Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 13_SISA RASA DI MEJA CEO
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 13_SISA RASA DI MEJA CEO
Setelah pintu kayu mahoni besar itu tertutup dengan dentuman keras, Cinta menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran di dadanya. Dia memunguti map agenda yang sempat terjatuh di lantai, lalu melangkah kembali ke meja kerjanya dengan senyum kemenangan yang tidak bisa dia sembunyikan. Rasa kesal akibat tumpukan dokumen audit lima tahun lalu mendadak menguap, digantikan oleh kepuasan yang membubung tinggi.
Kamu boleh mendorongku dan berpura-pura dingin, Tuan Maxim, batin Cinta penuh percaya diri sembari mendudukkan diri di kursi beludrunya. Tapi detak jantungmu dan cengkeraman tanganmu tadi tidak bisa berbohong. Kamu cemburu setengah mati pada Rudi, dan kamu menginginkanku.
Dengan suasana hati yang mendadak cerah, Cinta mulai mengerjakan kembali tugas audit manualnya. Jemari lentiknya menari dengan lincah di atas kalkulator, dan lembar demi lembar berkas tebal itu dia periksa dengan senyuman yang terus menghias wajah cantiknya. Baginya, penolakan fisik Maxim tadi hanyalah sebentuk mekanisme pertahanan ego seorang pria berkuasa yang gengsi karena telah terpancing umpan. Cinta merasa jalan menuju uang sepuluh miliar rupiah dari Nyonya Valen kini terbuka semakin lebar.
Sementara itu, situasi di dalam ruangan CEO justru berbanding terbalik. Atmosfer di ruangan luas itu terasa begitu mencekam dan panas.
Begitu mengunci diri di dalam, Maxim langsung melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar, merenggut kain sutra itu dari lehernya lalu melemparnya ke atas meja marmer. Pria berusia dua puluh enam tahun itu berjalan mondar-mandir di balik meja kerjanya dengan napas yang memburu dan tidak teratur.
Sepasang mata hitamnya berkilat penuh frustrasi. Jemari tangan kanannya perlahan naik, menyentuh bibir tipisnya sendiri yang masih menyisakan sensasi hangat dan manis dari ciuman agresif Cinta beberapa menit lalu. Maxim memejamkan matanya kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan wajah cantik Cinta saat menarik dasinya dengan begitu berani di koridor tadi.
Sial, umpat Maxim dalam hati, rahang tegasnya mengeras hingga urat-urat di pelipisnya menegang.
Penyesalan yang teramat sangat mendadak menghantam dada sang CEO. Dia merutuki kebodohannya sendiri karena telah mendorong Cinta menjauh. Ego besarnya sebagai pria yang dicampakkan tadi pagi di hotel memang menuntutnya untuk tidak takluk begitu saja pada permainan Cinta di kantor. Namun sekarang, setelah wanita itu berada di luar jangkauannya, insting protektif dan sifat gila kendali di dalam diri-nya justru bangkit berkali-kali lipat lebih agresif.
Maxim merasa frustrasi karena menyadari satu kenyataan pahit: dia merindukan sentuhan wanita itu. Setiap detik yang dia habiskan bersama Cinta, entah sebagai Ethan bertopeng maupun sebagai Tuan Maxim sang bos es, selalu berhasil memicu sisi gelap obsesinya hingga ke tingkat yang berbahaya. Fakta bahwa Cinta dengan nekat menciumnya di koridor kantor formal membuktikan bahwa wanita itu tidak memiliki rasa takut sedikit pun padanya. Dan hal itu justru membuat Maxim semakin gila.
Maxim berjalan mendekati dinding kaca satu arah yang menghadap langsung ke area kubikel sekretarisnya. Di balik kaca gelap itu, dia berdiri diam, menatap lekat ke arah Cinta yang sedang mengetik laporan dengan senyum manis yang terus mengembang di bibirnya.
