Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Yessika tersenyum lebar, merasa di atas angin saat melihat Alessio melunak. Dengan gerakan manja yang lambat, ia merangkak ke atas ranjang, memangkas jarak di antara mereka.
Jarinya yang lentik meluncur lembut dari rahang Alessio, turun mengusap dada bidang pria itu yang terekspos di balik kemeja putihnya yang terbuka.
"Aku tahu kau tidak bisa menolakku, Alessio..." bisik Yessika dengan deru napas hangat yang memburu.
Ia memejamkan mata, memajukan wajahnya hendak mendaratkan ciuman mesra di bibir Alessio. Namun, tepat sebelum bibirnya menyentuh kulit pria itu...
Bugh!
Satu pukulan tajam dan presisi menghantam tengkuk Yessika. Mata wanita itu seketika mendelik sebelum akhirnya tertutup rapat. Tubuhnya langsung ambruk tak sadarkan diri tepat di atas pangkuan Alessio.
Tanpa henti sedetik pun, Alessio mendorong tubuh Yessika secara kasar hingga terhempas ke sisi ranjang bagaikan karung beras. Ia bangkit berdiri, menatap tubuh wanita berbalut lingerie merah itu dengan raut wajah amat dingin dan tajam.
"Menjijikkan," desis Alessio.
Ia mengibaskan kemejanya, mengusap bekas sentuhan jemari Yessika di dadanya seolah baru saja terkena noda lumpur yang kotor. Setelah itu, ia memastikan Yessika masih bernapas teratur namun pingsan total, Alessio melangkah tenang keluar dari kamarnya.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat melirik koridor yang sudah kosong. Ia tahu betul ke mana bayangan wanita anggun itu melarikan diri.
Di dapur utama Kediaman Carlton yang redup dan sunyi, Vanessa berdiri menyandar pada konter granit. Tangannya yang gemetar memegang gelas berisi air dingin. Ia meminumnya teguk demi teguk demi meredakan gemuruh di dadanya.
Tubuhnya bergidik ngeri tiap kali ingatan visual di kamar Alessio terlintas.
"Tingkahnya benar-benar murahan," gumam Vanessa dengan wajah bersungut-sungut, mendesis geli sekaligus jijik. "Demi pria, dia rela memakai pakaian minim seperti itu dan mengemis sentuhan di tengah malam? Gila."
"Siapa yang kau sebut gila, Nona Vanessa?"
"Aww!"
Vanessa tersentak hebat hingga gelas di tangannya hampir terlepas. Suara berat itu bergema tepat di belakang telinganya.
Baru saja ia hendak menjerit ketakutan, sebuah telapak tangan yang lebar, hangat, dan beraroma kayu cendana langsung membekap mulutnya erat-erat.
Tubuh tegap Alessio mengurung Vanessa dari belakang, menekan wanita itu rapat pada pinggiran konter dapur.
"Jangan berteriak kalau kau tidak ingin seluruh penjaga dan Jordan terbangun," bisik Alessio tepat di samping pelipis Vanessa. Suaranya serak dan sarat ancaman yang intim.
"Anggukkan kepalamu kalau kau mengerti."
Vanessa menegang, pasrah menganggukkan kepalanya pelan.
Alessio perlahan menarik tangannya kembali, namun ia tidak mundur sedikit pun. Matanya yang tajam menatap lekat wajah Vanessa yang tampak kaget.
"Kau sungguh tidak sopan, Nona Vanessa," sindir Alessio dengan senyum miring yang provokatif.
"Malam-malam begini, bukannya tidur nyenyak di kamar, kau malah berkeliaran mengintip ke dalam kamar pria lain. Menikmati pertunjukannya, hm?"
Wajah Vanessa seketika memanas. Malu dan gengsi membakar dadanya, namun ia menolak terlihat terintimidasi. Ia mendongak, menantang tatapan Alessio dengan tajam.
"Siapa yang mengintip?!" sangkal Vanessa cepat, suaranya ditahan agar tetap pelan.
"Itu salahmu dan Yessika sendiri! Kalau mau bermesraan dan melakukan hal kotor, kenapa pintumu tidak ditutup rapat?! Kau pikir aku sudi melihat pemandangan murahan seperti itu?"
