NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang hanya dirasakan oleh Alya dan entitas kecil di dalam rahimnya. Sesuai dengan jadwal yang telah diatur, hari ini adalah waktu pemeriksaan rutin kandungan Alya di Klinik Utama Medika.

Pagi-pagi sekali, Devan sudah berdiri di samping ranjang dengan ekspresi bersalah yang sangat jarang terlihat di wajah tegasnya. Pria itu baru saja menerima telepon darurat dari Yudha mengenai masalah krusial di pabrik luar kota yang mengharuskannya hadir secara fisik hari ini.

"Aku sudah meminta tim keamanan terbaik untuk mengawalmu," ucap Devan, tangannya terangkat untuk merapikan anak rambut Alya yang sedikit berantakan dengan gerakan yang sangat lembut. "Yudha juga akan ikut bersamamu. Begitu urusanku di luar kota selesai, aku akan langsung menyusul ke klinik."

Alya menyunggingkan senyum manis, mencoba menenangkan kecemasan suaminya. "Tidak apa-apa, Devan. Urus saja pekerjaanmu. Aku dan bayi kita akan baik-baik saja."

> *[Benar, Ayah. Pergilah bekerja dan hasilkan lebih banyak uang untuk membeli pulau pribadi sebagai hadiah kelahiranku nanti. Di sini aman, ada aku yang menjaga Ibu.]*

Mendengar bisikan batin Baby El yang sangat percaya diri, Devan diam-diam mengembuskan napas lega. Ia mengecup dahi Alya sekilas—sebuah kebiasaan baru yang mulai terbentuk di antara mereka—sebelum akhirnya melangkah pergi dengan kawalan ketat.

---

Satu jam kemudian, mobil Rolls-Royce hitam yang membawa Alya tiba di pelataran Klinik Utama Medika. Yudha turun terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Alya dengan sikap yang sangat protektif. Dua orang pengawal bertubuh tegap berpakaian safari hitam segera mengambil posisi di depan dan belakang mereka, menyapu pandangan ke sekeliling area dengan waspada.

Klinik Utama Medika pagi itu tampak cukup ramai. Koridor lantai dua yang khusus melayani pemeriksaan ibu hamil berlapis marmer putih bersih, memantulkan cahaya lampu neon yang terang.

Alya berjalan dengan tenang, jemarinya mengelus pelan perutnya yang dilapisi gaun hamil rajut berwarna abu-abu. Namun, indra sensitifnya mendadak menangkap perubahan atmosfer yang janggal begitu mereka mendekati ruang tunggu VIP.

Di sudut koridor, dua orang pria bertopi hitam dengan masker medis tampak sedang berbisik-bisik. Salah satu dari mereka memegang sebuah botol semprotan kecil, sementara yang lainnya berpura-pura membaca brosur rumah sakit dengan mata yang terus melirik ke arah Alya.

> *[Ibu, target kita sudah mengambil posisi. Pria bertopi di sebelah kiri memegang cairan kimia konsentrat yang bisa memicu reaksi alergi pernapasan akut dan kepanikan massal. Di ujung koridor sebelah kanan, ada seorang perawat palsu yang sudah disuap untuk menabrakmu dengan troli besi begitu kepanikan terjadi.]*

Suara Baby El bergema di kepala Alya, nadanya sangat dingin dan penuh perhitungan, persis seperti seorang jenderal yang sedang membaca peta pertempuran.

> *[Rencana yang sangat klasik dan murahan. Tiffany benar-benar tidak memiliki selera seni dalam menyusun rencana kejahatan.]*

"El, apa yang harus kita lakukan? Apa aku harus memberitahu Yudha sekarang?" tanya Alya dalam hati, sedikit gugup saat melihat pria bertopi itu mulai melangkah mendekat ke arah jalur berjalan mereka.

> *[Tidak perlu, Ibu. Jika Yudha turun tangan sekarang, tikus-tikus ini hanya akan ditangkap dan Tiffany bisa dengan mudah menyangkal keterlibatannya menggunakan pengacara keluarga Alexander. Kita harus membuat mereka mengeksekusi rencana ini, lalu... membalikkan dampaknya secara instan.]*

> *[Ibu, berjalanlah seperti biasa. Saat pria itu mulai menyemprotkan cairannya, tahan napasmu selama lima detik dan biarkan aku yang mengurus sisanya.]*

Alya menarik napas dalam-dalam, memantapkan langkah kakinya. Cincin platinum di jari manisnya berkilau di bawah cahaya lampu, memberikan tambahan rasa percaya diri.

Begitu jarak mereka hanya tersisa tiga meter, pria bertopi hitam itu mendadak berpura-pura bersin dengan keras. Tangannya dengan cepat menekan katup botol semprotan di sakunya, melepaskan kabut gas tak kasatmata yang sangat beracun dan berbau menyengat ke udara koridor.

*Psssssh...*

Yudha yang memiliki insting tajam langsung menyadari ada yang tidak beres. "Nona Alya, mundur!" teriak Yudha sembari mencoba menghalangi udara di depan Alya dengan tubuhnya.

Namun, sebelum gas beracun itu sempat menyebar dan terhirup oleh siapa pun, gelombang energi spiritual yang sangat dingin bertekanan tinggi mendadak meledak dari rahim Alya. Gelombang transparan yang tak kasatmata itu membalikkan arah angin di koridor secara instan dengan kekuatan hisap yang luar biasa!

*WUUUSH!*

Gas beracun yang baru saja disemprotkan itu justru berbalik arah sepenuhnya, menghantam wajah kedua pria bertopi hitam tersebut dengan konsentrasi penuh. Tidak hanya itu, sisa gas beracun tersebut ditiup kencang oleh angin spiritual Baby El menuju ke ujung koridor, tepat ke arah perawat palsu yang sedang bersiap mendorong troli besi.

"Argh! Mataku! Tenggorokanku terbakar!"

Pria bertopi hitam itu langsung jatuh berlutut di atas lantai marmer, mencakar leher mereka sendiri karena rasa sesak yang luar biasa dahsyat. Wajah mereka membiru dalam hitungan detik akibat menghirup racun buatan mereka sendiri.

Di ujung koridor, perawat palsu yang juga menghirup gas tersebut mendadak kehilangan keseimbangan. Kepalanya pusing hebat, dan dalam kondisi setengah sadar, ia tidak sengaja mendorong troli besinya dengan sangat keras ke arah yang salah.

*BRAAAK!*

Troli besi yang penuh dengan botol-botol kaca obat itu meluncur kencang dan menghantam tubuh kedua pria bertopi hitam yang sedang mengerang di lantai, membuat mereka berteriak histeris karena tulang kaki mereka retak tertimpa besi berat.

Seluruh koridor klinik seketika menjadi kacau. Para pasien berteriak panik, sementara Yudha dan dua pengawalnya langsung membentuk barikade melingkari Alya, melindungi wanita itu dari kekacauan yang terjadi.

"Nona Alya, Anda tidak apa-apa?!" tanya Yudha dengan wajah pucat karena panik. Jika terjadi sesuatu pada calon ibu dan pewaris Dirgantara di bawah penjagaannya, Devan pasti tidak akan ragu untuk menguliti mereka semua hidup-hidup.

"Aku tidak apa-apa, Yudha. Aku baik-baik saja," jawab Alya tenang. Perutnya terasa sangat hangat dan nyaman, sama sekali tidak terpengaruh oleh kekacauan di sekitarnya.

> *[Hmph! Itu baru hidangan pembuka untuk para kroco. Sekarang... mari kita kirimkan hidangan utama untuk dalang di balik semua ini. Ibu, apakah kau tahu di mana Tiffany berada sekarang?]*

Alya mengernyitkan dahi. "Di mana?"

> *[Dia sedang duduk manis di dalam mobil Alphard hitamnya di area parkir bawah tanah klinik ini, sedang menunggu kabar 'keguguranmu' dengan segelas sampanye di tangannya. Sungguh wanita yang tidak sabaran.]*

> *[Aku baru saja mengunci koordinat energinya. Seluruh efek racun, rasa sakit, dan kepanikan dari tiga kecoak di koridor ini... akan kutransfer secara spiritual dan kumultiplikasi langsung ke dalam sistem saraf tubuh Tiffany Alexander sekarang juga!]*

---

Di dalam mobil Alphard hitam yang terparkir di sudut basement Klinik Medika yang remang-remang, Tiffany Alexander sedang tersenyum puas. Ia menatap layar ponselnya, menanti panggilan dari Bram yang seharusnya mengonfirmasi keberhasilan rencana mereka.

"Sebentar lagi... sebentar lagi wanita jalang itu akan menangis darah karena kehilangan bayinya," gumam Tiffany dengan tawa licik yang tertahan.

Namun, sebelum senyum di bibir merahnya memudar, tubuh Tiffany mendadak menegang kaku.

