Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 - Mimpi Buruk yang Sama
Malam berganti malam, namun kegelapan di rumah Pondok Indah tak lagi menawarkan waktu istirahat.
Kamar utama yang megah kini tak ubahnya penjara bawah tanah. Aryo dan Maya sengaja membiarkan lampu gantung kristal menyala dalam pendar paling terang, berharap berkas cahaya buatan itu mampu mengusir entitas pekat yang kian hari kian berani menampakkan eksistensinya.
Obat penenang dosis tinggi yang diresepkan Dokter Tirta akhirnya memaksa kelopak mata Maya menutup sekitar pukul satu dini hari.
Aryo yang fisiknya berada di ambang batas kelelahan, akhirnya ikut tumbang. Ia berbaring di samping Maya, memeluk pinggang istri mudanya yang dipenuhi lebam dingin, sebelum kesadarannya ditarik paksa jatuh ke dalam kegelapan lubang tidur.
Namun, tidur malam itu tidak membawa kedamaian. Justru di sanalah, di dalam dimensi yang paling rapuh dari jiwa manusia, teror Pring Sedapur telah membangun panggung utamanya.
Secara instan, Aryo terbangun di tempat yang sama sekali bukan kamarnya.
Udara terasa teramat dingin, begitu pekat oleh kabut putih yang beraroma belerang dan tanah basah. Ia mendapati dirinya berdiri bertelanjang kaki di atas tanah merah yang gembur.
Di sekelilingnya, membentang belantara yang mengerikan: ribuan, atau mungkin jutaan batang bambu hijau kehitaman tumbuh rapat melingkari tempatnya berdiri.
Hutan bambu (pring sedapur).
Anehnya, bambu-bambu itu tidak tumbuh lurus ke atas. Batangnya meliuk-liuk seperti ular raksasa yang membeku, dengan daun-daun tajam yang saling bergesekan riuh karena tiupan angin malam yang kencang.
Suara gesekan itu memekakkan telinga, menghasilkan bunyi berderit yang ritmis ... srekk ... srekk ... srekk ... menyerupai suara ratusan wanita yang sedang berbisik serempak di tengah kegelapan.
"Di mana ini?" gumam Aryo, suaranya langsung tenggelam oleh deru angin.
Ia mencoba melangkah, namun kakinya terasa berat, seolah-olah tanah merah di bawahnya berubah menjadi lumpur hidup yang mengisapnya ke dalam.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara lenguhan halus yang sangat ia kenal.
"Mas ... Mas Aryo ... Tolong aku, Mas ...."
Aryo membalikkan tubuhnya dengan sentakan panik. Beberapa meter di belakangnya, tampak Maya sedang merangkak di atas tanah merah.
Penampilan wanita itu sangat mengenaskan.
Gaun malam putihnya robek-robek dan kotor oleh lumpur. Perutnya yang membuncit tampak sangat besar, jauh lebih besar daripada kondisi nyatanya di dunia nyata, seolah siap meletus kapan saja.
"Maya!" Aryo mencoba berlari mendekat, namun sebatang bambu hitam mendadak tumbuh melesat keluar dari dalam tanah tepat di antara mereka, memisahkan jarak keduanya.
Bambu itu tumbuh dengan kecepatan tak wajar.
Dan yang membuat bulu kuduk Aryo meremang hebat, dari buku-buku batang bambu tersebut, perlahan merembes keluar cairan merah kental yang beraroma anyir bunga kantil. Cairan darah itu menetes riuh, membasahi tanah merah.
“Lingsir wengi ... sliramu tumeking sirno ....”
Suara tembang sinden mendadak mengalun dari tengah-tengah keheningan hutan bambu.
Suara itu begitu jernih, begitu anggun, merambat di sela-sela kabut putih. Aryo tahu persis suara siapa itu. Itu adalah suara Sekar. Suara yang dulu selalu melantunkan doa-doa keselamatan untuknya setiap kali ia hendak pergi berbisnis, kini melantunkan nada kematian yang dingin.
"Sekar! Keluar kamu! Jangan ganggu kami!" teriak Aryo, suaranya parau, matanya liar menyapu ke arah rimbunnya bambu.
Kabut putih di depan mereka perlahan menyibak. Dari kegelapan belantara bambu, melangkah keluar sesosok wanita. Ia mengenakan kebaya beludru hitam dengan kain jarik motif Gajah Oling. Sanggulnya rapi, penampilannya sangat anggun.
Namun, saat sosok itu mendongak menatap Aryo, jantung sang pengusaha tersebut nyaris berhenti berdetak.
Sosok itu memiliki tubuh Sekar, tetapi wajahnya rata—tidak ada mata, hidung, ataupun mulut. Hanya permukaan kulit pucat yang halus. Di tengah-tengah wajah rata itu, perlahan-lahan kulitnya robek secara vertikal, membentuk sebuah celah besar yang meneteskan darah hitam, menampilkan deretan gigi-gigi tajam yang mengerikan.
