Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dan benar saja, jarum jam belum genap mengarah pada pukul tujuh, tapi sudah terdengar suara motor Bang Rengga masuk ke halaman.
Tidak lama terdengar suara ketukan di pintu kamarku.
"Mbak.... Bang Rengga nya udah datang," panggil Ibu.
"Njeh, Bu. Sudah selesai kok," jawabku setelah membuka pintu kamar.
"Ajak sarapan dulu, ya! Ibu siapkan. Nanti tinggal Mbak bawa keluar aja."
"Njeh, Bu." Jawabku.
Setelah itu, Ibu berlalu masuk dapur, dan aku melangkah ke ruang tamu. Kulihat sepi, tidak ada siapapun. Pasti Bang Rengga menunggu di kursi teras depan.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Waalaikum salam, udah siap Dek?"
"Sama Ibu disuruh sarapan dulu, udah disiapin. Masih keburu kan?" Tanyaku.
"Masih, tadi sih mau Abang ajak sarapan di luar. Tapi ya udah, sarapan di sini aja, nggak enak sama Ibu. Kasihan udah capek-capek nyiapin."
"Heem... Masuk yuk Bang. Nggak papa... Ada Ibu kok... Nggak cuman berdua."
"Bapak mana?" Tanya Bang Rengga.
"Tadi pamitnya mau main sepeda, belum pulang."
"Ooo... " jawabnya sambil duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
Aku segera berjalan ke dapur menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Setelah beberapa saat, aku kembali ke depan sambil membawa nampan yang di atasnya sudah ada dua mangkok soto yang masih panas dan terlihat kepulan asapnya, satu piring lontong yang sudah di potong, dan dua gelas teh hangat. Dan tak lupa satu toples kecil kerupuk dan sambal.
Bang Rengga yang melihat ku di pintu batas ruang tamu segera menghampiri dan mengambil alih nampan yang ada di tanganku.
"Wow... Aromanya bikin cacing makin demo nih, Dek! Sedep banget!"
"Siapa dulu dong yang masak!" ucapku sambil duduk di kursi ruang tamu yang diikuti oleh Bang Rengga.
"Emang bisa gitu masak se enak ini?" tanya Bang Rengga.
"Nggak... Kan yang masak itu tadi Ibu. Aku kan cuma bantu-bantu aja." jawabku sambil terkekeh dan mengulurkan satu mangkok soto. "Lontong nya ambil sendiri ya, Bang." imbuhku.
"Iya, sayang." jawabnya sambil cengar-cengir.
Aku langsung melotot saat mendengar dia memanggilku sayang.
"Apa sih? Emang beneran sayang kok. Kamunya aja yang nggak mau jawab.
" Dah, makan dulu aja. Ntar kesiangan ujung-ujungnya aku di bawa ngebut. Males banget!"
Jawabku sambil menuang sambal ke mangkok.
"Dek, masih pagi lhooo. Kebanyakan itu sambal kamu. Sini tukar sama punya Abang."
"Ih... Ga mau. Dikit ini Bang, cuma satu sendok aja."
"Satu sendok makan dan itu full!"
"Udah, makan yuk. Lapar aku, Bang!"
Akhirnya kami mulai makan, memang enak pagi-pagi makan yang berkuah, panas, dan pedas.
Beberapa saat kemudian kamipun selesai makan, aku bereskan semua mangkok dan kubawa ke belakang. Sekalian kucuci bekas makan kami meski Ibu sudah melarang.
Setelah selesai, aku keluar dan kami pun pamit berangkat jalan-jalan.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya kami sampai di titik yang telah di sepakati oleh teman-teman Bang Rengga. Setelah semua berkumpul, kami segera berangkat ke salah satu destinasi wisata paralayang.
Beberapa teman Bang Rengga terlihat sudah siap untuk tendem. Sedangkan Bang Rengga masih betah duduk di sampingku sambil menikmati segarnya hawa pegunungan.
"Abang nggak ikutan tendem juga?" tanyaku.
"Lagi males, Dek. Pengen duduk deket sama kamu aja sambil ngobrol dari ke hati. Kapan lagi coba, duduk sebelahan meski nggak dempetan," jawabnya sambil tersenyum.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dek, gimana?"
"Apanya, Bang. Yang gimana?"
"Mau nggak ke KUA sama Abang?"
"Ngapain ke KUA? Ngepel di sana?"
"Pengen salaman sama Bapak di sana sambil disaksikan penghulu! Kita ijab kabul disana,"
Aku menarik nafas panjang, Lagi-lagi ini yang jadi pokok bahasan.
"Bang, aku ucapin terimakasih sama Abang. Diantara banyaknya cewek, yang pasti lebih segalanya dari aku, tapi beberapa kali Abang menyatakan keinginan Abang buat serius sama aku. Maaf, aku belum jawab sampai saat ini. Bukan aku ingin menggantung Abang."
