Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.
Keheningan masih menggantung di udara, seolah waktu berhenti berputar sejenak. Tak seorang pun bergerak, semua masih terpaku pada keputusan Eyang Bramantyo yang begitu tiba-tiba. Hanya suara napas-napas tertahan yang terdengar samar di ruangan luas itu.
Kahiyang masih menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajahnya merah padam, sementara Rafa diam terpaku di sampingnya, berusaha mencerna keputusan yang baru saja didengarnya.
Melihat reaksi keduanya, Eyang Bramantyo justru tersenyum lebar. "Kenapa kalian terkejut begitu?" tanyanya santai. "Apakah keputusan Eyang terdengar aneh?"
Beliau menatap Rafa dengan tatapan teduh. "Eyang sudah tua, Nak. Sudah banyak melihat dan makan asam garam kehidupan. Dari cara seseorang berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain, eyang bisa sedikit banyak menilai seperti apa hatinya."
"Dan dari apa yang eyang lihat sejak tadi, eyang benar-benar yakin jika kamu sungguh-sungguh mencintai Kahiyang," lanjutnya menambahkan, lalu tatapan beliau beralih kepada Kahiyang.
"Karena itu, Eyang tidak ingin menunggu lebih lama. Kalau kalian memang saling mencintai, apa lagi yang harus dipertimbangkan?"
Tak ada yang mampu menjawab. Eyang Bramantyo lalu melirik ke arah Bu Retno dan Cantika yang masih berdiri dengan wajah pucat.
"Sayangnya, masih ada orang yang menilai seseorang hanya dari penampilannya luarnya saja."
Nada suara beliau tetap tenang, tetapi kalimat berikutnya terasa semakin tajam. "Menurut Eyang, lelaki yang sederhana, tapi tahu menjaga lisan, menghormati orang tua, bertanggung jawab, dan mampu menjaga hati jauh lebih berharga daripada lelaki yang hanya unggul dalam rupa, harta, atau gaya."
"Karena wajah akan berubah seiring bertambahnya usia. Harta bisa berkurang dan kemewahan bisa hilang kapan saja. Namun, akhlak serta kesetiaan seseorang lah yang akan menentukan apakah sebuah rumah tangga bisa bertahan."
Tatapan Eyang berhenti pada Bu Retno membuat wanita itu langsung menundukkan kepala. Tidak ada lagi keberanian untuk membantah.
Cantika pun hanya bisa menggigit bibir, menahan rasa malu yang semakin memenuhi rongga dadanya. Ia benar-benar merasa bahwa penilaiannya terhadap Rafa begitu keliru.
Ia teringat Tedy suaminya. Dulu, dirinya merebut lelaki itu dari Kahiyang karena tertatik pada penampilannya yang modis dan gayanya yang trendi, serta kemapanannya. Ia bahkan merasa bangga karena ternyata Tedy pun dengan mudah berpaling hati padanya dan memilih meninggalkan Kahiyang.
Namun kenyataannya, hubungan itu tidak pernah memberinya ketenangan. Rasa curiga dan cemburu justru terus menghantuinya. Ditambah lagi, keluarga besar tidak pernah benar-benar memberikan restu.
Kini, melihat Rafa berdiri di sisi Kahiyang dengan sikap tenang dan penuh tanggung jawab, Cantika mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Ternyata lelaki yang terlihat sederhana belum tentu memiliki hati yang sederhana.
Sementara itu, Rafa perlahan mengangkat wajahnya. Dia terlihat sedikit gugup, bukan karena takut menerima permintaan tersebut, tetapi karena tidak menyangka Eyang Bramantyo akan memberikan restu sedemikian besar kepadanya. Dia kemudian menundukkan tubuhnya dengan penuh hormat. "Terima kasih, Eyang."
Suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Pemuda itu menarik napas, berusaha menenangkan dadanya yang berdebar kencang.
"Saya sungguh tidak menyangka Eyang akan mengatakan hal seperti ini. Maaf, tadi itu saya benar-benar sangat terkejut."
Rafa tersenyum kecil, sedikit salah tingkah. "Saya merasa... terlalu bahagia sampai tidak tahu harus menjawab apa."
Kahiyang yang mendengarnya langsung menoleh sambil mengernyit. Tatapannya bertemu dengan mata Rafa.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu justru membuat dadanya semakin berdebar.
Rafa kembali menghadap Eyang Bramantyo. "Kalau Eyang benar-benar mengizinkan saya..." Ia berhenti sebentar, kemudian mengangguk mantap. "...saya menerimanya, saya bersedia menikahi Kahiyang."
