NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 – Undangan dari Akademi Aetherion

Mentari pagi menyelinap di balik tirai putih kamar Aurelia. Cahaya itu menyinari lantai kayu yang dipenuhi buku-buku sihir, pot yang berisikan tanaman kecil, dan botol-botol kaca berisi ramuan herbal buatannya sendiri.

Aurelia membuka kedua matanya perlahan, mimpi semalam masih melekat dalam benaknya, mulai dari api, sebuah jeritan yang terdengar, seorang wanita yang menangis hingga sebuah suara yang terus memintanya untuk berlari. Ia pun menghela napasnya seraya mengusap pelipisnya pelan.

“Mimpi itu datang lagi.”

Sudah bertahun-tahun mimpi itu datang dan pergi tanpa alasan, jadi tidak setiap hari Aurelia merasakannya. Anehnya, wajah orang-orang didalam mimpinya tidak bisa terlihat jelas, karena semuanya terasa kabur, seolah tertutup kabut tebal yang tak pernah bisa ia tembus sedikit pun.

Setiap kali mimpi itu datang, Aurelia selalu merasa aneh pada dirinya. Dadanya akan selalu terasa sesak dan ia merasa seakan hatinya kosong seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Tidak ingin berlarut lebih lama oleh mimpi yang menghampirinya semalam, Aurelia memutuskan untuk turun dari ranjangnya.

Di ruang makan, aroma roti panggang dan sup jamur memenuhi ruangan. Selena terlihat sedang membantu para pelayan untuk menata meja makan, Armand tengah membaca koran sihir seperti kebiasaannya, Kael terlihat sudah berpakaian lengkap dengan mantel hitam khas Ksatria Sihir Kerajaan, Lucien masih membaca buku sambil sesekali menyeruput teh miliknya, sedangkan Rowan?

“Relia!” Rowan berteriak seraya melambaikan tangannya begitu melihat Aurelia turun, dan itulah kebiasaan Rowan yang tidak pernah bisa hilang. “Ayo cepat! Rotinya hampir habis dimakan kak Kael.” Sahut Rowan lagi. Meski seakan sedang di fitnah oleh adiknya, Kael tetap memasang wajah yang datar.

“Aku baru makan satu.” Akhirnya Kael membuka suara dan membela dirinya sendiri.

“Tapi itu sudah banyak.” Balas Rowan yang hampir merebut roti dari tangan Kael, namun Kael dapat mempertahankan roti tersebut ditangannya, karena gerakan Kael lebih cepat dari gerakan Rowan.

“Kalau lapar ambil sendiri di meja.”

“Kau pelit.” Rowan merajuk dan itu membuat Aurelia tertawa kecil akibat tingkah kedua saudara laki-lakinya tersebut.

Rumah Arvendis selalu dipenuhi perdebatan kecil setiap harinya. Meski begitu, semua terasa sederhana, hangat dan membuatnya merasa benar-benar memiliki keluarga. Sedangkan Selena tersenyum ketika melihat putrinya duduk seraya memperhatikan para saudaranya.

“Tidurmu nyenyak?” Selena bertanya dengan lembut seraya menuangkan teh ke dalam cangkir putrinya, dan Aurelia tampak ragu sesaat untuk menjawab pertanyaan sang ibu.

“Lumayan.” Jawabnya dengan senyum manisnya.

“Kau mimpi buruk lagi?” Pertanyaan itu pun membuat semua orang yang berada diruang makan menoleh ke arahnya, dan Aurelia mengangguk mendapati pertanyaan tersebut.

“Iya.” Mendengar jawaban Aurelia, Lucien langsung menutup buku yang tengah dibacanya.

“Masih tentang api lagi?” Lagi-lagi Aurelia menganggukkan kepalanya.

“Aneh ya. Padahal sudah belasan tahun, tapi Aurelia masih terus bermimpi begitu.” Rowan mengusap tengkuknya tidak percaya, karena adiknya harus menerima mimpi yang sama untuk beberapa waktu.

Mendengar semua itu membuat Kael diam, namun tatapannya terlihat semakin dalam. Berbeda dengan Armand yang justru tidak menunjukkan ekspresi apapun pada saat itu. Pria itu hanya menyeruput tehnya perlahan, seolah sudah mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain.

Sarapan belum selesai dilakukan, namun suara lonceng kristal terdengar dari luar rumah keluarga Arvendis. Para pelayan disana pun saling berpandangan satu sama lain, sedangkan Selena tersenyum.

“Itu burung pos kerajaan.” Ucap Selena.

Beberapa detik kemudian, seekor elang putih raksasa terbang memasuki halaman rumah keluarga Arvendis. Di kaki burung tersebut tergantung sebuah gulungan surat yang memiliki segel emas. Seorang pelayan mengambil surat itu dan membawanya ke ruang makan.

Setelah berada didalam, pelayan tersebut menyerahkan gulungan surat itu pada Armand. Saat menerima gulungan surat itu, tatapan Armand sedikit berubah. Segel itu berbentuk sayap dan lingkaran bintang. Menurutnya, simbol itu hanya digunakan oleh satu tempat, yaitu Akademi Aetherion.

Akademi Aetherion merupakan akademi paling bergengsi di seluruh benua, karena tidak semua penyihir bisa masuk ke sana, hanya mereka yang memiliki bakat luar biasa yang bisa masuk ke dalam akademi tersebut.

Armand membuat gulungan surat itu secara perlahan dan ruangan mendadak hening kala gulungan sudah mulai terbuka, dan Rowan sudah berdiri lebih dulu karena merasa penasaran dengan isi surat tersebut.

“Isinya apa, ayah?” Rowan langsung bersuara kala Armand sudah membuka gulungan tersebut dan Lucien pun ikut menoleh secara spontan. Sedangkan Kael tetap bersikap tenang, meski sebenarnya ia diam-diam ikut menunggu dan merasa penasaran.

Armand membaca beberapa baris dalam dalam gulungan surat tersebut, lalu sebuah simpulan senyum tidak bisa ia sembunyikan, dan Selena yang berdiri di sisi Armand pun tampak terkejut membaca isinya.

“Apa ini benar?” Armand mengangguk sebagai jawaban, kemudian ia mengangkat pandangannya ke arah Aurelia.

“Selamat.” Ucapan Armand itu membuat Aurelia mengerjap bingung.

“Selamat? Untuk apa, ayah?”

“Kau diterima di Akademi Aetherion.” Sahut Armand seraya tersenyum pada putrinya. Mendengar pernyataan itu membuat sendok ditangan Aurelia jatuh mengenai piring sehingga suara dentingannya menggema di ruangan tersebut.

“A-aku?” Aurelia sungguh tidak mempercayai hal tersebut dan Armand kembali mengangguk seraya tersenyum. “Ayah bercanda?” Katanya lagi yang masih tetap tidak percaya akan hal itu.

“Ini surat resmi.” Ucap Armand dan membuat Aurelia langsung berdiri secara spontan.

“Waaaahh~” Sahut Rowan yang lebih heboh dari Aurelia.

“Aku bilang juga apa, Aurelia pasti diterima disana.” Ucap Lucien seraya tersenyum hangat. “Selamat ya,” Lucien kembali menambahkan seraya mengulurkan tangannya.

“Bagus.” Ucap Kael singkat dengan sebuah anggukkan kecil yang ia berikan. Meski singkat, Aurelia tahu bahwa itu merupakan bentuk pujian terbesar yang keluar dari mulut seorang Kael Arvendis. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa detik, karena sebelum akhirnya senyum Aurelia perlahan memudar.

“Aku… takut.” Semua orang disana kembali diam saat dua kata itu keluar dari mulut Aurelia. Sedangkan Selena langsung berjalan mendekat ke arah Aurelia dan menggenggam tangannya.

“Kenapa?”

“Aku belum pernah pergi jauh dari rumah.”

“Disana banyak penyihir hebat.”

“Aku takut tidak bisa mengikuti pelajaran.” Tidak tanggung-tanggung, Rowan yang merasakan kekhawatiran dari Aurelia itu pun langsung mendekat ke arahnya.

“Kau tenang saja, aku ada disana.” Ucap Rowan seraya menepuk pelan punggung Aurelia.

“Rowan benar. Bukankah aku juga ada disana?” Lucien tidak kalah excited dari Rowan.

“Kalau ada yang berani mengganggumu, laporkan saja padaku.” Kael menambahkan dan ikut menimbrung dengan para saudara lainnya.

Kalimat sederhana yang keluar dari ketiga saudaranya membuat Aurelia tertawa kecil. Ketiga pria itu memiliki sifat yang berbeda, namun mereka juga saling melindungi satu sama lain.

Sore harinya, seluruh keluarga berkumpul di taman belakang. Langit terlihat cerah setelah hujan semalam. Selena tampak tengah memangkas bunga mawar, Armand menikmati tehnya, sementara Aurelia duduk dibawah pohon maple besar, ia memandangi surat penerimaan akademi berulang kali, namanya benar-benar tertulis dengan jelas disana.

Aurelia Evandria.

Dibawah namanya terdapat lambang bintang berujung tujuh, simbol khas dari Akademi Aetherion. Tanpa sadar senyum kecil terlukis di bibirnya, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa heran. Setiap kali menyentuh lambang itu, ujung jarinya terasa begitu hangat, seolah ia merasakan bahwa surat itu hidup.

“Sedang apa?” Lucien yang tiba-tiba datang itu berhasil mengaburkan lamunan Aurelia. Ia pun duduk disampingnya dan Aurelia menunjukkan surat itu.

“Aku masih tidak percaya.”

“Aku juga dulu begitu.” Lucien tersenyum seraya mengusap puncak kepala Aurelia.

“Akademi itu seperti apa?” Aurelia mulai terlihat penasaran.

“Besar.” Jawab Lucien.

“Apakah menyeramkan?” Lucien menggeleng sebagai tanda jawaban. “Kalau tersesat?” Tanya Aurelia lagi dan spontan membuat tawa Lucien pecah.

“Itu bisa saja terjadi.” Aurelia pun ikut tertawa setelah mendengar jawaban Lucien. “Apa kau takut?” Tanya Lucien dan Aurelia mengangguk pelan, tawanya pun hilang.

“Aku takut mengecewakan ayah dan ibu.” Aurelia memainkan jemarinya seraya menatap kembali surat penerimaan itu. “Lagipula… aku bukan anak kandung mereka.” Tambah Aurelia dan kalimat itu membuat Lucien terdiam, lalu menoleh dan memberikannya sebuah tatapan yang sangat lembut.

“Relia, apa kau tahu kenapa ibu selalu memanggilmu anaknya?” