Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011 - Dewi Keberuntungan
Pukul 08:40.
Arga membuka pintu suite.
Koridor lantai 21 masih berbau darah, tapi sudah tidak ada satu pun orang yang berani keluar. Dari balik pintu-pintu tertutup, Telepati menangkap napas tertahan dan pikiran yang sama.
Jangan lihat.
Jangan bicara.
Jangan sentuh kamar itu.
Bagus.
Rasa takut adalah pagar pertama sebelum aturan lahir.
Kiara berdiri di belakang Arga. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya masih pucat, tapi dua belati Hi-Tech terselip di pinggangnya. Di balik jaket tipis, tubuhnya masih menahan nyeri dari kemarin. Ia belum terbiasa membawa senjata seperti bagian dari tubuh.
Tapi tangannya tidak lagi kosong.
"Kita turun sekarang?" tanyanya.
"Ya."
"Airdrop Box jatuh pukul sembilan?"
"Biasanya."
Kiara menangkap satu kata itu. "Biasanya?"
Arga meliriknya. "Dunia sudah berubah sejak aku bergerak lebih dulu."
Kiara tidak sepenuhnya mengerti.
Tapi ia tidak bertanya.
Mereka turun lewat tangga darurat. Lantai bawah masih dipenuhi bau busuk. Beberapa Zombie Tingkat 1 berkeliaran di lobi yang kemarin sudah dibersihkan, tertarik oleh sisa darah dan suara dari luar.
Arga berjalan duluan.
Satu Zombie menoleh saat mendengar langkahnya.
Pedang Hi-Tech keluar dari sarungnya.
Satu tebasan.
Kepala Zombie itu jatuh ke genangan air.
Yang kedua mencoba menerkam dari samping. Kiara bergerak refleks. Belati Hi-Tech di tangan kanannya menusuk ke pelipis, tidak sempurna, tapi cukup dalam untuk membuat Zombie itu berhenti setengah detik.
Setengah detik bagi Arga sudah terlalu banyak.
Pedangnya menyelesaikan sisanya.
Kiara menarik napas cepat.
Arga tidak memuji panjang.
"Lebih rendah. Jangan tusuk dari samping kalau tanganmu belum stabil. Masuk dari mata."
"Aku tahu."
"Tahu belum berarti bisa."
Kiara menggigit bibir. "Kalau begitu aku ulangi sampai bisa."
Arga menatapnya sebentar.
Benih itu tumbuh cepat.
Di kehidupan sebelumnya, Kiara disebut Bayangan karena cara ia muncul di titik paling sial bagi musuh. Banyak orang menyebutnya keberuntungan.
Arga tahu rumor itu punya dasar.
Hari ini ia akan membuktikannya.
Mereka keluar dari hotel.
Semarang seperti kota yang habis digiling tangan raksasa. Air hitam masih menggenang di jalan. Mobil terbakar menjadi rangka. Baliho roboh menutup sebagian jalan. Di kejauhan, retakan langit masih mengeluarkan gelembung-gelembung transparan berisi Zombie.
Hujan Zombie belum berhenti.
Arga melihat arlojinya.
08:59.
"Berhenti di sana."
Kiara mengikuti arah jarinya. Sebuah minimarket kecil di seberang jalan, pintunya hancur, raknya berantakan. Di atap minimarket ada ruang datar yang cukup untuk melihat sekitar.
Mereka naik lewat tangga luar yang licin.
09:00.
Langit berdengung.
Beberapa garis cahaya turun dari balik awan kelabu. Tidak banyak. Sebagian jauh, sebagian tertutup gedung. Satu cahaya biru pucat jatuh tidak sampai lima puluh meter dari posisi mereka, tepat di halaman parkir minimarket sebelah.
Kiara tertegun. "Sedekat itu?"
Arga tersenyum tipis.
"Mulai."
Di sekitar cahaya biru itu, tiga Zombie Tingkat 1 mulai bergerak. Mereka tidak melihat Airdrop Box sebagai hadiah. Mereka hanya tertarik pada getaran energi dan suara jatuhnya benda asing.
Arga melompat turun dari atap.
Kiara menahan napas.
