Seorang penggemar anime tiba-tiba terbangun di sebuah pulau terpencil di dunia Naruto. Saat kebingungan mencari jalan keluar, sebuah sistem misterius muncul.
One Piece System.
Dengan sistem ini, ia dapat memperoleh karakter-karakter dari dunia One Piece sebagai bawahannya. Namun, untuk mendapatkan mereka, ia harus membangun reputasi dan pengaruh.
Bajak laut, Angkatan Laut, hingga tokoh-tokoh besar One Piece—semuanya bisa menjadi bagian dari kekuatannya.
Di dunia Naruto yang penuh konflik, ia harus menentukan jalannya sendiri.
Membangun kekuatan dari balik bayangan, atau menjadi legenda yang dikenal seluruh dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Dermaga Pulau Ren
Angin laut bertiup cukup kencang dari arah timur laut, mendorong layar abu-abu lusuh perahu kayu kecil yang dikemudikan Rian.
Di tangan kanannya, Rian memegang erat pasak kemudi kayu, sementara tangan kirinya memegang kompas kuningan yang diletakkan di atas lututnya. Pemahaman dari skill Navigation (Basic) yang baru saja ia beli bekerja secara intuitif di dalam kepalanya. Ia tidak lagi canggung membaca sudut angin, menyesuaikan letak layar rami, maupun mengantisipasi dorongan arus liar yang memotong celah batu karang.
Selama hampir tiga jam mengarungi lautan lepas, Rian membiarkan tubuhnya beristirahat di atas bangku kemudi. Ia meminum sedikit air dari kantong kulit dan mengunyah sepotong roti gandum kering lagi untuk mengisi tenaga.
[Stamina perlahan pulih secara bertahap: 5 → 7]
Seiring berlalunya waktu, kabut tipis khas wilayah perairan Negara Air mulai menyelimuti permukaan laut, membatasi jarak pandang hingga hanya beberapa puluh meter. Namun, berkat kompas dan peta wilayah dari sistem, Rian tetap berada di jalur berlayar yang tepat.
Hingga akhirnya, di balik pekatnya kabut putih, siluet tebing-tebing batu hitam Pulau Ren perlahan muncul di pandangan.
Pulau Ren lebih besar dibandingkan pulau terpencil tempat Rian terbangun sebelumnya. Pulau ini dikelilingi oleh teluk alami dengan teluk batu terjal di kedua sisinya. Di tengah teluk tersebut, terhampar sebuah dermaga kayu yang tampak sudah tua dan lapuk, dipenuhi puluhan perahu nelayan, sloop pedagang kecil, hingga kapal-kapal tanpa bendera resmi.
Di belakang dermaga, berdiri sebuah pemukiman pesisir yang dibangun dari tumpukan batu kali dan kayu panggung. Asap tipis membumbung dari beberapa cerobong rumah, bercampur dengan bau amis ikan, minyak kayu basah, dan bau asap kayu bakar.
Rian menurunkan layarnya secara bertahap, membiarkan perahunya meluncur pelan mendekati sisi timur dermaga yang lebih sepi.
Seorang pria tua berbadan kurus dengan pakaian kain lusuh dan topi jerami lebar berdiri di tepi dermaga kayu, memegang sebatang pipa rokok kayu. Matanya yang tajam mengamati perahu Rian yang baru saja merapat.
"Perahu baru, anak muda?" tanya pria tua itu dengan suara serak seraya menghembuskan asap tipis. "Biaya tambat di dermaga timur adalah 100 Ryo sehari. Bayar di depan kalau perahumu tidak mau ditenggelamkan penjaga pelabuhan."
Rian menatap pria tua itu secara analitis. Dari sikapnya, tempat ini jelas bukan pelabuhan resmi pemerintah Negara Air yang penuh dengan birokrasi ketat, melainkan pelabuhan bebas tempat berbagai kalangan—mulai dari pedagang kecil hingga buronan—bertransaksi.
"Satu hari dulu," ujar Rian tenang.
Ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sekeping koin perak senilai 100 Ryo dari total 12.000 Ryo yang dimilikinya, lalu melemparkannya ke arah pria tua itu.
Pria tua itu menangkap koin tersebut dengan sigap, memeriksa ukiran kanji di permukaannya dengan ibu jari sebelum mengangguk puas. Ia mengikatkan tali perahu Rian pada tonggak kayu dermaga dan memberikan sepotong plat kayu bernomor kecil.
