NovelToon NovelToon
THE 13TH FLOOR

THE 13TH FLOOR

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Putri CS

1. "THE 13TH FLOOR"

Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist

Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.

Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.

Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28 dua belas kebohongan yang tersisa

Angin malam menerobos masuk melalui jendela perpustakaan yang pecah.

Di luar, ratusan anggota Organisasi XIII mengepung pulau dari segala arah.

Obor-obor mereka menyala di tengah kabut, membuat suasana terasa seperti medan perang.

Keanu menelan ludah.

"Kita benar-benar dikepung..."

Eleanor menghampiri Dimas.

"Tunjukkan bukunya."

Dimas menyerahkan Buku Ketiga Belas.

Halaman yang tadi bertuliskan 'Masih ada dua belas kebohongan lagi' mulai berubah.

Perlahan muncul daftar baru.

TIGA BELAS KEBOHONGAN

Adrian mengkhianati dunia. ❌

Penjaga Gerbang selalu hidup.

Hotel Karunia adalah awal kutukan.

Buku Ketiga Belas diciptakan Organisasi XIII.

Direktur X adalah pemimpin pertama.

Penulis hanya ada satu.

Gerbang hanya bisa dibuka dengan darah Penjaga.

Maya mati karena kutukan.

Ayah Naura menghilang.

Organisasi XIII hanya ada di Indonesia.

Lift adalah jalan menuju Gerbang.

Tidak ada jalan untuk menutup Gerbang selamanya.

...

Semua membeku.Nomor tiga belas...Masih kosong.

"Apa artinya?" tanya Naura.

Eleanor menjawab lirih.

"Itu berarti..."

"...kebohongan terakhir belum waktunya diketahui."

Raka menunjuk nomor delapan.

"Tunggu."

'Maya mati karena kutukan'... berarti itu juga kebohongan?

Alea langsung menoleh.

Wajahnya memucat.

"Kalau itu bohong..."

"Lalu..."

"...apa penyebab Kak Maya meninggal?"

Belum sempat Eleanor menjawab—

BOOM!

Ledakan besar mengguncang dinding perpustakaan.

Batu-batu berjatuhan.

Salah satu jendela hancur berkeping-keping.

Puluhan anggota Organisasi XIII mulai memasuki bangunan.

"Mereka masuk!" teriak Elang.

Keanu dan Raka segera mendorong rak-rak buku untuk menghalangi jalan.

Namun jumlah musuh terlalu banyak.

Selena berjalan masuk dengan tenang.

Di belakangnya, anggota XIII membentuk barisan.

"Serahkan Dimas."

"Dan kami akan membiarkan yang lain pergi."

"Jangan harap!" bentak Naura.

Selena tersenyum tipis.

"Kalian memang pemberani."

"Sayang sekali..."

"...keberanian saja tidak cukup."

Ia mengangkat tangan.

Seorang anggota XIII membawa sebuah kotak kayu tua.

Saat kotak itu dibuka...

Semua orang terdiam.

Di dalamnya terdapat sebuah jam saku perak yang sudah usang.

Begitu melihat benda itu, wajah Eleanor berubah sangat pucat.

"Tidak..."

"Bukan itu..."

Direktur X mengambil jam saku tersebut.

"Dimas."

"Kau tahu benda ini?"

Dimas menggeleng.

Direktur X membuka penutup jam.

Di bagian dalam terdapat foto kecil.

Foto seorang bayi.

Bayi itu...

Adalah Dimas.

Di bawah foto tertulis sebuah kalimat.

«"Calon Penulis Ketiga Belas."»

Dimas membeku.

"Itu..."

"Itu nggak mungkin."

Direktur X mengangguk pelan.

"Kami mengenalmu..."

"...bahkan sebelum kau bisa berjalan."

Ruangan mendadak sunyi.

Alea menatap Dimas dengan tidak percaya.

Berarti...

Selama ini...

Seluruh hidup Dimas memang telah direncanakan.

Dan tepat saat itu...

Buku Ketiga Belas kembali menulis sendiri.

Kali ini bukan kalimat.

Melainkan satu nama.

IBU DIMAS

Di bawahnya muncul tulisan merah.

«"Dia masih hidup."

Ruangan mendadak sunyi.

Tatapan semua orang tertuju pada Buku Ketiga Belas.

Di halaman yang terbuka masih tertulis jelas.

«IBU DIMAS

Dia masih hidup.»

"Tidak..."

Dimas menggeleng pelan.

