Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Masih di teror
Aura menarik nafas panjang ketika tadi dia mendengar perdebatan antara kedua kakak dia, sebagai adik yang jarang mendapat kesempatan untuk berbicara maka gadis ini memilih untuk tetap diam tanpa berpihak ke mana saja karena dia juga tidak berani untuk banyak berbicara kepada Dina yang saat ini telah banyak berubah karena sesuatu hal di masa lalu.
Menetes air mata gadis ini karena dia tidak pernah mendapat kebahagiaan secara utuh untuk membangun keluarga yang terasa begitu hambar sekali, sejak dulu hingga sampai saat ini Dina terus menjauh dari mereka terutama ketika orang tua mereka meninggal dunia dan sekarang justru terasa semakin jauh saja.
Tadi Vera juga langsung pergi begitu saja meninggalkan rumah Dina setelah Susanto memberikan ucapan pedas kepada Matteo, meski Aura adalah gadis bungsu dalam keluarga ini namun tetap saja dia bisa merasakan mana yang salah dan mana yang benar ketika ada sebuah masalah seperti ini di dalam keluarga mereka yang mulai terpecah belah.
Bukan karena ingin terus membela Vera tapi ucapan Susanto memang terkesan kurang ajar kepada saudara yang lebih tua, biar bagaimana juga Mateo adalah suami dari Vera itu sendiri dan Vera adalah anak pertama sehingga wajar bila mereka harus menuruti sopan santun yang telah terbangun selama ini kepada keluarga yang lebih tua ini.
Grooook.
''Siapa yang mengorok sehingga sampai terdengar di kamar ini?'' Aura kaget ketika mendengar suara orang seperti sedang mengorok itu.
Groooook.
''Siapa sih? bukan tidak mungkin juga kalau ini adalah suara setan!'' batin Aura sudah mulai tidak beres.
Grooook.
''Hiks, hiks.''
''Orang menangis? Siapa yang menangis di tengah malam seperti ini!'' Aura turun dari ranjang untuk mencari sumber suara itu.
Malah dia kepikiran bahwa mungkin saja yang sedang menangis itu adalah Dina, dengan tekad penuh gadis ini segera keluar dari kamar untuk melihat apa memang Dina yang sedang menangis dan dia ingin berbicara dengan kakak keduanya itu tentang masalah yang telah terjadi di dalam keluarga mereka.
''Mungkin kalau malam begini dia bisa sedikit tenang.'' batin Aura.
''Rumah kota kalau malam ternyata sepi dan sunyi seperti ini juga, Aku kira hanya di desa kalau malam terasa begitu sunyi sekali.'' Aura Berkata sambil menetap sekitar ruangan rumah milik Dina.
Berharap bisa segera menemukan keberadaan Dina yang sedang menangis itu, sebab sejak tadi dia mendengar seperti orang yang sedang menangis akibat merasa sedih tidak terhingga karena beban hidup yang begitu berat, jadi gadis ini berharap bahwa yang menangis itu adalah Dina sendiri dan dia ingin agar sang kakak bercerita apa yang telah terjadi.
''Kak Dina?'' Aura memanggil wanita yang sedang duduk di ruang tamu itu.
''Huhuhuuuu.''
''Aku datang untuk menemani Kakak duduk di situ ya?'' Aura masih berusaha untuk meminta izin.
''Kenapa?'' wanita itu bertanya sehingga membuat Aura kebingungan.
''Ha, Apanya yang kenapa?'' Aura bertanya balik karena dia tidak paham dengan ucapan tersebut.
''Kenapa kau tega melakukan itu kepada diriku?'' tanya Dina dengan suara serak karena terlihat dia terlalu banyak menangis.
''Apa yang sedang Kakak bicarakan ini sehingga membuat suasana semakin tidak karuan saja?'' Aura semakin mendekat karena dia memang ingin berbicara langsung kepada Dina sehingga nanti suasana bisa sedikit mencair.
