NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Panjang

Hari pertama dan kedua persiapan Festival Berburu terasa jauh lebih melelahkan daripada perkiraan Eve. Pagi harinya dihabiskan bersama Joel di ruang latihan, sementara setelah makan siang, Elyndor sudah menunggu dengan buku pelajaran yang tidak pernah habis.

Sementara itu kabar baiknya, tubuh Eve mulai terbiasa dengan busur, tetapi bukan berarti latihan menjadi lebih ringan. Kedua lengannya masih pegal setiap kali bangun, dan beberapa kali dia harus menggosok telapak tangan sendiri karena terasa nyeri setelah terlalu lama menggenggam busur.

Sesi belajar bersama Elyndor juga tidak bisa dilewatkan begitu saja. Meski materi dibuat lebih ringan agar Eve tidak terlalu terbebani, tetap saja dia harus duduk, membaca, mengingat, lalu menjawab pertanyaan yang diberikan. Pada sore hari, Eve biasanya sudah merasa kepalanya penuh. Dia bahkan pernah hampir tertidur ketika Elyndor sedang menjelaskan salah satu bagian sejarah Kekaisaran, sebelum akhirnya tersadar karena namanya dipanggil.

Karena jadwal yang semakin padat, Eve mulai menyadari satu hal.

'Gue ternyata lebih suka jadi dokter forensik daripada jadi anak bangsawan.'

Setidaknya dulu dia hanya perlu menghadapi mayat dan laporan autopsi. Sekarang dia harus belajar sejarah, memanah, menjaga sikap sebagai putri Duke, sekaligus berpura-pura menjadi anak empat tahun yang tidak tahu apa-apa.

Menjelang sore di hari kedua, Eve akhirnya kembali ke kamarnya. Dia baru saja duduk ketika mendengar suara langkah kaki dan percakapan dari luar. Beberapa pelayan terlihat mondar-mandir membawa pakaian, kotak kecil, serta berbagai perlengkapan perjalanan. Sebagian membawa tumpukan kain, sementara yang lain sibuk memeriksa isi koper. Sejak tadi suasana mansion terasa jauh lebih sibuk daripada biasanya.

Cecil juga tidak luput dari kesibukan tersebut. Perempuan muda itu beberapa kali keluar-masuk kamar sambil memastikan pakaian Eve sudah disiapkan. Bahkan meja kecil di dekat lemari sekarang dipenuhi berbagai barang yang Eve sendiri tidak ingat pernah meminta.

Eve akhirnya tidak tahan.

"Cecil," panggilnya sambil turun dari kursi. "Kalian lagi apa?"

Cecil yang sedang melipat salah satu pakaian segera menoleh. "Kami sedang bersiap-siap, Nona."

"Belciap?"

Cecil tersenyum, lalu kembali memasukkan pakaian ke dalam koper,"Besok Nona dan Yang Mulia Duke akan berangkat menuju ibu kota Kekaisaran."

"Becok?"

"Benar."

Eve menatap koper di hadapannya, lalu mengalihkan pandangan ke Cecil. Barulah dia menyadari bahwa semua kesibukan sejak pagi rupanya berkaitan dengan keberangkatan mereka.

Festival Berburu memang akan berlangsung di ibu kota Kekaisaran, sedangkan kediaman utama keluarga Valois berada jauh di wilayah kekuasaan mereka sendiri, Duchy Valois. Selama beberapa hari terakhir, Eve terlalu sibuk memikirkan latihan sampai tidak benar-benar memperhatikan persiapan perjalanan.

"Kalau dari cini ke ibu kota, belapa lama?" Dia mendekati Cecil.

Cecil yang sedang merapikan pakaian mendadak berhenti. Tangannya masih memegang sehelai kain, tetapi tidak bergerak.

"Cecil?" Eve memperhatikan wajah pelayan pribadinya itu.

"Ah- iya, Nona?"

"Cecil kenapa?" Eve memicingkan mata, ia merasakan ada yang aneh dari pelayannya, biasa Cecil pasti akan senang ketika Eve bertanya padanya.

"Tidak kenapa-kenapa Nona."

Eve semakin menyipitkan mata. Cecil kemudian kembali sibuk dengan koper, seolah menemukan lipatan pakaian jauh lebih menarik daripada wajah majikannya.

'Dia nyembunyiin sesuatu apa susahnya jawab berapa lama bakal sampe kesana?.'