Jarak itu cukup tinggi.
Tapi tubuh Arga mendarat ringan, lututnya hanya menekuk sedikit. Ia berlari pendek. Pedang Hi-Tech menebas seperti garis hitam. Tiga Zombie jatuh dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
"Turun."
Kiara turun lewat tangga, lebih lambat tapi tidak panik.
Airdrop Box itu setinggi pinggang, berbentuk kotak logam gelap dengan garis cahaya biru di sisi-sisinya. Permukaannya mulus, seperti bukan benda dari Bumi. Ketika Kiara mendekat, garis cahaya itu berkedip.
"Aku yang buka?" tanyanya.
"Kamu."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin melihat sesuatu."
Kiara menyentuh panel.
Klik.
Cahaya biru berubah putih.
Kotak terbuka.
Di dalamnya ada Combat Suit yang terlipat rapi, satu lampu Hi-Tech kecil, dua botol air otomatis, dan sebuah pisau pendek cadangan.
Kiara membeku.
"Ini... bagus?"
Arga menatap Combat Suit itu.
Untuk Airdrop Box pertama di hari kedua, hasilnya jauh di atas rata-rata.
Ini terlalu bagus.
"Pakai."
Kiara menatapnya. "Sekarang?"
"Sekarang."
Ia tidak berdebat. Mereka masuk ke balik rak minimarket yang roboh. Kiara mengganti jaketnya dengan Combat Suit. Bahan hitam itu menyesuaikan bentuk tubuhnya, tidak seketat pakaian biasa, tapi melindungi dada, perut, bahu, dan punggung dengan lapisan fleksibel.
Kiara menyentuh permukaannya. "Ringan."
"Bisa menahan cakaran Zombie Tingkat 1 dan sebagian benturan. Jangan anggap tidak bisa rusak."
"Aku tidak sebodoh itu."
Arga menatapnya.
Kiara terdiam. "Baik. Aku belum sebodoh itu."
Sudut bibir Arga bergerak sedikit.
Mereka mengambil semua barang. Combat Suit dipakai Kiara, sisanya masuk ke Cincin Dimensi Arga.
"Kotak pertama," kata Arga, "sudah membuktikan sebagian."
"Sebagian apa?"
"Kamu beruntung."
Kiara mengerutkan kening. "Aku? Setelah semua yang terjadi?"
"Keberuntungan tidak berarti hidupmu nyaman. Keberuntungan berarti saat semua orang mati, kamu masih mendapat satu celah."
Kiara diam.
Ia tidak bisa membantah.
Kalau Arga tidak datang ke UNDIP, ia mungkin sudah mati. Kalau ia tidak memegang pisau kemarin, pintu kamar mungkin sudah jatuh sepenuhnya. Kalau Arga tidak kembali tepat waktu, ia mungkin tidak akan berdiri di sini.
Celah.
Kecil.
Tapi cukup untuk bernapas.
Mereka bergerak ke barat, melewati jalan kecil di antara toko fotokopi dan warung makan yang separuh terendam. Arga membuka jalan. Kiara mengikuti tiga langkah di belakangnya, belajar memilih tempat berpijak tanpa membuat suara keras.
Setiap kali Zombie mendekat, Arga membunuh yang berbahaya. Kiara diberi satu atau dua target yang lebih lambat.
Tusuk mata.
Tarik.
Mundur.
Ulangi.
Pada Zombie kelima yang ia bunuh sendiri, Kiara sudah tidak memejamkan mata.
"Lebih baik," kata Arga.
Kiara mengusap darah hitam dari pipinya. "Aku ingin muntah."
"Tahan."
"Aku tahan."
Di ujung gang, mereka mendengar suara logam jatuh.
Kiara menoleh duluan. "Di balik tembok."
Arga juga mendengarnya. Ia naik ke kap mobil yang tenggelam separuh, melihat ke halaman rumah besar di balik pagar beton.
Sebuah Airdrop Box jatuh di halaman itu.
Tidak terlihat dari jalan utama.
Tidak ada cahaya besar.
Kalau bukan karena mereka lewat gang sempit ini tepat pada saat itu, kotak itu mungkin terlewat.
Arga menatap Kiara.
