"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anomali di Layar Biru
Kegelapan di lorong pertokoan itu menekan dada, menyisakan keheningan pekat yang menusuk hingga ke tulang.
Nora gemetaran hebat di balik punggung Nio, jemarinya meremas kain jaket abu-abu Nio seperti anak kecil yang ketakutan.
'Sialan, jika cewek ini makin panik di kegelapan, kita bisa jadi sasaran empuk di lorong ini,' batin Nio gusar.
Nio mencengkeram pergelangan tangan Nora secara lambat namun terukur, memaksa Nora untuk berdiri tegak di sampingnya.
"Kendalikan dirimu dan ikuti langkahku tanpa bersuara," cetus Nio pendek, vokalnya terdengar dingin dan menguasai keadaan.
Nora meringgis pasrah, mengangguk cepat sambil menundukkan kepalanya, tunduk total pada instruksi Nio.
Mereka memutar arah dan kembali berjalan cepat menembus kegelapan menuju bangunan tua milik Kael.
Pintu kedai kopi Kael menyambut mereka dengan pendar lampu kuning yang hangat dan menenangkan.
Kael yang sedang mengelap cangkir di balik konter menatap mereka berdua dengan alis terangkat heran.
"Lho, Nio? Baru keluar sebentar kok sudah kembali lagi sambil ngos-ngosan begitu?" tanya Kael heran.
"Ada gangguan listrik di lorong depan, Pak Kael," jawab Nio beralasan, mengabaikan fakta teror yang baru saja terjadi.
Tanpa membuang waktu, Nio menarik tangan Nora naik menaiki tangga besi menuju laboratorium di lantai dua.
Ruangan kerja Nio masih menyimpan senyap yang dingin, hanya pendar biru dari tiga monitor yang menyala redup.
Nio menarik kursi berputar, lalu menunjuk bangku kayu di sudut ruangan dengan pandangan tajam.
"Duduk di sana, jangan sentuh apa pun, dan biarkan aku bekerja," perintah Nio tanpa kompromi.
"A-anu... Nio, apa ponselku yang mati tadi masih bisa diselamatkan?" tanya Nora ragu-ragu, suaranya terdengar cemas.
"Sini ponselmu," sahut Nio seraya mengulurkan tangan.
Nora bergegas menyerahkan ponsel hitam yang layarnya telah legam itu ke telapak tangan Nio.
Nio langsung membuka kotak peralatan di bawah meja, mengambil kabel pemindai khusus dan menjepitkan klem mikro ke jalur daya sirkuit ponsel.
Jemarinya menari di atas papan ketik mekanis, memanggil baris kode tingkat rendah untuk menembus proteksi keras bawaan perangkat.
Layar monitor utama Nio mendadak memercikkan pendar biru terang, menampilkan struktur sektor memori ponsel yang terbaca secara mentah.
"Gila... ini benar-benar tidak masuk akal," gumam Nio sambil menyipitkan mata.
"Ada apa, Nio? Apa data adikku masih ada di dalam sana?" tanya Nora antusias, langsung berdiri dari bangkunya.
"Duduk kembali di tempatmu!" bentak Nio tegas, membuat Nora seketika terhenyak dan merapat kembali ke kursi.
'Cewek ini gampang sekali tersulut harapan palsu, padahal situasi sebenarnya jauh lebih mengerikan dari sekadar data hilang,' batin Nio gelisah.
Nio menunjuk barisan angka heksadesimal di layar monitornya yang bersih dari angka satu dan nol biasa.
"Biasanya, jika seseorang menghapus foto atau berkas, data tersebut hanya ditandai sebagai ruang kosong dan residu informasinya masih tertinggal," jelas Nio. "Tapi di ponselmu, pelakunya tidak cuma menghapus berkas."
"Lalu apa yang dia lakukan pada data Milo?" selidik Nora dari jauh, mencoba menahan getaran di suara nyaringnya.
"Dia membakar jalurnya dari dalam," sahut Nio datar. "Ini adalah metode pembersihan sistematis hingga ke tingkat sirkuit paling dalam, sebuah teknik bernama thermal memory residual overwrite."
Nio menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, membiarkan pikirannya berputar cepat memproses anomali ini.
Teknik ekstrim seperti ini membutuhkan akses langsung ke arsitektur prosesor dan daya pemrosesan berskala sangat besar.
'Zero tidak cuma terobsesi menghapus nama, tapi dia memastikan eksistensi korbannya tereliminasi tanpa preseden sedikit pun,' pikir Nio.
Milo tidak lagi sekadar menghilang; eksistensinya telah tereliminasi dari jaringan digital maupun fisik secara bersamaan. Bagi dunia, dia kini hanyalah sosok nirnama.
Nio meraba tekstur kertas kosong di dalam saku jaketnya untuk menetralkan gelombang cemas yang mulai merambat naik.