Eve melipat kedua tangan di depan dada. Dia menunggu beberapa detik, tetapi Cecil tetap diam.

"Cecil dak mau kacih tahu?" Akhirnya Eve mengembungkan pipinya.

"Nona... saya.." Cecil meliriknya.

"Kalau Cecil dak mau bilang, Ape dak mawu bicala cama cecil." Eve membalikkan badan dengan gerakan dramatis, lalu berjalan dua langkah menjauh.

"Nona, jangan begitu." Cecil langsung terlihat panik.

"Cecil dak cayang Ape." Eve terus berjalan dengan langkah kecil yang sengaja dibuat lebih berat.

"Nona..."

"Ape malah."

Cecil akhirnya menyerah. Dia meletakkan pakaian yang sedang dilipat dan menghela napas.

"Baiklah, Nona. Perjalanan dari wilayah Valois menuju ibu kota biasanya memakan waktu sekitar tiga sampai lima hari."

"Tiga sampai lima hari?!" Eve langsung berbalik.

"Kurang lebih." Cecil mengangguk.

'Festivalnya kan besok.' Dia menghitung cepat di dalam kepala.

'Kalau perjalanan normal bisa sampai lima hari, terus kita berangkat besok, gimana ceritanya bisa sampai tepat waktu?' Eve menatap Cecil dengan wajah tidak percaya.

"Kalau lama, kita telambat dong?"

Cecil justru tersenyum. Dia kemudian meletakkan satu tangan di pinggang dan mengangkat tangan lainnya dengan gaya yang jauh lebih dramatis daripada yang dibutuhkan untuk menjelaskan perjalanan.

"Namun..." Cecil berhenti sejenak, seolah hendak menyampaikan rahasia besar. "Tenang saja, wahai Nonaku. Berkat ketekunan dan kepiawaian para penyihir Kekaisaran, perjalanan jauh seperti neraka tersebut sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi."

"Karena... kita akan menggunakan Gate!" Cecil menunjuk ke depan dengan ekspresi penuh kebanggaan.

"...Gate?"

Cecil kemudian mendekat dan berjongkok agar wajah mereka sejajar. "Gate adalah gerbang teleportasi, Nona. Sederhananya, seperti pintu yang bisa menghubungkan satu tempat dengan tempat lain tanpa harus berjalan selama berhari-hari."

'Teleportasi? ternyata di dunia ini memanfaatkan sihir kayak gitu?' Mata Eve perlahan membesar.

"Bica langsung pindah?" Eve tampak jauh lebih tertarik.

"Walaupun bukan berarti Nona bisa langsung muncul di ibu kota begitu keluar dari kamar." Cecil segera mengangkat satu jari.

"Tenapa?"

"Kita tetap harus menempuh perjalanan menuju Gate yang berada di wilayah Valois. Dari kediaman utama sampai ke sana membutuhkan waktu sekitar satu jam."

"Telus?" Eve mengangguk pelan.

"Setelah melewati Gate, perjalanan menuju ibu kota Kekaisaran memakan waktu sekitar dua jam."

"Catu jam... telus dua jam..." Eve mulai menghitung dengan jarinya.

"Tiga jam?"

"Benar, Nona." Cecil tersenyum.

Dia bahkan mulai membayangkan bagaimana rasanya berpindah melalui gerbang teleportasi. Dalam kehidupan sebelumnya, perjalanan sejauh itu membutuhkan kendaraan, jalan panjang, serta berbagai persiapan. Sekarang, dunia tempatnya tinggal memiliki penyihir yang bisa membuat semacam pintu penghubung antarwilayah.

'Gue harus lihat kayak gimana itu Gate.' Rasa lelah yang sejak tadi menempel di tubuhnya mendadak sedikit berkurang. Eve menatap koper-koper yang mulai memenuhi kamar. Besok dia akan meninggalkan wilayah Valois dan pergi menuju ibu kota Kekaisaran.

Keesokan paginya, kediaman utama Valois sudah dipenuhi kesibukan bahkan sebelum matahari naik cukup tinggi. Para pelayan berlalu-lalang membawa koper, kotak perbekalan, pakaian, serta perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan. Beberapa prajurit memeriksa kuda dan roda kereta, sementara yang lain memastikan rombongan pengawal sudah berada di posisi masing-masing. Suara langkah kaki dan percakapan terdengar dari berbagai sudut mansion, membuat suasana pagi terasa jauh berbeda dari biasanya.