Alessio terkekeh rendah, menyilangkan tangannya di depan dada dengan santai.
"Lalu kenapa kau berdiri begitu lama di depan kamar kalau tidak tertarik?"
Vanessa memutar bola matanya, bersedekap dada menutupi gaun tidur sutranya yang tipis.
"Aku hanya lewat karena mau ke dapur!" tangkis Vanessa tajam.
Namun, matanya melirik sinis ke arah kancing kemeja Alessio yang masih terbuka, lalu menatap jam dinding dapur yang baru menunjukkan jeda waktu sangat singkat sejak ia meninggalkan koridor tadi.
Sebuah senyum ejekan terukir di bibir Vanessa.
"Ngomong-ngomong... kenapa cepat sekali kau keluar kamar? Apa cara mainmu memang secepat ini?"
Gerakan Alessio membeku. Selama empat detik penuh, pria itu hanya menatap Vanessa tanpa berkedip, terkejut oleh keberanian dan kalimat frontal yang meluncur mulus dari bibir manis wanita itu.
"Kau..." Alessio menyipitkan matanya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "...sedang meremehkanku?"
Vanessa menahan napasnya, menolak mundur meski degup jantungnya berdentam gila-gilaan.
"Bukan begitu. Aku hanya menyatakan fakta. Kau baru saja menyuruh wanita itu masuk, dan tidak sampai lima menit kau sudah ada di sini. Wajar kan kalau aku curiga?"
Seringai berbahaya yang amat pekat terukir di wajah tampan Alessio. Tangannya terulur, bertumpu di konter di kiri dan kanan tubuh Vanessa, menguncinya sepenuhnya.
"Ingin membuktikannya sendiri?" bisik Alessio, suaranya turun satu oktaf, bergema dalam dan begitu menggoda di ceruk leher Vanessa.
"Kau bisa mencoba bertaruh denganku malam ini, Vanessa... untuk tahu seberapa lama aku sanggup bertahan."
Pipi Vanessa seketika memerah padam. Rona panas menjalar hingga ke telinga dan lehernya. Ia membelalak, mendorong dada tegap Alessio dengan jemarinya yang gemetar.
"B-bukan itu maksudku!" seru Vanessa terbata-bata, merutuki kegagapannya sendiri. Ia memalingkan wajah, berusaha keras menguasai diri.
"Lagipula... aku tidak sudi! Aku tidak berminat dengan pria bekas Yessika!"
Alessio tidak bergerak dari posisinya, namun tatapan matanya meleleh lembut, dipenuhi kilatan kepuasan saat melihat rona merah di wajah Vanessa.
"Aku bukan bekas siapa-siapa, Vanessa," ujar Alessio tenang namun tegas. "Aku belum menyentuhnya. Sama sekali."
Vanessa tersentak. Kepalanya mendongak cepat. Ia menatap mata Alessio mencari kebohongan di sana.
"Apa? Kau...tidak menyentuhnya?" ulang Vanessa heran. "Tapi tadi aku jelas-jelas melihat Yessika merangkak ke atas ranjangmu dengan pakaian seperti itu! Lalu... kalau kau tidak menyentuhnya, di mana Yessika sekarang?"
Alessio menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, mengibaskan tangannya santai.
"Dia hanya menumpang tidur di kamarku. Jadi, ya... kuizinkan."
"Menumpang tidur?" Vanessa mengernyit bingung. "Maksudmu?"
"Aku memukul tengkuknya sampai pingsan dan membiarkannya tergeletak di atas kasurku," jawab Alessio tanpa rasa bersalah sedikit pun. "
Toh, dia sendiri yang bilang sangat ingin berada di kamarku malam ini, bukan?"
Vanessa melongo, menatap Alessio dengan tatapan tak percaya. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak terduga. Dingin, kejam, namun di saat yang sama memiliki prinsip yang tak tergoyahkan.
"Kau... benar-benar iblis, Alessio," gumam Vanessa lirih.
Alessio tersenyum miring, menundukkan wajahnya sedikit lebih dekat hingga bibirnya menyapu lembut sudut telinga Vanessa.
"Bagaimana dengan tawaran ku sebelumnya? Apa kau bersedia tidur dengan ku?"
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