NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Pagi itu Mida berangkat ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Sejak kepergian Harapan, ia tetap berusaha menjalani rutinitasnya meski hatinya dipenuhi duka.

Seusai berbelanja, Mida berjalan pulang melalui jalan yang biasa ia lewati. Selama bertahun-tahun, jalan itu selalu aman. Namun pagi itu suasananya terasa berbeda. Jalan tampak lebih sepi dari biasanya.

Belum jauh melangkah, beberapa pria bertubuh kekar tiba-tiba menghadangnya. "Bu Mida," salah seorang dari mereka berkata sambil tersenyum sinis. "Masih saja mengurus kasus anakmu?"

Mida menggenggam erat tas belanja di tangannya. "Saya hanya ingin mencari keadilan."

"Kalau mau hidup tenang, berhentilah. Tidak semua harus diungkap."

Ketiga pria itu semakin mendekat hingga membuat Mida mundur beberapa langkah. Wajahnya mulai pucat.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari kejauhan. "Hei! Menjauh dari Bu Mida!" Semua orang menoleh. Fandi menghampiri. Kebetulan ia baru selesai menemui seseorang yang berkaitan dengan penyelidikan kasus Harapan. Melihat kliennya dikerumuni orang-orang tak dikenal, ia langsung mempercepat langkah. "Ada masalah apa?" tanya Fandi dengan tatapan tajam.

Salah seorang pria mendengus. "Bukan urusanmu."

"Justru ini urusanku. Saya pengacara Bu Mida. Kalau kalian melakukan intimidasi atau kekerasan, saya pastikan itu akan dilaporkan."

Mendengar ucapan itu, ketiga pria tersebut saling berpandangan. Mereka sadar kehadiran Fandi dapat menarik perhatian warga sekitar.

Sebelum pergi, salah seorang dari mereka berkata pelan, "Ingat, Bu... tidak semua orang senang kalau kasus ini terus dibuka." Mereka pun meninggalkan tempat itu.

Mida masih gemetar. Napasnya belum beraturan.

Fandi segera menghampiri. "Bu Mida, Ibu tidak apa-apa?"

"Alhamdulillah... saya baik-baik saja. Untung Abang datang."

Fandi membantu membawa sebagian belanjaannya. Mereka menuju rumah. Di tengah perjalanan, Fandi menggeleng pelan. "Barbar juga lawan kita ini nantinya. Mereka bahkan berani mengintimidasi Ibu di tempat umum."

Mida menatap Fandi dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Bang Fandi... Tolong jangan tinggalkan saya."

Fandi terdiam.

"Saya akan terus berdoa kepada Allah agar semua kebaikan Abang dibalas oleh Allah. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas semua bantuan Abang."

Fandi tersenyum tipis.."Bu Mida, saya hanya menjalankan tugas saya sebagai pengacara. Tapi saya juga berjanji akan memperjuangkan keadilan semampu saya."

Mida mengangguk pelan. "Terima kasih, Bang."

Dalam hati, Fandi semakin kagum kepada Mida. Di tengah ancaman yang terus berdatangan, perempuan itu tetap berbicara dengan penuh kesantunan. Tidak ada kebencian dalam ucapannya, hanya doa dan rasa syukur.

Ketulusan dan kepolosan Mida membuat tekad Fandi semakin kuat. Bagi Fandi, ini bukan lagi sekadar perkara hukum, melainkan perjuangan untuk membantu seorang ibu mendapatkan keadilan bagi putranya.

Mida ini sebenarnya seumuran dengan Fandi, namun ujian hidupnya sungguh sangat berat. Fandi iba padanya. Ia yang biasanya hidup enak karena punya privilage dari orangtua tak menyangka akan bertemu manusia yang mendapatkan ujian hidup serumit Mida.

Motor terus melaju hingga akhirnya memasuki halaman rumah Mida. Fandi mematikan mesin motor dan membantu menurunkan belanjaan. "Sementara waktu, kalau Ibu hendak pergi ke mana pun, kabari saya atau keluarga. Jangan sendirian dulu."

Mida menganggukkan kepala. "Baik, Bang. Terima kasih sudah menyelamatkan saya dan mengantar saya pulang."

"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Saya bukan hanya pengacara Ibu, tetapi saya juga ingin memastikan Ibu tetap aman sampai kasus Harapan ini terungkap."