Kiara juga sadar. "Itu... kebetulan?"
"Kamu yang pilih gang ini."
"Aku cuma merasa jalan utama terlalu terbuka."
"Itulah keberuntungan."
Mereka memanjat pagar. Kiara hampir terpeleset, tapi Combat Suit melindungi lututnya saat ia jatuh ke halaman. Dua Zombie Tingkat 1 sudah mendekati kotak.
Kali ini Arga tidak langsung maju.
"Yang kiri milikmu."
Kiara menegang.
"Aku?"
"Kamu punya Combat Suit."
"Itu bukan berarti aku ingin dicakar."
"Tidak ada orang waras yang ingin dicakar. Bergerak."
Zombie kiri mencium bau mereka dan menyeret kaki ke arah Kiara. Mulutnya terbuka. Kukunya menggores udara.
Kiara mundur satu langkah.
Lalu berhenti.
Ia ingat kamar tidur.
Ia ingat pintu yang didorong belasan orang.
Ia ingat Bang Jago.
Zombie ini menakutkan.
Tapi Zombie tidak bisa berpikir jahat.
Manusia kemarin lebih buruk.
Kiara bergerak.
Ia menunduk, membiarkan cakar Zombie melewati atas bahunya, lalu menusukkan belati ke rongga mata. Tangan kirinya menekan rahang busuk itu agar tidak menggigit. Tubuh Zombie bergetar. Kiara memutar belati.
Kristal di kepalanya pecah keluar bersama cairan hitam.
Zombie jatuh.
Kiara mundur, terengah.
Arga sudah membunuh yang kanan.
"Ambil Kristalnya."
Kiara menatap tengkorak busuk itu. Wajahnya berubah.
"Aku harus?"
"Harus."
Ia menarik napas, lalu melakukan seperti yang pernah diajarkan. Jarinya masuk, meraba bagian keras, menarik Kristal kecil yang licin keluar.
Ketika ia berdiri, wajahnya pucat, tapi matanya lebih tenang.
"Aku benci bagian ini."
"Semua orang benci sampai mereka lapar."
Kiara menyimpan Kristal itu.
Airdrop Box kedua dibuka olehnya.
Cahaya putih menyala lagi.
Isi kotak: dua kotak makanan otomatis, satu senter Hi-Tech, satu gulungan tali serat kuat, dan satu rompi pelindung ringan.
Kiara menatap Arga.
"Ini juga bagus?"
Arga menarik napas pelan.
Dua kotak berturut-turut.
Kualitas keduanya melampaui rata-rata.
Di kehidupan sebelumnya, keberuntungan Kiara sudah gila. Tapi saat itu ia bergabung dengan tim besar jauh lebih lambat. Banyak kesempatan emas sudah terlewat sebelum ia tumbuh.
Kali ini berbeda.
Arga mendapatkannya sejak hari-hari pertama.
"Kamu bukan cuma beruntung," katanya.
"Lalu?"
"Kamu magnet masalah dan hadiah."
Kiara menghela napas. "Kalau boleh pilih, aku mau hadiah saja."
"Tidak ada paket seperti itu di akhir dunia."
Mereka meninggalkan halaman rumah itu setelah mengumpulkan barang. Dari kejauhan, suara geraman semakin padat. Hujan Zombie membuat jalur kembali tidak bisa dipakai.
Arga memilih rute memutar melewati kompleks perumahan.
Di tengah jalan kecil itu, Telepati menangkap sesuatu.
Bukan pikiran.
Zombie Tingkat 1 tidak berpikir. Mereka hanya punya dorongan kabur: lapar, gerak, darah.
Tapi yang satu ini berbeda.
Dorong.
Kejar.
Patahkan.
Kata-katanya belum utuh, lebih mirip naluri yang mulai membentuk arah.
Arga berhenti.
Kiara langsung ikut berhenti. "Apa?"
"Diam."
Di ujung jalan, sebuah bayangan keluar dari balik mobil terbalik.
Zombie itu lebih besar dari yang lain. Tingginya hampir dua meter. Kulitnya lebih gelap, otot busuknya menonjol, kukunya panjang seperti kait besi. Matanya tidak kosong sepenuhnya. Ada fokus di sana.
