NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Malam itu...

Kediaman keluarga Darmawan masih tampak terang.

Rafael baru saja tiba di rumah setelah mengantar Zilia. Begitu memasuki ruang keluarga, ia mendapati ayahnya, Revan, dan Rendra masih berkumpul sambil menikmati secangkir kopi.

"Kamu baru pulang?" tanya sang ayah.

"Iya, Pa."

"Dari mana saja kamu tadi, apa sama calon istrimu?"

Rafael mengangguk.

"Iya, Pa. Aku gak sangaja ketemu Zilia. Lalu aku ngajak dia ke restoran. Eee pas mau pulang, tadi sempat keseleo saat turun tangga di restoran."

Alis Tuan langsung berkerut.

"Keseleo?"

"Iya. Tapi sudah diperiksa dokter. Hanya keseleo ringan."

Belum sempat Rafael melanjutkan ucapannya, Revan yang sejak tadi diam langsung berdiri.

"Keseleo? Kamu bilang keseleo ringan?"

Rafael mengangguk.

"Iya."

Brak!

Revan menepuk meja dengan keras.

"Kalau memang kamu tidak bisa menjaga Zilia, kenapa memaksakan diri mengajaknya keluar?"

Ruangan seketika hening. Rafael menatap kakaknya dengan tenang.

"Itu hanya kecelakaan kecil."

"Kecelakaan?" sahut Revan dengan nada meninggi.

"Sebagai calon suaminya, kamu seharusnya sudah mengantisipasi semuanya. Bahkan perempuan yang kamu ajak keluar sampai terluka."

Rafael mulai mengeraskan rahangnya.

"Aku sudah bertanggung jawab. Juga dia baik baik saja. Justru aku yang membawanya ke dokter. Aku juga yang mengantarnya pulang."

"Tetap saja dia terluka karena kecerobohanmu."

Revan melangkah mendekati Rafael.

Sorot matanya penuh ketegasan.

"Kalau kamu merasa tidak sanggup menjadi calon suami yang siaga... lebih baik akhiri saja pertunangan kamu itu."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.

Rafael menyipitkan mata.

"Maksud Kakak?"

Revan menatap adiknya lurus-lurus.

"Kalau kamu tidak mampu menjaganya... biar aku yang akan menggantikanmu. Aku bersedia menjadi calon suami Zilia. Bahkan untuk menjadi suaminya, tentu saja aku bersedia."

Ucapan itu membuat Rafael tertawa kecil.

Namun tawa itu sama sekali tidak menunjukkan rasa senang.

"Kakak sedang bercanda?"

"Tentu saja aku serius. Sejak bertemu Zilia tadi... aku yakin dia perempuan yang baik. Dan aku tidak ingin melihatnya terluka lagi."

Rafael mengepalkan kedua tangannya.

"Dia itu tunanganku. Papa yang menjodohkanku."

"Masih bisa dirubah."

Jawaban Revan terdengar tenang, tetapi menusuk.

"Selama belum menikah... semuanya masih bisa berubah."

Rafael melangkah hingga kini keduanya berdiri saling berhadapan.

"Kalau Kakak berpikir aku akan menyerahkan Zilia... buang jauh-jauh pikiran itu. Aku tidak akan melepaskannya."

Revan pun tidak mundur sedikit pun.

"Kalau begitu... buktikan. Buktikan kalau kamu memang laki-laki yang pantas mendampinginya."

"Karena mulai hari ini... aku tidak akan tinggal diam."

Suasana berubah semakin panas.

"Sudah cukup!"

Suara Tuan Darmawan menggema memenuhi ruangan.

Kedua putranya langsung menoleh.

"Apa yang kalian lakukan? Memperdebatkan seorang perempuan? Dia bukan barang yang bisa diperebutkan!"

"Tapi, Pa—"

"Tidak ada tapi!"

Tuan Darmawan berdiri dari kursinya.

Tatapannya bergantian mengarah kepada Revan dan Rafael.

