NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

"Zayyan aman, Arin! Dia ada di atas, lagi tidur!" potong Regan dengan suara setengah membentak, mencoba menembus histeria wanita di pelukannya.

Mendengar nama anaknya disebut, gerakan Arin mendadak berhenti. Tubuhnya yang semula menegang kuat perlahan melemas, menyisakan getaran hebat akibat sisa amarah dan rasa takut yang luar biasa.

Regan memanfaatkan momen itu untuk melonggarkan dekapannya. Ia memegang kedua bahu Arin, memaksanya untuk saling berhadapan. Wajah Arin tampak kacau; rambutnya berantakan, matanya merah bengkak, dan napasnya masih memburu satu-satu.

"Lepasin tangan kamu dari saya," desis Arin tajam. Suaranya kini merendah, namun getaran kemarahan di dalamnya jauh lebih mengerikan daripada teriakannya tadi.

Regan perlahan menurunkan tangannya. Ia mundur selangkah, memberi jarak. Di ambang pintu, Fahri berdiri dengan wajah serba salah, menatap kedua orang itu dengan pandangan prihatin.

"Rin, dengerin aku dulu...."

"Dengerin apa?!" potong Arin cepat, matanya menatap Regan dengan kilat kebencian yang kentara. "Mau jelasin alasan apa lagi kamu, hah? Kamu culik anak dari sekolahnya, kamu bohongin dia bawa nama saya, dan sekarang kamu suruh saya dengerin kamu?!"

"Aku gak nyulik Zayyan, Arin! Aku cuma jemput dia, ngajak dia jalan-jalan, beliin dia mainan!" bela Regan, suaranya naik satu oktav. Ego sebagai seorang ayah yang merasa memiliki hak kini mulai mengambil alih.

"Kenapa kamu harus se-histeris ini? Aku gak bakal nyakitin dia!"

Arin tertawa getir, suara tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Regan. "Gak bakal nyakitin? Kamu tahu apa yang saya rasain waktu ojek bilang Zayyan gak ada di sekolah? Saya pikir anak saya diculik orang jahat, Regan! Dan ternyata emang bener, dia dibawa sama monster paling jahat di masa lalu saya!"

"Arin, jaga ucapan kamu! Aku ini ayahnya!" bentak Regan, akhirnya kalimat yang sejak kemarin ia tahan meledak begitu saja di ruang tamu itu.

Arin tertegun sejenak, namun sedetik kemudian ia melangkah maju, menantang tatapan Regan tanpa rasa takut sedikit pun.

"Ayah? Kamu bilang apa tadi? Ayah? Siapa yang kamu maksud? Zayyan gak punya ayah seperti kamu. Ayahnya sudah mati sembilan tahun lalu!"

"Jangan bohong lagi, Arin! Aku udah tahu semuanya!" Regan merobek saku celananya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak kusut dari sana lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Arin. "Ini! Ini hasil tes DNA dari rumah sakit David! Sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen Zayyan adalah anak kandung aku! Darah daging aku! Kamu gak bisa ngelak lagi!"

Arin menatap kertas itu. Lembaran putih berlogo laboratorium medis itu bergetar di tangan Regan. Bukannya takut rahasianya terbongkar, Arin justru menepis kertas itu hingga jatuh ke lantai marmer.

"Terus kalau dia anak kandung kamu, kenapa?!" tantang Arin, air matanya kembali meluncur deras. "Kamu mau minta pengakuan sekarang? Setelah sembilan tahun kamu biarin saya berjuang sendirian? Kamu ke mana aja waktu Zayyan demam tinggi di mes yang bocor dan saya gak punya uang buat beli obat, hah?! Kamu ke mana waktu orang-orang ngatain Zayyan anak haram karena gak punya papa?!"

Regan tertegun. Rentetan pertanyaan Arin menghantam dadanya seperti godam besar. "Rin, aku... aku gak tahu kalau kamu hamil waktu itu. Kamu pergi gitu aja...."

"Saya pergi karena kamu yang usir saya dengan cara paling kejam, Regan!" jerit Arin, suaranya serak menahan sesak di dada yang teramat parah.

"Kamu yang lepas tanggung jawab! Jadi jangan pernah berani datang sekarang dan sok menjadi pahlawan dengan label 'ayah' di depan anak saya!"

Fahri yang sejak tadi diam di pintu akhirnya melangkah maju, mencoba menengahi. "Regan, tindakan kamu siang ini emang salah. Kamu gak bisa bawa anak orang tanpa izin ibunya kayak gini. Itu bisa masuk ranah pidana."

Regan menoleh tajam ke arah Fahri. Rasa cemburu dan amarahnya yang sempat teredam kini tersulut kembali melihat kehadiran pria itu. "Ini urusan keluarga saya, Fahri."

"Regan, cukup!" bentak Arin, berdiri membela di depan Fahri. "Jangan bawa-bawa Pak Fahri. Dia orang baik yang udah selamatin hidup saya dan Zayyan saat kamu buang kami! Kalau bukan karena Pak Fahri, mungkin Zayyan gak bakal tumbuh sehat sampai sekarang!"

