Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI TANPA ALYA
Pukul 07.58.
Raka Mahendra sudah berada di ruangannya.
Laptop terbuka.
Dokumen di atas meja.
Kopi hitam tanpa gula berada di sisi kanan.
Semuanya seperti biasa.
Hanya ada satu hal yang sedikit berbeda.
Raka beberapa kali melihat jam.
07.59.
08.00.
08.01.
Dia mengerutkan kening.
Biasanya pada jam seperti ini, suara langkah kaki sudah terdengar dari luar.
Kemudian ketukan kecil di pintu.
Lalu suara yang entah kenapa belakangan mulai familiar.
“Selamat pagi, Pak.”
Setelah itu biasanya Alya masuk sambil membawa tablet, kopi, dan setumpuk informasi yang menurut Raka terlalu banyak.
Namun pagi ini—
tidak ada.
Raka melihat jam lagi.
08.03.
Dia mencoba kembali membaca dokumen.
Satu paragraf.
Dua paragraf.
Tidak masuk ke kepalanya.
Dia menutup dokumen.
“Kenapa belum datang?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Raka langsung terdiam.
Dia bahkan tidak tahu kenapa dia mengatakannya.
Seharusnya itu bukan masalahnya.
Alya hanya asistennya.
Kalau terlambat, dia tinggal menegur.
Sesederhana itu.
Pukul 08.07.
Raka akhirnya menekan tombol interkom.
“Maya.”
Beberapa detik kemudian suara Maya terdengar.
“Ya, Pak?”
“Alya sudah datang?”
Hening sebentar.
“Belum, Pak.”
Raka mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Saya tidak tahu, Pak.”
“Hubungi dia.”
“Baik.”
Raka meletakkan telepon.
Kemudian kembali membuka laptop.
Namun sebelum lima menit berlalu, interkom berbunyi.
“Pak?”
“Ya.”
“Mbak Alya izin hari ini.”
Raka berhenti.
“Izin?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Katanya kurang sehat.”
Raka terdiam.
“Sejak kapan?”
“Pesannya masuk sekitar pukul tujuh.”
“Oh.”
Hanya itu jawaban Raka.
Dia mematikan interkom.
Kemudian kembali menatap laptop.
Entah kenapa ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Padahal tidak ada yang berubah.
Meja masih sama.
Dokumen masih sama.
Kopi masih sama.
Namun ada sesuatu yang hilang.
Raka menghela napas.
“Dia cuma tidak masuk satu hari.”
Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Bukan masalah.”
PUKUL 08.30
Raka membuka kalender.
Agenda hari itu penuh.
Meeting internal.
Presentasi.
Panggilan dengan klien.
Makan siang bisnis.
Semuanya sudah tersusun.
Biasanya Alya akan datang beberapa menit sebelum agenda dimulai dan mengingatkan:
“Pak, lima belas menit lagi meeting.”
Atau:
“Pak, jangan lupa makan.”
Atau bahkan:
“Pak, Bapak punya tiga meeting hari ini. Jangan tiba-tiba menambah yang keempat.”
Hari ini tidak ada.
Raka melihat jadwalnya.
Dia tahu semua agenda.
Tetapi tetap merasa ada sesuatu yang kurang.
Pukul 08.45, dia keluar dari ruangan.
Maya langsung berdiri.
“Pak?”
“Jadwal saya.”
Maya memberikan tablet.
“Sudah saya pegang sementara.”
Raka melihatnya.
“Meeting pertama?”
“Jam sembilan.”
“Siapkan ruang tiga.”
“Sudah.”
“Dokumen?”
“Sudah.”
Raka mengangguk.
Dia hendak kembali ke ruangan.
Namun tiba-tiba bertanya,
“Alya sakit apa?”
Maya menahan senyum.
“Kurang tahu, Pak.”
“Tidak bilang?”
“Tidak.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Dia kembali masuk.
Maya menatap pintu yang tertutup.
Kemudian tersenyum sendiri.
“Wah.”
PUKUL 09.00
Meeting dimulai.
Raka duduk di ujung meja.
Semua berjalan lancar.
Namun ketika salah satu manajer bertanya,
“Pak, untuk jadwal presentasi minggu depan bagaimana?”
Raka langsung menjawab,
“Tanyakan ke Alya.”
Hening.
Salah satu staf mengangkat tangan.
“Bu Alya tidak masuk hari ini, Pak.”
Raka terdiam.
“Oh.”
Dia melirik Maya.
“Baik. Saya yang putuskan.”
Meeting berlanjut.
Namun selama satu jam itu, Raka beberapa kali hampir mengatakan:
“Alya, catat.”
Padahal Alya tidak ada.
Setiap kali sadar, dia merasa sedikit kesal kepada dirinya sendiri.
Setelah meeting selesai, dia kembali ke ruangan.
Dia duduk.
Membuka laptop.
Kemudian melihat kursi kosong di luar.
Kursi Alya.
Raka menatapnya beberapa detik.
Lalu kembali bekerja.
PUKUL 11.15
Ponsel Raka bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Alya.
