NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21

Malam di Istana Buckingham terasa teramat mencekam. Udara dingin yang membebat seluruh penjuru istana seolah membeku di dalam ruang rapat besar milik Ratu Lizzeebeeth.

Lampu-lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, memantul di atas meja kayu mahoni panjang yang dikelilingi oleh para perwira tinggi militer, dewan bangsawan, dan pejabat senior kerajaan.

Di ujung meja, Pangeran Alistair Blackwood berdiri tegap. Namun, ketenangan formalitas yang biasanya membungkus dirinya kini runtuh sepenuhnya. Tatapan matanya yang tajam dan menyala menghujam lurus pada Ratu Lizzeebeeth yang duduk di kursi kebesarannya.

"Apa maksud Ibu menghidupkan kembali aturan lama itu?!" protes Alistair dengan suara bariton yang menggelegar, memotong pembacaan dekrit tugas yang sedang berlangsung di hadapan para petinggi. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang meledak.

Ratu Lizzeebeeth sama sekali tidak terkejut. Dengan keanggunan yang luar biasa kaku dan dingin, wanita paruh baya itu menyunggingkan senyuman manis—senyuman diplomatik yang dipoles rapat-rapat untuk menyembunyikan bisa di dalamnya.

"Maka dari itu kau harus kembali dengan keberhasilan, Alistair," sahut Ratu Lizzeebeeth dengan nada suara yang teratur, bagai mengelus permukaan kaca yang licin.

Sang Ratu merentangkan tangannya pelan, menatap para pejabat kerajaan yang membisu di sekeliling mereka.

"Itu hanya aturan kuno keluarga kita, Nak. Ibu sangat percaya kau akan berhasil, dan enam bulan ke depan akan menjadi bukti kemenanganmu. Ibu justru membantumu agar istri non-bangsawanmu itu semakin yakin bahwa jika kau pergi ke daerah konflik... itu artinya kau adalah pria sejati yang mampu melindungi keluarga kecilmu. Ibu hanya menginginkan yang terbaik untuk putra tunggal Ibu."

Pernyataan manis itu terdengar begitu indah di telinga para petinggi militer yang mengangguk-angguk setuju. Namun bagi Alistair, setiap kata yang keluar dari bibir ibunya terasa bagai duri beracun yang menusuk jantungnya.

"Tapi bagaimana kalau aku gagal, Ibu?!" seru Alistair, menumpu kedua tangannya di atas meja, menundukkan tubuh tegapnya mengikis jarak. "Apa Ibu akan membiarkan Baxeena—istri sahku—dipulangkan ke Los Angeles dan dicabut gelarnya?! Tidak, Ibu! Ibu tahu betapa aku begitu mencintainya! Tarik kembali titah konyol itu sekarang!"

Atmosfer di dalam ruangan seketika menegang hebat. Para perwira militer dan anggota dewan menahan napas mereka, terkejut melihat pertengkaran terbuka antara sang Putra Mahkota dan Penguasa Tertinggi Dinasti.

Ratu Lizzeebeeth tidak kehilangan kendalinya sedikit pun. Senyumannya tetap bertahan, meski sorot matanya berkilat sedingin es.

"Tinggalkan kami berdua," perintah sang Ratu pendek, suaranya datar namun membawa otoritas absolut yang tak terbantahkan.

Sir Thomas dan seluruh perwira tinggi militer segera berdiri, membungkuk dalam-dalam, lalu bergegas keluar satu per satu dari ruang rapat megah itu. Pintu kayu tebal berukir lambang kerajaan ditutup rapat dari luar, mengunci Alistair dan Ratu Lizzeebeeth dalam keheningan yang amat mematikan.

Sepeninggal para pejabat, keheningan menyiksa membungkus ruangan. Ratu Lizzeebeeth berdiri perlahan dari kursi kebesarannya, melangkah mengitari meja dengan gerakan yang amat tenang.

"Kau sudah berjanji atas nama keluarga..." bisik sang Ratu, suaranya kini berubah tajam dan penuh tekanan.

Ratu Lizzeebeeth berhenti tepat di samping Alistair, lalu menirukan gestur dan ucapan putranya beberapa bulan yang lalu saat Alistair memohon di hadapannya demi menikahi Baxeena.

