Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suara sirene polisi akhirnya memecah kesunyian malam di jalan tol lingkar luar itu.
Cahaya lampu merah dan biru berputar menyapu lokasi kejadian yang tampak seperti arena pembantaian. Clarissa sudah melepaskan pelukannya, wajahnya masih sedikit memerah, namun ia merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia duduk di dalam mobil polisi yang hangat sambil memegang secangkir teh panas yang diberikan oleh seorang petugas.
Di luar, seorang inspektur kepolisian paruh baya menatap ngeri ke arah tubuh-tubuh anggota Gagak Hitam yang terkapar tak berdaya. Ia kemudian beralih menatap Devan yang sedang berdiri santai di dekat mobil derek, merokok sebatang kretek seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tuan Devan, Anda yakin mengalahkan mereka semua... sendirian?" tanya inspektur itu dengan nada tidak percaya. "Mereka ini pembunuh bayaran kelas kakap buronan kepolisian."
Devan menghembuskan asap rokoknya perlahan. Sebelum polisi datang, ia sudah mengirimkan pesan singkat ke jaringan intelijen militer lamanya untuk membersihkan rekaman CCTV di sekitar lokasi dan mengaburkan detail pertarungan.
"Saya cuma beruntung, Pak Inspektur," jawab Devan dengan senyum polos. "Jalanan sangat licin, mereka terpeleset saat menyerang saya. Kebetulan saya dulu pernah ikut bela diri di kampung, jadi saya cuma memukul mereka saat mereka lengah."
Alasan yang sangat tidak masuk akal, tapi anehnya, sang inspektur hanya mengangguk kaku seolah mendapat instruksi dari atasannya untuk tidak banyak bertanya. Kepolisian menutup kasus ini murni sebagai tindakan pembelaan diri mutlak.
Keesokan Paginya, Kediaman Utama Keluarga Sanjaya
Prang!
Cangkir kopi porselen mahal itu hancur berkeping-keping menghantam dinding. Bram Sanjaya berdiri dengan napas memburu, wajah keriputnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.
"Apa kau bilang?! Delapan anggota elit Gagak Hitam ditumbangkan dalam waktu kurang dari lima menit?!" raung Bram kepada asisten kepercayaannya.
Leo Sanjaya yang duduk di sofa dengan tangan diperban langsung gemetar hebat.
"B-bagaimana mungkin, Ayah? Pemimpin mereka adalah mantan tentara bayaran! Tidak mungkin seorang pesuruh miskin bisa mengalahkan mereka!" ucap Leo dengan suara bergetar ketakutan.
Bram menjatuhkan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Rasa dingin mulai merayap di tengkuknya. Ancaman Devan di pesta semalam bukan sekadar gertakan kosong. Pria yang dinikahi Clarissa itu adalah monster sungguhan.
"Tarik semua anak buah kita yang mengawasi Grup Rajawali," perintah Bram dengan nada frustrasi dan kalah. "Untuk sementara waktu, jangan ada yang berani mencari masalah dengan Devan. Kita harus mencari tahu siapa identitas aslinya terlebih dahulu."
Gedung Utama Grup Rajawali
Suasana pagi di ruang kerja CEO terasa jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Clarissa tidak langsung duduk di meja kerjanya untuk memeriksa dokumen. Alih-alih, wanita cantik itu sedang berdiri di depan mesin pembuat kopi, meracik dua cangkir kopi hitam dengan tangannya sendiri.
Ia meletakkan salah satu cangkir di atas meja kaca di depan Devan yang sedang duduk bersantai di sofa.
"Kopi tanpa gula, sesuai seleramu," ucap Clarissa dengan senyum tipis yang sangat manis.
Devan mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan pelayanan ekstra dari Nyonya Bos yang biasanya angkuh ini. "Wah, kalau setiap hari aku dilayani seperti ini, aku rela melawan sepuluh kelompok pembunuh bayaran lagi, Bos."
Clarissa mendengus pelan, pipinya sedikit merona. "Jangan konyol. Aku hanya berterima kasih untuk nyawaku semalam."
Namun, momen damai itu tidak berlangsung lama. Pintu ruangan tiba-tiba diketuk dengan kasar, dan seorang manajer proyek masuk dengan wajah panik yang berkeringat.
"Nyonya Clarissa! Gawat!" seru manajer tersebut. "Dewan Tata Kota baru saja mencabut izin mendirikan bangunan untuk proyek apartemen pusat kita!"
Clarissa mengerutkan kening, aura CEO-nya kembali menguar tajam. "Bagaimana bisa? Semua dokumen AMDAL dan perizinan sudah kita selesaikan bulan lalu."
"Ada seseorang yang membocorkan data palsu ke media dan komite pengawas, mengatakan bahwa material pondasi yang kita gunakan mengandung limbah beracun yang merusak tanah," jelas manajer itu dengan napas tersengal. "Saya yakin ini ulah orang dalam. Beberapa staf dari departemen Riko dulu tiba-tiba tidak masuk kerja hari ini."
Clarissa memijat pelipisnya. Sisa-sisa komplotan Riko ternyata masih menyimpan duri untuk menyabotase perusahaan dari dalam sebelum mereka kabur. Jika proyek ini dihentikan oleh pemerintah kota, kerugian perusahaan bisa mencapai ratusan miliar.
Ting!
Sebuah layar biru transparan kembali muncul di pandangan Devan.
[Misi Insidental Terdeteksi: Selesaikan krisis perizinan proyek apartemen dan tangkap tikus-tikus yang tersisa di perusahaan.]
[Hadiah Penyelesaian: Keterampilan Negosiasi Korporat Tingkat Menengah, dan pembukaan segel kekuatan hingga 28%.]
Devan meminum kopinya perlahan, lalu menatap Clarissa yang kini tidak lagi terlihat panik seperti saat menghadapi Riko tempo hari. Clarissa menghela napas panjang, berjalan mendekati sofa, dan duduk tepat di sebelah Devan.
Alih-alih memerintah, Clarissa menatap mata suaminya itu dengan tatapan penuh keyakinan dan ketergantungan.
"Sepertinya aku harus kembali merepotkan suamiku yang hebat ini," ucap Clarissa lembut. "Bisa kau urus masalah ini untukku, Devan?"
Devan menyeringai tipis. Ia meletakkan cangkir kopinya dan merapikan kerah jasnya.
"Dengan senang hati, Nyonya Bos. Mari kita bersihkan sisa sampah di perusahaan ini sebelum makan siang."