Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 003: Godaan yang Membuat Salah Tingkah
Aldara dan Aries baru saja melangkah menjauh dari kerumunan teman-temannya, namun langkah mereka terhenti ketika seorang wanita berhijab melambaikan tangan dan memanggil dengan suara lembut namun tegas.
“Aldara!”
Aldara menoleh seketika, lalu tersenyum lebar mengenali sosok itu. “Hafizah, kamu juga datang ke sini?”
“Tentu saja datang dong,” jawab Hafizah sambil mendekat. Matanya segera memandang sekilas ke arah Aries, lalu kembali menatap Aldara dengan tatapan menyelidik dengan penuh rasa ingin tahu. “Terus, kamu mau pergi ke mana nih?”
“Mau berkencan,” jawab Aldara dengan nada santai dan ringan, seolah itu hal yang biasa saja.
Hafizah tertegun sejenak, matanya melongo tak percaya mendengar jawaban polos dari Aldara “Wah, berarti kamu sudah ada yang baru ya? Kenalin dong, siapa orangnya?”
Aldara hanya tersenyum miring, lalu menarik tangan Aries sedikit ke depan agar terlihat jelas. “Ini dia orangnya,” katanya bangga.
Hafizah mengulurkan tangan dengan sopan. “Kenalin, namaku Hafizah, sahabat dekat Dara.”
“Aries,” jawab pemuda itu singkat namun tetap ramah, sambil membalas jabat tangan itu.
“Baiklah, aku masuk ke dalam dulu ya, Dara. Abang Aries,” pamit Hafizah dengan senyum mengerti, seolah sudah menangkap maksud di balik kebersamaan mereka.
“Iya, silakan masuk,” jawab Aldara santai.
Setelah Hafizah pergi, keduanya pun benar-benar meninggalkan area pertemuan itu menuju tempat parkir. Aldara menoleh sambil berjalan dan bertanya dengan nada penasaran, “Terus, kita mau ke mana nih?”
“Terserah kamu saja, maunya ke mana?” balas Aries menyerahkan pilihan padanya.
Aldara tersenyum genit, lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Aries. “Kalau begitu… ke pelaminan saja, gimana?” godanya tiba-tiba.
Wajah Aries seketika memerah hingga ke telinga. Ia terbatuk kecil, bingung harus menjawab apa. “Apaan sih, ngomongnya sembarangan saja,” bantahnya dengan suara sedikit terdengar gemetar.
“Ih, lihat deh, pipinya sampai merah begini. Kenapa malu ya?,” ledek Aldara makin semangat, matanya berbinar senang melihat reaksi pemuda itu.
“Sudahlah, jangan goda aku terus,” kata Aries berusaha menenangkan diri, meski rona merah di wajahnya belum juga hilang.
“Tapi aku justru suka menggoda kamu. Awas saja, nanti kamu malah baper, tidak bisa tidur malam, and terus-terusan teringat aku,” kata Aldara sambil tertawa kecil.
Mendengar itu, Aries hanya menggeleng pasrah, lalu menggandeng lembut tangan Aldara untuk melanjutkan langkah. “Sudah, ayo kita jalan saja,” ucapnya.
Mereka berjalan menuju motor yang terparkir rapi di sudut halaman. Dalam hatinya, Aries sudah punya rencana: ia akan mengajak Aldara ke taman kota yang sejuk dan indah di sore hari, tempat yang sering dikunjungi banyak pasangan untuk sekadar mengobrol dan menikmati suasana. Tanpa sadar, detak jantungnya terasa sedikit lebih cepat, menyadari bahwa kebersamaan ini perlahan mulai terasa istimewa.
Aries menyalakan mesin motornya, sementara Aldara dengan sigap memakai helm yang diserahkan. Begitu duduk di belakang, tanpa ragu ia melingkarkan tangannya erat di pinggang Aries, membuat tubuh pemuda itu menegang seketika.
“Pegang yang kuat ya, jalannya agak berliku,” pesan Aries, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.
Aldara hanya tertawa kecil. “Tenang saja, aku sudah biasa naik motor. Lagian kalau jatuh, kamu yang tanggung jawab ya,” godanya lagi.
Mereka melaju menyusuri jalanan kota yang mulai lengang saat sore hari. Angin semilir menerpa wajah, membawa aroma tanah basah sisa hujan pagi tadi. Dalam perjalanan, tak banyak kata yang terucap, namun keheningan itu justru terasa nyaman, tidak canggung sama sekali.