"Ibu, aku akan mengikuti semua perintahmu, perintah kerajaan, dan semua titah yang ada. Tapi demi Tuhan, Ibu... izinkan aku bersama Baxeena kekasihku walau itu terasa tidak mungkin. Namun dalam kehidupan yang hanya sekali ini, jadikan dia istriku walau hanya dalam mimpi..."

Ratu Lizzeebeeth menyunggingkan senyum sinis yang amat culas, menatap Alistair dengan pandangan menembus jiwa.

"Kau lupa pada ucapanmu sendiri, Alistair?" desis sang Ratu. "Aku bahkan telah mewujudkan impian konyolmu itu menjadi kenyataan! Aku mengizinkanmu menikahi wanita rakyat biasa dari Los Angeles itu! Dan sekarang... jika kau tidak ingin kehilangannya, serta kehilangan gelar Ibu Ratu dari anakmu... pulanglah dari Timur Tengah dan jangan pernah kembali dengan pakaian yang terkoyak!"

Deg.

Dada Alistair serasa dihantam oleh godam besar hingga tak bernapas. Kata-kata sang Ratu merayap bagai racun yang melumpuhkan seluruh kesadarannya.

Alistair terdiam kaku.

Demi Tuhan... ia tidak bisa membiarkan situasi ini terus menjepit hidupnya. Ia dikirim ke wilayah konflik Timur Tengah—sebuah zona pertempuran paling ganas di mana peluru dan ledakan tak mengenal silsilah darah.

Alistair sendiri bahkan tidak bisa menjamin apakah ia sanggup kembali dengan tubuh utuh atau berakhir dalam peti mati berselimut bendera.

Dengan rasa frustrasi yang meluap dan suara yang terdengar amat lirih, Alistair menundukkan kepalanya secara mendalam.

"Aku... aku bahkan bersiap melepaskan semua yang ada di pundakku ini, Ibu..." bisik Alistair parau, keputusasaan meremukkan vokalnya. "Aku bersiap melepaskan tahta, gelar Pangeran, dan seluruh jabatan militer ini... asal aku bisa bersamanya..."

"ALISTAIR! KAU JANGAN MELANGGAR SUMPAHMU!!!"

Teriakan keras Ratu Lizzeebeeth memecah keheningan ruangan bagai petir di malam hari.

Wanita itu bahkan Memukul Meja didepannya, matanya membelalak penuh kemarahan yang tak tertahankan. Sebagai seorang penguasa yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi kemurnian dan keagungan dinasti, sang Ratu sama sekali tidak bisa mendengar bagaimana putra tunggalnya—calon Raja—begitu rela membuang mahkota dan keluar dari istana hanya demi wanita non-bangsawan seperti Baxeena!

"Tarik ucapanmu!" bentak Ratu Lizzeebeeth dengan napas terengah-engah oleh amarah. "Jangan pernah berani berpikir untuk membuang darah dan tanggung jawab kerajaan ini hanya demi kepuasan emosionalmu!"

Alistair membisu. Lidahnya terasa kelu. Namun di dalam ketakutan akan keselamatan Baxeena dan masa depan keluarga kecilnya, sepercik api keberanian dan tekad seorang suami meledak di dasar jiwanya.

Pangeran Alistair mendongak tegak. Manik mata hazel-nya yang tadi meredup kini berkilat tajam, menatap lurus ke dalam mata sang Ratu tanpa ada lagi rasa gentar.

"Jangan pernah permainkan perikatan pernikahanku, Ibu!" ujar Alistair, suaranya kembali menggelegar penuh kepastian, memantul keras di dinding-dinding ruang rapat. "Aku bersumpah... aku akan pergi ke zona pertempuran itu. Dan aku bersumpah demi Tuhan dan demi namaku sendiri... aku akan kembali tanpa kurang satu apa pun!"

Ratu Lizzeebeeth menyingkirkan tatapannya, menyunggingkan senyum dingin yang samar.

Alistair memutar tubuhnya lebar-lebar, melangkah dengan pijakan kaki yang mantap meninggalkan ruang rapat kerajaan.

Sumpah telah diucapkan, sandiwara catur dinasti telah dimulai, dan Alistair tahu bahwa pertempurannya untuk mempertahankan Baxeena bukan hanya di medan perang Timur Tengah, melainkan melawan kekuatan dingin yang bersemayam di dalam tembok Istana Buckingham itu sendiri.

1
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!