Lucien rupanya benar-benar tidak berniat menunda keberangkatan. Karena perjalanan menuju Gate saja membutuhkan waktu sekitar satu jam, dia memilih berangkat sejak pagi agar rombongan dapat tiba di ibu kota tanpa terburu-buru.

Eve sendiri baru muncul setelah selesai dibantu mengenakan pakaian perjalanan. Rambut putihnya diikat sederhana agar tidak mengganggu selama perjalanan, sementara sebuah mantel kecil sudah dikenakan di atas gaunnya. Cecil menggandeng tangannya sampai mereka tiba di depan kereta yang akan digunakan Eve bersama Lucien.

Begitu Eve naik, dia langsung melihat Lucien sudah duduk lebih dahulu di dalam. Pria tersebut bersandar dengan tenang, kedua tangan terlipat di depan dada, seolah perjalanan selama tiga jam bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

Eve berhenti di anak tangga, matanya perlahan beralih kepada Cecil yang masih berdiri di luar, lalu kepada Lucien. Cecil membantu Eve naik sebelum mengambil langkah mundur.

"Nona, saya akan berada di kereta bersama para pelayan. Kalau Nona membutuhkan sesuatu, panggil saja."

Eve menatapnya dengan wajah yang perlahan berubah murung. Bukan karena dia tidak ingin berpisah dengan Cecil, masalah sebenarnya jauh lebih menyedihkan, dia pasti akan berduaan dengan Lucien. Sejujurnya Eve tidak mau mengalami rasa canggung saling diam diaman selama tiga jam.

'Gue bisa mati bosan.' Eve menelan ludah.

Pikirannya bergerak cepat. Mungkin kalau Cecil ikut duduk bersama mereka, suasananya tidak akan seburuk ini. Eve pun menoleh kepada Lucien dengan tatapan memelas, lalu mengulurkan tangan kecilnya ke arah Cecil.

"Papa..." panggilnya pelan. "Cecil boyeh cama kita, ya, Papa?"

Lucien yang sejak tadi diam akhirnya mengalihkan pandangan. Tatapannya jatuh kepada Cecil sebentar, lalu kembali kepada Eve.

"Tidak."

'Gila. Langsung ditolak.' Eve berkedip.

Dia mencoba sekali lagi dengan wajah yang lebih memelas. "Tapi Ape mau cama Cecil..."

Lucien tetap tenang. "Dia pelayan, dia memiliki tugas lain."

"Cecil bica duduk di cini." Eve mengembungkan pipinya.

"Tidak."

"Cecil dak ganggu."

"Tidak."

Eve menatap Lucien dengan mata menyipit.

'Bisa-bisanya dia nolak anak kecil berkali-kali. Dasar gak punya hati'

Cecil yang berada di luar kereta hanya tersenyum canggung. "Tidak apa-apa, Nona. Saya akan berada di kereta belakang."

Eve akhirnya menyerah. Dia duduk di tempatnya dengan wajah murung, lalu melirik Lucien dari sudut mata.

'Gue harus bertahan.' Dia menarik napas dalam-dalam.

Apa pun yang terjadi, Eve tidak boleh keluar dari karakter. Dia harus tetap menjadi Aveline kecil yang polos, bukan perempuan dewasa. Tak lama kemudian, pintu ditutup dan roda kereta mulai bergerak meninggalkan halaman mansion.

Perjalanan pun dimulai.

Eve memilih duduk dekat jendela. Dia menyandarkan pipinya pada telapak tangan sambil memperhatikan pemandangan wilayah Valois yang perlahan bergeser di luar sana. Jalanan membentang melewati kawasan perkebunan, desa-desa kecil, serta hutan yang mulai tampak lebih rapat semakin jauh mereka meninggalkan kediaman utama. Udara pagi masuk melalui celah kecil jendela, membawa aroma tanah dan pepohonan.

Lucien tidak mengatakan apa-apa, Eve juga tidak berniat membuka percakapan. Keheningan memenuhi kereta, hanya sesekali terganggu suara roda yang menghantam permukaan jalan. Awalnya Eve merasa perjalanan berjalan cukup nyaman.

Sampai hampir satu jam berlalu.

