Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013: Pola yang Mulai Terlihat
Warung kopi di samping parkiran minimarket itu berubah menjadi meja bukti sore itu.
Tiga jaket MakanYuk tergantung di sandaran kursi. Empat helm diletakkan di lantai. Lima ponsel menyala bergantian, masing-masing menampilkan riwayat order, target insentif, potongan saldo, dan notifikasi peringatan yang bunyinya sama.
Alexander duduk di hadapan mereka dengan buku catatan terbuka.
"Saya tidak meminta Bapak-Bapak berbohong," katanya. "Saya juga tidak membayar kesaksian. Kalau ada yang tidak mau dicatat namanya, bilang sekarang. Saya hanya butuh fakta yang bisa diperiksa."
Pengemudi paling tua mengusap wajahnya. "Kalau nama kami masuk, akun kami bisa diputus."
"Kalau begitu, untuk tahap awal saya catat sebagai narasumber anonim. Nanti kalau masuk gugatan, semua yang menjadi pihak harus paham risiko dan memberi persetujuan tertulis."
"Perusahaan bisa tahu dari riwayat order."
"Itu sebabnya kita tidak sembrono."
Mereka saling melihat. Ketakutan di meja itu tidak dramatis. Tidak ada teriakan. Hanya cara orang kecil menghitung apakah besok dapurnya masih bisa menyala.
Alexander mulai dari pertanyaan sederhana.
"Berapa jam online dalam sehari?"
"Dua belas," jawab seorang pengemudi.
"Empat belas kalau mengejar insentif," kata yang lain.
"Kalau hujan?"
"Harus ambil. Kalau banyak nolak, performa turun."
"Kalau performa turun?"
"Order sepi. Kadang muncul peringatan. Pernah suspend dua hari."
Alexander menulis cepat.
"Apakah ada atasan langsung?"
Mereka tertawa hambar.
"Tidak ada, Pak. Katanya kami bebas."
"Tapi kalau jaket tidak dipakai?"
"Kena tegur."
"Kalau tidak ikut promo tertentu?"
"Order turun."
"Kalau kecelakaan?"
Meja langsung diam.
Salah satu pengemudi mengeluarkan foto dari ponselnya. Lututnya pernah robek karena tergelincir saat mengantar makanan. Ia membayar sendiri jahitan di klinik.
"Katanya ada perlindungan aplikasi," ucapnya. "Tapi waktu saya tanya, harus lengkapi form, bukti order, kronologi, foto lokasi, surat dokter, lalu menunggu. Sampai luka kering, uang belum turun."
"BPJS Ketenagakerjaan?" tanya Alexander.
"Saya punya BPJS mandiri yang saya bayar sendiri. Dari MakanYuk? Tidak pernah jelas."
Ting! Pengumpulan Bukti mengelompokkan pola berulang.
Pola satu: jam kerja dikendalikan insentif.
Pola dua: kebebasan menolak order dibatasi sanksi algoritmik.
Pola tiga: atribut platform dipaksakan sebagai identitas kerja.
Pola empat: risiko kecelakaan dialihkan kepada pengemudi.
Pola lima: perlindungan sosial tidak transparan.
Alexander menutup matanya sebentar. Saat dibuka lagi, wajah Anwar di IGD seperti berdiri di antara mereka.
"Pak," kata pengemudi tua itu, "kalau kami ikut, apakah pasti menang?"
"Tidak."
Jawaban itu membuat dua orang langsung menunduk.
Alexander tidak mempermanis.
"Pengacara yang menjanjikan pasti menang sebelum melihat semua bukti sedang menjual kebohongan. Yang bisa saya janjikan: kalau Bapak-Bapak memberi fakta, kami susun dengan benar. Kalau perusahaan menekan, kami catat. Kalau ada bukti hubungan kerja terselubung, kami bawa ke jalur hukum yang tepat."
"Tapi anak saya makan dari aplikasi ini."
"Saya tahu."
"Bapak tidak tahu."
