Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
Gang sempit itu mendadak terasa begitu luas setelah kepergian tiga shinobi dari Sunagakure. Sisa-sisa tekanan aura membunuh milik Gaara masih membekas samar di udara, membuat dedaunan kering yang berguguran di sekitar dinding gang terasa bergetar pelan. Namun, bagi dua anak manusia yang masih berada di sana, fokus mereka kini telah beralih sepenuhnya kepada pemuda beralis tebal yang berdiri dengan begitu tenang di depan mereka.
"Wah... Wah! Lee-niichan!" Naruto adalah yang pertama kali memecah keheningan dengan suara cemprengnya yang melengking tinggi. Dia melompat maju, memutari tubuh Lee beberapa kali dengan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman. "Itu tadi keren banget, tahu! Kamu beneran jentikin jari terus benang si muka kucing itu langsung putus?! Gimana caranya? Ajari aku, dong! Pliss!"
Konohamaru yang berada di belakang Naruto juga ikut maju, menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan lengan baju panjangnya. Dia menatap Lee seolah-olah sedang melihat seorang pahlawan legendaris yang keluar dari buku cerita. "I-iya, Kak Alis Tebal! Kamu hebat banget! Orang merah yang bawa gentong tadi serem banget, tapi kamu bahkan nggak kedip sama sekali! Kakek Hokage aja belum tentu bisa se-santai itu!"
Lee menoleh ke arah kedua bocah itu, senyum komikal khas Rock Lee kembali terpasang di wajahnya untuk menyembunyikan sisi dinginnya yang sempat keluar tadi. Dia mengacungkan jempolnya yang berkilau tertimpa cahaya matahari sore yang menyelinap di antara celah bangunan.
"Haha! Selamat pagi menjelang sore, Naruto, Konohamaru!" Lee tertawa renyah, menepuk pundak Naruto dengan kekuatan yang sengaja dia batasi agar tidak membuat bocah rubah itu tertanam ke dalam tanah. "Itu hanya latihan dasar dari semangat masa muda! Jika kamu melatih otot jari-jarimu dengan melakukan push-up menggunakan ujung jari sebanyak seribu kali sehari, kamu juga bisa menciptakan tekanan angin seperti itu, Naruto!"
"Hah? Seribu kali push-up pakai ujung jari?!" Naruto langsung melongo, membayangkan jari-jarinya yang pendek akan patah satu per satu. Dia bergidik ngeri, lalu menggelengkan kepalanya keras-keras. "Nggak, nggak mau! Itu namanya penyiksaan, bukan latihan, tahu!"
"Tapi Lee-niichan," Naruto melanjutkan, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit lebih serius, sesuatu yang jarang terlihat pada bocah hiperaktif itu. Dia menatap pakaian hijau ketat Lee dengan dahi berkerut. "Orang yang bawa gentong pasir tadi... dia beda banget sama yang lain. Pas dia natap aku, rasanya kayak ada pisau yang ditempelin di leherku. Kenapa kamu bisa seberani itu di depan dia?"
Lee terdiam sejenak, menatap ke arah ujung gang tempat Gaara dan timnya menghilang. Di dalam hatinya, Reymond tentu saja tahu mengapa Gaara begitu mengerikan—ada monster berwujud luak berekor satu yang terus-menerus membisikkan kegilaan dan kehausan akan darah di dalam kepala bocah malang itu. Namun, dari sudut pandang Rock Lee saat ini, dia harus memberikan jawaban yang selaras dengan prinsip hidupnya.
"Naruto," kata Lee, suaranya melunak, memberikan nuansa hangat yang menenangkan. Dia berjongkok sedikit agar tingginya sejajar dengan mata Naruto. "Ketakutan itu adalah hal yang wajar. Orang itu memang kuat, dan dia memiliki kegelapan yang besar di dalam dirinya. Tapi ingat ini... jika kamu membiarkan ketakutanmu menguasaimu sebelum pertarungan dimulai, maka kamu sudah kalah bahkan sebelum kamu melayangkan pukulan pertamamu."
Naruto tertegun mendengar kata-kata itu. Kalimat sederhana namun sarat akan makna mendalam itu terasa menghantam ulu hatinya. Selama ini, penduduk desa selalu menatapnya dengan kebencian dan ketakutan karena monster di dalam dirinya, namun hari ini, dia melihat seseorang yang mengenali adanya kegelapan pada orang lain tetapi memilih untuk menghadapinya dengan kepala tegak.
"Aku... aku paham," gumam Naruto, kepalan tangannya di dalam saku jaket jingganya mengencang. "Aku juga nggak akan kalah! Aku akan berlatih sampai jadi lebih kuat dari si muka merah itu, dan aku akan jadi Hokage yang diakui semua orang!"
"Bagus! Itulah tekad yang ingin kudengar!" Lee berdiri kembali, menepuk bagian belakang kepala Naruto dengan ramah. "Sekarang, sebaiknya kalian berdua segera pulang. Sore sudah mulai larut, dan jalanan desa akan semakin penuh dengan ninja asing yang tidak bisa diprediksi kelakuannya."
"Siap, Lee-niichan! Ayo Konohamaru, kita cari paman Teuchi untuk makan ramen!" Naruto berteriak penuh semangat, melupakan semua ketakutan dan insiden buruk yang baru saja menimpanya.
"Kak Alis Tebal, terima kasih ya!" Konohamaru membungkuk hormat dengan sopan sebelum berlari mengejar Naruto yang sudah melesat lebih dulu keluar dari gang.
Setelah kedua bocah itu benar-benar menghilang dari pandangan, Lee menghela napas panjang. Dia menyandarkan punggungnya pada dinding batu gang yang terasa dingin. Seringai tipis yang penuh dengan perhitungan kini kembali muncul di wajah kotaknya.
Pertemuan dengan Gaara tadi... berjalan lebih baik dari yang kukira, pikir Reymond. Sistem kekebalan ilusi absolutku benar-benar menahan aura membunuh dan chakra Shukaku tanpa kebocoran sedikit pun. Ini artinya, selama aku bisa menjaga pikiranku tetap fokus, Genit maupun Jounin dari klan mana pun tidak akan bisa menyerang mentalku.
Namun, dia juga menyadari satu hal. Pasir pelindung otomatis milik Gaara adalah masalah besar bagi spesialis Taijutsu. Kecepatan pasir itu mengikuti reflek dan perlindungan mutlak dari ibunya. Untuk menembus pertahanan itu, kecepatan dasar tubuhnya saat ini—bahkan dengan beban dua ratus kilogram dilepas—mungkin masih kurang sedikit jika tidak mengaktifkan Gerbang Batin.
"Aku harus meningkatkan intensitas latihanku," gumam Lee sambil menatap telapak tangannya yang terbalut perban baru. "Tiga gerbang batin saja tidak akan cukup jika aku ingin menyelesaikan ujian ini tanpa luka sedikit pun. Setidaknya, aku harus menguasai hingga Gerbang Kelima sebelum babak utama dimulai."
Dia melangkah keluar dari gang sempit itu, berbaur kembali dengan keramaian Konoha yang mulai diselimuti oleh warna jingga kemerahan dari matahari yang tenggelam di ufuk barat. Panggung sudah ditata, para pemeran utama sudah mulai berdatangan, dan Reymond bersumpah dia tidak akan membiarkan karakter Rock Lee hanya menjadi batu loncatan bagi kejeniusan orang lain lagi.