"Itu mustahil."

"Ibuku meninggal saat aku masih kecil."

Direktur X tersenyum tipis.

"Begitukah?"

"Lalu... siapa yang menunjukkan makam itu kepadamu?"

Dimas terdiam.

Yang membawanya ke makam setiap tahun adalah...

Pamannya.

Bukan ayahnya.

Untuk pertama kalinya, Dimas mulai meragukan masa lalunya sendiri.

 

Eleanor melangkah maju.

"Direktur X!"

"Berhenti memainkan hidup anak-anak ini!"

Direktur X menatap Eleanor dengan dingin.

"Aku tidak sedang bermain."

"Aku hanya mengembalikan ingatan yang pernah kalian hapus."

Kalimat itu membuat Eleanor membeku.

Naura memperhatikan ekspresi wanita tua itu.

"Kamu..."

"Kamu tahu sesuatu, kan?"

Eleanor memejamkan mata.

Lama.

Seolah sedang melawan rasa bersalah yang telah disimpannya selama bertahun-tahun.

"Aku..."

"...memang ikut menyembunyikan sebagian kebenaran."

Semua terdiam.

"Maafkan aku."

"Tapi saat itu..."

"...kami percaya itulah satu-satunya cara melindungi kalian."

Alea menatap Eleanor.

"Jadi..."

"Selama ini kami juga dibohongi?"

Air mata mulai mengalir di pipi Eleanor.

"Ya."

"Sebagian ingatan kalian sengaja disegel."

"Bukan untuk menyakiti."

"Melainkan agar Organisasi XIII tidak bisa menemukan kalian."

 

Tiba-tiba, jam pasir hitam di tengah ruangan retak.

Crack...

Pasirnya berhenti mengalir.

Dari balik Gerbang Karunia terdengar suara Adrian.

"Waktunya hampir habis!"

"Eleanor!"

"Kalau mereka belum mengetahui seluruh kebenaran..."

"...mereka tidak akan mampu menyegel gerbang!"

Eleanor mengangguk pelan.

Ia menoleh kepada Alea, Naura, Dimas, dan yang lainnya.

"Sudah waktunya."

"Waktunya kalian mengetahui apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun lalu."

Eleanor menghantamkan tongkatnya ke lantai.

Buuk!

Seluruh Perpustakaan XIII dipenuhi cahaya putih.

Satu per satu rak buku menghilang.

Dinding batu lenyap.

Lantai berubah menjadi cermin raksasa.

Di atas cermin itu muncul bayangan masa lalu.

Delapan anak kecil sedang bermain di halaman sebuah hotel.

Di antara mereka...

Ada Alea,Raka,Dimas,Naura,Dan...Elang.

Semua masih berusia sekitar tujuh tahun.

Naura membelalak.

"Kita..."

"Pernah bertemu?"

Eleanor mengangguk.

"Bahkan..."

"...kalian semua adalah sahabat sejak kecil."

Air mata Alea menetes.

"Kenapa aku tidak ingat?"

"Karena..."

"...akulah yang menghapus kenangan itu."

Ruangan kembali sunyi.

Tak seorang pun menyangka pengakuan itu.

Namun bayangan masa lalu belum selesai.

Di layar cahaya itu muncul sosok seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi.

Dimas membeku.

Wajah wanita itu...

Persis seperti foto ibunya.

Wanita tersebut menyerahkan bayi Dimas kepada Eleanor sambil berkata,

«"Kalau aku gagal kembali... tolong lindungi dia."»

Beberapa detik kemudian...

Wanita itu berlari memasuki Gerbang Karunia.

Dan...

Gerbang langsung tertutup.

Bayangan menghilang.

Dimas jatuh berlutut.

Air matanya tak terbendung.

"Jadi..."

"Ibu tidak meninggalkanku..."

"Beliau..."

"...mengorbankan dirinya demi menyelamatkanku."

Eleanor memeluk Dimas.

"Maafkan aku..."

"Aku berjanji kepada ibumu untuk merahasiakan semuanya."

Namun di balik Gerbang...

Adrian tiba-tiba berteriak dengan suara yang belum pernah terdengar sebelumnya.

"LARI!!"

"DIA SUDAH BANGUN!!"

Sesaat kemudian...

Sebuah tangan raksasa berwarna hitam menerobos keluar melalui celah Gerbang Karunia.

Tangan itu bukan milik Adrian.

Dan jelas...

Bukan milik manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!