Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Riyan masih duduk bersandar di kursi beludru dengan pandangan yang kosong melompong. Tatapannya tertuju pada piring kristal di depannya yang sekarang tampak buram, seburam masa depannya yang dikepung oleh kekayaan tak masuk akal. Di sudut pandang matanya, angka digital Sistem berkedip pelan, memproses perubahan status terbarunya.
[Denting Sistem! Misi Sampingan: Hindari Aliansi Bisnis Pasif dengan Keluarga Zevan… Dinyatakan GAGAL!]
[Logika Sistem Berubah: Target (Abraham Zevan) telah menaikkan status hubungan dari 'Mitra Bisnis' menjadi 'Keluarga Inti (Perjodohan Mandat)'. Aturan pembekuan saldo aliansi bisnis dibatalkan karena dana Inang kini dianggap sebagai 'Mahar Keluarga Awal'.]
[Status Inang Saat Ini: Selamat! Anda resmi menjadi Calon Menantu Pertama Keluarga Zevan. Batas waktu kematian instan diundur menjadi 48 Jam seiring dengan munculnya plot baru!]
Riyan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Setidaknya dia tidak jadi mati mendadak malam ini. Organ tubuhnya masih mau bekerja berkat perubahan status absurd dari Sistem yang menganggap perjodohan ini sebagai celah baru. Tapi, tetap saja, dia sekarang harus menanggung beban tambahan: seorang istri dari kalangan elit berdarah dingin.
Kezia Zevan yang masih berdiri di dekat meja makan perlahan mengalihkan pandangannya dari jendela luar menuju ke arah Riyan.
Wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kini tampak bersemu merah tipis di bawah temaram lampu aula yang disuplai oleh generator darurat. Sebagai wanita yang sejak kecil dididik untuk memimpin imperium bisnis, konsep pernikahan baginya selalu berupa transaksi politik yang kering.
Namun, melihat pria di depannya seorang kuli bangunan yang baru saja meramal petir secara akurat dan membakar setengah triliun rupiah seolah itu hanya uang recehan Kezia merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya: rasa tunduk terhadap kecerdasan dan misteri yang lebih besar.
"Ayah," Kezia membuka suara, nadanya bergetar kecil namun tetap berusaha terdengar tegas.
"Apakah ini tidak terlalu terburu-buru? Kita bahkan belum mengetahui latar belakang asli dari jaringan yang dimiliki oleh Riyan."
Abraham Zevan melambaikan tangannya di udara dengan ekspresi mutlak.
"Latar belakang apa lagi yang perlu diperiksa, Kezia? Pria yang bisa menggerakkan modal triliunan lewat ponsel retak, memprediksi regulasi negara dalam hitungan detik, dan mengendalikan momentum alam seperti petir... dia tidak butuh latar belakang."
"Dialah latar belakang itu sendiri! Mulai besok, Zevan Group akan mengumumkan kemitraan strategis penuh dengan pihak Riyan."
Riyan langsung menegakkan duduknya, kepalanya mendadak pening lagi mendengar kata 'kemitraan strategis'.
"Tunggu, tunggu dulu, Pak Tua! Siapa yang mau kemitraan? Dan siapa juga yang mau jadian sama anak lu? Gua belum setuju ya!"
Dua pengawal yang berjaga di dekat pintu langsung menoleh dengan mata melotot, tidak percaya ada pria di bumi ini yang berani menolak anak gadis Abraham Zevan, yang tidak hanya cantik jelita bak model papan atas tapi juga memegang kendali atas sepertiga perputaran uang di kota Bandung.
Abraham Zevan tidak marah. Dia justru tersenyum maklum, menganggap penolakan Riyan sebagai bentuk negosiasi tingkat tinggi untuk menaikkan nilai tawar mahar.
"Hahaha, anak muda, aku tahu kamu memiliki harga diri yang tinggi. Jangan khawatir, Keluarga Zevan tidak akan mengekang kebebasanmu. Pernikahan ini akan diatur dengan penuh penghormatan terhadap posisi finansial eksentrikmu."
Abraham kemudian menoleh ke arah pengawalnya.
"Siapkan kamar VIP terbaik di resor atas untuk menantu kita. Malam ini dia akan menginap di sini. Dan besok pagi, serahkan kunci mobil dinas utama resor berserta akses ke seluruh fasilitas premium kita kepadanya."
