NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Masalah awal

Aku mengikuti suamiku ke kamar. “Mas, engga mau makan dulu mas?”

“Nanti ya sayang. Kan mama suruh cepat.”

“Ya sudah.” Aku sedikit kecewa.

“Yan.. cepat..” Seru mertua ku dari membuka pintu kamar kami.

“Iya ma..”

Setelah selesai bersiap, Suami ku dan mertua ku pun berangkat dengan berboncengan. Di saat yang sama, Adik ipar ku pulang dan langsung menuju ke kamarnya.

“Hmm, bau rokok..” gumam ku sedikit terbatuk.

Aku yang sedikit sensitive pun menyemprotkan pengharum ruangan agar sedikit segar kembali.

Keesokan harinya,

“Ibu mana mba?” Ucap adik iparku itu yang baru keluar dari kamarnya.

“Kondangan sebentar katanya,”

“Ooh, Ya udah.” Setelah itu dia pun berjalan dan duduk di kursi makan.

“Eh din.. bisa ambil satu-satu aja lauk nya? Itu hanya ada ayam 4 saja, Mama dan kakak mu belum makan.” Ucapku melihat adik iparku itu mengambil ayam 2 sekaligus untuk dia makan.

“Apaan sih mba? Pelit banget sih? Orang ayam aja ngatur-ngatur. Ini makanan hak aku, Lagian beli nya pasti pakai uang abang kan? Ngatur banget sih. Dih, jadi enggak mood makan” Jawab nya malah jengkel lalu dia melemparkan ayam yang baru dia ambil itu ke lantai dan berjalan kesal menuju ke kamarnya.

“Astaghfirullah,” Ucapku yang mendengar pintu kamar nya gebrak dengan keras.

Di saat yang sama, ternyata mertua ku melihat anak perempuan nya itu kesal hingga membanting pintu.

“Itu Dinda kenapa?” Tanya Mertua ku agak panik.

“Oh engga ma, Tadi aku Cuma kasih tau dinda buat engga ambil 2 ayam karena masing-masing orang dapet 1 ayam aja.” Jelas ku sedikit.

“Kamu ini pelit sekali. Biar saja kalau Dinda mau makan ayam 2 atau semua sekaligus. Dia butuh makanan itu supaya otaknya tambah pinter. Lihat? Kalau ini anak sudah ngambek begini, Bakal susah bujuk dia. Aduh, aduh nambah pikiran saja.” Mertua ku malah memarahi ku dan membela anak nya itu.

Mertuaku bergegas berjalan dan mengetuk pintu anak perempuannya itu.

“Mama tadi bilang apa Yang?” Suamiku datang dengan membawa tentengan.

“Emmm, tadi kan Dinda mau makan tapi dia ambil ayam nya 2 terus aku tegur lembut karena kamu sama mama kan belum makan juga mas tapi dia malah marah” Jelas ku sedikit pada suamiku.

“Ya jelas marah lah. Kamu ini ngatur-ngatur segala. Makan aja di atur-atur. Jadi enggak selera kan. Kaya orang pelit aja istri kamu itu yan. Aduh, gimana ini. Kalau Dinda ngambek bisa berhari-hari.” Mertua ku masih mendengar percakapan kami.

“Kasih dia duit aja ma nanti juga keluar kan?” Ucap Suamiku menanggapi ocehan itu.

“Duit? Mana ada mama duit. Kamu kasih lah dia duit, berapa kek 500 ribu. Duit mama kan buat keperluan sehari-hari. Kamu aja belum kasih mama duit lagi.” Jawab mertuaku.

“Aku mana ada duit segitu ma. Ini Cuma sisa 50 ribu aja.”

Suasana jadi tegang, aku juga sedikit merasa bersalah. Tapi apa harus sebegitu nya, aku hanya meminta mengurangi apa yang dia makan saja.

“Mana mau dia kalau 50 ribu. Halah, Fitri kasih uang 500 ke Dinda. Kamu kan yang menyebabkan Dinda begini.” Mertua ku malah sedikit membentak hingga aku sedikit tersentak.

“Ma, maaf bukannya aku engga mau kasih tapi kan tadi pagi Dinda suda aku kasih 500 ribu terus siang nya Dinda pulang lagi aku kasih lagi uang ma.” Ungkap ku dengan jujur.