Dari dalam celah wajah yang robek itu, suara Sekar kembali terdengar, bergema di seluruh penjuru hutan.
"Mas Aryo ... akar sudah mencengkeram rumahmu. Pohonnya sudah siap berbuah. Dan buahnya ... harus dipetik dengan nyawa."
Bersamaan dengan kalimat itu, ribuan akar bambu yang tajam menyerupai jemari kurus mendadak melesat keluar dari bawah tanah pekarangan mimpi itu.
Akar-akar tersebut langsung melilit pergelangan kaki Maya, merayap naik ke paha, dan mengunci rahimnya dengan lilitan yang sangat kencang.
"AAAHHH!!! MAS ARYO!!! SAKITT!!!" Maya menjerit histeris. Matanya melotot, dari sela-sela pahanya mengalir darah hitam yang pekat, menggenangi tanah merah.
Aryo menerjang maju, mencoba memutuskan akar-akar bambu itu dengan tangan kosong.
Namun, akar-akar itu justru berbalik menyerangnya. Mengikat kedua tangannya, memaku tubuhnya di atas tanah hingga ia tak bisa bergerak. Ia hanya bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh Maya perlahan-lahan ditarik masuk ke dalam gundukan tanah merah di bawah rumpun bambu besar yang paling hitam.
"MAYAAA!!!"
"MAYAAA!!!"
Aryo terbangun dengan sentakan hebat. Tubuhnya menegak di atas ranjang, sedang napasnya memburu tak beraturan bagai orang yang nyaris tenggelam. Keringat dingin membanjiri kaos dan sprei tempat tidurnya.
Lampu gantung kristal di langit-langit kamar masih menyala benderang, memancarkan cahaya kuning yang kaku.
Ia menoleh ke samping kiri dengan cepat. Di sana, Maya juga baru saja tersentak bangun.
Wanita itu langsung terduduk, matanya membelalak lebar penuh teror, napasnya tersengal-sengal persis seperti Aryo.
"Hutan ... hutan bambu ... darah ...," kata Maya bergetar lirih, suaranya serak dan menggigil hebat.
Ia menatap Aryo dengan pandangan yang kosong dan rapuh.
"Mas ... aku bermimpi kita ada di hutan bambu yang sangat gelap. Ada... ada perempuan berwajah robek ... dia menarikku ke dalam tanah, Mas ...."
Mendengar ucapan Maya, darah di sekujur tubuh Aryo mendadak terasa membeku.
Itu bukan mimpi biasa. Mereka baru saja mengalami mimpi buruk yang sama—sebuah fenomena di mana dua jiwa dipaksa masuk ke dalam satu dimensi kutukan yang sama di waktu yang bersamaan.
Kekuatan gaib Sekar tidak lagi hanya mengetuk pintu atau menyentuh kulit; kekuatan itu kini telah berhasil meretas alam bawah sadar mereka, menyatukan ketakutan keduanya dalam satu wadah penderitaan.
"Mas ... kamu juga memimpikan hal yang sama?" tanya Maya, air matanya mulai bergulir melihat ekspresi pucat pasi di wajah suaminya.
Aryo tidak menjawab. Ia hanya bisa menarik Maya ke dalam pelukannya, mendekap wanita itu dengan tubuh yang sama-sama gemetar hebat.
Di tengah ketegangan dalam keheningan yang belum usai di kamar yang benderang itu, tiba-tiba telinga mereka menangkap sebuah suara yang sangat halus dari arah luar jendela kamar lantai dua.
Srekk ... Srekk ... Srekk ....
Itu bukan suara ranting pohon palem yang bergesekan dengan kaca jendela. Suara itu terlalu ritmis, terlalu mirip dengan suara derit batang-batang bambu yang saling bergesekan di dalam mimpi buruk mereka baru saja.
Bau anyir bunga kantil yang layu mendadak menyeruak hebat, merayap masuk melalui celah-celah ventilasi udara AC, memenuhi kamar tidur utama.
Aryo menatap ke arah jendela gorden yang tertutup dengan tatapan ngeri. Di balik kain beludru tebal itu, siluet bayangan daun-daun bambu yang panjang dan tajam tampak tercetak jelas pada kaca jendela akibat sorot
lampu taman bawah—padahal di halaman rumah mewah mereka, tidak ada satu batang pun pohon bambu yang ditanam.
Kutukan Pring Sedapur telah sepenuhnya mengepung rumah mereka. Fondasi gaibnya telah tertanam kokoh di bawah lantai marmer mewah, dan malam-malam selanjutnya tidak akan pernah lagi membiarkan mereka lolos dari jeratan akar dendam yang dikirimkan dari ujung timur Jawa.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .