NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembatalan yang Mengguncang Ibu Kota

​Kehangatan pagi di kediaman Klan Zephyra mendadak lenyap, digantikan oleh ketegangan yang begitu pekat hingga para pelayan tidak berani mengangkat kepala mereka saat berjalan di koridor. Di dalam ruang pertemuan utama yang megah, atmosfer terasa seperti medan perang yang siap meledak kapan saja.

​"Apa katamu, Aura? Coba ulangi sekali lagi!"

​Suara menggelegar itu datang dari Archmage Raymond Zephyra, pemimpin Klan Zephyra sekaligus ayah kandung Aura. Pria paruh baya dengan jubah kebesaran penyihir angin itu menatap putri sulungnya dengan mata terbelalak, wajahnya memerah antara terkejut dan murka.

​Di sisi lain ruangan, Duke Gerald Elrod, pemimpin Klan Elrod, duduk dengan wajah kaku. Di sampingnya, Gavin Elrod mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan Gavin tertuju lurus pada Aura, penuh dengan rasa tidak percaya dan kemarahan yang tertahan.

​Aura berdiri di tengah ruangan dengan anggun. Ia mengenakan gaun sutra putih dengan sulaman perak berbentuk burung hias, lambang kebebasan angin. Tidak ada keraguan di wajahnya. Remaja 17 tahun yang biasanya menunduk malu-malu setiap kali namanya disandingkan dengan Gavin, kini berdiri tegak dengan dagu terangkat.

​"Aku berkata, Ayah, Paman Gerald ... aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Gavin Elrod," ucap Aura, suaranya terdengar jernih, tenang, dan bergema di setiap sudut ruangan.

"Pertunangan ini tidak bisa dilanjutkan."

​"Aura! Jangan gila!" Gavin berdiri dari kursinya, melangkah maju dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat. "Apa salahku? Baru kemarin aku membawakanmu mawar dari ibu kota. Kita sudah merencanakan pernikahan ini sejak remaja, Aura. Mengapa tiba-tiba kau berubah pikiran seperti ini? Jika ini karena masalah kemarin di perjamuan—"

​"Ini tidak ada hubungannya dengan perjamuan kemarin, Tuan Muda Gavin," potong Aura dingin. Panggilan 'Tuan Muda' yang asing itu menghantam Gavin seperti tamparan tak terlihat. "Ini adalah keputusan yang telah kupikirkan matang-matang. Hubungan yang didasari oleh ketidakjujuran tidak akan pernah membawa kebahagiaan bagi kedua klan."

​Duke Gerald Elrod akhirnya angkat bicara, suaranya berat dan penuh tekanan intimidasi seorang bangsawan tinggi. "Nona Muda Aura, pernikahan antara Klan Elrod dan Klan Zephyra adalah aliansi suci yang telah disetujui oleh tetua kedua belah pihak. Pembatalan sepihak seperti ini adalah penghinaan besar bagi nama baik klan kami. Apakah Archmage Raymond mendidik putrinya untuk menjadi seorang yang tidak berpendirian?"

​Raymond Zephyra merasa harga dirinya diinjak. Ia menatap Aura dengan tajam. "Aura! Cukup main-mainnya. Kembali ke kamarmu dan renungkan kesalahanmu. Pertunangan ini tetap akan berjalan!"

​Di kehidupan lalu, Aura akan menangis, memohon ampun, dan menerima takdirnya karena rasa hormat pada ayahnya dan rasa cintanya yang buta pada Gavin. Namun, Aura yang sekarang tahu betul bahwa aliansi ini adalah awal dari pembantaian klannya. Gavin menginginkan Inti Sihir Zephyra, dan ayahnya terlalu naif untuk melihat serigala berbulu domba di hadapan mereka.

​"Aku tidak sedang main-main, Ayah," kata Aura, matanya berkilat tajam. "Dan ini bukan pembatalan sepihak tanpa alasan. Aku membatalkan pertunangan ini karena aku telah mengikat sumpah setia dengan pria lain."

​Hening.

​Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Wajah Gavin memucat, sementara Duke Gerald menyipitkan matanya berbahaya.

​"Pria lain?" Raymond bertanya, suaranya bergetar karena amarah yang memuncak.

"Siapa bangsawan di Eldoria ini yang berani merebut tunangan dari Klan Elrod?!"

​Brak!

​Pintu besar ruang pertemuan tiba-tiba terbuka paksa dari luar. Bukan oleh ledakan sihir, melainkan oleh tekanan udara dingin yang begitu masif hingga membekukan engsel-engsel besi pintu tersebut dalam sekejap.

​Dua ksatria berbaju besi hitam legam melangkah masuk, berdiri di sisi kiri dan kanan pintu, membentuk jalan bagi sosok yang berjalan di belakang mereka.

​Kaelen Vane melangkah masuk dengan keangkuhan mutlak seorang penguasa. Jubah bulu serigala hitamnya berayun pelan seiring langkah kakinya yang berat. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak embun es tipis di atas lantai marmer ruangan. Aura magis yang dipancarkannya begitu pekat dan menindas, membuat Raymond dan Duke Gerald secara refleks berdiri dari kursi mereka, bersiap dengan sihir pertahanan masing-masing.

​"Aku," suara Kaelen yang berat dan dingin memecah keheningan. "Aku adalah pria yang mengikat sumpah setia dengannya."

​Gavin terengah-engah, matanya membelalak tak percaya. "Pangeran Kaelen Vane ... Bagaimana mungkin?!"

​Kaelen tidak memedulikan Gavin. Ia berjalan lurus ke arah Aura, mengabaikan tatapan syok dari dua pemimpin klan besar di ruangan itu. Saat ia berdiri di samping Aura, ia mengulurkan tangan kanannya. Aura, tanpa ragu sedikit pun, menyambut tangan itu.

​Ketika telapak tangan mereka bersentuhan, pergelangan tangan mereka berdua memancarkan cahaya biru es yang berpendar terang, membentuk pola mawar hitam yang rumit sebelum akhirnya memudar di bawah kulit.

​"Sumpah Darah Pernikahan Kontrak ...." Duke Gerald berbisik, wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kilat kemarahan yang luar biasa. "Anda ... Pangeran Utara, berani menodai aliansi Ibu Kota?!"

​"Menodai?" Kaelen menoleh, menatap Duke Gerald dengan sepasang mata merah delimanya yang sedingin kematian. "Nona Aura datang kepadaku tadi malam, meminta perlindungan dari aliansi palsu yang menjeratnya. Sebagai penguasa Utara, aku hanya menerima tawaran yang menguntungkan. Dan sekarang, dia adalah calon pengantin Utaraku. Hukum kuno Eldoria menyatakan bahwa sumpah darah menghapus semua pertunangan verbal sebelumnya. Apakah Anda ingin menentang hukum kuno, Duke Elrod?"

​Raymond Zephyra memandang putrinya dengan pandangan campur aduk antara murka dan tidak mengerti. "Aura! Mengapa kau melakukan ini? Menikah dengan pihak Utara sama saja dengan menjerumuskan dirimu ke dalam sarang monster! Wilayah Utara adalah tempat pembuangan, penuh dengan badai salju dan makhluk terkutuk!"

​Aura menatap ayahnya, matanya melembut sesaat namun tetap teguh. "Ayah, di masa remajaku ini, aku mungkin terlihat impulsif. Namun percayalah, melangkah ke Utara adalah satu-satunya cara bagiku untuk melihat matahari terbit di masa depan. Klan Elrod bukanlah seperti yang Ayah bayangkan."

​"Aura!" Gavin menyela, mencoba melangkah mendekat dengan wajah yang dipenuhi keputusasaan palsu. "Apakah kau diancam olehnya? Katakan padaku! Aku bisa melindungimu! Jangan biarkan monster ini membawamu pergi!"

​Kaelen bergeser selangkah, menghalangi pandangan Gavin terhadap Aura. Tekanan sihir es langsung menghantam dada Gavin, membuatnya terhuyung mundur hingga menabrak meja kayu ek di belakangnya.

​"Jaga bicaramu, Tikus Kecil," desis Kaelen, suaranya sangat rendah namun mengandung ancaman pembunuhan yang nyata. "Satu kata lagi yang keluar dari mulutmu untuk menghina calon istriku, dan aku akan memastikan lidahmu membeku dan hancur menjadi debu sebelum malam tiba."

​Gavin menelan ludah, wajahnya pucat pasi. Ia bisa merasakan bahwa Kaelen tidak sedang menggertak. Pria di hadapannya ini benar-benar bisa membunuhnya di sini, di kediaman Klan Zephyra, tanpa memedulikan konsekuensi politik apa pun.

​Duke Gerald menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak menjadi perang sihir terbuka yang merugikan. Ia menatap Raymond Zephyra.

"Raymond, tampaknya putrimu telah memilih jalannya sendiri. Namun ingatlah, pembatalan ini berarti aliansi dan pasokan batu sihir dari Klan Elrod ke wilayahmu akan dihentikan mulai hari ini. Bersiaplah untuk menanggung konsekuensinya."

