NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama

Pagi di kediaman Baron Evander tidak pernah disambut oleh kicau hangat burung gereja atau kepulan uap sup kentang yang gurih. Hari-hari selalu dimulai dengan derit panjang lantai kayu cemara tua yang mengaduh, seakan memprotes beban waktu yang kian mengimpit dinding-dinding kastel yang mulai lapuk.

Aria berdiri di dekat bingkai jendela kamarnya. Jemarinya menyapu debu tipis yang melapisi kaca buram, menyisakan garis bersih yang memperlihatkan kebun belakang yang suram. Di luar sana, hanya ada hamparan tanah kelabu yang gundul. Tanaman mawar yang dahulu menjadi kebanggaan mendiang ibunya kini menyisakan batang-batang hitam berduri yang mati membeku dihantam embun musim dingin.

Ia mengembuskan napas panjang. Uap tipis terbentuk di udara dingin kamar, lalu lenyap dengan cepat sebelum sempat menyentuh kaca. Dua bulan lalu, tangannya masih terbiasa memegang pisau bedah dingin di bawah pendar lampu neon ruang operasi yang steril. Kini, jemari yang sama harus memegang sebatang pena bulu angsa kuno yang terasa berat, menyengat kulitnya dengan desis sihir yang halus.

“Kau melamun lagi, Aria,” sebuah suara sehalus gesekan sutra berbisik di dekat telinganya.

Lumi melayang setinggi bahu Aria. Sosok roh pena itu tidak lebih besar dari ibu jari, dengan sepasang sayap transparan yang berkilau layak pecahan kaca di bawah cahaya minim pagi hari. Setiap kepakan sayapnya meninggalkan jejak cahaya keemasan yang perlahan memudar sebelum sempat menyentuh lantai kayu.

Aria tidak menoleh. Tatapannya masih tertuju pada kebun mati di luar. “Aku hanya sedang berpikir, seberapa jauh tinta ini bisa mengubah kenyataan sebelum garis nasib menyadari ada yang salah.”

“Realitas di dunia ini mengalir seperti tinta basah, Aria,” sahut Lumi, mendarat dengan anggun di atas tumpukan dokumen tua di meja kerja. “Ia belum mengering. Selama ujung penamu bergerak, lembaran baru selalu bisa ditulis ulang.”

Aria berbalik, lalu melangkah perlahan menuju meja kayu ek yang permukaannya sudah mulai retak-retak. Di atasnya, berserakan kertas-kertas laporan keuangan dengan angka-angka berwarna merah pekat—lambang kehancuran sebuah keluarga bangsawan. Utang yang menumpuk dari para lintah darat ibu kota, penyitaan paksa wilayah timur, hingga biaya pengobatan ayahnya yang terus menguras koin tembaga terakhir mereka.

Ia menarik kursi kayu yang berderit nyaring, lalu duduk. Dengan ketelitian seorang dokter bedah yang hendak mengamputasi jaringan busuk agar infeksi tidak menyebar, Aria mengarahkan ujung pena bulunya ke atas kertas laporan kuno itu.

Ujung pena menyentuh permukaan kertas kasar. Aliran sihir yang dingin merambat dari telapak tangan, menelusup ke dalam serat-serat kertas. Aria mulai mencoret angka-angka utang tersebut, menggantinya dengan perhitungan baru yang sangat rumit namun sah secara hukum kekaisaran. Ia menyelipkan beberapa klausul perdagangan gandum yang terabaikan, memutarbalikkan transaksi masa lalu seolah-olah pihak Baron Evander telah melunasinya melalui sistem barter yang sah bertahun-tahun lalu.

Saat tintanya meresap, sebuah ingatan asing tiba-tiba menghantam kepalanya. Itu bukan memorinya. Ia melihat seorang pria paruh baya berambut beruban—Baron Evander—tersenyum lembut sambil mengusap kepalanya saat ia masih kecil. Rasa hangat yang asing itu menjalar di dadanya, menyisakan rasa sesak yang aneh.

“Aku tidak akan membiarkanmu hancur,” bisik Aria pada kegelapan kamar. Ia menekan penanya lebih dalam, mengunci narasi baru itu ke dalam realitas.

