NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 2: Takdir Tragis Sang Figuran

Gisella melangkah menyusuri koridor panjang kediaman keluarga Arthur dengan langkah kaki yang sengaja dipelankan.

Tangan kanannya masih mendekap erat lipatan surat perceraian, seolah benda itu adalah tameng pelindung dari badai takdir yang mengintainya.

 Rumah ini luar biasa megah.

 Arsitekturnya bergaya neoklasik dengan pilar-pilar putih menjulang, lantai marmer Italia yang memantulkan bayangan tubuhnya dengan jernih, serta deretan lukisan cat minyak bernilai seni tinggi yang menggantung di sepanjang dinding.

Namun, kemewahan ini terasa dingin dan asing bagi Gisella.

Jiwanya yang berasal dari dunia modern—seorang wanita pekerja keras yang biasa hidup mandiri di apartemen sewaan yang sempit—merasa seperti penyusup di istana megah ini.

Gisella terus berjalan hingga dia menemukan sebuah kamar di ujung koridor lantai dua.

Berdasarkan memori samar yang tertinggal di tubuh ini, kamar dengan pintu kayu bercat putih bersih inilah tempat Gisella asli mengurung diri selama enam bulan terakhir.

Kebiasaan Gisella asli yang menolak tidur seranjang dengan Adrian dan memilih pisah ranjang sejak malam pertama pernikahan mereka ternyata menjadi keuntungan besar bagi Gisella yang sekarang.

Setidaknya, dia tidak perlu berbagi ruang pribadi dengan sang profesor dingin yang mengintimidasi itu.

"Ceklek."

Gisella mendorong pintu kamar dan melangkah masuk.

Ruangan itu luas, dilengkapi dengan ranjang ukuran king size bertirai kelambu tipis, sebuah meja rias penuh dengan kosmetik bermerek mahal yang berantakan, dan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah taman belakang rumah.

Gisella segera mengunci pintu kamar dari dalam.

Dia berjalan menuju cermin besar yang melekat pada lemari pakaian oak.

Untuk pertama kalinya, dia menatap refleksi dirinya di dunia ini dengan saksama.

Wanita di dalam cermin itu memiliki kecantikan yang memikat, namun tampak rapuh.

Kulitnya seputih porselen, sepasang matanya bulat besar dengan bulu mata lentik, dan rambut cokelat bergelombang mengalir indah hingga ke pinggang.

 Namun, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, dan wajahnya tampak pucat karena stres emosional yang dialami Gisella asli selama beberapa minggu terakhir sebelum jiwanya tergantikan.

"Kau sangat cantik, Gisella,"

bisik Gisella sambil menyentuh permukaan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri.

"Tapi mengapa kau begitu bodoh? Mengapa kau membuang pria sehebat Adrian demi seorang parasit?"

Gisella menghela napas panjang, lalu berjalan menuju tepi ranjang.

Dia mendudukkan dirinya di atas kasur yang empuk, menyilangkan kaki, dan mulai memejamkan mata untuk menggali lebih dalam ingatan-ingatan tersembunyi milik tubuh ini.

Dia harus memahami detail plot novel asli agar tidak salah melangkah dalam satu bulan ke depan.

Dalam novel asli berjudul Belenggu Cinta di Aethelgard, tokoh utama pria adalah Adrian Arthur dan tokoh utama wanita adalah seorang dokter muda yang anggun dan cerdas.

Sementara itu, Gisella hanyalah sebutir debu—seorang figuran pengganggu, batu loncatan yang ditakdirkan ada hanya untuk memberikan penderitaan awal bagi Adrian sebelum pria itu menemukan cinta sejatinya.

Gisella asli tumbuh besar di bawah asuhan kakeknya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.

Kakek Gisella adalah seorang pria tua sederhana yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat saat Tuan Besar Arthur terkena serangan jantung di sebuah taman kota bertahun-tahun lalu.

Tindakan cepat kakek Gisella menyelamatkan nyawa kepala keluarga Arthur tersebut.

 Utang budi itulah yang mengikat kedua keluarga ini.

Ketika kakek Gisella jatuh sakit parah enam bulan lalu, permintaan terakhirnya adalah melihat cucu perempuannya yang sebatang kara memiliki masa depan yang aman.

Tuan Besar Arthur, tanpa ragu, langsung mengatur pernikahan antara cucu sulungnya, Adrian, dengan Gisella.

Adrian, sebagai putra yang berbakti dan menghormati keputusan kakeknya, menerima pernikahan itu tanpa protes, meskipun dia tidak memiliki perasaan apa pun pada Gisella.

"Masalahnya adalah, Gisella asli sudah terlanjur dicuci otaknya oleh Julian,"

gumam Gisella sambil mengepalkan tinjunya kesal.

Julian adalah teman kuliah Gisella asli.

Pria itu tampan dengan modal kata-kata manis yang manipulatif.

 Julian tahu bahwa Gisella akan menikah dengan pewaris keluarga Arthur yang kaya raya.

Alih-alih melepaskannya, Julian justru memanfaatkan kepolosan dan kecintaan buta Gisella asli.