"Papa tidak pernah mengajari kalian saling bermusuhan. Apalagi karena seorang wanita."

Rendra yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya membuka suara.

"Terus terang... aku jadi penasaran."

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Aku belum pernah bertemu Zilia. Tapi melihat Kak Revan dan Rafael sampai berdebat seperti ini... aku jadi ingin tahu. Seperti apa sebenarnya perempuan itu. Kenapa baru sekali bertemu... Kak Revan langsung ingin menggantikan posisi Rafael."

Rendra tersenyum tipis.

"Jangan-jangan... Zilia memang memiliki sesuatu yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan darinya."

Ucapan itu membuat Rafael semakin tidak nyaman. Kini bukan hanya Vio. Bukan hanya Revan. Bahkan di dalam keluarganya sendiri.

Perlahan mulai muncul orang-orang yang tertarik kepada perempuan yang telah menjadi tunangannya.

Suasana ruang keluarga masih dipenuhi keheningan setelah Rafael meninggalkan mereka.

Brak!

Suara pintu kamar di lantai atas terdengar ditutup.

Rendra mengembuskan napas pelan.

"Seumur hidup baru kali ini aku melihat Rafael semarah itu hanya karena perempuan."

Revan masih berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Tatapannya mengarah ke lantai dua, tempat Rafael baru saja masuk ke kamarnya.

Tuan Darmawan menggeleng pelan.

"Kalian ini. Papa harap masalah ini berhenti sampai di sini."

Revan tidak menjawab.

Ia memilih berlalu meninggalkan ruang keluarga.

Melihat kakak dan adiknya pergi satu per satu, Rendra justru semakin penasaran.

Ia menghampiri ayahnya.

"Pa."

"Hm?"

"Zilia secantik apa?"

Tuan Darmawan tersenyum tipis.

"Kenapa? Ikut penasaran juga?"

Rendra mengangguk tanpa malu.

"Jujur. Aku jadi penasaran. Baru kali ini aku melihat Kak Revan sampai berani meminta Rafael membatalkan pertunangannya. Padahal selama ini Kak Revan gak sebegitunya. Tapi tadi...Dia benar-benar serius."

Tuan Darmawan menghela napas.

"Rendra. Jangan ikut-ikutan. Papa tidak ingin kalian bertiga saling bermusuhan hanya karena perempuan."

"Aku tidak berniat merebut siapa pun, Pa. Aku hanya ingin tahu. Perempuan seperti apa yang membuat dua saudaraku berubah seperti itu."

Tuan Darmawan menatap putra keduanya beberapa saat.

"Kalau memang suatu hari nanti kalian bertemu... anggap saja dia adik sendiri. Karena statusnya sudah menjadi tunangan Rafael."

Rendra tersenyum kecil.

"Aku mengerti. Tapi rasa penasaran tetaplah rasa penasaran."

Sementara itu...

Di lantai dua.

Rafael memasuki kamarnya. Ia melepas jasnya, lalu menjatuhkannya ke atas sofa.

Tubuhnya ikut direbahkan di tempat tidur.

Namun matanya justru menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

Perlahan ia mengusap wajahnya.

"Huft... Belum juga menikah... masalahnya sudah datang dari mana-mana. Vio belum berhenti mengejar Zilia. Kini... bahkan Kak Revan terang-terangan mengatakan ingin menggantikan posisinya. Dan terbitlah Kak Rendra.

Rafael tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi kelelahan.

"Zilia... Kamu bahkan belum resmi menjadi istriku. Tapi orang-orang sudah mulai berdatangan ingin merebutkanmu."

Ia teringat kembali saat menggenggam tangan Zilia di restoran.

Saat menggendongnya.

Saat merawat kaki gadis itu yang keseleo.

Tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat.

"Aneh. Padahal baru mengenalnya. Tapi rasanya... aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia."

Rafael kemudian bangkit dari tempat tidurnya.

Ia berjalan menuju balkon kamar.

Angin malam berembus pelan menerpa wajahnya.

