NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN DAN PERSAINGAN

Setibanya di dalam ruang kelas yang luas dan terang, ketiga sahabat itu memilih duduk di barisan paling belakang. Dari sana mereka bisa melihat seluruh ruangan dengan jelas — mengamati wajah-wajah baru yang belum pernah mereka kenal, serta suasana kelas yang masih asing bagi semua orang.

Seperti halnya hari pertama masuk sekolah atau kampus di mana pun, pelajaran belum langsung dimulai. Dosen pengajar belum tampak datang, dan para mahasiswa baru sibuk mengobrol, berkenalan, atau sekadar duduk menunggu sambil memandangi ruangan sekitar. Begitu pula di kelas mereka — ruangan itu penuh dengan suara bisik-bisik dan tawa kecil, namun belum ada yang benar-benar saling mengenal satu sama lain.

Alex yang duduk di tengah-tengah mereka, dengan senyum yang sudah terbiasa ia tampilkan, menyapih seorang gadis yang baru saja duduk di kursi tepat di depannya.

"Hai, cantik. Kenalkan, namaku Alex," ucapnya dengan nada yang terdengar ramah namun penuh percaya diri yang berlebihan.

Rey yang duduk di sebelahnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu. Baginya, pemandangan seperti itu sudah biasa dilihat sejak mereka masih bersekolah bersama — Alex yang selalu berani menyapa siapa saja, terutama gadis yang menarik perhatiannya.

Sementara itu, Billy yang duduk di sisi lain justru menyandarkan kepalanya di meja dan mencoba memejamkan mata. Ia merasa kepalanya masih pening dan berat — sisa akibat terlalu lama berada di klub milik orang tua mereka semalam, pulang ke rumah tepat saat fajar menyingsing. Tubuhnya lelah dan pikirannya belum sepenuhnya segar, sehingga ia berharap bisa beristirahat sebentar sebelum keadaan menjadi lebih sibuk.

Gadis yang dipanggil itu bernama Lisa. Mendengar sapaan Alex, ia pun perlahan menoleh ke belakang dengan wajah yang ramah dan tersenyum sopan.

"Salam kenal, Alex. Namaku Lisa," jawabnya lembut. "Senang sekali bisa duduk berdekatan. Semoga kita bisa menjadi teman baik selama kuliah bersama, ya."

Alex tersenyum lebar, lalu berkata dengan nada yang terdengar bangga dan sedikit angkuh, "Tenang saja, Lisa. Kamu tidak perlu khawatir soal apa pun di sini. Aku pasti akan menjagamu dari makhluk yang tidak sopan atau mengganggu. Aku akan memastikan tidak ada yang berani menyusahkanmu di kelas ini."

Perkataan Alex yang lantang dan penuh kesombongan itu terdengar jelas oleh sebagian besar mahasiswa yang hadir di ruangan. Beberapa orang merasa tersinggung dan tidak senang dengan cara bicaranya — seakan-akan ia adalah penguasa di tempat itu, dan orang lain di sana adalah orang yang tidak berharga.

Tak lama kemudian, seorang pemuda yang memakai kacamata dan duduk tidak jauh dari sana menoleh dengan wajah tidak puas. Suaranya tenang namun tegas saat ia berbicara kepada Alex.

"Kalau kamu ingin bertingkah seolah-olah kamu penguasa di sini, carilah tempat lain. Ini ruang kelas, tempat kita belajar bersama — bukan tempat untuk berlagak seperti penguasa atau preman," ucap pemuda berkacamata itu dengan berani, tanpa takut sedikit pun.

Mendengar teguran itu, Rey yang sedari tadi hanya diam langsung berdiri dengan cepat. Ia mengangkat kursi lipat tempatnya duduk seakan hendak melemparkannya ke arah pemuda itu. Wajahnya menegang dan matanya menyala penuh kemarahan.

"Kau!" bentak Rey dengan suara keras. "Kalau kau tidak ingin menderita, lebih baik diam saja dan jangan banyak bicara! Kau tidak tahu siapa kami sebenarnya. Lebih baik kau menjadi anak yang tahu diri dan belajar dengan tenang — supaya masa depanmu panjang dan tidak berakhir celaka."

Pemuda berkacamata itu tidak mundur sedikit pun. Ia menatap lurus ke arah Rey dengan pandangan yang teguh dan tidak takut.

"Kenapa aku harus takut pada orang sepertimu?" tanyanya dengan suara yang tetap tenang. "Kau hanya tahu cara mengancam dan menindas orang yang tidak berdaya. Itu bukan tanda kekuatan sejati."

