Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Wibawa Azka sebagai Pimpinan di Kantor
Saat ini Azka sedang berada di proyek pembangunan mess untuk karyawan PT. KCI. Ia melakukan peninjauan progres yang nantinya akan dilaporkan kepada direksi.
Oleh karena terganggu dengan ucapan Noval, ia menjadi tidak fokus.
Ketika para pegawai di lapangan memberi penjelasan, Azka hanya berpura-pura mendengarkan. Pikiran seperti teralihkan ke tempat lain.
“Jadi apakah laporan ini sudah bisa diteruskan, Pak?” tanya seorang pegawai menjelaskan.
Azka justru melamun, ia tidak menjawab pertanyaan tersebut.
“Pak?” ucap pegawai itu lagi.
“Ya?” jawab Azka baru tersadar tapi tidak mengetahui apa yang ditanyakan oleh bawahannya.
“Apakah laporan ini sudah bisa diteruskan?” ucap pegawai mengulangi pertanyaan.
“Oh, iya, bisa. Saya rasa sudah cukup,” responnya asal menjawab karena sedari tadi tidak mendengarkan.
Mereka saat ini berada di lantai empat, menyudahi peninjauan. Kemudian, mereka menuruni tangga yang belum selesai sepenuhnya. Tidak ada penyanggah samping untuk pengaman tangga.
Pada saat berada di lantai dua, tiba-tiba saja Azka terpeleset karena kehilangan fokus. Seketika saja ia jatuh ke lantai dasar. Meskipun mengenakan helm, tapi kepalanya terbentur dengan sangat keras.
Azka tidak sadarkan diri.
***
FLASHBACK OFF
Kembali ke masa sekarang.
Melihat Azka kesakitan, Sesilia menjadi panik. Di depan lift, ia berusaha untuk menenangkan Azka, tapi sepertinya tidak terlalu berpengaruh.
Untungnya rasa sakit itu perlahan menghilang. Azka pun mulai bisa mengendalikan dirinya.
“Bapak beneran tidak apa-apa?” tanya Sesilia memastikan.
“Iya, tidak apa-apa. Ayo kita naik,” jawab Azka mengajak Sesilia masuk ke dalam lift yang telah terbuka.
Di dalam lift, Sesilia kembali bertanya tentang kondisi Azka. Ia terlihat khawatir karena Azka masih terlihat pucat.
Sedangkan Azka sebenarnya sudah tidak merasakan sakit kepala. Tapi ia diam karena sedang mencerna tentang ingatan-ingatan barusan.
Ia memiliki banyak pertanyaan tentang pikirannya sendiri. Ia merasa terjebak antara kenyataan dan ilusi dalam otaknya.
***
Di dalam ruangan, Azka termenung di meja kerja. Ia masih memikirkan tentang beberapa hal yang mulai tumpang tindih. Pikiran menjadi lebih kusut dari sebelumnya.
Ketika bertemu dengan Sesilia tadi, ia seperti mengingat kenangan bersama wanita bernama Kayla. Seorang kepala divisi quality control yang sempat ia kagumi.
Azka kini menyadari bahwa dirinya pernah kepikiran untuk mendekati Kayla karena rasa ketertarikan itu. Sosok wanita cantik yang pintar dan selalu membuat ia terkejut dengan ide-ide briliannya.
Benak Azka semakin dibuat bingung karena sekarang, Sesilia yang ada di ingatannya tumpang tindih dengan sosok Kayla di kehidupan nyata.
Belum selesai dengan pertanyaan siapa Sesilia sebenarnya, kini ia harus menerima pertanyaan baru.
Siapa Kayla?
Dengan begini, Azka memiliki tiga nama wanita yang masih menjadi misteri, yaitu Visha, Sesilia, dan Kayla.
Lamunan Azka buyar setelah terdengar suara ketukan pintu.
“Ya, masuk,” jawab Azka.
Ternyata itu adalah Noval yang terkejut karena mengetahui Azka sudah masuk kantor. “Permisi, Pak. Izin masuk,” ucapnya sesaat setelah membuka pintu.
Noval masuk dengan pertanyaan lanjutan, “Kamu benar-benar sudah sembuh, Pak? Padahal kantor masih ada kompensasi cuti sampai minggu depan kan?”.
“Saya tidak betah di rumah, terlalu sering bengong,” jawabnya.
“Oh ya, bagaimana kondisi kantor? Aman saja?” ucap Azka lagi balik bertanya.
Kini Noval telah duduk tepat di hadapan Azka. Tubuh sedikit condong ke depan, menunjukkan keseriusan yang tak bisa diabaikan. Sorot matanya tajam, namun tak kehilangan nada persahabatan yang biasa mereka lakukan saat berbincang.
Dengan suara pelan namun mantap, ia mulai bicara tanpa basa-basi. “Penggantimu dari kantor pusat tidak becus kerjanya. Untung saja ada Sesilia, jadi masih tertolong,” jelas Noval.
Mengetahui masalah tersebut, Azka langsung mengalihkan perhatian untuk bekerja. Wajahnya terlihat tegang, Noval pun menyadari.