"Nomor empat belas. Jangan sampai hilang kalau mau mengambil perahumu lagi," kata pria tua itu pendek sebelum kembali menyedot pipa rokoknya.
Rian memanjat tangga kayu dermaga. Pakaian kasual modern yang ia kenakan sudah sangat koyak dan kotor akibat aktivitas bertahan hidup di hutan sebelumnya. Jika ia berjalan di tengah kota dengan pakaian seperti itu, ia akan menjadi pusat perhatian—sesuatu yang sangat ingin ia hindari di wilayah asing ini.
Ia melangkah menyusuri jalanan berbatu Pulau Ren yang lembap oleh kabut.
Pasar pelabuhan di Pulau Ren tampak cukup ramai meskipun terkesan kumuh. Pedagang ikan, penjual senjata bekas, pedagang kain, dan kelompok pria berwajah kasar bersenjata tajam lalu-lalang di sepanjang jalan. Sebagian besar orang di sini membawa senjata di pinggang atau punggung mereka, menegaskan bahwa hukum di pulau ini ditentukan oleh kekuatan.
Rian menemukan sebuah toko kelontong dan pakaian bekas di sudut jalan berbatu. Ia melangkah masuk ke dalam toko yang berbau kain lembap tersebut.
"Cari apa, anak muda?" tanya penjual kain, seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang sedang memotong gulungan kain tebal.
"Pakaian berburu yang tahan angin dan mantel bertudung," jawab Rian singkat.
Setelah memilih beberapa saat, Rian membeli setelan baju kain tebal berwarna abu-abu gelap, celana panjang berburu berbahan serat rami yang kokoh, sepasang sepatu boot kulit sederhana, serta sebuah mantel panjang bertudung berwarna hitam untuk menyembunyikan wajah dan senjatanya.
Seluruh pakaian baru tersebut dihargai 500 Ryo. Rian membayar dengan koin dari kantongnya.
[Uang Tunai Berkurang: 11.900 Ryo → 11.400 Ryo]
Rian ganti pakaian di balik sekat toko. Ia memasukkan pisaunya (Basic Hunting Knife) di balik pinggang belakang mantelnya, sementara kapak besi kecil dan peralatan lainnya ia rapihkan dalam buntalan kain yang kini ia sandang di punggung. Dua parang biasa milik penjarah laut yang ia bawa dari perahu ditinggalkannya tertutup kain di dalam perahu untuk mengurangi beban bawaan.
Dengan mantel bertudung hitam yang menutupi tubuhnya, Rian kini tampak seperti seorang pengembara atau tentara bayaran biasa yang banyak berkeliaran di Negara Air.
Langkah selanjutnya adalah mencari informasi dan makanan hangat.
Rian berjalan menuju kedai minuman dua lantai yang terletak di dekat pusat kota pelabuhan. Papan kayu di atas pintu kedai itu bertuliskan Kedai Kiras.
Suasana di dalam kedai cukup bising. Gelak tawa para pelaut, denting gelas minuman, dan aroma daging panggang bercampur dengan asap tembakau memenuhi ruangan bawah yang remang-remang. Rian memilih meja kecil di sudut remang dekat dinding kayu, membelakangi jendela sehingga ia bisa mengamati seluruh isi kedai.
Seorang pelayan wanita mendekati mejanya. "Mau pesan apa, Tuan?"
"Daging rebus, roti hangat, dan secangkir teh panas," ujar Rian.
"Totalnya 200 Ryo."
Rian menyerahkan dua koin perak.
[Uang Tunai Berkurang: 11.400 Ryo → 11.200 Ryo]
Sambil menunggu makanannya datang, Rian mempertajam pendengarannya, membiarkan percakapan dari meja-meja di sekitarnya masuk ke dalam memorinya.
Di meja tengah, tiga orang pria berkulit gelap dengan bekas luka di wajah sedang minum dengan gelisah.
"...Aku katakan padamu, jalur perdagangan ke arah barat sudah tidak aman lagi," bisik salah satu dari mereka seraya mengetukkan gelasnya ke meja. "Pasukan pemburu Anbu Kirigakure baru saja membantai satu desa nelayan kecil di Pulau Hagi kemarin malam. Katanya ada mantan ninja Kiri yang bersembunyi di sana."