Mendengar jawaban itu, Alex yang sedari tadi menahan amarah akhirnya tidak tahan lagi. Ia berjalan dengan cepat mendekati pemuda itu, mendorong bahunya kuat hingga ia terhimpit ke dinding, lalu mencengkeram kerah bajunya dan mendekapnya erat ke tembok.

"Sekali lagi kau berbicara sembarangan seperti tadi, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melangkah ke kampus ini lagi!" ancam Alex dengan mata yang memerah menahan amarah yang meluap-luap. Napasnya terasa berat dan tangannya semakin kuat menekan tubuh pemuda itu.

Suasana di dalam ruangan menjadi hening seketika. Semua orang menahan napas, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun tiba-tiba, sebuah tangan yang kuat dan kokoh menahan pergelangan tangan Alex yang sedang mencengkeram pemuda itu. Tangan itu menahan dengan kekuatan yang membuat Alex tidak bisa bergerak sedikit pun.

"Lepaskan dia. Tidak ada gunanya membuat keributan di ruang kelas. Kalau kau merasa tidak puas dengan apa yang dikatakannya, temui aku di luar saat jam istirahat nanti," ucap seseorang dengan suara yang tenang namun tegas — suara yang membuat suasana seketika menjadi lebih hening.

Alex menoleh dengan wajah masih penuh kemarahan. "Wah, ternyata ada pahlawan yang tiba-tiba muncul! Hahaha! Siapa kau sebenarnya, sampai berani menentang kami?" ucap Billy yang kini sudah bangun sepenuhnya dari tidurnya, menyeringai sinis sambil menatap pemuda itu. Ternyata perdebatan yang terjadi sedari tadi membuatnya tidak bisa tidur lagi, sehingga ia menyaksikan seluruh kejadian itu dengan penuh perhatian.

Pemuda yang menahan tangan Alex itu berdiri tegak dengan tenang. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan ketegasan yang membuat orang lain segan.

"Namaku Joe," ucapnya singkat. "Kalau kalian merasa tidak terima dengan apa yang kukatakan, temui aku di luar nanti siang. Jangan menyelesaikan masalah dengan cara kasar di dalam kelas seperti ini."

"Baiklah! Brengsek!" seru Alex sambil melepaskan cengkeramannya dan menghempaskan tangan Joe dengan kasar. "Aku akan mencarimu nanti siang. Bersiaplah!" Setelah berkata demikian, ia berbalik dan kembali duduk di kursi belakang bersama Rey dan Billy.

Joe lalu menoleh kepada pemuda berkacamata yang tadi hampir terancam. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut.

Niko mengangguk sambil mengatur napasnya. "Aman, terima kasih banyak sudah membantuku. Namaku Niko. Senang sekali bisa mengenal orang sebaik kau."

"Sama-sama. Ceritakan saja kalau kau butuh bantuan apa pun di sini," jawab Joe dengan ramah, lalu ia pun kembali duduk di kursinya di bagian depan ruangan.

Sementara itu, di barisan belakang, Billy tertawa kecil melihat kejadian yang baru saja berlangsung. Ia menepuk bahu Alex pelan sambil tersenyum mengejek.

"Jujur saja, aku hampir tertawa terbahak-bahak," ucap Billy sambil menahan tawanya. "Siapa sangka Alex yang biasanya dihormati semua orang justru dipermalukan di hari pertama masuk kelas. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya, kawan. Sungguh lucu sekali."

"Diam saja, Bil!" bentak Alex dengan wajah yang masih merah karena kesal. "Tunggu saja nanti siang. Aku pasti akan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang pantas. Mereka akan tahu siapa kita sebenarnya."

Rey menepuk punggung bahu Alex dengan tenang. "Jangan khawatir, Lex. Kita bertiga selalu bersama sejak dulu. Kita akan tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan orang yang bisa diinjak-injak begitu saja. Benar bukan, Bil?"

"Tentu saja," sambung Billy dengan senyum yang berubah menjadi senyum yang dingin dan mengancam. "Kita akan memberi pelajaran kepada pemuda bernama Joe itu. Biar ia tahu rasanya menentang kita. Dan biar ia sadar bahwa ia sama sekali bukan lawan yang seimbang bagi kita bertiga."

Mereka bertiga pun duduk kembali di tempat masing-masing, namun bukan menunggu pelajaran dimulai — melainkan menunggu jam istirahat tiba, sambil menyusun rencana di dalam hati untuk memberi pelajaran kepada mereka yang berani menentang mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!