Ketukan pelan di pintu membuyarkan konsentrasinya. Pintu kayu ek itu terbuka perlahan, memunculkan sosok gadis muda dengan gaun pelayan yang sudah pudar warnanya di bagian siku.

“Nona Aria,” cicit Mia Florent, melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Di kedua tangannya, ia membawa nampan perak yang sudah kehilangan kilaunya, mengusung secangkir teh herbal yang uapnya mengepul tipis. “Saya membawakan teh hangat. Hanya ini yang tersisa di dapur.”

Aria menatap cangkir porselen yang retak di bagian tepinya. Teh itu berwarna pucat, hampir seperti air biasa. Namun, ia juga melihat jemari Mia yang memerah dan kasar karena terlalu lama mencuci di air musim dingin yang membeku demi menghemat kayu bakar.

“Terima kasih, Mia,” ujar Aria lembut. Ia menerima cangkir itu, membiarkan kehangatan menjalar ke telapak tangannya yang kaku. “Kau sudah sarapan?”

Mia mendongak, tampak terkejut dengan perhatian kecil itu. Ia buru-buru mengangguk, meski perutnya berbunyi pelan—sebuah kebohongan yang terlalu mudah dibaca. “Sudah, Nona. Saya... saya baik-baik saja.”

Aria meletakkan cangkir itu kembali ke meja tanpa meminumnya. Ia meraih tangan Mia, menggenggam jemari kasar pelayan setianya itu. “Mulai besok, kita tidak perlu lagi menghemat kayu bakar. Dan pastikan dapur selalu memiliki roti gandum yang cukup.”

Mia menatap Aria dengan mata membelalak, penuh ketidakpercayaan. “Tapi, Nona... utang-utang kita—”

“Semua sudah selesai,” potong Aria dengan nada tenang yang tidak menerima bantahan. “Pergilah ke dapur dan hangatkan dirimu.”

Setelah Mia keluar dengan langkah ragu namun membawa secercah harapan di matanya, senyum di wajah Aria perlahan memudar. Matanya menyipit menatap lembaran kertas di depannya.

Minggu depan adalah pesta dansa musim dingin di istana kekaisaran. Di sana, Evelyn Roselia—sang protagonis wanita dalam novel asli—akan meluncurkan jebakan sosial pertamanya untuk mempermalukan keluarga Evander. Evelyn ingin menyingkirkan Aria agar jalannya menuju takhta permaisuri tidak terganggu oleh keberadaan putri Baron yang miskin namun memiliki darah bangsawan murni.

“Dia pikir aku akan menjadi batu pijakan untuk gaun indahnya,” gumam Aria. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis yang dingin. “Sayangnya, naskah aslimu sudah kehilangan penulisnya, Evelyn.”

Tiba-tiba, bulu kuduk Aria meremang. Suhu di dalam ruangan mendadak turun drastis hingga napasnya kembali beruap. Suasana sunyi yang ganjil merayapi kamar itu, seolah-olah waktu sendiri telah dipaksa berhenti bergerak.

“Mengubah angka tidak akan mengubah akhir dari sebuah tragedi, Lady Aria.”

Sebuah suara bariton yang dingin dan berwibawa terdengar dari arah sudut ruangan yang gelap.

Aria tersentak, namun ia menahan diri untuk tidak melompat dari kursinya. Ia menoleh perlahan. Di sana, bersandar pada bingkai pintu yang setengah terbuka, berdiri seorang pria jangkung dalam balutan mantel hitam pekat berhias sulaman benang perak berbentuk lambang keluarga kekaisaran.

Duke Lucien Veritas.

Pria itu memiliki wajah yang seolah dipahat dari marmer terbaik—sempurna namun dingin tanpa cela. Rambut hitamnya yang legam jatuh sedikit berantakan di dahinya, sementara sepasang mata berwarna merah crimson menatap Aria dengan intensitas yang sanggup membuat prajurit paling berani sekalipun berlutut ketakutan.

Lumi langsung melesat bersembunyi di balik tumpukan buku, menyembunyikan pendar cahayanya sepenuhnya.

“Duke Lucien,” ucap Aria, berusaha menjaga suaranya tetap datar dan tidak bergetar. Ia bangkit berdiri, merapikan gaun sederhananya dengan gerakan anggun yang ia latih berulang kali. “Saya tidak mendengar ketukan di pintu. Apakah tata krama di kediaman Veritas telah berubah?”

