Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan dengan Arsen
"Kan, mama dan papa pernah cerita, ya, kalo kamu mau dijodohkan. Trus kamu tolak. Sebenarnya papa dan mama kirain juga bakalan gagal. Ini di luar dugaan," cerita mamanya via video call. Sekarang dia sudah berada di dalam mobil jemputannya yang pak supirnya sudah mendapat mandat menuju butik Tante Dita yang fasilitasnya lengkap dengan salonnya untuk memake over penampilannya.
Ananta mendengarkan penuturan mamanya tanpa minat.
"Setelah kecelakaan Ega, terjadi keributan di pihak saudara saudara Om Latif untuk jadi pengganti Ega sebagai pimpinan perusahaan. Tapi semua ditolak karena Om Latif rupanya punya anak di luar nikah dari kekasihnya yang bule Amerika. Orang tua Om Latif sudah tidak bisa menentang lagi karena Arsen memang darah daging Om Latif." Mamanya-Prameswari masih dengan penuh semangat menuturkan ceritanya. Dia tidak peduli dengam wajah datar putrinya.
"Agar mendapat menantu pribumi, Mamanya Om Latif melakukan seleksi ketat untuk memilih calon istri untuk Arsen. Kamu salah satu yang termasuk dipinang. Setelah berhari hari tanpa kabar, ternyata hari ini keberuntungan ada di kamu, sayang. Arsen dan juga atas persetujuan Latif dan mamanya memilih kamu." Prameswari mengusap air matanya yang membayangi di sudut sudut matanya. Hatinya meledak dalam bahagia dan haru. Begitu juga suaminya yang tau pertama kabar ini.
"Waktunya jadi sempit karema ponsel papa kamu sempat lowbat. Uugghhh.. . kita jadi kehilangan banyak waktu berharga," keluh Prameswari.
Dalam hati Ananta malah senang kalo laki laki itu nanti jadi ilfeel karena keterlambatannya nanti di kencan pertama mereka.
Belum apa apa, kamu udah ngga ontime, mungkin begitu omelan laki laki itu nanti.
Ananta merasa geli sendiri dengan pemikiran absurdnya
"Untung saja restoran tempat pertemuan kalian dekat banget dengan butik Tante Dita. Jadi kamu bisa sekalian ganti baju dan didandani di sana."
Ananta jadi teringat ucapan Tante Juli.
"Kalo perjodohan ini gagal, papa akan rugi karena kerja samanya batal?" tanyanya dingin.
Prameswari tersenyum manis, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Karena itu kamu harus berhasil, sayang. Kerja sama yang ditawarkan lebih dari setengah trilyun, sayang. Belum lagi bonus yang akan kamu dapatkan kalo jadi istri Arsen," bujuk Prameswari menyemangati putrinya.
Ananta menghembuskan nafas kesal. Mobil yang membawanya sudah memasuki halaman butik Tante Juli.
"Semangat, dong, sayang. Katanya kamu kandidat ketiga yang dihubungi. Yang dua lainnya sudah ditolak Arsen."
Ananta tidak berkata apa apa lagi. Dengan malas Ananta keluar dari dalam mobil. Tante Dita sudah menunggunya di depan butiknya dengan wajah cemasnya.
*
*
*
Ananta berjalan pelan ke arah meja reservasi yang sudah diberitaukan pegawai restoran. Dia bahkan diantar seolah dirinya adalah tamu istimewa yang sudah ditunggu sejak lama.
DEG
Jantung Ananta berdetak keras ketika tatapannya membentur pada punggung kokoh milik Arsen Angkasa yang sudah datang lebih dulu.
Walau ada sedikit kelegaan karena sudah membuat laki laki pewaris pengganti itu menunggunya, tetap saja dia merasa ngga enak hati.
Memang terlambat lima menit, batin Ananta ketika melihat jam di pergelangan tangannya.
Kalo Arsen seorang yang menganggap waktu adalah uang, pasti saat ini laki laki itu merasa sangat kesal terhadap dirinya.
"Maaf, sudah membuat anda menunggu."
Masih dengan jantung yang berdebar sangat keras, Ananta kini sudah berada di hadapan laki laki itu.
Wajahnya jauh berbeda dengan almarhum Ega. Arsen terlalu banyak mengambil gen bule mamanya.
Desir desir halus di hatinya semakin deras ketika laki laki itu menatapnya. Wajah tampannya dingin dan tidak ramah. Tapi Ananta cukup terkesima dengan sepasang bola mata yang berwarna hijau terang itu.
Pegawai restoran yang mengantarnya menggeser kursinya agar dia bisa duduk. Duduk di depan Arsen.
"Terimakasih," ucap Ananta dengan senyum ramah.
"Sama sama, nona."
"Pesan apa saja yang kamu mau," sela Arsen memutus kontak mata Ananta dan pegawai restoran itu.
Karena melihat Arsen hanya memesan secangkir kopi, Ananta jadi berpikir kalo pembicaraan ini akan dilalui dalam waktu singkat.
Tapi karena perutnya masih belum diisi selain sarapan, Ananta memesan jus alpukat. Berharap bisa mengganjal lapar lambungnya untuk sementara waktu.
Pegawai restoran itu kenudian pergi setelah tau yang dipesan Ananta.
"Kamu sudah tau siapa saya, kan?" Ucap Arsen dingin, membuka pembicaraan.
"Ya." Ananta hanya menjawab singkat. Sudah ngga mood untuk berbasa basi. Paling juga dicancel perjodohannya, pikir Ananta yakin. Dia yakin Arsen tidak tertarik dengannya.
"Apa yang kamu tau tentang saya?"
Ananta membetulkan posisi duduknya. Tatap keduanya bertemu.
"Hanya informasi umum saja."
"Katakan saja."
Ananta tidak langsung menjawab. Hatinya bingung. Ngga mungkin yang mamanya bisikkan tadi dia katakan pada laki laki ini, kan?
Mamanya saja agak berhati hati mengatakan hal yang mungkin masih dianggap tabu.
Ananta menarik nafas dalam, sempat terdiam karena memikirkan jawaban yang pantas dia berikan.
"Kamu saudara satu ayah dengan almarhum Ega."
Laki laki itu mendengus.
" Lebih tepatnya saya anak yang diakui setelah anak sahnya meninggal. Bukan begitu yang sudah kamu tau?" Koreksi Arsen dengan sinis.
Ananta terdiam. Dia ngga menyangka akan seperti ini jadinya situasi mereka. Ananta merasa dirinya sedang dituduh pura pura ngga tau siapa laki laki di depannya.
"Pewaris pengganti, orang orang melabeli saya begitu. Kamu dan keluarga kamu pasti juga berpikiran sama."
Ananta masih terdiam dan berharap jus alpukatnya cepat datang. Kerongkongannya terasa sangat kering.
"Saya hanya anak tidak sah. Tapi kamu mau mendaftar jadi calon istri saya. Apa sebenarnya yang kamu dan keluarga kamu inginkan? Harta yang tiba tiba jadi milik saya?"
Ananta tersinggung mendengar kalimat tajam tanpa filter itu. Bukan dirinya yang mau, tapi orang tuanya, protesnya dalam hati. Dia balas menatap laki laki itu dengan tatapan menusuk.
Bodoh amat dengan kerja sama papanya yang terancam gagal.
Lagi pula kenapa dia yang disalahkan atas nasib sial laki laki ini?
Tapi sebelum Ananta menyahuti kata kata pedas Arsen, sesuai harapannya jus alpukatnya datang.
"Terimakasih."
"Sama sama, nona." Pelayan restoran itu kemudian pergi meninggalkan dua tamu istimewanya yang sedang terkungkung dalam ketegangan.
Tanpa peduli sedang ditatap oleh sepasang mata laser di depannya, Ananta meneguk jus alpukatnya hingga tinggal separuhnya saja. Dia perlu membasahi kerongkongannya dan memberi nutrisi untuk lambungnya sekarang.
"Kalo anda tidak ingin dijodohkan dengan saya, ngga apa apa. Harta anda juga ngga akan hilang." Ananta menyahuti dengan senyum manis. Setelah minum tadi dia sudah mendapatkan cukup energi untuk membantah laki laki di depannya.
Bayangkan saja. Dia belum sempat makan saat mamanya menyuruhnya agar secepatnya didandani di tempat Tante Dita. Tante Dita juga ngga menawarinya makan karena mungkin mengira dia masih kenyang. Teman mamanya itu langsung memintanya mengganti pakaian dan memoleskan make up ke wajahnya ala penyanyi korea.
Sampai di restoran yang menyajikan banyak menu yang menggugah selera, Ananta malah harus mendengarkan keluh kesah laki laki ini dengan perut kosong.
Memang Arsen menawarkan agar dia memesan makanan apa saja. Tapi Ananta merasa sungkan karena laki laki ini hanya minum secangkir kopi saja tanpa ada makanan karbo di depannya.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?