Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Lulu Sembuh Sendiri, Katanya
Pukul tujuh pagi, Sebastian masuk ke kamar Nayla dengan sesuatu tersembunyi di balik jas putih.
Nayla langsung duduk. "Lulu?"
Sebastian berlutut agar sejajar dengan ranjang, lalu mengeluarkan kelinci tua itu.
Telinganya sudah tegak kembali. Jahitan baru nyaris menyatu dengan kain lama.
Bagian perut yang mulai menipis juga mendapat penyangga dari dalam. Mata kancing yang longgar dikencangkan tanpa mengganti warnanya. Semua tambalan lama Bu Lastri tetap ada.
Amaya tahu berapa lama pekerjaan tersebut berlangsung. Ia juga tahu ada satu bekas tusukan kecil di jari Sebastian. Pria itu tidak menyebut keduanya.
"Lulu sembuh sendiri," katanya. "Katanya masih mau menemanimu beberapa tahun."
Nayla memeluk boneka itu dan tertawa. "Lulu nggak bisa ngomong."
"Dia bicara sama dokter."
"Bohong. Om yang jahit, ya?"
"Om cuma mengawasi."
"Kalau begitu Om bilang sama Lulu jangan sakit lagi."
"Kamu juga harus bilang begitu pada dirimu sendiri."
Nayla mengangguk dan menempelkan hidung ke kepala kelinci. "Aku akan operasi dan pulang sama Lulu."
"Itu rencananya."
Sebastian tidak menjanjikan hasil pasti. Namun dua kata terakhir diucapkan dengan keyakinan yang cukup untuk membuat anak itu tersenyum.
Amaya berdiri di belakang dan melihat ujung telinga Sebastian memerah lagi.
"Lulu berterima kasih," kata Nayla. "Aku juga."
Sebastian memeriksa balutan bekas tindakan, menanyakan rasa sakit, lalu membetulkan selimut. Di meja samping hanya ada botol air dan Lulu. Tidak ada pakaian keluarga, buah, atau tas penjaga pasien.
"Mama belum datang?" tanya Amaya.
"Mama kerja. Nanti siang."
Setelah keluar, dr. Bayu menyusul di koridor.
"Bu Lastri antar penumpang pagi, siang membersihkan rumah, malam kadang membantu warung," jelasnya pelan. "Ayah Nayla meninggal dua tahun lalu. Lulu hadiah terakhirnya."
"Nayla sendirian sepanjang pagi?"
"Perawat sering memeriksa. Bu Lastri datang setiap ada tindakan penting, tapi kalau dia nggak bekerja, mereka nggak punya biaya makan dan cicilan lama."
Bayu menghela napas. "Dia pernah menjual motor, lalu menyewa motor orang lain untuk tetap narik. Utang perawatan suaminya belum lunas."
Amaya melihat jaket ojol yang semalam dipakai Bu Lastri. Benda itu bukan sekadar pakaian kerja, melainkan alat agar seluruh rumah kecil mereka tetap berdiri.
Mata Amaya memanas.
Bayu menawarkan tisu.
"Terima kasih."
Sebastian menoleh. "Kurangi siaran emosional pagi-pagi, Bayu."
Ia memberikan kain disinfektan kecil kepada Amaya. "Kalau menangis lagi, nilaimu dikurangi."
"Kejam."
"Kamu datang untuk bekerja."
Bayu menyembunyikan senyum dan pergi ke ruang perawat.
Sebelum pergi, ia sempat berkata, "Kalau Mbak butuh data yayasan, nanti saya bantu cari."
"Dia bisa meminta bagian sosial," potong Sebastian.
"Saya cuma menawarkan jalan cepat, Dok."
"Jalan cepat yang tidak tercatat membuat masalah baru."
Bayu mengangguk, tetapi tatapannya kepada Amaya masih ramah. Sebastian menunggu sampai dokter muda itu benar-benar masuk ruang perawat sebelum melanjutkan langkah.
Amaya memperhatikan semua itu tanpa berkomentar. Kebaikan mungkin harus punya taring. Rasa cemburu Sebastian rupanya juga punya gigi.
"Penyakit Nayla apa sebenarnya?" tanya Amaya.
"Neuroblastoma retroperitoneal. Tumornya tumbuh mengelilingi pembuluh besar."
Sebastian menunjukkan gambar pencitraan pada tablet. Massa abu-abu berada di belakang rongga perut, memeluk pembuluh seperti akar pada batang pohon.
"Kami harus memisahkan bagian ini milimeter demi milimeter," jelasnya. "Terlalu agresif bisa menyebabkan perdarahan besar. Terlalu hati-hati meninggalkan jaringan tumor."