Suasana berubah menjadi hening. Kahiyang menahan napas, jantungnya berdebar kian kencang.
"Saya mungkin bukan lelaki yang sempurna, Eyang. Saya juga masih banyak kekurangan. Tapi saya akan belajar menjadi suami yang baik untuk Kahiyang," lanjut Rafa dengan suara yang lebih tegas.
Tangannya mengepal kecil di sisi tubuh. "Saya akan menjaga dan menghormatinya, membahagiakannya serta tetap berada di sisinya dalam keadaan apa pun."
"Saya akan berusaha sekuat yang saya bisa agar Kahiyang tidak pernah menyesal memilih saya." Tatapan mata Rafa penuh kesungguhan.
Senyum Eyang Bramantyo semakin lebar. "Bagus."
Uti Halimah yang sejak tadi menahan haru akhirnya mengusap sudut matanya. "Alhamdulillah..."
Beliau kemudian mengulurkan tangan kepada Rafa. "Ke sini, Nak."
Rafa segera mendekat. Uti Halimah menyentuh pipinya dengan penuh kasih sayang, kemudian meraih tangan Kahiyang dan menggenggamnya. "Uti dan Eyang hanya ingin melihat kalian bahagia."
Kahiyang mengangguk pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. Bu Arimbi yang sejak tadi berdiri tak jauh dari putrinya akhirnya menghampiri. Ia langsung memeluk Kahiyang erat.
"Mama sangat bahagia, Ay...," ucapnya menahan rasa haru, kemudian melepaskan pelukannya, mengusap pipi putrinya lembut. "Kalau Eyang dan Uti sudah memberikan restu, itu berarti pilihannya nggak salah. Dan kamu jangan terlalu banyak berpikir."
Pak Andika ikut mendekat. Tatapannya beralih kepada Rafa. "Terima kasih, Nak Rafa."
Ayah Kahiyang itu menepuk bahunya pelan. "Kami tidak meminta kamu menjadi suami yang sempurna. Cukup jadilah lelaki yang selalu jujur kepada Kahiyang, bertanggung jawab, dan tidak meninggalkannya ketika keadaan sulit."
Rafa segera menundukkan kepala sembari mengangguk mantap. "Insya Allah, Pak. Saya akan berusaha."
Pria paruh baya itu tersenyum. "Kami titipkan Kahiyang kepadamu."
Rafa melirik Kahiyang. Gadis itu sedang menundukkan wajah karena malu. Pemuda itu pun tersenyum kecil. "Insya Allah, saya akan menjaganya dengan segenap jiwa raga saya, Pak."
"Ehem..." Suara Eyang Bramantyo tiba-tiba terdengar.
Semua orang menoleh, lalu beliau tersenyum penuh arti. "Kalau begitu, masalah utamanya sudah selesai. Sekarang tinggal memikirkan masalah selanjutnya."
Kahiyang mengangkat wajah, lalu memberanikan diri bertanya, "Masalah selanjutnya apa, Eyang?"
"Pernikahan kalian," jawab Eyang dengan enteng.
Mata Kahiyang langsung membesar. "Eyang...?"
"Kenapa?" Eyang terkekeh pelan. "Tadi sudah menerima, sekarang jangan pura-pura mau mundur."
"Aku... bukan begitu maksudku, Eyang." Kahiyang semakin salah tingkah.
Beberapa anggota keluarga mulai tertawa kecil melihat wajahnya yang memerah. Rafa pun tersenyum kikuk di sampingnya.
Eyang Bramantyo mengangguk puas. "Kalau begitu, mulai sekarang persiapkan semuanya."
Kahiyang terdiam bingung harus bagaimana. Sementara Rafa tampak terkesiap, tak menyangka pembicaraan mereka sudah sampai pada tahap seserius ini.
Mereka saling menoleh. Tatapan keduanya bertemu, sama-sama menyadari bahwa percakapan yang awalnya hanya tentang ulang tahun pernikahan Eyang dan Uti kini telah berubah menjadi pembicaraan tentang pernikahan mereka sendiri.
Kahiyang buru-buru mengalihkan pandangan. Rafa pun membetulkan kacamatanya yang kembali melorot. Gerakan kecil itu membuat gadis itu tanpa sadar tersenyum.
Di tengah suasana hangat keluarga tersebut, Eyang Bramantyo hanya bisa tersenyum puas. Baginya, hari itu bukan sekadar perayaan ulang tahun pernikahan emas.
Namun, hari itu akan menjadi awal dari sebuah ikatan baru yang diyakininya dapat membawa kebahagiaan bagi cucu kesayangannya.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