Tatapannya lurus ke langit yang mulai dipenuhi bintang.

"Kalau memang semua ini adalah ujian... aku tidak akan mundur. Siapa pun yang mencoba mengambil Zilia dariku... akan aku hadapi."

Sorot matanya berubah tajam.

Hari pernikahan memang masih cukup lama.

Namun Rafael mulai menyadari satu hal.

Perjalanan menuju pelaminan tidak akan pernah mudah. Karena semakin hari...

Semakin banyak orang yang menginginkan Zilia berada di sisi mereka.

Keesokan paginya...

Rendra sudah duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi.

Namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Bayangan percakapan semalam terus terlintas di kepalanya.

"Seperti apa sebenarnya Zilia? Sampai Kak Revan dan Rafael berubah seperti itu."

Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benaknya.

Rendra tersenyum tipis.

"Ada-ada saja aku."

Tak lama kemudian, ia melihat ayahnya turun dari lantai atas.

"Pa."

"Hm?"

"Papa hari ini ada jadwal bertemu Om Adrian?"

Sang ayah mengangguk.

"Ada."

"Mau membahas beberapa kerja sama baru."

Rendra berpura-pura biasa.

"Oh..."

"Kebetulan."

"Aku sedang tidak ada agenda sampai siang. Kalau Papa tidak keberatan... aku ikut, ya."

Tuan Darmawan menatap putra keduanya beberapa saat.

"Kamu?"

"Iya. Sudah lama juga tidak bertemu Om Adrian."

Tuan Darmawan mengangguk tanpa curiga.

"Baik. Tapi ingat, jaga sikapmu."

Rendra tersenyum puas.

"Siap, Pa."

Menjelang siang...

Mobil keluarga Darmawan memasuki halaman megah kediaman keluarga Adrian. Para pelayan segera membukakan gerbang.

Tak lama kemudian, Tuan Adrian keluar menyambut tamunya.

"Selamat datang."

"Lama tidak bertemu."

Tuan Darmawan tersenyum ramah.

"Kesibukan perusahaan memang tidak ada habisnya."

Keduanya berjabat tangan.

Pandangan Tuan Adrian kemudian beralih kepada Rendra.

"Ini Rendra, kan?"

Rendra langsung membungkukkan badan dengan sopan.

"Selamat siang, Om Adrian."

"Wah... Terakhir Om melihatmu, kamu masih kuliah. Sekarang sudah makin dewasa."

Rendra tersenyum rendah hati.

"Terima kasih, Om."

"Mari masuk."

Mereka pun berjalan menuju ruang tamu.

Sementara itu...

Di lantai dua.

Zilia yang sedang membaca buku di balkon kamar tanpa sengaja melihat sebuah mobil memasuki halaman.

Ia mengernyit.

"Pagi-pagi sudah ada tamu."

Rasa penasarannya membuat Zilia berdiri.

Namun ia tidak turun. Ia memilih tetap berada di balkon sambil memperhatikan dari kejauhan.

Di bawah sana, Rendra yang baru saja melangkah masuk ke halaman tanpa sengaja mendongak.

Pandangannya bertemu dengan seorang gadis yang berdiri di balkon lantai dua.

Rambut panjangnya tertiup angin.

Gaun sederhana berwarna putih membuat penampilannya terlihat anggun.

Untuk beberapa detik...

Rendra terpaku.

"Apa itu... Zilia?"

Belum sempat ia memastikan, Zilia sudah lebih dulu masuk kembali ke dalam kamar.

Rendra mengembuskan napas pelan.

Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Pantas... Sekarang aku mulai mengerti kenapa Kak Revan sampai kehilangan ketenangannya. Dan kenapa Rafael mati-matian mempertahankan pertunangannya."

Di ruang tamu...

Tuan Adrian dan Tuan Darmawan mulai membahas kerja sama perusahaan.

Revan tidak ikut kali ini.

Yang hadir hanya Rendra menemani sang ayah.

Sesekali Rendra menjawab pertanyaan kedua orang tua itu dengan sopan, tetapi pikirannya masih teringat pada sosok perempuan di balkon beberapa menit lalu.