Pak, maaf saya tidak bisa masuk hari ini. Badan saya kurang enak. Semua jadwal sudah saya kirim ke Maya. Untuk meeting jam dua, dokumennya ada di folder investor.
Raka membaca pesan itu dua kali.
Kemudian mengetik:
Baik. Istirahat.
Dia berhenti.
Melihat tulisan itu.
Kemudian menghapusnya.
Mengetik lagi:
Baik. Pastikan jadwal besok sudah diperbarui.
Kirim.
Beberapa detik kemudian Alya membalas.
Siap, Pak.
Raka meletakkan ponselnya.
Hanya dua kata.
Namun entah kenapa dia merasa sedikit lega.
DI RUMAH ALYA
Sementara itu, Alya sedang berbaring di sofa.
Dia sebenarnya tidak sakit parah.
Hanya sejak malam tubuhnya terasa lemas dan kepalanya sedikit pusing.
Ibunya menyuruhnya beristirahat.
“Jangan kerja dulu.”
“Aku cuma izin sehari, Bu.”
“Sehari pun tidak apa-apa.”
Alya mengangguk.
Ponselnya berada di samping bantal.
Dia membuka chat dengan Raka.
Pesan terakhir masih terlihat.
Baik. Pastikan jadwal besok sudah diperbarui.
Alya tertawa kecil.
“Bahkan aku sakit masih mikirin jadwal.”
Dia meletakkan ponsel.
Namun beberapa menit kemudian mengambilnya lagi.
Entah kenapa dia menunggu pesan lain.
Tidak ada.
Alya menghela napas.
“Memangnya aku berharap apa?”
Dia memejamkan mata.
PUKUL 12.45
Raka sedang makan siang dengan salah satu klien.
Biasanya Alya akan mengingatkan waktunya.
Namun hari itu tidak ada yang mengingatkan.
Dia baru menyadari ketika melihat jam.
Sudah pukul satu kurang.
Makan siang bahkan belum selesai.
Kliennya tersenyum.
“Pak Raka sepertinya sibuk sekali.”
Raka menjawab,
“Memang.”
Kemudian tanpa sadar dia berkata,
“Biasanya asisten saya yang mengingatkan waktu.”
Klien tertawa.
“Berarti hari ini tidak ada yang mengingatkan?”
Raka menggeleng.
“Dia tidak masuk.”
“Oh.”
Klien tersenyum.
“Pantas.”
Raka mengerutkan kening.
“Pantas apa?”
“Bapak kelihatan lebih gelisah hari ini.”
Raka langsung diam.
“Saya tidak gelisah.”
Klien tertawa.
“Baiklah.”
Raka kembali makan.
Namun kata-kata itu terus mengganggunya.
Lebih gelisah.
Apakah benar?
Dia tidak merasa gelisah.
Dia hanya…
tidak terbiasa.
Ya.
Itu saja.
Tidak terbiasa.
PUKUL 15.30
Hari mulai sore.
Raka baru selesai meeting.
Dia keluar dari ruangan.
Seorang staf menyerahkan beberapa dokumen.
“Pak, ini perlu tanda tangan.”
“Taruh di meja saya.”
“Baik.”
Raka berjalan.
Ketika melewati meja Alya, langkahnya berhenti.
Kosong.
Tidak ada laptop.
Tidak ada kopi.
Tidak ada tumpukan sticky notes warna-warni.
Tidak ada suara.
Raka memandang meja itu.
Kemudian melihat sebuah sticky note yang tertinggal di sudut.
Tulisan tangan Alya:
Jangan lupa makan.
Raka mengambil kertas kecil itu.
Dia menatapnya.
Kemudian tertawa kecil.
“Bahkan tidak ada di sini masih menyuruh saya makan.”
Maya yang kebetulan lewat melihatnya.
“Pak?”
Raka langsung memasukkan sticky note ke saku.
“Tidak ada apa-apa.”
Maya tersenyum.
“Saya tidak tanya.”
Raka menatapnya.
Maya pergi sambil menahan tawa.
PUKUL 17.00
Hari kerja hampir selesai.
Raka menatap layar laptop.
Tidak ada yang salah.
Semua pekerjaan selesai.
Semua meeting berjalan lancar.
Namun dia merasa hari itu lebih panjang dari biasanya.
Dia melihat jam.
Kemudian ponselnya.
Tidak ada pesan.
Raka membuka chat Alya.
Pesan terakhir:
Siap, Pak.
Dia mengetik:
Sudah makan?
Raka menatap layar.
Kemudian menghapusnya.
Mengetik:
Besok masuk?
Hapus lagi.
Akhirnya dia mengirim:
Jadwal besok sudah siap?
Tidak sampai satu menit, balasan datang.
Sudah, Pak. Saya kirim malam ini.
Raka membaca.
Kemudian mengetik:
Tidak perlu malam ini. Istirahat.
Kali ini dia tidak menghapus.
Pesan terkirim.
Beberapa detik kemudian:
Baik, Pak. Terima kasih.
Raka menatap layar.
Dia tidak tahu kenapa satu kalimat sederhana itu membuatnya tersenyum.
MALAM
Pukul 20.15.
Alya sudah merasa lebih baik.