Melihat bagaimana Arin begitu gigih melindungi Fahri, dada Regan kian bergemuruh terbakar cemburu. "Oh, jadi sekarang kamu lebih milih belain dia daripada aku, hah? Sembilan tahun kamu hidup disokong sama dia, apa jangan-jangan...."

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Regan, memutus kalimat tuduhan yang hendak ia lontarkan. Tamparan Arin kali ini jauh lebih menyakitkan daripada pukulan membabi butanya tadi.

"Jangan pernah berani mengotori nama baik Pak Fahri dengan pikiran menjijikkan kamu itu, Regan," desis Arin dengan napas tersengal. Wanita itu kemudian memutar tubuhnya, bersiap melangkah menuju tangga.

"Saya mau ambil Zayyan sekarang. Dan setelah ini, jangan pernah berani muncul lagi di depan kami."

"Arin, tunggu!" Regan menahan pergelangan tangan Arin, namun wanita itu langsung menghempaskannya dengan kasar.

"Jangan sentuh saya! Sekali lagi kamu batasi pergerakan saya atau coba-coba pisahin saya dari Zayyan, saya bersumpah... saya gak akan ragu buat bawa kasus ini ke jalur hukum atas dugaan penculikan anak!" ancam Arin mutlak, sebelum akhirnya berlari kecil menaiki anak tangga untuk menjemput putranya.

Regan hanya bisa berdiri terpaku di lantai bawah, menatap punggung Arin yang menjauh dengan rasa frustrasi dan penyesalan yang mendalam yang kian mencekik hatinya.

Regan berdiri mematung di tengah ruang tamu yang luas, menatap anak tangga tempat Arin baru saja menghilang. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan tadi, namun rasa perih di wajahnya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman telak di dadanya. Rentetan kalimat Arin tentang masa-masa sulit yang dilewatinya sendirian terus berputar di kepala Regan bagai kaset rusak.

Fahri mengembuskan napas pendek, lalu melangkah mendekati Regan yang tampak linglung.

"Tindakan lo hari ini bener-bener kekanak-kanakan, Gan," ujar Fahri dengan nada suara yang rendah namun sarat akan keprihatinan seorang sahabat. "Lo pikir dengan membelikan baju baru dan mainan mahal, lo bisa langsung menghapus luka sembilan tahun yang dia rasakan?"

Regan menoleh lambat, menatap Fahri dengan sorot mata yang tak lagi berapi-api oleh cemburu, melainkan penuh kerapuhan dan rasa frustrasi. "Gue baru tahu hari ini kalau anak itu darah daging gue sendiri, Ri. Gue cuma... gue cuma mau menebus kesalahan gue. Gue gak tahu harus lewat mana lagi."

Fahri menepuk bahu tegap sahabatnya itu, mencoba menyalurkan ketenangan. "Gue paham lo syok dan bahagia tahu fakta ini. Tapi caranya bukan dengan membawa anak itu dari sekolah tanpa izin kayak begini. Lo justru bikin Arin makin defensif dan takut sama lo."

Fahri menatap lurus ke dalam sepasang mata Regan yang tampak kacau. "Daripada lo bertindak impulsif kayak gini, sebaiknya lo cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi pada Arin sembilan tahun lalu. Cari tahu alasan kenapa dia pergi dan sehancur apa dia setelah itu. Biar urusan kalian ini bisa selesai dengan benar, Gan."

Belum sempat Regan membalas ucapan sahabatnya, terdengar suara langkah kaki tergesa dari arah tangga. Arin turun sambil menggendong Zayyan yang tampaknya terbangun karena keributan di bawah. Bocah itu masih mengucek matanya yang sembap karena mengantuk, tangannya memeluk leher Arin dengan erat. Di tangan kiri Arin, wanita itu menenteng tas sekolah Zayyan, sementara kantong-kantong mainan mahal dari mall ditinggalkannya begitu saja di atas.

"Ibu... kita mau ke mana? Kok ada Om Fahri?" tanya Zayyan dengan suara parau khas anak kecil yang baru bangun tidur. Matanya yang polos melirik ke arah Regan.

"Om ... mainan Zayyan ketinggalan di atas..."

Regan melangkah maju satu langkah secara refleks. "Arin, tunggu..."

Arin langsung menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Ia berbalik, menatap Regan dengan pandangan yang begitu dingin dan menusuk. "Jangan pernah sebut nama saya lagi. Dan kertas sampah kamu yang ada di lantai itu..." Arin melirik sekilas ke arah kertas hasil tes DNA yang tergeletak kusut di marmer. "...tidak akan mengubah fakta kalau Zayyan adalah anak saya. Hanya anak saya."

"Keberadaan aku gak bisa kamu hapus gitu aja, Arin! Dia anakku juga, darah dagingku mengalir di tubuh dia!" sahut Regan, suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang kembali naik.

"Lalu di mana kamu saat dia butuh nama seorang ayah di akta kelahirannya?" desis Arin tajam, menahan volume suaranya agar tidak mengejutkan Zayyan yang ada di pelukannya.

"Kamu yang membuang kami, Regan. Jadi, nikmati saja rumah besar dan kemewahan kamu ini sendirian. Jangan pernah ganggu hidup kami lagi."

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!