Di lantai atas...

Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Zilia.

"Permisi, Nona."

"Masuk."

Pelayan itu membuka pintu.

"Tuan meminta Nona turun."

"Ada tamu."

Zilia menutup buku yang sedang dibacanya.

"Tamu siapa?"

"Keluarga Darmawan, Nona."

Zilia menghela napas pelan.

"Oh..."

"Iya, Nona."

"Baiklah."

Dengan langkah pelan agar tidak terlalu membebani kaki yang masih sedikit nyeri, Zilia menuruni anak tangga.

Begitu memasuki ruang tamu...

Rendra yang sedang meminum teh refleks menoleh. Mata keduanya bertemu.

Untuk pertama kalinya...

Rendra melihat Zilia dari jarak yang begitu dekat.

Tak ada riasan mencolok. Tak ada perhiasan berlebihan. Namun pembawaannya tenang dan anggun.

"Selamat pagi, Om."

"Selamat pagi juga."

Tuan Darmawan tersenyum hangat.

"Kakimu bagaimana?"

"Sudah jauh lebih baik, Om."

"Syukurlah."

Pandangan Zilia kemudian beralih kepada pria yang duduk di samping Tuan Darmawan

Pria itu langsung berdiri.

"Halo. Aku Rendra. Kita belum sempat berkenalan."

Zilia menganggukkan kepala dengan sopan.

"Zilia."

"Salam kenal."

Rendra mengulurkan tangan.

Zilia sempat ragu sesaat, lalu membalas jabat tangan itu sekadarnya sebagai bentuk kesopanan.

"Salam kenal."

Rendra segera melepaskan jabat tangannya.

Ia tidak ingin membuat Zilia merasa tidak nyaman.

"Dengar-dengar kakimu keseleo. Sudah tidak terlalu sakit?"

"Sudah mendingan. Terima kasih."

Percakapan mereka berlangsung singkat dan wajar. Namun dari sudut ruangan...

Lora yang baru saja turun dari tangga memperhatikan semuanya.

Tatapannya berubah tajam.

"Kenapa lagi? Sekarang satu lagi?"

Semula ia hanya menganggap Rafael sebagai penghalang.

Lalu muncul Vio.

Disusul Revan.

Kini...

Rendra juga terlihat begitu memperhatikan Zilia.

Rasa iri di dalam dadanya semakin sulit dikendalikan.

Di sisi lain...

Tuan Adrian tersenyum melihat suasana yang akrab.

"Zilia."

"Duduklah."

"Iya, Pa."

Zilia duduk di sofa yang berseberangan dengan Rendra.

Mereka kembali berbincang ringan.

Rendra sengaja tidak membahas pertunangan Zilia dengan Rafael. Ia lebih memilih bertanya mengenai kuliah, hobi, dan rencana Zilia setelah lulus.

Jawaban-jawaban Zilia yang sederhana justru membuat Rendra semakin kagum.

"Tidak heran... Dia tidak hanya cantik. Cara bicaranya juga tenang dan dewasa." Batinnya.

Saat obrolan mulai mengalir...

Suara langkah kaki terdengar dari luar.

Seorang pelayan masuk dengan tergesa-gesa.

"Tuan... Permisi mengganggu. Ada Tuan Rafael datang."

Mendengar nama itu, semua orang menoleh ke arah pintu.

Tak lama kemudian, Rafael melangkah masuk dengan wajah tenang.

Namun begitu melihat Rendra duduk berhadapan dengan Zilia sambil berbincang, senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Sorot matanya langsung beralih kepada sang kakak.

Rendra membalas tatapan itu dengan senyum tipis.

Tanpa sepatah kata pun...

Kedua bersaudara itu saling memahami satu hal.

Persaingan yang semula hanya berupa rasa penasaran...

Kini perlahan mulai berubah menjadi pertarungan diam-diam untuk mendapatkan hati seorang perempuan bernama Zilia.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!