*DEG!*

Jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kecepatan yang sangat abnormal, seolah-olah hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Paru-parunya mendadak terasa menyempit hebat, menolak setiap molekul oksigen yang coba dihirupnya. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat—seperti ribuan jarum panas yang menusuk langsung ke dalam rahim dan perut bagian bawahnya—menyerang tanpa peringatan.

"A-akh... ugh!"

Gelas sampanye di tangan Tiffany terlepas, jatuh dan pecah mengotori karpet beludru mobil. Tiffany jatuh tersungkur di kursi belakang, memegangi perutnya yang terasa seperti sedang diaduk dan dihancurkan oleh kekuatan tak kasatmata.

"N-Nona Tiffany?! Anda tidak apa-apa?!" sopir pribadinya yang melihat dari kaca spion langsung panik setengah mati.

"S-sakit... perutku... tenggorokanku... sesak!" jerit Tiffany dengan suara parau yang hampir habis. Wajah cantiknya yang mulus mendadak memucat pasi, keringat dingin bercucuran deras hingga merusak riasan tebalnya.

Rasa mual yang teramat sangat—jauh lebih parah dari *morning sickness* terbaik yang pernah dialami Alya—menyerang lambung Tiffany. Tanpa bisa ditahan lagi, Tiffany memuntahkan cairan hitam pekat berbau busuk di dalam mobil mewahnya sendiri, mengotori gaun sutra mahalnya yang berharga ratusan juta rupiah.

Di dalam kepalanya yang pusing dan berputar hebat, sebuah suara anak kecil yang sangat dingin, agung, dan penuh kebencian yang mendalam mendadak bergema dengan sangat keras, membuat gendang telinganya hampir pecah.

> *[Bagaimana rasanya, Tiffany Alexander? Apakah rasa sakit dari kehancuran rahim dan racun yang kau siapkan untuk Ibuku terasa menyenangkan?]*

> *[Ini adalah peringatan terakhir dari pewaris Dirgantara! Jika kau atau keluargamu berani mendekati Ibuku lagi bahkan dalam jarak satu kilometer... aku bersumpah rasa sakit ini tidak akan pernah hilang dari tubuhmu seumur hidup, dan Alexander Group akan runtuh menjadi abu dalam waktu satu malam!]*

"Aaaakh! Pergi! Keluar dari kepalaku! Tolong... ampun!" teriak Tiffany histeris bagaikan orang gila, mencakar-cakar kepalanya sendiri hingga rambut cokelat madunya yang indah menjadi kusut masai tak berbentuk.

"Cepat... bawa aku ke rumah sakit! Rumah sakit!" jerit Tiffany sebelum akhirnya pandangannya menggelap dan ia pingsan dalam kondisi yang sangat mengenaskan di atas muntahannya sendiri.

---

Kembali ke koridor Klinik Medika, suasana perlahan mulai terkendali setelah tim keamanan rumah sakit dan polisi mengamankan kedua pria bertopi hitam serta perawat palsu yang terus mengerang kesakitan.

Yudha segera menuntun Alya masuk ke dalam ruang pemeriksaan VIP yang dijaga ketat oleh sisa pengawal. Dr. Kurniawan yang sudah menunggu di dalam langsung melakukan pemeriksaan darurat dengan wajah cemas.

Setelah beberapa menit pemeriksaan USG yang menegangkan, dokter paruh baya itu akhirnya mengembuskan napas lega.

"Tuan Muda Devan bisa tenang. Nona Alya dan janinnya sama sekali tidak mengalami trauma atau gangguan apa pun. Kondisi bayinya... bahkan secara ajaib sangat tenang, seolah-olah kejadian di luar sana sama sekali tidak mempengaruhinya," jelas Dr. Kurniawan dengan senyum kagum.

Alya tersenyum manis, mengelus perutnya yang kini terasa sangat damai.

> *[Tentu saja aku tenang, Ibu. Membereskan kecoak-kecoak itu bahkan tidak membutuhkan sepuluh persen dari energi spiritualku. Sekarang, mari kita nikmati pemeriksaan medis ini dengan tenang sebelum Ayah datang dengan wajah khawatirnya yang menggemaskan.]*

Alya terkekeh pelan dalam hati. Di balik jendela klinik yang menampilkan langit cerah kota Jakarta, ia tahu bahwa mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun yang berani meremehkan atau mencoba menyentuh dirinya lagi. Karena di dalam rahimnya, ada pelindung kecil paling jenius dan mengerikan di dunia yang siap menghancurkan siapa saja demi menjaga keselamatan ibunya tercinta.

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!