Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Brumm!
Suara mesin bus antarkota terdengar menderu nyaring di sepanjang jalan beraspal yang mulai berlubang.
Adit menyandarkan kepalanya pada kaca jendela bus yang terasa dingin dan bergetar.
Di luar sana, pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta sudah sepenuhnya berganti menjadi deretan pohon kelapa dan sawah hijau yang membentang luas.
Adit merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah kusam.
Di dalamnya hanya tersisa beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah.
"Sisa lima ratus ribu," gumam Adit pelan pada dirinya sendiri.
"Ini benar-benar taruhan terakhirku di kampung."
Bus berhenti tepat di depan sebuah gapura kayu besar bertuliskan 'Selamat Datang di Desa Sukamaju'.
Adit turun dari bus sambil memanggul dua tas pakaian besar di kedua bahunya.
Udara segar khas pedesaan langsung menyapa indra penciumannya.
Suara jangkrik dan tiupan angin sore menyambut kepulangan pemuda yang baru saja hancur di kota itu.
Adit menyusuri jalan setapak berkerikil menuju ke area ujung desa.
Di sana, sebuah rumah panggung kayu tua berdiri agak terpencil di dekat kaki bukit.
Kondisi rumah itu tampak sangat tidak terawat dengan atap seng yang sudah berkarat dan cat dinding yang mengelupas.
Namun, di belakang rumah tersebut, terhampar tanah yang sangat luas.
Tanah berhektar-hektar itu dipenuhi semak belukar liar dan rumput tinggi yang tidak terurus.
"Akhirnya aku sampai juga," bisik Adit sambil meletakkan tasnya di atas tanah kering.
"Adit? Itu kamu, Dit?"
Sebuah suara serak memanggil dari arah samping rumah.
Seorang pria paruh baya berbadan tegap dengan topi caping tua berjalan mendekati Adit.
"Bang Jarwo?" mata Adit membelalak kaget.
Pria itu adalah Bang Jarwo, kerabat jauh sekaligus orang yang dulu pernah membantu almarhum ayahnya mengurus ladang.
"Ya Allah, Adit! Beneran kamu ini!"
Bang Jarwo langsung memeluk Adit dengan erat sambil menepuk-nepuk punggung pemuda itu.
"Kapan kamu sampai, Dit? Kenapa tidak kasih kabar ke pamanmu ini dulu?"
Adit tersenyum tipis sambil mengusap tengkuknya.
"Baru saja sampai, Bang. Saya naik bus ekonomi dari Jakarta."
"Ayo masuk dulu, ayo! Rumah ini memang agak berdebu, tapi masih kokoh buat ditempati."
Bang Jarwo membantu membawakan salah satu tas Adit masuk ke dalam rumah panggung.
Di dalam rumah, aroma kayu tua dan debu terasa sangat pekat.
Adit duduk di atas kursi kayu panjang sementara Bang Jarwo mengambilkan segelas air putih hangat.
"Diminum dulu, Dit," ucap Bang Jarwo menyodorkan gelas.
"Terima kasih, Bang." Adit meneguk air itu hingga tersisa separuh.
Bang Jarwo duduk di hadapan Adit sambil memperhatikannya dari atas sampai bawah.
"Pakaianmu rapi, tapi mukamu lesu sekali, Dit. Ada masalah apa di kota?"
Adit menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malu yang membakar dadanya.
"Saya... saya sudah di-PHK dari kantor, Bang."
"Astagfirullah," Bang Jarwo mengelus dadanya kaget.
"Terus pacarmu si Siska itu bagaimana?"
"Dia minta putus begitu tahu saya kehilangan pekerjaan."
Bang Jarwo menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Perempuan zaman sekarang memang banyak yang tidak mau diajak berjuang dari bawah."
"Sudahlah, Dit, tidak usah terlalu dipikirkan. Yang lalu biarlah berlalu."
"Iya, Bang. Makanya saya memutuskan buat pulang saja ke desa."
Adit menatap ke arah jendela yang memperlihatkan tanah luas di belakang rumah.
"Saya berniat mengolah tanah peninggalan Bapak dan Ibu."
"Saya mau coba berkebun dan beternak di sini."
Bang Jarwo tampak agak ragu mendengar penuturan Adit.
"Mengolah tanah seluas ini butuh modal yang tidak sedikit, Dit."
"Uang pesangon saya sisa sedikit, Bang, tapi saya mau coba dulu semampu saya."
"Kalau memang itu keputusanmu, Paman pasti bantu."
Bang Jarwo menepuk bahu Adit pelan.
"Lagipula di desa ini ada Bang Sopo juga."
"Bang Sopo? Paman Sopo yang dulu ngurus kandang sapi almarhum Bapak?"
"Iya, siapa lagi!" Bang Jarwo tertawa kecil.
"Dia sekarang lagi kerja serabutan di kampung sebelah, tapi kalau kamu panggil, pasti dia mau bantu."
"Baguslah kalau begitu, Bang."
Adit mengepalkan tangannya di atas paha.
"Besok pagi kita langsung bersihkan lahan dan beli bibit tanaman sama ternak."
"Kamu yakin mau mulai besok, Dit? Kamu belum istirahat."
"Saya tidak punya waktu buat bersantai lagi, Bang."
"Setiap hari yang terbuang berarti uang simpanan saya makin menipis."
Bang Jarwo menatap mata Adit yang penuh tekad dan mengangguk setuju.
"Baiklah kalau begitu, besok pagi Paman bakal panggil Bang Sopo sekalian."
"Kita bersihkan rumput-rumput liar di tanah belakang."
Malam semakin larut di Desa Sukamaju.
Adit berbaring di atas tempat tidur kayu tua bekas kamar orang tuanya.
Suara angin malam berembus kencang menerpa dinding papan rumah.
Adit menatap langit-langit kamar yang penuh dengan jaring laba-laba.
"Bapak... Ibu..." bisik Adit pelan.
"Doakan Adit dari atas sana."
"Adit bakal buktikan kalau Adit bisa sukses di tanah peninggalan kalian."
Adit memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa cemas yang terus membayangi pikirannya.
Esok hari adalah awal dari perjuangan barunya di tanah kelahiran yang telah lama dia tinggalkan.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.