“Eh, Dinda minta uang lagi mungkin karena dia butuh beli buku. Buku kuliahan kan mahal. Perhitungan sekali kamu ini.”

Mertua ku semakin memarahi ku dan terus mendorong ku untuk memberikan uang lagi pada adik ipar ku. Aku beberapa kali melihat kearah suamiku yang masih diam dan duduk di kursi makan.

“Yang, Sudah lah kamu beri saja uang nya biar cepat selesai.” Ucap Suamiku menanggapi.

“Iya lama sekali sih.”

Karena hal itu, mau tak mau aku pun mengambil lagi uang milikku yang sebenarnya itu uang mahar juga. Setelah itu, aku pun menyerahkan nya pada mertua ku. Beberapa saat kemudian adik ipar ku pun keluar dari kamar nya dan mengambil uang itu.

Selesai itu semua, Suamiku mengajakku masuk kedalam kamar untuk beristirahat.

“Mas..” panggilku dan sebenarnya aku masih tak terima dengan uang yang aku berikan tadi pada adik iparku.

“Sayang, sudah lah. Jangan bahas apapun lagi ya. Dinda anaknya memang begitu. Lain kali kalau dia minta sesuatu atau dia makan lebih dari tadi biarkan saja ya.” Ucap suamiku yang sepertinya tau aku akan membahas itu.

Karena suamiku sudah berkata begitu, aku pun mengikhlaskan dan memaklumi kejadian tadi.

Keesokan harinya,

Pagi-pagi setelah aku membuat sarapan, Suara teriakan mertua ku yang melengking membuat aku kaget.

Aku pun dengan heran melihat kearah pintu kamar mertuaku itu dan mendapati bahwa pintu itu terbuka dengan mertuaku yang berjalan keluar mendekat ke arahku.

“Fitri!”

“Iya ma? Ada apa?” Jawabku yang kaget dan bingung akan perilaku nya.

“Kamu ambil emas mama?”

“Hah? Emas? Engga ma, aku engga ambil apapun ma.” Bela ku pada diriku sendiri.

“Lah ini emas ku kosong di kotak engga ada. Kalau bukan kamu siapa lagi. Maling! Kalau beneran maling, kamu harus tanggungjawab kembalikan semua emas ku lah. Tapi enggak mungkin maling, orang kamu di rumah seharian kan.” Oceh mertuaku bikin heboh.

“Engga ma, aku engga ambil. Memang benar aku kemarin di rumah terus, tapi aku sama sekali engga masuk ke kamar mama."

"Halah. Terus kenapa emas ku bisa ilang hah!”

“Ada apa sih ma.” Suamiku keluar dari kamarnya.

“Ini.. Emas mama hilang. Pasti Fitri yang ambil ini.”

“Hah? Bener ma?” Suamiku pun tampak terkejut.

“Ini loh kotak nya kosong. Mama cari engga ada.”

“Mama bener udah cari kemana-mana?” tanya suamiku lagi.

“Loh kamu engga percaya mama yan? Liat saja, mama sudah berantakin lemari tadi. Engga percaya amat. Kemarin istri kamu yang ada di rumah, siapa lagi kalau bukan dia.”

“Engga mas. Aku engga ambil emas mama.” Bela ku depan suamiku.

“Ma, mungkin mama yang lupa taruh mana itu emasnya.” Ucap suamiku lagi pada mertuanya.

“Loh kamu engga percaya mama yan? Mama belum pikun yan..”

“Ma, aku memang bukan yang ambil ma. Tapi kemarin aku sempat lihat Dinda keluar dari kamar mama.” Aku memberitahu sesuatu yang aku ingat pada mertuaku.

“Eh malah nuduh DInda.” Mertuaku malah melotot padaku.

“Ma, sudahlah. Besok Vian gajian akan vian belikan lagi ma. Sudahlah.” Suamiku menengahi.

“Enggak, mama engga mau yang baru.”Mertuaku berjalan kedalam kamar ku dan suami lalu dia mulai mencari emas yang entah kemana itu di lemari ku.

“Ma.. engga ma.. engga ada..” Ucapku namun di bentak oleh mertuaku.

“Yang, sudah. Biarin mama cari dulu.” Ucap Suamiku yang memegang jemari ku.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!