“Kalau begitu, saya minta data-data laporan satu bulan terakhir ya. Saya mau pelajari,” ujarnya.
Alih-alih langsung membicarakan langkah berikutnya, Noval menundukkan sedikit kepala, menatap Azka dengan tatapan penuh perhatian.
“Nanti saja, Pak. Kamu baru sembuh, jangan terlalu dipaksakan,” sahut Noval.
Tapi kemudian Azka meninggikan level nada bicara. Ia mengeluarkan sikap kepemimpinan yang selalu membuat bawahan segan terhadapnya.
“Saya minta tolong, data laporan yang saya minta tadi, kamu siapkan sekarang!,” tegasnya.
Begitu Noval menyadari bahwa Azka benar-benar serius, ia menelan kata-kata yang nyaris keluar dari mulutnya. Tak ada lagi bercanda atau argumen ringan.
Ia menundukkan kepala sejenak, menarik napas panjang, lalu memilih diam. Sekalipun hati ingin menasihati atau menahan langkah Azka, rasa hormat dan keseriusan pria itu membuatnya tak berani membantah lagi.
Di ruang itu, keheningan muncul bukan karena ketegangan, tapi karena pengakuan tak tersurat. “Baik, Pak,” jawabnya singkat, lalu pergi keluar dari ruangan.
Setelah Noval pergi, Azka memegangi kepalanya yang terasa sakit karena tensi naik.
***
Siang harinya, Azka menghubungi Noval untuk datang ke ruangannya, memanggil dengan nada datar tapi sudah cukup membuat Noval tegang. Wajah yang biasanya tenang kini menyimpan kilatan serius sulit diabaikan.
Pintu terbuka.
Noval melangkah cepat ke arah kursi, nafasnya sedikit terengah. Panik mulai merayap di pikiran, karena ia tahu jika Azka sampai seperti ini, berarti ada masalah tidak ringan. Sesuatu hal cukup besar untuk membuat pria itu menunjukkan sisi serius yang jarang terlihat. Noval menatap Azka, mencoba menenangkan diri, tapi dalam hati, peringatan waspada terus bergema.
“Duduk,” ucap Azka setelah melihat kedatangan Noval.
Ia kemudian menjelaskan tentang beberapa poin penting yang perlu dievaluasi segera. Noval memperhatikan dengan perasaan was-was. Ia takut melakukan kesalahan hingga memuat Azka marah.
“Kamu lihat ini, sudah saya beri tanda,” kata Azka sambil menyodorkan sebuah dokumen.
Noval meraih dokumen dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang rapuh dan bernilai. Ia membuka lembar demi lembar, matanya menelusuri setiap kata dengan seksama, pelan namun penuh perhatian, seakan orang yang membaca pesan terselubung dari masa lalu.
Tak butuh waktu lama baginya untuk menangkap maksud Azka. Setiap kalimat, catatan kecil di margin, seakan menuntun kepada inti dari niat atasannya itu. Dalam sunyi ruangan, pemahaman muncul dengan jelas, menyingkap maksud tersembunyi di balik kata-kata Azka yang sederhana.
“Baik pak, saya paham,” ujarnya dengan sedikit terbata.
Azka tampak menggelengkan kepala. Ia merasa kecewa pada Noval karena dinilai tidak bekerja dengan baik.
“Saya tidak habis pikir sama kamu, Noval. Bagaimana kamu bisa melewatkan hal sebesar ini. Kalau saya tidak periksa hari ini, mungkin semua akan terlambat,” jelasnya.
Hanya bisa menerima ungkapan kekecewaan, Noval terlihat sedih karena merasa seharusnya ia bisa bekerja dengan lebih baik.
“Anggaran sebesar itu bisa terbuang sia-sia,” tutup Azka.
Menyadari kesalahan, Noval minta maaf kepada Azka. Ia mengaku telah menyadari kelalaian dan ia berjanji akan segera memperbaikinya. “Saya izin keluar dulu, pak. Mau revisi data laporan ini. Sekali lagi, saya minta maaf ya pak,” ucap Noval.
Menerima permintaan maaf tersebut, tapi Azka juga memberikan pesan kepada Noval agar fokus pada kinerja sendiri. Tidak perlu mengomentari performa orang lain secara berlebihan.
Apalagi sebagai tim dari project manager yang membawahi banyak divisi lainnya. Ia harus memberikan contoh, bukannya malah bergosip yang tidak baik mengenai orang lain.
Selain itu, Azka juga kecewa dengan Noval karena harusnya ia yang bertugas untuk mengawasi jika penggantinya tidak bekerja dengan baik. Bukan malah membiarkan Sesilia yang sebenarnya berada di divisi lain, bahkan merupakan divisi di bawah wewenangnya.
“Saya minta kamu jangan mengulangi kesalahan ini lagi,” tutup Azka.
Noval menerima semua saran dari Azka. Ia menjadi semakin kagum dengan ketegasan atasannya itu. Ia berharap suatu saat bisa menjadi pemimpin seperti Azka.
“Baik pak,” jawab Noval, kemudian keluar ruangan.