Suara itu datang dari pengemudi muda di ujung meja. Matanya merah karena kurang tidur.
"Bapak pengacara. Kalau kalah, Bapak masih bisa cari kasus lain. Kalau kami kalah, akun hilang, motor masih cicilan, anak masih sekolah."
Kalimat itu seharusnya menampar.
Alexander menerimanya.
"Benar. Saya tidak hidup dari akun MakanYuk. Karena itu saya tidak akan mendorong Bapak masuk tanpa tahu risikonya. Hari ini cukup beri saya pola. Besok, yang ingin menjadi pihak gugatan harus mendengar penjelasan resmi dari kantor dan menandatangani persetujuan sendiri."
Pengemudi muda itu menatapnya lebih lama.
"Pak Anwar orang baik," katanya akhirnya. "Dia sering kasih tahu rute aman. Kalau dia saja dibiarkan begitu, kami semua tinggal tunggu giliran."
Satu per satu, ponsel mereka maju ke tengah meja.
Ia belum menyerah.
Mulai percaya.
Dua jam kemudian, Alexander kembali ke Kantor Hukum Adiwangsa dengan dua puluh tujuh halaman catatan, enam screenshot peringatan akun, empat bukti biaya medis pribadi, tiga kontrak kemitraan versi berbeda, dan satu daftar nama pengemudi yang bersedia dihubungi lagi.
Gunawan membaca tanpa duduk santai.
"Ini bukan lagi kasus Anwar saja," katanya.
"Saya juga melihat begitu."
"Kita tidak bisa hanya meminta ganti rugi keluarga Anwar. Kalau pola ini benar, yang diserang adalah struktur perjanjian dan praktik kerja mereka."
Alexander mengangguk. "Gugatan perwakilan kelompok?"
"Arahnya ke sana. Tapi ketenagakerjaan punya jalur sendiri. Kita rapikan dulu: somasi kedua, pengaduan ke Disnaker, lalu siapkan Gugatan Class Action Ketenagakerjaan Anwar Halim vs MakanYuk dengan dasar hubungan kerja terselubung dan itikad baik kontraktual."
"Saya akan susun matriks bukti malam ini."
"Tidak sendirian." Gunawan menunjuk ruang rapat. "Panggil dua staf. Kita buat tim kecil. Perusahaan sebesar MakanYuk tidak dilawan dengan keberanian saja."
Alexander membuka laptop.
Ting! Misi cabang berkembang: bangun bukti pola eksploitasi sistemik.
Ting! Pengumpulan Bukti meningkat signifikan.
Ting! Basis Data Hukum meningkat signifikan.
Ting! Level meningkat: Lv5 Advokat Pemula.
Alexander menatap panel itu.
Lv5.
Advokat Pemula.
Di struktur kantor, ia masih Advokat Magang. Di mata firma besar, ia masih anak baru. Di depan pengemudi yang takut akunnya mati, gelar apa pun tidak berarti kalau ia gagal melindungi mereka dari risiko yang bisa ia perkirakan.
"Alexander," panggil Gunawan.
"Ya, Pak."
"Besok pagi kita bicara dengan keluarga Anwar dan beberapa pengemudi. Tidak ada yang masuk gugatan tanpa mengerti medan perang."
"Siap."
Malam turun di luar jendela kantor.
Alexander baru menyimpan file matriks bukti ketika ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Tidak ada pesan. Hanya satu foto.
Foto dirinya di warung kopi sore tadi.
Di bawah foto itu, tertulis:
Jangan buat para mitra kehilangan pekerjaan karena ambisimu.
Alexander tidak langsung membalas.
Ia memperbesar gambar. Sudut pengambilan dari seberang jalan. Dekat tiang listrik. Bukan kebetulan.
Ia mengirim foto itu ke Gunawan.
Balasan Gunawan datang cepat:
Mulai sekarang, jangan pulang sendirian.
Alexander mematikan layar.
Di meja, daftar nama pengemudi menunggu perlindungan.
Di luar, seseorang sudah mulai menghitung langkahnya.