Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN MISTERIUS
Sementara itu, di lantai paling bawah Loyalty Hotel, Joe baru saja tiba dan segera turun dari mobilnya. Langkah kakinya terhenti seketika saat hendak melangkah masuk. Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak biasa. Tanpa membuang waktu, Joe segera mencari posisi yang tersembunyi di balik mobil, lalu mengamati dengan saksama ke arah pintu masuk utama hotel.
Tak lama kemudian, pintu masuk hotel terbuka. Mama Billy keluar terlebih dahulu, diikuti dua orang bodyguard yang berdiri tegak di sampingnya. Wanita itu tampak bergegas masuk ke dalam mobil seakan tidak ingin dilihat siapa pun, dan tak lama berselang, mobil itu pun melaju meninggalkan tempat itu. Belum lama mobil itu hilang dari pandangan, pintu kaca hotel kembali terbuka dan Rey berjalan keluar sendirian. Wajahnya tampak berseri-seri, senyum tipis terukir di bibirnya seakan baru saja mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Ia berjalan santai menuju area parkir dengan langkah yang ringan dan penuh kepuasan.
Joe mengerutkan keningnya. Sesuatu terasa sangat aneh. Ia mencium gelagat yang tidak wajar di antara hal itu. Apalagi, rasanya sangat janggal jika Rey berkunjung ke hotel eksklusif itu sendirian tanpa ditemani Alex maupun Billy. Biasanya mereka bertiga selalu bersama. Pikirannya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Untung saja sejak permulaan, Joe sudah menyiapkan HP dan mengambil foto — sejak saat Mama Billy muncul di pintu masuk, hingga saat Rey berjalan keluar menuju parkiran. Semua terekam dengan jelas. Setelah dirasa cukup, Joe tetap menunggu di tempat persembunyiannya di balik mobil sampai sosok Rey benar-benar menghilang. Baru setelah itu, ia perlahan keluar dan meninggalkan area tersebut.
Di dalam mobil yang melaju pulang, Joe baru sempat membuka ponselnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan singkat bertumpuk — semuanya dari Arthur. Joe tersenyum tipis membaca pesan-pesan yang penuh keluhan itu. Ia bisa membayangkan wajah sahabatnya yang pasti sudah menunggu dengan perut lapar. Tanpa berlama-lama, Joe mempercepat laju mobilnya menuju rumah Arthur.
Sesampainya di depan rumah Arthur, Joe baru membuka pintu dan masuk, langsung disambut dengan omelan panjang dari sahabatnya itu.
"Gila loe, Joe! Jam segini baru pulang! Perut gue udah keroncongan dari tadi siang!" seru Arthur sambil berdiri di ruang tamu dengan tangan di pinggang. "Janji makan enak malah pulang telat tanpa bawa apa-apa!"
Joe hanya tertawa kecil sambil meletakkan kunci mobil di meja. "Tenang dulu, Bil. Gue udah pesan makanan lewat layanan daring dari tadi. Seharusnya sebentar lagi sampai. Loe nggak perlu khawatir kelaparan."
Benar saja, belum lama berselang, pintu rumah berbunyi. Pesanan makanan yang Joe pesan tiba. Joe segera menerimanya, lalu meletakkan semua kotak makanan di meja ruang tamu. Mereka pun makan bersama dengan lahap seolah baru saja berpuasa berhari-hari. Di sela-sela makan, Joe menceritakan semua yang ia lihat tadi di Loyalty Hotel. Ia menunjukkan foto-foto yang diambilnya — Mama Billy yang keluar dari pintu masuk hotel, lalu Rey yang menyusul keluar sendirian dengan wajah gembira.
Arthur menatap layar ponsel itu dengan serius, lalu menggeleng perlahan. "Kalau dipikir secara logika, memang nggak masuk akal, Joe. Rey berkunjung ke tempat mewah seperti itu tanpa Alex maupun Billy? Pasti ada sesuatu yang lain."
Joe menatap ke arah jendela yang terbuka perlahan, suaranya berubah lebih rendah dan serius. "Gue juga berpikir begitu. Hubungan mereka berdua pasti menyembunyikan rahasia besar. Dan ini baru permulaan. Gue sudah menyimpan satu senjata yang kuat — bukti ini — untuk menghancurkan semua pengkhianat yang telah membunuh ortu gue..." Suaranya bergetar pelan namun penuh tekad yang tak tergoyahkan.
Setelah selesai makan, mereka berdua kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Arthur melanjutkan pekerjaannya di meja, sementara Joe duduk diam merenungkan langkah selanjutnya yang harus diambil.
Di kediaman Billy yang luas dan megah, Mama Billy baru saja tiba. Ia melangkah masuk dengan wajah yang masih tampak puas dan berseri-seri. Di ruang tamu, Billy dan Alex sedang duduk bersantai sambil menikmati minuman di atas meja.
Mama Billy tersenyum sambil melangkah mendekat. "Sudah lama ya acara minumnya, Bil? Kok cuma Alex aja? Rey di mana?" tanyanya dengan nada santai.
