Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Seminggu Pertama
Satu minggu pertama di Loh Group membuat Liana merasa seperti belajar berjalan dengan sepatu baru.
Hari kedua, ia hampir salah memasukkan jadwal rapat ke Google Calendar. Hari ketiga, ia lupa bahwa lift eksekutif memakai akses berbeda setelah pukul tujuh malam. Hari keempat, ia baru memahami bahwa kata "sebentar" di mulut Arman Kang bisa berarti lima menit atau dua jam, tergantung apakah Boss Loh sedang menerima telepon dari Singapura.
Tetapi Liana belajar cepat.
Setiap malam di rumah Jessy, ia membuka laptop pinjaman dan mengulang semua yang ia pelajari. Cara membuat undangan kalender. Cara mengunggah file ke Drive. Cara memberi label warna pada jadwal. Jessy beberapa kali tertidur di sofa sementara Liana masih duduk di meja makan, mencatat istilah kantor yang baru ia dengar hari itu.
"Kamu belajar seperti mau ujian nasional," gumam Jessy suatu malam.
"Aku memang sedang ujian," jawab Liana, mata tetap di layar. "Bedanya, kalau gagal, yang jatuh bukan nilai. Hidupku."
Jessy tidak mengganggunya lagi. Ia hanya menaruh teh hangat di sebelah laptop.
Ia menulis semua hal di buku kecil. Kopi Edwin tidak boleh terlalu panas karena ia langsung minum sambil membaca laporan. Jas cadangan harus tersedia di ruang ganti setiap Senin dan Kamis. Obat lambung diletakkan bukan di laci bawah, melainkan di kotak kecil dekat mesin kopi agar terlihat. Rapat lebih dari tiga jam harus diselipkan buah potong, bukan kue manis.
Awalnya sekretaris muda masih mengawasi dari jauh.
"Bu Liana, file meeting itu biasanya di-share lewat Drive."
"Terima kasih. Saya sudah minta akses ke Arman."
"Oh... sudah?"
Liana hanya tersenyum.
Ia tidak lebih cepat dari mereka dalam mengetik. Ia tidak lebih lancar membaca singkatan internal perusahaan. Tetapi ia melihat hal-hal yang mereka lewatkan. Saat ruang rapat terlalu dingin, ia menyiapkan air hangat sebelum Edwin meminta. Saat kemeja putih di ruang ganti memiliki noda kecil di manset, ia menggantinya tanpa membuat heboh. Saat jadwal makan siang Edwin kembali kosong, ia menuliskan pengingat di kalender Arman juga.
Pada hari kelima, Arman berdiri di pantry eksekutif, menatap kotak makan di tangan Liana.
"Itu untuk siapa?"
"Pak Edwin belum makan dari pagi. Kalau rapat berikutnya selesai jam dua, lambungnya bisa sakit."
Arman ingin menjawab, tetapi ponselnya berbunyi. Ia hanya mengangguk dan pergi.
Liana meletakkan kotak makan itu di meja samping ruang kerja Edwin. Nasi hangat, ayam jahe, tumis sayur tanpa bahan berisiko, dan sup bening. Ia tidak menunggu dipuji. Ia bahkan tidak yakin Edwin akan menyentuhnya.
Sore hari, kotak itu kembali kosong.
Liana menemukannya di pantry, sudah dicuci bersih.
Ia menatap kotak itu beberapa detik, lalu buru-buru menunduk agar sekretaris lain tidak melihat senyumnya.
Di dalam ruang CEO, Edwin menutup laporan dan berkata kepada Arman, "Makanan tadi dari Bu Liana?"
"Iya, Boss. Sepertinya beliau khawatir Boss belum makan."
Edwin diam.
Arman menunggu, mengira akan ada instruksi untuk melarang hal semacam itu.
Namun, Edwin hanya berkata, "Rasanya enak."
Itu saja.
Tetapi bagi Arman, satu kalimat pendek dari Edwin setara dengan ulasan panjang.
Sejak hari itu, nada sekretaris tim mulai berubah. Mereka tidak lagi memanggil Liana "Oma" di belakang. Setidaknya, tidak ketika ia bisa mendengar.
"Bu Liana, boleh minta tolong cek jadwal dry cleaning Boss?"
"Bu Liana, Ibu ingat Boss alergi seafood tertentu atau tidak?"
"Bu, kok Ibu bisa tahu rapat itu pasti molor?"
Liana menjawab sebisanya. Tidak sombong, tidak juga merendah berlebihan. Di rumah Phua, kepandaiannya mengurus orang dianggap kewajiban. Di Loh Group, hal yang sama mulai dianggap kemampuan.
Pada Jumat sore, saat sebagian staf sudah merapikan meja, Arman menghampiri Liana.
"Selamat, Bu. Ibu bertahan satu minggu."
Liana menutup buku catatannya. "Saya tidak tahu itu prestasi."
"Asisten sebelumnya bertahan tiga hari. Yang sebelum itu dua hari. Ada yang keluar setelah Boss menolak makan siang tiga kali."
"Saya belum tentu berhasil seterusnya."
"Tapi Ibu tidak lari."
Liana terdiam. Entah kenapa, kalimat itu terasa lebih dalam daripada pujian.
Ia teringat hari-hari ketika Albert berkata ia tidak akan bertahan di luar rumah. Satu minggu memang belum berarti banyak. Tetapi satu minggu itu miliknya. Ia melewatinya bukan sebagai istri siapa pun, melainkan sebagai Liana Liem yang datang pagi, belajar, salah, memperbaiki, lalu datang lagi esoknya.
Arman menyerahkan satu folder tipis. "Minggu depan ada perjalanan dinas tiga hari ke Bali. Boss akan menghadiri pertemuan resort investment dan private dinner dengan partner luar negeri. Oma Loh meminta Ibu ikut."
"Saya?" Liana hampir menjatuhkan pulpen.
"Iya. Tugas Ibu mengurus kebutuhan pribadi Boss selama perjalanan. Baju, makanan, jadwal istirahat, hal-hal seperti itu."
Liana membuka folder. Tiket, itinerary, daftar hotel, dan catatan preferensi Edwin tersusun rapi.
Bali.
Tiga hari.
Dengan Edwin Loh.
Di halaman terakhir ada daftar tamu makan malam, sebagian nama asing dengan jabatan panjang. Ada catatan makanan yang harus dihindari, dress code, dan jadwal keberangkatan yang terlalu pagi. Liana merasakan gugup naik lagi, tetapi kali ini ia tidak ingin mundur.
Arman menatapnya, kali ini tanpa meremehkan. "Siap, Bu Liana?"
Liana menarik napas pelan.
"Saya akan belajar malam ini."
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/