Sensasi kasar dari lembaran putih itu membantunya tetap menginjak bumi di tengah anomali gila yang sedang dia hadapi.
'Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku,' bisik Nio dalam hatinya.
"P-peretas biasa tidak mungkin bisa melakukan hal sesulit itu, kan?" bisik Nora melangkah perlahan mendekati meja kerja Nio.
"Jelas tidak," jawab Nio dingin. "Peretas biasa butuh waktu berhari-hari, sementara Zero melakukannya dalam hitungan detik saat kamu melihat layar ponselmu."
"Lalu bagaimana kita bisa menemukan jejak adikku kalau semuanya sudah terbakar habis?" rintih Nora dengan mata kembali berkaca-kaca.
Gengsi dan keberanian Nora yang tadi sempat muncul kini hancur berkeping-keping, digantikan rasa putus asa yang mendalam.
Nio menatap wanita di depannya dengan pendar mata yang tidak tergoyahkan.
"Setiap pembakaran selalu menyisakan abu," tanggap Nio pelan. "Dan abunya adalah spesialisasi kerjaku di ruangan ini."
Nio mengetikkan deretan perintah baru, mengisolasi memori statis di dalam chip pengontrol daya ponsel Nora yang lolos dari pembersihan total.
Sebuah pola baris kode kecil yang cacat mendadak mengejawantah di sudut kanan layar monitor utama.
"Lihat ini," tunjuk Nio ke baris kode berwarna merah terang.
Nora membungkuk rapat di sebelah bahu Nio, menatap layar dengan kening berkerut bingung.
"Aku tidak paham bahasa komputer, Nio... itu artinya apa?" tanya Nora pasrah.
"Ini adalah tanda tangan digital milik Zero," sahut Nio sambil menatap baris kode itu dengan lekat. "Dia meninggalkan anomali sengaja di dalam sirkuit, sebuah pengunci memori bertuliskan koordinat lokasi."
"Koordinat lokasi? Berarti kita bisa tahu di mana Milo berada sekarang?!" seru Nora hysteris, hampir saja mencengkeram bahu Nio.
Nio menepis jemari Nora sebelum menyentuh kulitnya, menatap wanita itu dengan intimidasi yang kuat.
"Jangan pernah bertindak gegabah atau kamu akan berakhir jadi kertas kosong seperti adikmu," ancam Nio serius.
Nora terdiam seribu bahasa, menelan ludahnya secara kasar dan menunduk penuh kepatuhan.
'Bagus, biar dia tahu posisi dan batasannya di laboratorium ini,' batin Nio penuh kepuasan ego.
Nio menerjemahkan angka-angka koordinat tersebut ke dalam peta digital lokal yang tersimpan di memori komputernya.
Titik merah di peta mendadak berkedip cepat, menunjukkan sebuah alamat di pinggiran kota yang sangat familiar bagi Nio.
Alamat itu adalah area bekas gedung laboratorium penelitian data medis yang terbakar habis sepuluh tahun lalu.
Gedung yang sama di mana Nio terbangun pertama kali tanpa nama, tanpa identitas, dan tanpa ingatan sedikit pun.
Keringat dingin mendadak menetes dari pelipis Nio, membasahi kerah kemeja hitam yang dia kenakan.
'Anomali ini bukan cuma soal adiknya Nora,' jerit batin Nio panik. 'Zero sedang memancingku kembali ke tempat sejarahku dicabut!'
Nio berdiri mendadak dari kursinya hingga roda kursi berderit kencang menghantam dinding kayu.
Nora terkejut dan mundur dua langkah melihat perubahan ekspresi di wajah Nio yang mendadak pucat pasi.
"Ada apa, Nio? Kamu mengenali tempat itu?" tanya Nora penuh selidik dan kebingungan.
"Tempat itu adalah awal dari penyangkalan keberadaanku di dunia ini," jawab Nio pendek seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Maksudmu apa? Aku benar-benar tidak mengerti!" pangkas Nora meminta kejelasan.
"Kamu tidak perlu mengerti," potong Nio tajam. "Yang perlu kamu tahu, Zero tidak sekadar mencabut sejarah Milo dari dada manusia... dia sedang menungguku untuk menyelesaikan karya masa lalunya."
Layar monitor Nio mendadak berkedip merah hebat secara berulang-ulang, menutupi seluruh garis peta digital dengan tulisan tebal yang sama:
"TABULA RASA KEMBALI KE ASALNYA."
Nio meraih jaket dan pisau lipatnya di atas meja, menatap Nora dengan pandangan yang tak teruntuhkan.
"Siapkan dirimu, Nora," ujar Nio dengan vokal yang dalam dan dominan. "Malam ini kita akan mencari tahu siapa yang menyimpan namamu... dan namaku."