​"Kami tidak membutuhkan batu sihir murah dari Elrod," Aura menyahut sebelum ayahnya sempat berbicara. Ia menatap Duke Gerald dengan pandangan meremehkan. "Mulai hari ini, Klan Zephyra berada di bawah perlindungan finansial dan militer dari Wilayah Utara. Segala bentuk intimidasi terhadap klanku akan dianggap sebagai pernyataan perang terhadap Istana Utara."

​Kaelen melirik Aura dari sudut matanya, sedikit terkejut dengan keberanian dan kelancaran gadis remaja ini dalam menggunakan namanya untuk menggertak lawan. Namun, sudut bibirnya terangkat samar. Ia menyukai ketegasan ini.

​Duke Gerald tidak mengatakan apa-apa lagi. Dengan lambaian jubahnya yang penuh amarah, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan, diikuti oleh Gavin yang sempat memberikan tatapan penuh kebencian dan dendam yang mendalam kepada Aura.

​Aku akan menghancurkanmu, Aura. Jika aku tidak bisa memilikimu dan kekuatanmu, maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya, batin Gavin sebelum menghilang di balik pintu.

​Setelah perwakilan Klan Elrod pergi, ruangan itu kembali sunyi. Raymond Zephyra terduduk di kursinya, tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap. Ia menatap Aura dengan pandangan terluka.

​"Mengapa, Aura ...? Mengapa kau melakukan ini tanpa berdiskusi dengan Ayah?"

​Aura berjalan mendekati ayahnya, lalu berlutut di hadapannya, menggenggam tangan pria paruh baya itu yang terasa hangat oleh sihir angin. "Ayah, maafkan anakmu yang durhaka ini. Namun, dalam waktu dekat, Ayah akan mengerti mengapa aku mengambil keputusan ekstrem ini. Aku melakukan ini bukan untuk menghancurkan keluarga kita, melainkan untuk memastikan bahwa Klan Zephyra akan tetap berdiri tegak di Eldoria selama ratusan tahun ke depan."

​Raymond menatap mata biru putrinya. Ia tidak lagi melihat kepolosan remaja yang biasanya manja. Di dalam mata itu, ada kedewasaan yang dipaksakan oleh sesuatu yang tidak ia ketahui, sebuah keteguhan yang begitu mutlak hingga ia tidak mampu membantahnya lagi.

​Raymond menghela napas panjang, lalu beralih menatap Kaelen Vane yang berdiri tak jauh dari mereka seperti patung es yang agung.

​"Pangeran Kaelen," ucap Raymond dengan suara serak. "Putriku mungkin masih muda dan keras kepala. Namun, jika Anda menyakitinya atau memanfaatkannya untuk kepentingan politik kotor Anda di Utara ... bahkan jika Klan Zephyra harus hancur, aku akan mengejar Anda hingga ke ujung dunia dengan seluruh badai angin yang kumiliki."

​Kaelen menatap Raymond, lalu menundukkan kepalanya sedikit—sebuah tanda penghormatan yang sangat langka dari seorang Kaisar Tanpa Mahkota.

​"Dia adalah calon istriku, Archmage Raymond. Di Utara, kami tidak pernah membiarkan wanita kami terluka, bahkan oleh sebutir salju sekalipun," jawab Kaelen dengan nada yang datar namun sarat akan janji yang mengikat.

​Aura berdiri, menatap Kaelen dengan rasa lega yang perlahan menyelimuti hatinya. Langkah pertama dari rencana pembalasan dendamnya telah berhasil diselesaikan. Pertunangan terkutuk itu telah hancur. Kini, takdir baru menantinya di tempat yang paling dingin di seluruh Eldoria.

​"Ayo pergi, Nona Aura," kata Kaelen, membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar.

"Kereta sihir Utara telah menunggu. Perjalanan kita menuju benteng es akan memakan waktu tiga hari tiga malam. Bersiaplah untuk menyambut rumah barumu."

​Aura mengangguk. Ia menoleh sekali lagi ke arah taman mawar biru di luar jendela, berpamitan dalam hati pada masa remajanya yang damai. Saat ia melangkah keluar dari kediaman Zephyra bersama Kaelen, ia tahu bahwa ketika ia kembali ke ibu kota ini nanti, ia tidak akan lagi dikenal sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai sang Ratu Es yang siap membawa badai kehancuran bagi musuh-musuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!