Kiara merasakan seluruh tubuhnya dingin.
"Itu bukan Tingkat 1."
"Tingkat 2."
"Kamu bilang Tingkat 2 belum muncul."
"Seharusnya belum."
Zombie itu menunduk.
Lalu melesat.
Cepat.
Jauh lebih cepat dari Zombie Tingkat 1.
Arga mendorong Kiara ke samping dan mengangkat pedang.
BRAK.
Cakar Zombie menghantam bilah Pedang Hi-Tech. Tekanannya membuat kaki Arga bergeser setengah langkah di aspal basah.
Kekuatan empat kali manusia biasa.
Tapi tubuh Zombie tidak merasa sakit seperti manusia. Ototnya rusak pun tetap bergerak. Tulangnya retak pun tetap menyerang.
Arga punya enam kali tubuh manusia biasa dan senjata lebih baik.
Namun duel ini masuk kelas berbeda.
Zombie Tingkat 2 membuka mulut dan menggigit ke arah bahu Arga. Arga memutar tubuh, menendang lututnya. Tendangan itu membuat tulang kaki Zombie retak, tapi bukan patah. Makhluk itu justru memutar cakar lain ke arah wajah Arga.
Arga menunduk.
Cakar merobek udara di atas rambutnya.
Pedang Hi-Tech menebas perut Zombie.
Daging busuk terbuka.
Tidak cukup.
Zombie itu mundur setengah langkah, lalu menyerang Kiara.
Pilihan target.
Ia memilih yang lebih lemah.
Mata Arga mengeras.
"Kiara, mundur!"
Kiara sudah bergerak, tapi Tingkat 2 terlalu cepat. Cakarnya menghantam dadanya.
Combat Suit menyala redup.
Benturan itu tetap melempar Kiara seperti boneka rusak.
Tubuhnya menabrak pagar beton sepuluh meter jauhnya.
"Ah!"
Udara keluar dari paru-parunya. Rasa sakit meledak di tulang rusuk. Kalau bukan karena Combat Suit, dadanya mungkin sudah terbuka.
Arga bergerak.
Kali ini ia tidak menahan.
Enam kali tubuh manusia biasa meledak dalam satu langkah. Ia menghantam bahu Zombie Tingkat 2 dengan seluruh berat tubuh. Makhluk itu terdorong menabrak mobil. Kaca pecah. Alarm yang sudah mati tidak berbunyi.
Pedang Arga turun ke lehernya.
Zombie itu mengangkat lengan.
KRAK.
Lengan hampir putus, tapi lehernya selamat.
Ia balas menggigit.
Arga menahan kepala makhluk itu dengan tangan kiri, mencium bau busuk yang menusuk hidung. Gigi Zombie hanya beberapa senti dari wajahnya.
Dorong.
Patahkan.
Makan.
Telepati menangkap naluri kasar itu.
Arga merasakan dingin di punggung.
Tingkat 2 sudah mulai membentuk arah serangan.
Terlalu cepat.
Terlalu cepat tiga minggu.
Zombie itu tiba-tiba menendang perut Arga. Combat Suit menahan sebagian, tapi tekanan tetap membuat napasnya tersendat. Zombie lepas dari cengkeraman dan menyapu cakar ke kaki Arga.
Arga melompat mundur.
Kiara di sisi lain mencoba bangun.
Setiap gerakan membuat tulang rusuknya seperti ditusuk. Mulutnya terasa asin. Mungkin bibirnya pecah, mungkin ada darah dari dalam.
Ia melihat Arga bertarung.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal lelaki itu, Arga tidak terlihat benar-benar santai.
Zombie itu kuat.
Cepat.
Dan mulai pintar.
Kiara menggenggam belati.
Tangannya gemetar lagi, tapi bukan karena takut saja.
Karena marah.
Ia tidak ingin terus menjadi orang yang dilempar ke samping.
Ia tidak ingin hanya diselamatkan.
Arga menebas kaki Zombie, membuatnya berlutut sebelah. Namun makhluk itu segera menggunakan tangan sebagai tumpuan dan melompat seperti binatang.