"Berapa lama operasinya?"
"Bisa lebih dari sepuluh jam. Tergantung temuan di meja operasi."
Amaya menatap gambar itu, lalu membayangkan tubuh kecil di balik pintu. Rasa takutnya menjadi nyata.
"Bisa dioperasi?"
"Bisa, tapi sulit. Kalau ada bagian yang tertinggal, risiko kambuh tinggi. Beberapa rumah sakit menolak karena lokasi dan kondisinya."
"Lalu kamu menerima."
"Karena masih ada peluang."
Operasi itu berada di puncak kesulitan bedah tumor anak. Satu kesalahan dapat merusak pembuluh besar, tetapi menunggu akan memberi tumor waktu tumbuh lebih jauh.
"Biayanya?"
"Yayasan Amerta Peduli menanggung seluruh biaya operasi dan perawatan terkait."
Yayasan tersebut menerima rekomendasi dari tim sosial medis, memeriksa kemampuan keluarga, lalu menentukan tingkat bantuan. Untuk Nayla, biaya operasi, rawat inap, obat terkait, dan kontrol utama ditanggung penuh.
"Kenapa rumah sakit swasta mau mengambil risiko sebesar ini?"
"Karena rumah sakit tetap punya kewajiban sosial. Dan karena kemampuan dokter tidak berarti apa-apa kalau hanya bisa dibeli orang kaya."
"Semua permohonan diterima?"
"Tidak. Dana terbatas. Itu sebabnya keputusan harus berdasarkan kebutuhan, peluang klinis, dan dampak. Bukan siapa yang paling viral."
"Utang lama keluarganya?"
"Tidak. Yayasan punya batas. Kami menanggung kebutuhan medis yang disetujui, bukan semua kewajiban pribadi."
Amaya memandang kembali pintu kamar. "Aku bisa memberi uang kepada Bu Lastri."
"Lalu kamar berikutnya?"
"Apa?"
Sebastian menunjuk deretan pintu. "Berapa banyak Nayla di lantai ini? Kalau setiap orang bergantung pada satu donor yang kebetulan tersentuh, siapa yang membantu saat donor itu pergi?"
"Jadi aku harus diam?"
"Tidak. Bantu sistemnya. Dana sosial, pendampingan keluarga, akses BPJS, jadwal kerja orang tua, transportasi. Satu orang memberi uang adalah niat baik. Mekanisme yang terus berjalan adalah perbuatan baik."
"Kedengarannya dingin."
"Sistem memang harus cukup dingin untuk adil. Tapi orang di dalamnya nggak boleh kehilangan hati."
Sebastian menoleh ke kamar Nayla. "Kalau yayasan memberi uang tanpa pendampingan, keluarga bisa tetap kehilangan pekerjaan, transportasi, dan tempat tinggal. Kalau hanya memberi simpati, operasi nggak pernah terjadi. Keduanya harus berjalan."
"Kebaikan yang hanya punya air mata mudah dimakan orang."
Sebastian menatapnya lurus.
"Kebaikan harus punya taring."
Kalimat itu menghentikan Amaya.
Ia terbiasa menyelesaikan masalah dengan uang. Di dunia lamanya, satu transfer bisa menghapus banyak kesulitan. Namun uang tanpa jalur hanya menyelamatkan orang yang kebetulan berada di depan mata.
"Kalau aku mau membantu yayasan memperbaiki sistem?"
Amaya sudah memikirkan penghubung transportasi untuk orang tua yang harus bolak-balik, daftar shift relawan pendamping, dan skema bantuan makan yang tidak bergantung pada satu donatur.
Kemampuan bisnisnya mungkin tidak bisa mengangkat pisau operasi, tetapi bisa membuat jalur bantuan lebih panjang daripada satu transfer.
"Bawa usulan, data, dan tujuan yang jelas. Jangan hanya perasaan."
"Baik, Guru."
"Di rumah sakit, panggil Dokter."
"Baik, Dokter Sebastian."
Ia mengusap mata dengan kain yang diberikan. Wangi alkohol tipis menggantikan rasa panas.
Di balik pintu, Nayla berbicara kepada Lulu yang sudah sembuh.
Dan di koridor, rasa tertarik Amaya kepada Sebastian berubah menjadi sesuatu yang lebih berat daripada permainan.
Ia tidak hanya ingin melihat pria itu kehilangan kendali.
Ia mulai ingin berdiri di sisi yang sama ketika Sebastian sedang berusaha membuat sesuatu bertahan, tanpa membiarkannya terus berjalan sendirian lagi.