NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 PERSIAPAN DAN RAHASIA ISTANA TERLARANG

Lin Mo dan Chen Yu menetap di sebuah rumah penginapan sederhana yang terletak di sudut ibu kota yang agak sepi. Pemilik penginapan itu adalah seorang janda tua yang hidup sebatang kara dengan wajah yang penuh kerutan namun tampak ramah dan tulus. Ia tidak banyak bertanya saat melihat tamu mudanya yang berpakaian sederhana namun memancarkan wibawa yang luar biasa besar. Ia hanya menyuguhkan air minum dan makanan sederhana dengan senyum yang tulus sebelum kembali ke ruang belakang rumahnya.

Malam itu, Lin Mo duduk bersila di atas tempat tidur sederhana di dalam kamar yang agak remang-remang. Cahaya ungu keemasan samar berkilauan di sepasang matanya yang tertutup rapat. Energi qi di dalam tubuhnya berputar perlahan dan teratur seakan menyusun kembali kekuatan yang telah digunakan sepenuhnya saat menembus gerbang istana dan berhadapan dengan kekuatan gelap penguasa jahat itu. Chen Yu duduk berjaga di dekat pintu sambil memegang gagang pedangnya erat-erat. Matanya sesekali melirik ke arah saudaranya yang sedang berkonsentrasi penuh di tengah kamar. Hatinya merasa tenang namun juga penuh kekhawatiran yang mendalam. Tiga hari itu waktu yang terlalu singkat untuk bersiap menghadapi musuh yang telah menguasai kekaisaran selama bertahun-tahun dengan kekuatan yang begitu dahsyat.

Belum lama berlalu, Lin Mo perlahan membuka matanya. Cahaya ungu keemasan yang berkilauan di matanya perlahan meredup kembali menjadi hitam jernih yang tenang namun dalam. Ia berdiri perlahan dan melangkah mendekati jendela yang terbuka lebar menatap ke arah istana besar yang menjulang megah namun suram di kejauhan. Cahaya merah tua yang samar masih memancar dari dalam istana itu menutupi separuh langit malam yang seharusnya bertabur bintang. Lin Mo menatapnya dalam diam cukup lama sebelum akhirnya berbicara perlahan dengan suara yang rendah namun penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Kekuatan musuh memang jauh lebih besar dari yang aku duga... Namun kekuatannya itu penuh dengan kebusukan dan hawa darah yang tidak suci... Semakin besar kekuatan yang ia miliki... semakin menunjukkan bahwa ia sebenarnya merasa takut... Ia takut akan datangnya hari pembalasan... Ia takut akan keadilan yang tertunda..."

Chen Yu melangkah mendekat dan berdiri di samping Lin Mo menatap ke arah istana yang suram itu. Ia menghela napas panjang dan berkata dengan suara yang penuh kesungguhan namun juga penuh kekhawatiran.

"Kekuatan penguasa itu bukanlah kekuatan yang ia miliki sejak lahir... Konon ia mencurinya dari sumber kekuatan leluhur yang tersembunyi di bagian terdalam istana... Tempat itu dilarang dimasuki siapa pun kecuali kaisar sendiri... Katanya di sana tersimpan rahasia besar yang berkaitan dengan asal usul kekaisaran kita... Namun sejak ia berkuasa... tak ada satu pun orang yang berani mendekat ke sana..."

Lin Mo menoleh perlahan menatap Chen Yu dengan pandangan yang tajam dan penuh perhatian. Cahaya ungu keemasan samar berdenyut lembut di matanya seakan merespons kata-kata yang baru saja didengarnya. Ia kembali menatap ke arah istana dan berkata dengan suara yang tegas namun penuh pemikiran yang mendalam.

"Rahasia itulah yang menjadi sumber kekuasaannya... Jika aku mampu mencapai tempat itu sebelum pertarungan kita berlangsung... mungkin aku dapat memutuskan sumber kekuatan gelap yang ia miliki... Tanpa sumber itu... kekuatannya akan jauh lebih lemah... dan peluang kita untuk menang akan jauh lebih besar..."

"Masuk ke dalam istana di bawah penjagaan ratusan prajurit elit dan mata-mata siang dan malam... Itu terlalu berbahaya..." Chen Yu menatap Lin Mo dengan wajah yang penuh kecemasan. Namun melihat pandangan saudaranya yang teguh dan tak tergoyahkan, ia pun mengangguk perlahan dan melanjutkan dengan suara yang penuh kesetiaan. "Namun ke mana pun Kakak Lin Mo pergi... Aku pasti ikut... Biarlah bahaya sebesar apa pun yang menanti... Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendirian..."

Malam itu juga, ketika tengah malam tiba dan seluruh ibu kota tertidur lelap dalam kegelapan, Lin Mo dan Chen Yu melesat keluar dari jendela kamar penginapan itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Cahaya ungu keemasan yang samar menyelimuti tubuh Lin Mo seakan membuat bayangannya menyatu dengan kegelapan malam. Mereka berdua melesat menembus udara bagaikan dua bayangan yang tak kasat mata menuju arah istana besar yang menjulang tinggi di tengah ibu kota.