Mida kembali mengucapkan terima kasih. Saat Fandi berpamitan, ia memandang pria itu dengan penuh rasa syukur. Di tengah begitu banyak ancaman yang datang, Allah masih menghadirkan orang-orang yang bersedia berdiri di sisinya dalam memperjuangkan keadilan bagi Harapan.

Tak lama kemudian, sebuah sepeda motor lain berhenti di depan gubuk. Dewi turun dengan wajah cemas. "Mi, kamu tidak apa-apa?" Rupanya Dewi mendapatkan cerita dari tetangganya yang kebetulan lewat dan melihat Mida diganggu preman. Tetapi ia tak berani membantu karena takut terseret kasus, makanya ia mengabari Dewi.

"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Syukurlah Bang Fandi datang tepat waktu sehingga ia bisa membantu."

Kemudian ia menoleh kepada Mida. "Mi..."

"Iya, Kak?"

"Kamu benar-benar yakin memilih dia menjadi pengacaramu?"

Mida mengangguk tanpa ragu.

Dewi melanjutkan, "Entahlah... menurutku dia tampak masih muda. Malah kalian seumuran lho Mida. Tidak terlihat punya pengaruh atau kekuasaan. Orang-orang yang kita hadapi bukan orang sembarangan. Apa kamu yakin kita bisa menang?"

Mida tersenyum tipis. "Aku yakin padanya, Kak."

"Tapi kenapa?"

Mida menatap langit yang mulai diselimuti awan sore. "Karena saat semua orang menjauh, dia justru datang." Ia menarik napas pelan. "Dia hadir ketika aku benar-benar pasrah. Ketika aku merasa sendirian dan hampir kehilangan harapan.Aku percaya, tidak ada yang terjadi tanpa izin Allah." Mida menggenggam tangan Dewi. "Kalau Allah menggerakkan hati Bang Fandi untuk membantuku, berarti Allah juga sedang menunjukkan jalan."

Dewi terdiam mendengar jawaban Mida.

"InsyaAllah, Kak. Aku tidak bergantung pada kepandaian manusia, apalagi pada kekuasaan mereka." Mida tersenyum penuh keyakinan. "Aku bergantung kepada Allah. Bang Fandi hanya ikhtiar yang Allah kirimkan untuk membantuku."

Mendengar itu, Dewi menghela napas panjang. Ia memeluk Mida dengan erat. "Semoga Allah memudahkan semua urusan kita."

"Aamiin," jawab Mida lirih.

Di dalam gubuk sederhana itu, dua sahabat seligus bos dan karyawan tersebut saling menguatkan. Di tengah segala keterbatasan dan ancaman, keyakinan Mida kepada pertolongan Allah justru semakin bertambah, dan itulah yang membuatnya tetap mampu melangkah menghadapi perjuangan yang masih panjang.

***

Malam mulai menyelimuti desa. Setelah kejadian di jalan saat pulang dari pasar, Mida berharap ancaman itu hanya terjadi sekali. Namun harapannya pupus. Ia baru saja selesai menunaikan salat Isya ketika terdengar suara benda keras menghantam dinding gubuknya.

Brak!

Mida tersentak. Belum sempat ia membuka pintu, terdengar suara lain dari luar.

Bruk!

Seolah ada seseorang yang sengaja melempar sesuatu ke arah rumahnya. Jantung Mida berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia mengintip dari celah jendela. Di luar gelap gulita. Tak tampak seorang pun.

Beberapa saat kemudian, terdengar deru sepeda motor melaju kencang menjauh dari rumahnya. Mida memeluk dirinya sendiri. Rasa takut mulai menguasai pikirannya. Karena takut, akhirnya Mida memutuskan menghubungi Kak Dewi.

"Apa? Kamu jangan keluar rumah! Tunggu, Kakak ke sana sekarang." Beberapa belas menit kemudian, Dewi tiba bersama beberapa warga. Mereka memeriksa sekitar gubuk.

Di halaman depan ditemukan beberapa batu berukuran cukup besar. Salah seorang warga menggeleng pelan. "Ini bukan kebetulan. Ada yang sengaja meneror."

Mida hanya menunduk. Wajahnya pucat.

Dewi memegang kedua bahu Mida. "Mi, kamu tidak boleh tinggal di sini sendirian."

"Tapi ini rumahku, Kak."

"Aku tahu. Justru karena itu Kakak khawatir. Siang tadi kamu dihadang orang, malam ini rumahmu diteror. Kakak tidak mau menunggu sampai terjadi sesuatu yang lebih buruk."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!