Billy mengangkat bahu pelan. "Gue nggak tahu juga, Ma. Seharian ini gue belum lihat dia sama sekali."
Tanpa menanyakan lebih lanjut, Mama Billy langsung bergegas menuju kamar pribadinya untuk membersihkan diri, seakan ingin segera beristirahat setelah seharian beraktivitas.
Sementara itu, Billy tetap duduk santai sambil bercerita dengan Alex. Sesekali ia menyesap minumannya, namun pikirannya melayang jauh, teringat tugas yang diberikan kepada Joe. Tangan Billy bergerak hendak mengambil ponsel, namun ia berhenti seketika. Alex ada di sampingnya. Lebih baik tidak membahas hal itu di depan orang lain. Billy menarik napas pelan dan meletakkan kembali ponselnya. Ia memutuskan untuk menanyakan langsung kepada Joe besok di kampus.
Tak lama kemudian, Billy meletakkan gelasnya di meja dengan pelan. "Gue rasa cukup dulu ya, Lex. Kepala gue udah pening banget karena minuman sejak siang sampai sekarang. Besok kita harus kuliah pagi."
Alex tersenyum miring lalu menyindir pelan. "Santai aja, Bil. Kita tetap akan lulus walau kadang telat atau bolos. Nggak usah terlalu tegang."
Billy tertawa kecil sambil berdiri, sedikit terhuyung karena masih merasakan efek mabuk. "Terserah loe saja. Tapi gue udah nyuruh penjaga buat antar loe pulang. Pasti loe juga sudah nggak sadar sepenuhnya."
Dua orang bodyguard yang berdiri di sudut ruangan segera maju. Mereka membopong Alex yang memang sudah tidak seimbang jalannya, lalu mengantarnya pulang ke rumahnya dengan selamat.
Keesokan harinya, pagi berganti siang. Di kantin kampus, Alex, Rey, dan Billy duduk melingkar di salah satu meja. Mereka bertiga datang terlambat dan melewatkan pelajaran pertama.
"Waduh, kepala gue masih berat banget," keluh Billy sambil memijat pelipisnya. "Mabuk kemarin malam parah sekali sampai pagi begini belum pulih sepenuhnya."
Alex mengangguk setuju sambil menyesap minuman dingin. "Sama, gue juga merasakan hal yang sama. Rasanya malah mau tidur lagi."
Lalu Billy menoleh ke arah Rey dengan tatapan bertanya-tanya. "Eh, Rey. Kemarin seharian penuh loe ke mana? Nggak ada kabar sama sekali."
Rey tersenyum santai tanpa terlihat gugup sedikit pun. "Ah, kemarin gue cuma asyik main gim di rumah sampai lupa waktu. Sampai malam baru berhenti. Makanya nggak keluar rumah."
Belum lama mereka berbicara, ponsel di tangan mereka bertiga bergetar bersamaan. Sebuah pesan masuk secara serentak. Dengan cepat mereka membuka pesan itu. Wajah mereka yang tadinya santai seketika berubah tegang. Mereka saling bertukar pandang — pesan yang diterima sama persis. Keterkejutan itu perlahan berganti menjadi tatapan serius. Tanpa sepatah kata pun, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Tak lama kemudian, Joe muncul di pintu kantin dan berjalan mendekat. Ia duduk di samping Billy dengan tenang.
"Hai, Joe!" sapa Billy dengan ramah. "Sudah makan? Mau pesan sesuatu?"
Joe menggeleng pelan. "Terima kasih. Gue cuma ambil minuman dingin saja." Ia berdiri sebentar untuk mengambil botol minuman dari kulkas di sudut ruangan, lalu kembali duduk.
Alex dan Rey segera berdiri sambil merapikan pakaian mereka. "Kami duluan ya," kata Alex dengan nada yang agak terburu-buru. "Mabuknya belum hilang, mau lanjut tidur lagi di apartemen gue. Hari ini kita bolos dulu."
Billy hanya mengangguk singkat sebagai tanda setuju. Mereka berdua pun berjalan cepat meninggalkan kantin, meninggalkan Joe dan Billy berdua saja.
Setelah sosok mereka hilang dari pandangan, Joe mencondongkan tubuh sedikit ke arah Billy. "Ada sesuatu yang penting dan rahasia yang harus gue sampaikan ke loe," ucapnya pelan namun serius.
Billy tidak mau membahas hal itu di kantin. Ia segera berbisik, "Nggak di sini. Nanti sore kita bertemu di Loyalty Hotel. Sekalian loe belum pernah ke sana, kan? Gue ajak loe masuk ke dalam."
Joe langsung mengangguk setuju. "Baik, gue akan datang."
Joe pun berpamitan dan berjalan keluar kantin menuju kelasnya. Tinggal Billy sendirian di meja itu, menatap ke luar jendela sambil tersenyum licik, seakan sudah menyiapkan rencana yang tak diketahui siapa pun.