Begitu tiba di atas tembok tinggi istana, Lin Mo melambatkan gerakannya dan memberi isyarat agar Chen Yu tetap bersembunyi di balik bayangan atap gedung yang tinggi. Di bawah mereka, ratusan prajurit elit berpatroli dengan senjata tajam yang berkilauan di bawah sinar bulan purnama yang tertutup awan gelap. Cahaya merah tua yang samar terus memancar dari bagian terdalam istana itu menuntun arah perjalanan mereka. Lin Mo menatap ke arah sumber cahaya itu dan berbisik pelan kepada Chen Yu.

"Di sanalah tempatnya... Istana Terlarang yang tak boleh dimasuki siapa pun... Di sanalah tersimpan rahasia yang selama ini dicari orang..."

Mereka berdua melesat perlahan menuju bagian paling dalam dari kawasan istana yang tampak sepi dan gelap gulita. Tidak ada satu pun prajurit yang berpatroli di kawasan itu. Namun hawa berat dan menekan yang memancar dari sana begitu kuat hingga membuat napas terasa sesak. Semakin mendekat, semakin terasa bahwa tempat itu bukan dijaga oleh prajurit melainkan oleh kekuatan kuno yang tak terlihat mata.

Sesampainya di depan pintu gerbang batu yang besar dan tertutup rapat, Lin Mo berhenti melangkah. Ia menatap pintu batu yang dipenuhi ukiran naga yang saling melilit itu dengan pandangan yang dalam. Cahaya ungu keemasan perlahan bersinar dari sepasang matanya menembus permukaan pintu batu yang tebal itu seakan mampu melihat apa yang tersembunyi di baliknya. Lin Mo melangkah maju perlahan dan meletakkan telapak tangannya tepat di tengah pintu batu yang berukir naga itu. Energi qi berwarna ungu keemasan mengalir deras dari telapak tangannya masuk ke dalam ukiran itu.

Seketika itu juga ukiran naga di pintu batu itu berkilauan terang benderang. Cahaya ungu keemasan menyala dari mata naga yang dulunya gelap gulita. Perlahan namun pasti pintu batu yang tertutup rapat selama bertahun-tahun itu terbuka perlahan tanpa suara sedikit pun. Cahaya putih lembut namun murni memancar keluar dari dalam istana kecil yang kuno itu menyinari wajah Lin Mo yang tampak tenang namun penuh haru.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruangan yang luas dan tinggi itu. Di tengah ruangan terdapat sebuah altar batu yang besar dan bersih. Di atas altar itu terbaring sebuah batu lempengan yang memancarkan cahaya putih dan ungu yang berkilauan indah. Di dinding sekeliling ruangan itu tergambar lukisan-lukisan kuno yang menceritakan kisah ribuan tahun silam. Kisah tentang leluhur pendiri kekaisaran yang turun dari langit membawa kekuatan besar untuk menertibkan dunia dan menciptakan kedamaian.

Lin Mo melangkah mendekati altar batu itu perlahan. Cahaya lempengan batu itu berdenyut lembut seakan menyambut kedatangannya. Saat Lin Mo berdiri tepat di hadapan altar itu, lempengan batu itu melayang perlahan turun dan berhenti tepat di depan dadanya. Cahaya yang memancar darinya menyusun menjadi huruf-huruf kuno yang perlahan dapat dibaca oleh Lin Mo seakan sudah tertanam di dalam ingatannya sejak lahir.

"Kekuatan kekaisaran ini bersumber dari darah keturunan langit yang mengalir di dalam tubuh pewaris sah... Kekuatan itu tak dapat dicuri maupun dipinjam... Hanya akan tumbuh sejalan dengan kebijaksanaan dan keadilan... Jika dicuri oleh orang yang tidak berhak... kekuatan itu akan perlahan memakan tuannya sendiri hingga hancur lebur..."

Lin Mo membaca tulisan itu dalam hati berulang kali. Sekarang ia mengerti segalanya. Penguasa jahat itu memang mencuri kekuatan dari sumber leluhur ini. Namun kekuatan itu tidak pernah sepenuhnya menjadi miliknya. Kekuatan itu justru perlahan menggerogoti tubuh dan jiwanya membuatnya semakin kejam dan semakin takut akan kehancuran yang pasti datang suatu hari nanti.

Belum sempat Lin Mo memahami sepenuhnya tulisan itu, tiba-tiba pintu batu di belakang mereka tertutup kembali dengan dentuman keras yang mengguncang seluruh ruangan. Cahaya merah tua yang pekat meledak memenuhi seluruh ruangan seketika. Di pintu masuk berdiri sesosok bayangan raksasa yang memancarkan hawa amarah dan kebencian yang tak terhingga. Suara yang menggelegar bergema di seluruh ruangan itu hingga membuat altar batu ikut bergetar hebat.