Melihat ketenangan dan binar kemenangan di wajah sekretarisnya, insting kepemilikan Maxim bergejolak hebat. Rasa cemburu akibat insiden Rudi tadi belum sepenuhnya padam, dan sekarang ditambah dengan rasa tidak rela karena membiarkan Cinta merasa menang atas dirinya. Sifat posesifnya yang ekstrem mulai merayap naik, menguasai seluruh jalan pikirannya.
"Kamu pikir kamu sudah menang karena berhasil menciumku, Cinta?" desis Maxim dengan suara rendah yang mematikan, meskipun hanya menggema di dalam ruangannya sendiri.
Maxim mengepalkan tinjunya kuat-kuat di samping tubuh, sepasang mata hitamnya tidak berkedip sedikit pun mengunci siluet tubuh ramping Cinta dari balik kaca. "Kamu bebas tersenyum sekarang. Tapi aku bersumpah, aku akan membuatmu membayar mahal untuk setiap jengkal keberanianmu hari ini. Kamu tidak akan pernah bisa lepas dari sangkar emas yang sudah kamu masuki sendiri."
Sesuai tenggat waktu, Cinta menyerahkan laporan keuangan itu tepat pukul lima sore. Maxim menerimanya tanpa banyak bicara, ekspresinya kembali sekaku patung es. Namun, begitu jam pulang kantor tiba, Cinta menolak untuk langsung kembali ke apartemennya yang sepi. Kemenangan kecil di koridor hari ini harus dirayakan.
Dua jam kemudian, Cinta sudah berada di tempat hiburan malam eksklusif andalannya. Di bawah temaram lampu neon bernuansa ungu, Cinta duduk di salah satu meja lounge yang strategis. Dia memesan segelas cocktail dan meminumnya sedikit demi sedikit, membiarkan rasa hangat alkohol perlahan merilekskan otot-otot tubuhnya setelah seharian berkutat dengan angka.
Otaknya yang cerdas mulai menyusun rencana baru yang lebih matang. Langkah pertamanya membuat Maxim cemburu dan membalas provokasinya sudah berhasil. Skenario berikutnya adalah membuat pria sedingin es itu benar-benar memintanya untuk terus berada di dekatnya, hingga pernikahan bisnis dengan Valen bisa hancur total.
Di tengah lamunannya, indra penciuman Cinta mendadak menangkap aroma kayu cendana yang sangat familier. Dia menoleh sedikit dan mendapati sosok pria bertopeng hitam satin sedang berdiri tidak jauh dari mejanya. Itu Ethan. Pria penghibur yang tadi subuh dia depak dengan uang kompensasi yang melimpah.
Cinta sempat terkejut, namun sedetik kemudian, dia memajukan dagunya dengan angkuh. Sebagai penipu profesional, batasan yang sudah dia buat tidak boleh dilanggar. Dia sudah memutuskan untuk membuang Ethan demi fokus penuh pada Maxim.
Ketika Ethan melangkah mendekat seolah ingin menyapanya, Cinta dengan sengaja membuang muka. Dia menyesap kembali minumannya, menatap ke arah panggung musik, dan berpura-pura sama sekali tidak mengenal pria bertopeng tersebut. Cinta mengabaikan keberadaan Ethan secara mutlak, memperlakukannya seolah pria itu hanyalah embusan angin lalu yang tidak berharga.
Cinta tidak pernah tahu, bahwa di balik topeng hitam satin itu, sepasang mata hitam Maxim berkilat dengan kemarahan yang luar biasa pekat.
Siang hari di kantor, dia sudah tersiksa oleh sisa rasa ciuman Cinta dan rasa penyesalan karena mendorongnya. Dan malam ini, saat dia sengaja datang sebagai Ethan untuk menuntut penjelasan atas uang kompensasi sialan itu, wanita ini justru mengabaikannya dan berpura-pura tidak kenal. Tindakan acuh tak acuh Cinta sukses membuat Maxim semakin terbakar oleh api cemburu, kemarahan, dan obsesi yang kini sudah melesat melampaui batas kewarasannya.