Julian berpura-pura menangis, mengatakan bahwa hatinya hancur melihat wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain, dan berjanji akan membawa Gisella kabur setelah wanita itu berhasil mendapatkan uang kompensasi perceraian dari keluarga Arthur.

Gisella asli yang bodoh memercayai setiap kata bajingan itu.

Sepanjang enam bulan pernikahan, dia memperlakukan Adrian seperti musuh bebuyutan.

Dia menolak disentuh, selalu berteriak histeris setiap kali Adrian mencoba mendekat, dan terus-menerus membuat onar di depan mertuanya agar mereka muak dan mengizinkan Adrian menceraikannya.

Kemarin, dalam puncak kemarahannya karena Adrian tak kunjung menyetujui perceraian, Gisella asli nekat menabrakkan dirinya ke jendela kaca ruang tamu hingga kepalanya terbentur dan pingsan.

Saat itulah, jiwa Gisella yang asli lenyap, digantikan oleh jiwa Gisella dari dunia modern.

"Tring!"

Suara notifikasi dari ponsel pintar di atas meja rias membuyarkan lamunan Gisella.

Dia tersentak, lalu melangkah cepat untuk mengambil ponsel tersebut.

Di layar datar itu, sebuah nama tertera jelas pada bilah pesan masuk: Julian.

Gisella merasakan gelombang kemarahan yang mendidih di dalam dadanya—sebuah reaksi sisa dari emosi tubuh asli yang mendadak bercampur dengan rasa muak dari jiwanya yang baru.

Dia membuka pesan tersebut.

> Julian:Gisella, sayangku, bagaimana keadaannya? Apakah Adrian si pria kaku itu sudah menandatangani surat cerainya? Ingat, jangan lupa tuntut kompensasi satu juta dolar seperti yang kita rencanakan. Aku sudah menyiapkan apartemen kecil yang indah untuk kita berdua di pinggiran kota. Aku sangat merindukanmu. Beritahu aku jika semuanya sudah selesai, aku akan menjemputmu sekarang juga.

>

Gisella menatap layar ponsel itu dengan seringai dingin. "Apartemen kecil yang indah? Cih, apartemen kumuh yang akan kau gunakan untuk mengurungku setelah kau menguras seluruh uangku, maksudmu?"

cibir Gisella sinis.

Di dalam plot asli, setelah Gisella membawa uang satu juta dolar itu, Julian langsung membujuknya untuk menginvestasikan seluruh uang tersebut ke dalam 'proyek bisnis' fiktif miliknya.

Begitu uang berpindah tangan, sikap Julian berubah 180 derajat.

Dia mulai bersikap dingin, jarang pulang, dan puncaknya, Gisella memergoki Julian sedang bermesraan dengan wanita lain di apartemen yang dibeli dengan uangnya.

Ketika Gisella protes, Julian justru memukulinya, mencaci-makinya sebagai wanita murahan yang diceraikan keluarga kaya, lalu mengusirnya ke jalanan tanpa sepeser uang pun.

Gisella asli yang tidak memiliki keterampilan kerja dan menderita trauma mental akhirnya tewas membeku di pinggir jalan saat musim dingin tiba.

"Takdir yang sangat tragis untuk seorang figuran bodoh," bisik Gisella, matanya berkilat penuh tekad.

"Tapi maaf saja, Julian. Gisella yang sekarang tidak akan membiarkan dirimu menyentuh sepeser pun uang dari keluarga Arthur, dan aku tidak akan sudi menjadi alat pemuas keserakanmu."

Gisella mengetik balasan dengan jari-jarinya yang lentik, berusaha menjaga gaya bahasa Gisella asli agar Julian tidak menaruh curiga terlalu cepat.

> Gisella:Adrian belum menandatanganinya dengan sepenuhnya. Prosesnya rumit karena orang tuanya masih menghalangi. Dia meminta waktu satu bulan untuk mengurus semuanya secara legal agar tidak memicu skandal media. Jangan jemput aku dulu. Aku harus tetap tinggal di sini selama satu bulan ini untuk memastikan dia tidak mengubah pikirannya tentang perceraian.

>

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Julian untuk membalas.

> Julian:Satu bulan?! Mengapa lama sekali? Sayang, apa kau yakin dia tidak sedang mencoba merayumu? Jangan terkecoh oleh kekayaannya, Gisella. Hanya aku yang benar-benar mencintaimu tulus dari hati. Bagaimana dengan uang kompensasinya? Apa dia setuju memberikan satu juta dolar?*

>

Gisella memutar matanya malas membaca pesan itu.

Pria ini bahkan tidak bertanya apakah kepalanya yang terluka kemarin sudah membaik atau belum.

Yang ada di pikirannya hanyalah satu juta dolar.

> Gisella: Dia masih mempertimbangkannya. Jika kau terus mendesak dan membuat kekacauan, dia bisa saja membatalkan perceraian dan mengurungku di sini selamanya. Jadi, diamlah dan tunggu instruksiku selanjutnya. Jangan hubungi aku jika tidak penting, Adrian mulai memeriksa ponselku.

>

Setelah mengirim pesan terakhir itu, Gisella langsung menyetel nomor Julian ke mode senyap.