"Jadi kau datang mencari kebenaran... Anak haram... Kau pikir aku akan membiarkanmu mengambil apa yang telah kupunya... Kekuatan ini... dan takhta itu... semuanya adalah milikku... Matilah kau bersama rahasia ini..."

Bayangan raksasa itu melesat menyerang dengan cahaya merah tua yang mematikan menyapu ke arah Lin Mo. Chen Yu melesat maju lebih dulu menghadang serangan itu dengan pedang birunya yang bersinar terang benderang. Namun kekuatan serangan itu begitu dahsyat hingga tubuh Chen Yu terpental mundur menghantam dinding batu dan jatuh terbaring dengan mulut yang menyemburkan darah segar.

Lin Mo berteriak pelan melihat saudaranya terluka. Cahaya ungu keemasan meledak menyala terang benderang dari tubuhnya menyambut serangan kedua yang datang menghantamnya. Tubuhnya tergetar hebat namun ia tetap berdiri tegak tak bergeser sedikit pun. Lin Mo menatap bayangan merah tua itu dengan pandangan yang tajam dan penuh kemarahan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Kekuatan itu bukan milikmu... Kau hanyalah pencuri yang tak tahu diri... Hari ini... aku akan mengambil kembali apa yang telah kau curi... dan membersihkan tanah kelahiranku dari kebusukanmu..."

Lin Mo mengangkat tangan kanannya dan menyentuh lempengan batu di altar itu. Cahaya putih dan ungu dari lempengan batu itu seketika menyatu dengan cahaya ungu keemasan dari tubuh Lin Mo. Cahaya itu melesat terbang ke arah bayangan merah tua itu seakan menarik kembali kekuatan yang dicuri selama bertahun-tahun. Cahaya merah tua itu bergetar hebat dan berteriak kesakitan seakan sedang dicabut paksa dari tubuhnya.

"Tidak... Lepaskan... Itu milikku..."

Bayangan merah tua itu meronta-ronta sekuat tenaga namun tak mampu melepaskan diri dari tarikan cahaya leluhur yang murni dan agung itu. Perlahan namun pasti, cahaya merah tua itu semakin mengecil dan semakin lemah hingga akhirnya lenyap sepenuhnya meninggalkan sesosok pria paruh baya yang jatuh berlutut di lantai batu dengan wajah yang pucat pasi dan penuh ketakutan yang tak terlukiskan.

Lin Mo melangkah perlahan mendekati pria yang terbaring lemah itu. Cahaya ungu keemasan masih menyala terang benderang di sekujur tubuhnya. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang dingin namun tidak penuh kebencian. Di sampingnya, Chen Yu bangkit perlahan meskipun masih terasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia berdiri mendekat dan menatap pria yang selama ini menguasai kekaisaran dengan kekejaman yang luar biasa itu kini terbaring tak berdaya di lantai batu yang dingin.

Pria itu mendongak perlahan menatap Lin Mo dengan mata yang penuh ketakutan sekaligus rasa tak percaya. Ia menatap wajah pemuda itu yang begitu mirip dengan kakaknya yang dulu pernah diperintahnya dengan penuh keadilan dan kasih sayang sebelum dikhianati secara keji oleh tangannya sendiri. Air mata tiba-tiba jatuh dari matanya yang penuh penyesalan yang datang terlambat.

"Aku kalah... Kekuatan itu kembali ke tempat asalnya... Namun sebelum kau menghukumku... izinkan aku mengatakan satu hal... Ayahmu... masih hidup... dipenjara di tempat yang paling dalam di bawah istana ini... Pergilah... selamatkanlah dia... dan maafkanlah dosaku..."

Lin Mo tertegun diam mendengar pengakuan itu. Hatinya bergetar hebat penuh harapan yang tak terhingga. Ayahnya masih hidup. Selama ini ia mengira ayahnya telah tewas. Namun ternyata ayahnya masih hidup dan terpenjara di bawah kakinya sendiri saat ini. Lin Mo menatap pria yang penuh penyesalan itu sejenak lalu berkata dengan suara yang tenang namun penuh ketegasan.

"Kau akan dikurung di tempat yang pantas bagimu... dan akan diadili sesuai hukum yang berlaku... Namun karena kau mengakui kesalahanmu dan memberi tahuku keberadaan ayahku... aku tidak akan mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri... Biarlah sisa hidupmu kau habiskan dalam penyesalan..."

Lin Mo berbalik perlahan dan melangkah menuju pintu belakang ruangan itu tempat menurunnya jalan menuju penjara bawah tanah yang terdalam. Cahaya ungu keemasan tetap menyala terang benderang menerangi jalan di hadapannya. Di dadanya, harapan dan kebahagiaan perlahan tumbuh kembali. Karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan ayahnya yang selama ini dirindukannya dan dicarinya ke mana pun.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!