Namun semakin mendekat maka Aura semakin merasakan ada sesuatu yang tidak beres kepada wanita yang sedang duduk itu, sebab dirinya merasa ada sesuatu yang menarik kaki ini untuk terus melangkah walau di dalam hati berniat untuk menghentikan langkah kaki tersebut akibat suasana yang sangat tidak bersahabat di dalam ruangan ini.
Berulang kali Aura menoleh ke belakang karena dia takut ada yang sedang mengintai dirinya saat ini namun dia tidak melihat ada yang aneh kecuali wanita yang sedang menangis itu, hingga saat ini mereka sama sekali tidak ada jarak dan tangan aura terulur untuk menyentuh pundak Dina itu.
''KAU YANG SUDAH MEMBUNUH AKU!''
''Aaaaghhh!'' Aura menjerit ketakutan melihat wajah mengerikan itu.
''Kau membunuh seluruh keluarga, kau percaya dengan orang lain!'' geram iblis tersebut.
''Bibi, tidak! kau sudah meninggal, tolong jangan ganggu aku lagi.'' Aura jatuh terjengkang.
''MATILAH KAU ANAK PEMBAWA SIAL!'' teriak iblis berwajah retak itu dan mencekik leher Aura.
Aura tidak bisa bernapas dan dia juga kalah Tenaga dari iblis ini sehingga hanya bisa pasrah dengan nafas tersendat-sendat akibat dicekik dengan kekuatan besar, air mata gadis ini jatuh meluncur karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa adik dari ibunya sendiri telah menjadi arwah gentayangan seperti ini dan terus menghantui mereka.
''INI SEMUA SALAH MU KARENA PERCAYA DENGAN ORANG LAIN, KAU MEMBUNUH AYAH MU SENDIRI!'' geram arwah Erna.
''Ibu, Kakak tolong aku sekarang.'' jerit Aura di dalam hati.
Braaaaaak.
''AAAAAHHH!'' Aura menjerit karena dia terlempar keras.
''Ya allah sakit sekali.'' Aura hanya bisa menggeliat ketika dia merasakan tulang pinggang seakan mau patah.
''Aura!'' Dina berlari menghampiri adik bungsu dia yang masih tergeletak di atas lantai.
''Hah!'' Aura yang tidak percaya bahwa itu adalah Dina asli segera menjauh dan beringsut karena dia takut kalau itu tadi hanya arwah Erna saja.
''Ra?!'' Dina bingung sendiri dengan reaksi yang telah diberikan oleh Aura.
Aura juga menangis terisak-isak sehingga membuat Dina semakin kebingungan sehingga dia tidak tahu harus bagaimana untuk mengetahui apa yang telah terjadi, sebab ketika akan mendekat dan bertanya apa masalah Aura saat ini, Gadis itu menjauh seolah begitu ketakutan dengan Dina yang baru keluar dari dalam kamar.
''Ada apa?'' Dina bertanya kembali dengan lembut namun dia tidak berani untuk mendekat.
''Hiks, Hiks Pinggangku sekarang terasa sakit sekali.'' Aura berusaha untuk bangun.
''Apa yang sudah terjadi dan kenapa kau bisa jatuh seperti itu?'' Dina akhirnya mendekat untuk menolong agar Aura bisa duduk kembali.
''Bibi Erna datang untuk menghantui aku.'' Aura berkata jujur karena dia merasa percuma juga untuk berbohong.
''Ha?!'' Dina semakin tidak percaya kalau Aura juga mendapat teror dari keluarga yang sudah meninggal dunia.
''Keluarga kita semakin berantakan meski para penganut pesugihan itu sudah meninggal dunia.'' isak Aura semakin perih saja.
''Ini semua karena salah Kak Vera.'' Dina justru menyalahkan Vera sekarang.
Tentu saja Aura merasa bingung dengan sikap Dina itu ketika tadi dia berbicara langsung bahwa Ini semua adalah salah Vera, Aura sama sekali tidak menyangka kalau ucapan itu akan keluar dari mulut Dina dan beranggapan bahwa Ini semua adalah ulah dari Vera itu sendiri sehingga mereka harus mengalami teror terus-menerus.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar nya ya.