 Dia melemparkan ponselnya kembali ke atas kasur dengan perasaan puas.

"Satu masalah tertunda untuk sementara," gumamnya sambil berjalan menuju jendela besar kamarnya.

Dari lantai dua, dia bisa melihat pemandangan taman belakang yang luas dan asri.

Di sudut taman, terdapat sebuah rumah kaca kecil yang dipenuhi dengan tanaman hias dan beberapa peralatan laboratorium mini.

Tiba-tiba, pintu rumah kaca itu terbuka, dan sosok jangkung Adrian melangkah keluar.

Pria itu telah mengganti kemeja putihnya dengan kaus hitam santai yang membungkus ketat otot dada dan lengannya yang terlatih, dilengkapi dengan celemek kerja berwarna abu-abu.

Dia tampaknya baru saja selesai merawat beberapa tanaman sampel risetnya.

Gisella memperhatikan Adrian dari balik tirai jendela.

Pria itu tampak begitu fokus, mandiri, dan memancarkan aura otoritas yang tenang.

Sulit dipercaya bahwa pria sesempurna ini disia-siakan oleh Gisella asli hanya demi seorang Julian yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan seujung kuku Adrian.

"Adrian Arthur... kau adalah tiket kesalamatanku di dunia ini," batin Gisella.

Gisella tahu dia tidak bisa selamanya menumpang di rumah keluarga Arthur.

Setelah satu bulan berlalu, dia harus tetap pergi demi menghormati harga diri dan kesepakatan mereka.

Namun, satu bulan ini adalah waktu emas yang harus dia manfaatkan sebaik mungkin.

Dia harus membangun reputasi yang baik, memulihkan hubungan dengan keluarga Arthur agar tidak ada permusuhan di masa depan, dan yang terpenting—dia harus memastikan Adrian tidak memandangnya sebagai wanita gila yang patut dikasihani atau dibenci.

"Aku butuh rencana kerja,"

kata Gisella pada dirinya sendiri. Dia berjalan menuju meja belajar di sudut kamar, mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pulpen.

Dia mulai menuliskan beberapa poin penting untuk strategi bertahan hidupnya selama 30 hari ke depan:

 1. Putus Hubungan dengan Julian: Cari bukti kelicikan Julian secara perlahan untuk memotong rantai manipulasinya sepenuhnya tanpa memicu kecurigaan.

 2. Perbaiki Hubungan dengan Keluarga:Tunjukkan sikap hormat, bantu pekerjaan rumah, dan ubah pandangan buruk Nyonya Arthur dan Valerie.

 3. Jaga Kesehatan Adrian: Manfaatkan pengetahuan dari novel bahwa Adrian menderita kelelahan kronis dan gejala awal diabetes karena kebiasaan mengonsumsi makanan manis saat stres bekerja.

 4. Mandiri Finansial: Cari peluang kerja lepas atau gunakan kemampuan bahasa asing (Gisella dari dunia modern menguasai bahasa Prancis dan analisis data) untuk mengumpulkan modal sebelum keluar dari rumah ini.

Gisella menatap daftar itu dengan senyuman puas.

"Bagus. Mulai besok, operasi mengubah takdir tragis sang figuran resmi dimulai."

Gisella melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam.

Perutnya tiba-tiba berbunyi dengan nyaring, mengingatkannya bahwa tubuh ini belum makan apa pun sejak pingsan kemarin.

Mengingat para pelayan di rumah ini biasanya sangat segan memasak untuk Gisella asli karena sifatnya yang suka melempar piring jika makanannya tidak sesuai selera, Gisella memutuskan untuk turun ke dapur sendirian.

Dia membuka pintu kamarnya perlahan, memastikan koridor sudah sepi, lalu melangkah turun menuju lantai satu dengan mengendap-endap.

Detak jantungnya berpacu sedikit lebih cepat saat dia mendekati area dapur bersih yang luas dengan peralatan memasak berbasis stainless steel yang berkilau.

Namun, langkah kaki Gisella mendadak terhenti tepat di ambang pintu dapur.

 Di sana, di dekat meja konter marmer, Adrian sedang berdiri membelakanginya, memegang sebuah cangkir kopi panas di satu tangan dan sebuah stoples berisi kue kering manis di tangan lainnya.

Pria itu tampak bersiap untuk mengonsumsi tumpukan gula itu sebagai asupan energi untuk kerja lemburnya malam ini.

Gisella teringat salah satu detail di bab pertengahan novel asli: Adrian Arthur didiagnosis menderita diabetes di usia muda karena pola makan yang buruk selama fase riset intensifnya.

Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting penyelamatan karakter yang kuat, Gisella langsung melangkah masuk ke dalam dapur dan berseru dengan suara tegas,

"Hentikan, Adrian! Jangan makan kue itu lagi!"

Adrian tersentak.

 Dia membalikkan badannya dengan cepat, menatap Gisella yang tiba-tiba muncul di dapurnya dengan tatapan tajam dan penuh kebingungan.

Kue kering di tangannya menggantung di udara, menciptakan keheningan yang canggung di antara mereka berdua.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!