Kereta mulai memasuki kawasan yang berbeda. Dari balik jendela, Eve melihat beberapa bangunan batu berdiri di sepanjang jalan. Beberapa prajurit berjaga di sisi jalan, sementara semakin banyak kendaraan terlihat bergerak menuju satu arah.

Kemudian dari kejauhan, Eve melihat sesuatu yang membuatnya langsung duduk lebih tegak. Sebuah struktur besar berdiri di tengah kawasan terbuka. Bentuknya menyerupai gerbang batu dengan lingkaran cahaya berwarna kebiruan yang berputar di bagian tengah.

'Jadi itu Gate?'

Eve mencondongkan tubuh sedikit ke arah jendela. Dia baru hendak mengamati lebih lama ketika suara Lucien terdengar dari seberang.

"Apakah kau pernah melewati Gate?"

Eve menggeleng. "Belum, Papa."

Lucien memandangnya beberapa saat. Wajahnya tetap datar, tetapi entah kenapa Eve merasa ada sesuatu yang aneh dari tatapan tersebut.

"Kalau begitu..." Lucien menyandarkan tubuhnya kembali. "Semoga kau kuat."

'Hah?maksudnya apa' Eve mengerutkan kening.

Belum sempat dia bertanya maksud perkataan tersebut, kereta mulai bergerak memasuki lingkaran cahaya. Awalnya tidak terjadi apa-apa, kemudian tubuh Eve mendadak terasa ringan, sangat ringan sampai terasa seolah kereta terangkat, semenit kemudian perutnya terasa berputar. Sensasi aneh menjalar dari perut menuju dada. Kepalanya terasa berdenyut, sementara pandangannya seperti bergeser sepersekian detik dari posisi sebenarnya.

Eve mencengkeram sisi kursi, sekuat mungkin ia bisa. kemudian, dia menoleh ke arah Lucien. Pria tersebut masih duduk dengan tenang, ketika Lucien menatap balik sudut bibirnya seperti bergerak sedikit. Eve menatapnya dengan tatapan kesal sambil menahan rasa mual yang semakin kuat.

"Tahan sebentar lagi. Kita akan segera melewatinya," ucap Lucien tenang.

'Enak banget ngomong.' Eve memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian, kereta keluar dari Gate. Sensasi aneh tersebut langsung berhenti, tetapi rasa mual yang tertinggal justru semakin menggila.

Lucien segera mengetuk sisi kereta.

"Berhenti."

Kusir langsung menarik kendali. Kereta melambat sebelum akhirnya berhenti di sisi jalan. Begitu pintu dibuka, udara luar yang segar langsung masuk. Lucien turun lebih dahulu. Beberapa prajurit dan pelayan yang berada di sekitar kereta langsung menoleh. Cecil bahkan sudah berdiri tidak jauh dari sana bersama Vins, seolah keduanya memang sudah memperkirakan sesuatu.

Lucien menoleh ke dalam kereta.

"Turunlah. Jangan muntah di sini."

Eve yang sedang memegang sisi kursi hanya mampu menatapnya dengan wajah pucat, karena kalimat tersebut justru membuat perutnya semakin tidak nyaman. Eve mencoba turun sendiri. Satu kaki berhasil menginjak tanah. Kemudian ketika satunya lagi hampir menginjak tanah, dunia seperti terasa berputar, tubuh kecilnya oleng.

"Ah-"

Sebelum Eve benar-benar jatuh, sebuah tangan menangkap tubuhnya. Lucien menarik Eve ke dalam pelukannya dan mengangkat tubuh kecilnya dengan mudah.

Wajah Lucien berada sangat dekat.

Dari posisi tersebut, Eve bisa melihat garis rahangnya dengan jelas, juga ekspresi datar yang masih sama seperti sebelumnya.

'...Gue digendong? padahal selama ini dia gak pernah gendong gue'

Ada rasa hangat aneh yang muncul di dada Eve. Mungkin karena tubuhnya masih terlalu pusing, mungkin juga karena selama ini Lucien hampir tidak pernah menunjukkan perhatian semacam ini.

Eve menatap Lucien selama beberapa detik.

'Walaupun ngeselin, ternyata dia masih punya sisi manusia.' Dia bahkan merasa sedikit terharu. Eve mengangkat tangan kecilnya dan mencengkeram bagian depan pakaian Lucien.

"Papa makac- HOEEEEEEK." Perutnya kembali bergejolak. Dan suara muntah terdengar tepat di depan wajah Lucien.

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!