Lucien melangkah maju. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai kayu tua terdengar seperti detak jam pasir yang menghitung sisa waktu hidup Aria. Ia berhenti tepat di depan meja kerja Aria, menunduk untuk menatap tumpukan laporan keuangan yang baru saja dimanipulasi.

“Tata krama hanya berlaku untuk mereka yang bermain sesuai aturan,” bisik Lucien, mendekatkan wajahnya. Aroma kayu cedar yang bercampur dengan dinginnya salju malam menguar dari tubuh pria itu. “Sedangkan kau... kau baru saja merobek aturan itu di depan mataku.”

Aria merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan keras. Namun, ia menolak untuk mengalihkan pandangan. Ia menatap langsung ke dalam mata merah yang berkilau berbahaya itu. Di dunia modern, ia pernah menghadapi pasien-pasien di ambang kematian; ia tahu betul bahwa rasa takut adalah sekutu terbaik musuh.

“Saya hanya merapikan pembukuan keluarga saya, Yang Mulia,” sahut Aria, menyembunyikan tangan kanannya yang memegang pena bulu di balik lipatan gaunnya. “Tidak ada hukum kekaisaran yang melarang seorang putri Baron untuk menyelamatkan keluarganya dari kelaparan.”

Lucien mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang dan mengenakan sarung tangan kulit hitam menyentuh ujung kertas laporan yang masih menyisakan sisa sihir keemasan yang samar. Pendar itu langsung lenyap begitu bersentuhan dengan kulit Lucien, seolah-olah kegelapan dalam diri pria itu menelan semua cahaya.

“Sihir yang kau gunakan... itu bukan sihir yang diajarkan di akademi,” gumam Lucien, matanya menyipit tajam. “Itu adalah sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di tangan seorang gadis yang hampir mati karena demam dua minggu lalu.”

Aria menahan napas. Pria ini terlalu jeli. Sebagai salah satu pilar kekaisaran dan penyihir hitam terkuat, Lucien memiliki kepekaan terhadap aliran mana yang sangat luar biasa.

“Setiap orang memiliki rahasia mereka sendiri, Duke,” jawab Aria, memiringkan kepalanya sedikit, menantang tatapan sang Duke. “Sama seperti rahasia mengapa seorang Duke agung sudi mendatangi kediaman Baron yang hampir bangkrut ini secara diam-diam.”

Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, muncul di sudut bibir Lucien. Itu bukan senyuman ramah, melainkan senyuman seorang predator yang menemukan mangsa yang menarik untuk tidak langsung dibunuh.

“Aku menyukai keberanianmu, Lady Aria,” bisik Lucien, suaranya kini terdengar tepat di dekat telinga Aria, mengirimkan sensasi dingin yang aneh ke sepanjang tulang belakang gadis itu. “Namun ingatlah, setiap kali kau mengubah satu baris dalam takdir ini, dunia akan menuntut bayaran yang setimpal. Dan terkadang, harga yang diminta adalah sesuatu yang tidak akan sanggup kau bayar.”

Pria itu berbalik, jubah hitamnya berkelebat pelan saat ia melangkah menuju jendela. Sebelum Aria sempat menjawab, sosok Lucien telah melebur bersama bayang-bayang pagi yang dingin, meninggalkan suasana sunyi yang kembali merayap di dalam kamar.

Aria terduduk kembali di kursinya, lututnya terasa lemas. Ia melepaskan genggamannya pada pena bulu. Tangannya gemetar hebat. Pertemuan tadi adalah konfirmasi bahwa jalannya tidak akan mudah. Ia tidak hanya harus menghadapi kelicikan Evelyn, melainkan juga tatapan tajam dari sang kegelapan itu sendiri—Lucien Veritas.

Namun, saat ia menatap kembali laporan keuangan yang kini telah bersih dari utang, seulas senyum penuh tekad kembali terukir di wajahnya.

“Biarlah dunia menuntut harganya,” bisik Aria, meraba ujung tajam pena bulunya yang kini kembali tenang. “Aku yang akan menentukan akhir dari cerita ini.”

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!