Saat punggung Zombie terbuka, Kiara bergerak.
Sakit di rusuknya hampir membuat matanya gelap.
Ia tetap bergerak.
Tiga langkah.
Empat.
Belati Hi-Tech menusuk dari belakang, tepat ke sisi leher Zombie.
Tidak membunuh.
Tapi cukup.
Zombie Tingkat 2 menjerit kasar dan menoleh.
Satu detik celah.
Arga mengambilnya.
Pedang Hi-Tech menyapu dari bawah ke atas.
Leher yang sudah terluka terbelah.
Kepala Zombie Tingkat 2 terbang, membentur aspal, lalu berguling ke genangan air.
Tubuhnya bergerak dua kali.
Lalu diam.
Kiara jatuh berlutut.
Arga langsung menangkap bahunya.
"Jangan tidur."
Kiara tertawa pendek, lalu meringis. "Aku tidak sedang ingin tidur."
"Rasakan napasmu."
"Sakit."
"Bagus. Kalau masih sakit, berarti masih hidup."
"Kamu selalu buruk dalam menghibur orang."
"Aku bukan penghibur."
Arga mengeluarkan satu Kristal Tingkat 1 dari simpanan Kiara dan memaksanya menggenggam. Energi tipis membantu tubuhnya menahan rasa sakit, tapi tidak cukup menyembuhkan tulang rusuk sepenuhnya.
Ia lalu berjalan ke mayat Zombie Tingkat 2, membelah bagian kepala yang tersisa, dan menarik satu Kristal lebih besar.
Warnanya bukan putih pucat.
Biru.
Kristal Tingkat 2.
Arga menatap benda itu lama.
Kiara memperhatikan wajahnya. "Itu buruk?"
"Barangnya bagus."
"Wajahmu bilang sebaliknya."
"Karena yang membawanya muncul terlalu cepat."
Arga mengepalkan Kristal biru itu.
Dalam kehidupan sebelumnya, Tingkat 2 Zombie baru mulai muncul jauh setelah gelombang pertama. Sekitar hari ketiga puluh. Saat manusia sudah mulai memahami Kristal, mulai membentuk tim, mulai punya beberapa Evolver Tingkat 1.
Sekarang baru hari kesepuluh.
Jika satu muncul, berarti prosesnya sudah bergerak.
Efek Kupu-Kupu.
Karena ia mengambil Airdrop Box Legendaris terlalu awal?
Karena ia membunuh terlalu banyak Zombie di sekitar hotel?
Karena ia mengubah jalur Kiara?
Atau karena dunia memang merespons semua perubahan lebih cepat daripada yang ia kira?
Pengetahuan enam tahun masih berharga.
Tapi tidak lagi mutlak.
Arga menutup mata sebentar.
Ketika membukanya, rasa dingin di dalamnya berubah menjadi keputusan.
Lebih cepat.
Ia harus menjadi lebih cepat dari perubahan.
"Arga," panggil Kiara pelan.
Ia menunjuk ke kejauhan.
Di balik dua deret rumah yang roboh, sebuah cahaya emas turun dari langit.
Bukan biru.
Bukan putih.
Emas.
Cahaya itu jatuh sekitar dua ratus meter dari tempat mereka berdiri, tepat di arah yang tadi dijaga Zombie Tingkat 2.
Arga menatapnya.
Pupilnya mengecil.
Legenda dalam kehidupan sebelumnya menyebutkan satu aturan yang baru dipahami manusia jauh lebih lambat.
Semakin kuat penjaga, semakin tinggi kualitas Airdrop Box.
Tingkat 2 Zombie di hari kesepuluh.
Cahaya emas.
Kiara memegang rusuknya, mencoba berdiri. "Itu kotak lagi?"
Arga menopang lengannya.
"Bukan kotak biasa."
"Kita ambil?"
Arga melihat wajah pucat Kiara, lalu melihat cahaya emas itu lagi.
Risiko besar.
Tapi hadiah seperti ini tidak akan menunggu.
"Kita ambil."
Ia menarik napas pelan.
"Tingkat 2 Zombie yang menjaga... ternyata benar-benar Airdrop Box Legendaris."