"Siap, Tuan Besar!" sahut para pengawal serentak.
Riyan hanya bisa menghela napas pasrah saat dua pengawal itu mendekat dan dengan sangat sopan mempersilakannya berdiri. Dia tahu, berdebat dengan kepala keluarga yang keras kepala dan sudah terlanjur menganggapnya sebagai "Dewa Keberuntungan" hanya akan membuang-buang energi kulinya yang berharga.
Saat Riyan berjalan melewati Kezia menuju pintu keluar aula, wanita itu sempat menahan langkahnya sejenak. Kezia menatap Riyan dari jarak dekat, aromanya yang wangi membuat pikiran Riyan agak terdistraksi.
"Riyan," bisik Kezia dengan nada suara yang sangat rendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Aku tidak tahu apa permainan besar yang sedang kamu rencanakan di kota ini. Tapi karena ayahku sudah menetapkan keputusan, aku akan mengikuti alurmu. Jangan kecewakan aku di meja kerja... maupun di kehidupan nyata."
Riyan memutar bola matanya malas. "Nona, permainan gua cuma satu: pengen miskin. Tapi kalian semua repot banget bikin gua kaya."
Tanpa menunggu balasan dari Kezia yang langsung tertegun mendengar kalimat yang dia anggap sebagai 'sindiran filosofis kelas tinggi' itu, Riyan melangkah pergi mengikuti arahan pengawal menuju kamar VIP di lantai atas resor.
Kamar yang disediakan untuk Riyan berukuran seluas rumah kontrakannya dikalikan sepuluh. Ada kasur berukuran king size dengan seprai sutra, kamar mandi berlapis marmer dengan fasilitas pusaran air (jacuzzi), dan pemandangan langsung menuju gemerlap lampu kota Bandung di bawah bukit Lembang.
Riyan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu tanpa melepas sandal jepitnya terlebih dahulu. Dia menatap langit-langit kamar yang mewah dengan perasaan campur aduk.
Baru tadi siang dia masih ngaduk semen di Dago sambil memikirkan bon warung kopi, dan malam ini dia sudah tidur di resor elit sebagai calon suami nona besar terkaya.
Dia membuka ponsel pintarnya yang layarnya semakin parah retaknya. Aplikasi M-Banking dibuka, menampilkan saldo fantastis yang masih bertengger di sana: 3,45 Triliun Rupiah.
[Denting Sistem! Misi Utama Babak Baru Diaktifkan!]
[Deskripsi Misi: Status Calon Menantu Keluarga Zevan telah memicu Alarm Kecemburuan dari keluarga Rahasia Kedua: Keluarga Vandersen.]
[Tugas Berikutnya: Keluarga Vandersen yang menguasai pasar barang mewah dan otomotif premium merasa posisi mereka terancam oleh aliansi Anda dengan Zevan. Inang wajib menghabiskan minimal 1 Triliun Rupiah dalam waktu 24 jam ke depan untuk merusak sektor bisnis eksklusif milik Keluarga Vandersen!]
[Denda Kegagalan: Penalti Kematian Akibat Serangan Jantung Spontan.]
Riyan langsung terduduk tegak di atas kasur, matanya melotot menatap layar HP-nya.
"Satu triliun?! Kali ini targetnya naik jadi satu triliun?!"
Dia memegangi dadanya yang mendadak terasa agak berdenyut kecil, tanda bahwa Sistem tidak sedang bercanda mengenai denda serangan jantung tersebut. Target barunya adalah Keluarga Vandersen, penguasa barang mewah yang terkenal sombong dan elitis di kalangan konglomerat lama.
Riyan tersenyum kecut, namun kilatan tekad muncul di matanya.
'Satu triliun ya? Oke. Kalau kemarin di pasar tradisional gua gagal karena skalanya kekecilan, kali ini gua bakal datengin langsung pusat bisnis barang mewah mereka. Gua bakal beli barang-barang paling mahal di mal milik Vandersen dan gua hancurin harganya sampai mereka nangis darah!
Sambil menggenggam ponselnya, Riyan kembali berbaring, mencoba memejamkan mata di tengah dinginnya malam Lembang. Besok pagi, badai kekacauan finansial yang jauh lebih besar akan melanda kota Bandung, dan Riyan Sadewa siap menjadi aktor utamanya.