Dia duduk di meja kecil di kamarnya dan membuka laptop.
Dia berniat memeriksa jadwal besok.
Namun sebelum sempat bekerja, sebuah pesan masuk.
Dari Raka.
Jangan kerja.
Alya mengerutkan kening.
Saya cuma mau cek jadwal.
Raka:
Besok saja.
Alya:
Bapak kenapa?
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Kemudian:
Tidak apa-apa.
Alya tersenyum.
Bapak kalau bilang “tidak apa-apa” biasanya memang ada apa-apa.
Raka membaca pesan itu.
Dia mengetik:
Kamu terlalu banyak tahu.
Alya:
Saya asisten Bapak. Memang pekerjaan saya tahu banyak.
Raka:
Besok datang kalau sudah benar-benar sehat.
Alya terdiam.
Dia membaca kalimat itu beberapa kali.
Tidak ada kata romantis.
Tidak ada perhatian berlebihan.
Namun entah kenapa—
kalimat itu membuat hatinya hangat.
Baik, Pak.
Dia meletakkan ponsel.
Senyumnya belum hilang.
HARI BERIKUTNYA
Pukul 07.50.
Raka sudah berada di ruangannya.
Kali ini dia tidak melihat jam berkali-kali.
Setidaknya dia berusaha tidak melakukannya.
07.55.
07.57.
08.00.
Kemudian—
terdengar langkah kaki.
Suara pintu lift.
Suara seseorang berbicara dengan Maya.
Lalu—
ketukan kecil di pintu.
Raka langsung tahu siapa.
“Alya?”
Pintu terbuka.
Alya muncul.
Wajahnya masih sedikit pucat.
Namun dia tersenyum.
“Selamat pagi, Pak.”
Raka menatapnya.
Entah kenapa—
dia merasa lega.
“Pagi.”
Alya meletakkan tablet di meja.
“Maaf kemarin tidak masuk.”
“Tidak perlu minta maaf.”
Alya mengangkat alis.
“Bapak tidak marah?”
“Tidak.”
“Tumben.”
Raka menatapnya.
“Kamu sudah sembuh?”
“Sudah.”
“Benar?”
“Iya.”
“Kalau masih tidak enak badan, pulang.”
Alya tersenyum.
“Bapak perhatian?”
Raka langsung kembali melihat laptop.
“Jangan percaya diri.”
Alya tertawa.
“Baik.”
Dia hendak keluar.
Raka melihat meja kerjanya.
Ada sesuatu di sana.
Dua gelas kopi.
Satu miliknya.
Satu milik Alya.
Raka menunjuk.
“Kopi?”
Alya tersenyum.
“Bapak kemarin bilang bawa lagi.”
Raka mengangguk.
“Oh.”
Alya berjalan keluar.
Kemudian berhenti.
“Pak.”
“Ya?”
“Saya juga kangen berantem sama Bapak.”
Raka menatapnya.
Alya tertawa.
“Bercanda.”
Dia keluar.
Pintu tertutup.
Raka terdiam.
Kemudian perlahan tersenyum.
Ternyata benar.
Satu hari tanpa Alya terasa berbeda.
Bukan karena pekerjaannya terganggu.
Bukan karena jadwalnya berantakan.
Tetapi karena tidak ada satu orang yang membuatnya kesal sepanjang hari.
Dan untuk pertama kalinya Raka menyadari sesuatu yang sederhana:
Dia ternyata tidak hanya terbiasa dengan Alya.
Dia mulai membutuhkan kehadirannya.
Namun dia belum siap mengakui itu.
Bahkan kepada dirinya sendiri.
SIANG HARINYA
Alya kembali bekerja seperti biasa.
Dan dalam waktu kurang dari dua jam—
mereka sudah bertengkar lagi.
“Pak, saya sudah bilang meeting jam empat jangan ditambah.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa ditambah?”
“Karena penting.”
“Semua meeting Bapak penting.”
“Memang.”
“Kalau begitu saya kapan mengatur jadwal kosong?”
Raka menatapnya.
“Besok.”
“Besok juga Bapak bilang begitu.”
“Kalau begitu lusa.”
Alya memelototinya.
“Bapak…”
Raka menahan senyum.
“Apa?”
“Nyebelin.”
“Terima kasih.”
Alya terdiam.
“Bapak sekarang malah bangga?”
Raka kembali melihat dokumen.
“Sedikit.”
Alya menggeleng sambil tersenyum.
Mereka kembali bekerja.
Tidak ada yang menyadari bahwa pertengkaran kecil itu perlahan menjadi sesuatu yang mereka tunggu.
Karena bagi Raka—
suara Alya yang mengomel mulai terdengar seperti bagian dari rutinitasnya.
Dan bagi Alya—
Raka yang dingin mulai terasa sedikit berbeda.
Lebih manusia.
Lebih dekat.
Meski mereka masih belum menyadari ke mana semua ini akan membawa mereka.
Karena terkadang, cinta tidak dimulai dari rasa suka.
Cinta bisa dimulai dari seseorang yang terlalu sering membuat kita kesal… sampai suatu hari kita sadar, kita justru tidak bisa menjalani hari tanpa dirinya.