log alat minggu lalu. Itu lebih berguna."

Bayu pergi membawa map dengan senyum yang tak lagi selebar tadi.

Amaya menatap punggung Sebastian. "Aku bisa menjawab sendiri."

"Aku tahu."

"Tapi Koh Sebas tetap menjawab."

"Karena jadwalmu tanggung jawabku selama dua minggu."

"Tentu. Murni profesional."

Sebastian berjalan lebih cepat.

Pukul delapan, mereka turun menuju bangsal VIP untuk melihat alur sumber data dari pasien ke laboratorium. Setiap kamar menampung kasus yang membutuhkan penanganan kompleks dan pemantauan panjang.

"Jangan melihat mereka sebagai baris data," kata Sebastian. "Satu perubahan protokol bisa mengubah keputusan pengobatan."

Ia menunjuk pintu pertama. "Pasien di sana menjalani tiga perubahan regimen karena responsnya tidak stabil. Kalau waktu pengambilan salah, angka bisa dibaca sebagai kegagalan terapi padahal bahan terlambat diproses."

Di kamar berikutnya, seorang pria tua tidur dengan monitor terpasang. Sebastian merendahkan suara.

"Setiap data yang kamu coret atau pertahankan punya manusia di belakangnya. Itu alasan evaluasi kemarin menghentikan proyek."

Amaya melihat tabel di tangannya dengan cara berbeda. Kesalahan tujuh belas persen bukan sekadar ancaman terhadap karier. Jika dibiarkan, ia bisa menjadi keputusan yang salah pada tubuh seseorang.

"Aku mengerti."

"Belum. Hari ini kamu mulai mengerti."

Amaya tidak tersinggung. Ia melihat perawat memeriksa gelang identitas sebelum mengambil tabung, lalu mencatat waktu yang sama di label dan sistem. Detail kecil tersebut menjelaskan mengapa perbedaan tiga jam dalam laporan lama tidak dapat diterima.

Ia menghubungkan setiap langkah dengan kolom di tabelnya.

Di depan rak berkas, Amaya berjinjit untuk mengambil satu map. Ujung jarinya tidak sampai.

Sebastian berdiri di belakangnya dan mengambil map tersebut tanpa usaha.

"Minta bantuan. Jangan memanjat rak."

"Aku hampir dapat."

"Nilaimu bisa berkurang karena merusak fasilitas."

"Tinggi badan bukan pelanggaran."

"Membantah instruktur iya."

Ia menyerahkan map. Jari mereka bersentuhan sesaat.

Dari tikungan terdengar roda ranjang pasien. Sebastian meletakkan tangan di lengan Amaya dan menariknya ke sisi dalam koridor. Ranjang lewat hanya beberapa sentimeter dari tempat ia tadi berdiri.

Tangan itu segera dilepas.

"Lihat jalur," katanya.

"Baik, Dokter."

Senyum Amaya membuat Sebastian tahu ia mencatat lebih dari sekadar jalur rumah sakit.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan ruang tindakan sumsum tulang. Seorang perawat sudah menunggu dengan berkas pasien anak.

"dr. Bayu ikut?" tanyanya.

"Tidak. Dia punya pekerjaan lain."

Sebastian mengambil berkas, lalu mendorong pintu.

Dari dalam terdengar suara anak kecil sedang menghitung gambar kelinci di dinding. Nada riangnya terasa tidak cocok dengan troli tindakan yang sudah disiapkan di samping ranjang.

"Masuk."

Amaya mengikutinya ke ruang tindakan.

Pintu menutup di belakang mereka, memisahkan permainan kecil pagi tadi dari rasa sakit nyata yang sudah menunggu di dalam sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!