"Buat aku itu, berumah tangga bukan cuma aku dan Abang aja. Tapi juga semua keluarga, baik itu keluarga ku, atau pun keluarga Abang. Aku tahu Abang bisa nerima semua kekurangan ku dan juga keluarga ku. Tapi bagaimana dengan keluarga Abang, apalagi aku juga belum pernah bertemu dengan keluarga Abang."
"Aku hanya ingin pernikahan satu kali seumur hidup, Bang. Dan itu juga harus dengan restu keluarga kita. Setidaknya Abang kenalkan dulu aku dengan orang tua Abang. Setelah itu, gimana reaksi mereka. Apa bisa menerima aku dan keluarga ku. Keluargaku bukan orang berada seperti keluarga Abang. Kami harus berjuang untuk bisa sampai di titik sekarang. Aku tidak mau, kehadiran ku nanti memecah atau bahkan merusak hubungan Abang dengan orang tua Abang."
"Ya udah, nanti mampir ke rumah dulu ya. Kebetulan Papa dan Mama hari ini ada di rumah." jawab Bang Rengga.
Lelaki itu berdiri lalu mengulurkan tangan nya membantuku berdiri.
"Cari makanan yuk, Abang udah lapar lagi." ajaknya sambil tersenyum.
Aku hanya menganggukkan kepala, kemudian kami berdua melangkah ke arah warung-warung yang ada di sekitar area paralayang. Dinginnya hawa pegunungan kota Batu, membuat mulut ingin terus mengunyah.
Menjelang sore, kami semua dalam perjalanan pulang. Seperti kesepakatan awal tadi, Bang Rengga langsung membawaku ke rumah orang tuanya yang berada di salah satu perumahan elit. Bang Rengga memang sudah tinggal terpisah dengan orang tuanya, dia sudah tinggal di rumahnya sendiri, meski hanya di sebuah perumahan sederhana.
Akhirnya motor Bang Rengga masuk ke sebuah rumah dengan pintu gerbang yang tinggi menjulang, setelah sedikit basa basi dan mengucapkan terimakasih pada satpam yang sudah membukakan pintu gerbang, motor Bang Rengga kembali melaju dan berhenti di garasi yang ada di samping rumah.
Setelah turun, dan melepas helm, Bang Rengga menggandeng tanganku. Kulihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang bersantai di gazebo bersama seorang lelaki yang terlihat berumur tidak beda jauh dengan wanita itu.
"Itu Papa dan Mama." bisik Bang Rengga.
Aku mengangguk, kuhirup nafas panjang dan dalam. Sambil terus berdoa dalam hati semoga kehadiran ku tidak mengusik ketentraman keluarga ini.
"Assalamu'alaikum," ucap Bang Rengga sambil menghampiri kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam," jawab kedua orang tua itu.
"Eh, Abang. Tumben pulang ke rumah. Eeeh... Sama siapa itu?"
"Kenalin, Ma... Pa. Ini Rani, yang kemarin Abang cerita sama Mama itu."
"Assalamu'alaikum, Om... tante!" ucapku sambil meraih tangan mereka bergantian lalu mencium takzim sebagai tanda hormat pada yang lebih tua.
"Waalaikumsalam, duuh... Cantik banget. Pah.... Buruan kita datang ke rumah Rani."
"Ish, si Mama. Ajak masuk dulu ke rumah. Masa' ngobrol di tempat kayak gini."
"Eh, iya... Sampai lupa. Maafin Mama ya... " ucap Mama Bang Rengga sambil menggandeng tanganku dan mengajak masuk ke rumah.
"Eh, kok Papa di tinggal? Nggak di gandeng?" protes Papa Bang Rengga.
Beberapa saat, kami sudah duduk lebih santai di ruang tengah yang ada televisi layar datar dengan ukuran yang tidak kaleng-kaleng. Ada Bang Rengga yang duduk di sampingku dan terus menggenggam tanganku.
"Jadi, kapan? Papa dan Mama bisa ketemu dan silaturahmi ke rumah kamu dan bertemu dengan orang tua kamu?" tanya Papa Adam. Papanya Bang Rengga.
"Ehm, sebelumnya saya minta maaf, Om, Tante... "
"No, Sayang. Jangan panggil Om dan Tante. Panggil Papa dan Mama." ucap Mama Sofia. Mamanya Bang Rengga.
"Ehm,... Iya maaf, Ma... Pa. Tapi, sebelumnya apa Papa dan Mama sudah tahu kalau saya bukan dari kalangan atas. Bapak saya cuma buruh bangunan saja. Dan Ibu saya juga hanya buruh pabrik. Kami bukan dari keluarga kaya, seperti Papa dan Mama. Apa tidak akan jadi masalah dikemudian hari nanti?"