"Mizukage Keempat benar-benar sudah gila," timpal temannya dengan suara makin pelan. "Siapa pun yang dicurigai menentang kebijakan desa langsung dihabisi. Makin banyak Nukenin (ninja pelarian) yang melarikan diri ke perairan luar seperti kita."
"Tapi berada di Pulau Ren juga bukan berarti aman," kata pria ketiga. "Kelompok Penyamun Laut Dogo makin bertindak sewenang-wenang. Mereka menaikkan pajak perlindungan di dermaga selatan minggu ini. Siapa yang tidak bayar, perahunya dibakar."
"Dogo? Si bekas ninja pelarian tingkat C dari Kiri itu?"
"Ya, siapa lagi. Dia punya sekitar belasan anak buah bersenjata di markasnya dekat tebing barat Pulau Ren. Bahkan kepala desa tidak berani melawan mereka."
Rian mendengarkan setiap detail informasi tersebut dengan cermat.
Mizukage Keempat (Yagura) sedang memperketat pembersihan di dalam Negara Air, menyebabkan gelombang pengungsi dan ninja pelarian membanjiri kepulauan luar. Di saat yang sama, Pulau Ren dikuasai oleh kelompok penyamun lokal pimpinan seseorang bernama Dogo.
Saat pelayan meletakkan semangkuk daging rebus asap dan teh panas di mejanya, denting suara sistem berdenting nyaring di dalam kepala Rian.
[ACHIEVEMENT UNLOCKED: Civilized Footprint]
Memasuki dan berintegrasi dengan pemukiman peradaban lokal di dunia baru tanpa memancing kekacauan.
Reward: +50 System Point.
[FEATURE UNLOCKED: MISSION SYSTEM]
Fitur Misi kini aktif. Sistem akan memberikan Misi berdasarkan kondisi lingkungan, kebutuhan Host, dan peluang pengembangan reputasi.
[MISSION TRIGGERED: Langkah Pertama Sang Penguasa]
Tujuan Misi: Bangun pengaruh awal di Pulau Ren dengan mengeliminasi atau menundukkan Kelompok Penyamun Laut Dogo.
Kondisi Kemenangan: Hancurkan dominasi Dogo dan ambil alih kendali keamanan Pulau Ren secara terselubung atau terbuka.
Hadiah Misi: +300 System Point, +100 Public Reputation (Pulau Ren), Unlocked: Character Recruitment Ticket (Common/Uncommon).
Batas Waktu: Tidak ada.
Rian memegang cangkir teh panasnya, menatap layar semi-transparan biru yang mengapung tipis di pandangannya.
Misi pertama dari sistem akhirnya muncul. Hadiah berupa Character Recruitment Ticket adalah hal yang paling ia butuhkan untuk mulai memanggil bawahan pertama dari dunia One Piece.
Rian menyeruput teh panasnya perlahan seraya membuka panel status untuk memeriksa data terbarunya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
SYSTEM STATUS
Nama: Rian Usia: 20 Level: 1
Strength: 8 Speed: 7 Vitality: 8 Stamina: 8 (Pulih Sepenuhnya) Intelligence: 14
System Point: 150 SP (100 + 50) Reputation: 0
Skills:
Rokushiki: Kami-e (Basic)
Navigation (Basic)
Characters: -
Inventory:
Basic Hunting Knife (1)
Kapak Besi Kecil (1)
Kompas Kuningan (1)
Tali Tambang Rami (Sisa 3 meter)
Pelindung Dahi Kirigakure Tergores (1)
Jurnal Pelayaran Kuno (1)
Kantong Air Kulit (2 Liter)
Roti Gandum Kering (2)
Uang Tunai: 11.200 Ryo
Perahu Layar Kayu Kecil (1 - Terikat di Dermaga Timur)
Plat Nomor Tambat Dermaga #14 (1)
Achievement:
First Survival
World Discovery
Tactical Advantage
Civilized Footprint
Organization: - Territory: -
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Rian menyandarkan punggungnya pada dinding kayu kedai, menyisir setiap sudut rencana di dalam kepalanya.
Lawan utamanya kali ini adalah Dogo—seorang mantan ninja pelarian tingkat C—bersama belasan anak buahnya. Dengan kekuatan fisiknya yang masih sangat terbatas, bertarung secara membabi buta adalah tindakan bunuh diri. Ia harus menggunakan strategi, informasi, dan sisa System Point yang dimilikinya secara efisien sebelum melancarkan pergerakan di tebing barat Pulau Ren.