NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

“Selamat pagi, Bu.”

“Iya, selamat pagi, Pak,” jawab Sarah dengan sikap tenang, mencoba menyembunyikan kepanikan yang mulai menjalar hingga ke ujung jari-jarinya.

“Bisa dilihatkan surat-suratnya?” tanya polisi berompi hijau neon yang memberhentikan Sarah. Tangannya sudah memegang papan klip dan siap mencatat.

Sarah terdiam, sementara Tini di belakang sudah diam membeku, tidak berani menggeser posisi duduknya sedikit pun. Atmosfer di atas motor matic itu mendadak berubah menjadi sangat canggung.

“Maaf, Pak. Ketinggalan di sekolah tas saya,” jawab Sarah, mencoba memberikan alasan yang terdengar paling logis dengan senyuman sekilas.

Mendengar jawaban itu, pinggang Sarah langsung dicolek dari belakang oleh Tini dengan ketus. Tini mencondongkan badannya demi bisa berbisik pelan, namun tetap nadanya penuh penekanan.

“STNK juga kamu nggak bawa?” tanyanya memastikan.

Sarah sedikit menoleh ke belakang dan menggeleng lemah. “Aku cuma bawa ponsel di saku baju.”

“Terus kalau ada apa-apa di jalan, gimana? Nggak bawa uang juga,” omel Tini setengah berbisik, mulai gemas dengan kelalaian sahabatnya itu. Pikiran tentang keterlambatan masuk kelas jam kelima kini bertambah pelik dengan urusan tilang.

“Aku bawa uang cash, kok, dua puluh ribu. Bisalah buat isi angin atau tambal ban semisal bocor di jalan. Kalau bensin aku juga udah full,” jawab Sarah enteng, berusaha membela diri meski tahu posisinya sangat lemah di mata hukum saat ini.

Tini geram dengan temannya itu. Ia hanya bisa menghembuskan napas panjang sembari memutar bola matanya pasrah. Mengapa perjalanan pulang dari pasar setelah menemukan Ali harus berujung seperti ini?

Polisi yang memeriksa mereka tampak tidak terpengaruh dengan perdebatan kecil kedua ibu guru tersebut. Ia mencatat sesuatu di kertasnya lalu menunjuk ke arah sebuah area di dekat pertigaan jalan.

“Karena nggak bawa surat-surat, silakan ke posko sana ya, Bu. Didata dulu,” kata polisi itu dengan nada tegas namun tetap sopan.

Mau tidak mau, Sarah membawa motornya ke sebuah tenda besar yang berlogo polisi di pinggir jalan. Di sana mereka melihat beberapa orang pengendara yang juga sedang mengalami nasib serupa, berdiri mengantri sembari memegang lembaran surat tilang. Ada beberapa polisi juga dengan berbagai usia yang berjaga dan bertugas mencatat administrasi.

“Tambah satu lagi ini,” ucap polisi yang tadi memberhentikan mereka, menyerahkan data awal kepada rekannya yang berada di dalam tenda.

Sarah masuk dengan wajah ditekuk didampingi oleh Tini yang berjalan di sampingnya. Mereka berdua masih berdiri berdampingan, menunggu giliran karena orang sebelum mereka belum selesai didata oleh petugas.

“Aduh, Sar, ini kalau kita ketahuan kepala sekolah bisa panjang urusannya,” bisik Tini cemas, matanya melirik jam tangan yang terus berjalan.

“Udah, tenang dulu, Tin. Yang penting kita ikuti dulu prosedurnya,” sahut Sarah, walau sebenarnya hatinya juga tidak kalah berdebar.

Dari pinggir tenda, Sarah mengalihkan pandangannya untuk mengusir rasa jenuh. Matanya menangkap ada dua orang polisi yang sedang duduk berhadapan dan berbincang santai di balik sebuah meja kayu. Tampaknya mereka sedang beristirahat di sela-sela tugas razia.

“Makanya jangan jomblo terus,” ucap polisi yang badannya cukup berisi, menyenggol lengan rekannya dengan sikut sembari terkekeh.

Rekan polisi yang ada di hadapannya tertawa renyah saat mendengar ejekan temannya untuk dirinya sendiri. Suara tawa itu terdengar berat namun sangat familiar di telinga Sarah.

“Udah, aku lanjut tugas lagi,” ucap polisi itu dan langsung berdiri dari kursinya, membenarkan letak sabuk atribut di pinggangnya.

Sarah sempat mengernyitkan dahi saat mendengar suara polisi tersebut. Ada getaran nada yang membuat memori lamanya berputar kembali.

“Rasanya pernah dengar,” pikirnya, mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah berinteraksi dengan pemilik suara itu.

Dan tubuhnya seketika menegang saat polisi itu membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah antrian. Langkah kaki pria berseragam itu mendadak terhenti. Tidak hanya Sarah yang terkejut, polisi tersebut melakukan hal yang sama. Matanya membulat menatap Sarah yang berdiri di tengah tenda. Namun bedanya, pria itu dengan cepat menguasai dirinya kembali dan mengubah ekspresi terkejutnya menjadi sebuah seringai tipis.

Pria itu melangkah maju dengan tegap, melewati beberapa pengendara lain, dan berhenti tepat di depan Sarah. Ia menatap dalam ke arah Sarah yang masih menatapnya dengan mulut yang sedikit terbuka karena syok. Seseorang dari masa lalunya kini berdiri tegap menggunakan seragam polisi lengkap.

Tini yang menyadari perubahan atmosfer itu langsung melirik Sarah dengan penuh tanda tanya, namun Sarah terlalu kaku untuk merespons sahabatnya.

Pria itu menatapnya dengan wajah datar, seolah-olah sedang menginterogasi seorang pelanggar hukum yang sangat serius.

“Apa kamu sudah menikah?” tanyanya tiba-tiba tanpa basa-basi, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di tengah-tengah posko razia kendaraan.

Sarah berkedip beberapa kali, merasa pertanyaan itu sangat tidak nyambung dengan pelanggarannya yang tidak membawa SIM. Namun, ia tetap menggeleng.

“Belum.”

Sebuah ekspresi lega yang sangat kentara melintas di wajah pria itu selama sepersekian detik. Ia berdeham kecil, mencoba mempertahankan wibawanya sebelum bertanya lagi.

“Apa kamu punya pacar?” tanyanya, kali ini dengan tatapan yang lebih menuntut jawaban jujur.

Sarah kembali menggeleng, matanya masih menatap tidak percaya pada situasi absurd yang sedang dihadapinya.

“Tidak.”

Kembali sebuah senyuman lega langsung terukir jelas di wajah pria itu. Ketegangan di bahunya runtuh seketika. Ia juga tersenyum simpul, menatap Sarah dengan binar mata yang sangat berbeda dari beberapa detik lalu.

“Oke. Sekarang urus dulu urusan kamu,” katanya dengan nada yang jauh lebih ramah, sambil berlalu keluar dari tenda dengan wajah sumringah dan langkah yang tampak sangat ringan.

Sarah menatap kesal ke arah punggung polisi itu yang berjalan menjauh. Rasa malu, bingung, dan kesal bercampur aduk di dalam dadanya, membuat wajahnya memerah seketika.

Sementara Tini di sebelahnya mulai menahan senyum dan siap menghujaninya dengan ribuan pertanyaan mendalam. Sarah hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Kenapa bisa ketemu sama dia lagi sih,” gumamnya.

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!