"Sayang, dengerin Mama ya. Papa dan Mama dulu juga tidak seperti sekarang. Papa dan Mama dulu juga tidak punya apa-apa. Pernah juga tidak makan karena kami tidak punya cukup uang. Cuma kami diberikan kemudahan dan jalan lebih mudah oleh Allah hingga sampai di titik sekarang. Jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak ya," Jelas Mama Sofia.
"Benar, Nak. Buat kami yang penting Bang Rengga nya bahagia, apalagi setelah tahu dan ketemu sama kamu. Mama sering cerita kalau Bang Rengga banyak berubah sejak kenal sama kamu."
"Iya, Bang Rengga banyak cerita soal kamu. Mama sama Papa salut sama perjuangan kamu. Makanya, dari kemarin-kemarin itu Mama cerewet minta Abang cepetan bawa kamu kesini buat ketemu sama Papa dan Mama. Cuma si Abangnya aja yang sok jual mahal. Nggak dengerin Mama."
Seketika aku menoleh ke Bang Rengga yang senyum-senyum sedari tadi.
"Jadi kapan, Papa dan Mama bisa ketemu orang tua kamu?" tanya Papa Adam.
"Iya, nanti saya sampaikan sama Bapak dan Ibu kalau Papa dan Mama mau silaturahmi ke rumah."
"Kalau bisa sih sekalian lamaran ya, Ma. Kasihan aku sama Rani. Lihat aja itu, tangan Abang kayaknya ada lem nya. Papa lihat dari tadi gandengan aja kayak truk tebu." goda Papa Adam lalu tertawa. Mama Sofia pun ikut tertawa.
"See, Mama sama Papaku nggak semenakutkan itu kan?" goda Bang Rengga.
"Makan malam disini sekalian ya, Sayang. Mumpung si Abang lagi baik hati mau pulang ke rumah." pinta Mama Sofia.
"Emmm...... "
"Sini nomernya Ibu atau Bapak. Biar Abang yang minta ijin sekalian minta maaf, telat anterin pulangnya."
Kuberikan ponsel ku yang sudah ada nomer Ibu pada Bang Rengga. Lelaki itu langsung menelepon Ibu dan meminta izin juga minta maaf karena terlambat mengantarkan aku pulang. Dan Ibu pun mengizinkan.
Tidak lama, terdengar suara adzan Maghrib berkumandang.
"Alhamdulillah, Pa... Ma... Maaf, numpang sholat boleh?" tanyaku.
"Sekalian aja kita sholat jama'ah ya." jawab Papa Adam.
Lalu kami semua segera berdiri dan beranjak ke musholla kecil yang ada di rumah. Setelah selesai sholat, kami kembali bersantai di ruang tengah tadi. Tidak lama, ada seorang ART yang memberi tahu jika makan malam sudah siap.
Kamipun makan bersama-sama sambil di selingi dengan obrolan dan candaan. Hingga tidak terasa jam menunjukkan pukul tujuh.
"Bang, pulang sekarang ya!" bisikku pada Bang Rengga.
Bang Rengga mengangguk. "Pa, Ma... Abang antar Rani pulang dulu ya, kasihan pasti capek. Udah dari tadi pagi Abang ajak main. Besok dia masuk kerja. Kalau senin tacik nya sering ngereog!" ucap Bang Rengga lalu tertawa.
"Iya, hati-hati bawa motornya, Bang. Jangan ngebut. Awas aja kalau calon mantu Mama sampai lecet."
"Duuuuh... Berasa jadi anak tiri nih kalau begini... " keluh Bang Rengga bercanda.
"Rani pamit pulang dulu ya Pa, Ma. Maaf sudah merepotkan."
"Iih, nggak merepotkan. Mama malah seneng kamu datang ke rumah. Sering-sering ajak Abang main ke rumah ya. Meski deket Abang tuh lebih betah semedi di gubugnya daripada tengok Papa sama Mama."
"Semedi katanya, Pa.. Istri Papa nih suka ngadi-ngadi. Kan lagi tirakat biar dapat bidadari." ucapnya sambil menyenggol bahuku pelan.
"Apaan sih? Nggak jelas banget!" ucapku.
"OTW KUA, Dek!" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Pa, Ma, Rani pamit pulang dulu ya." pamit ku sambil mencium tangan Papa Adam dan Mama Sofia.
"Iya, Hati-hati ya, kalau Rengga ngebut, hajar aja. Kamu kan bisa beladiri. Hajar aja udah. " ucap Papa Adam.
Setelah itu, Bang Rengga mengantarku pulang. Rupanya lelaki ini sudah banyak cerita tentang aku pada kedua orang tuanya.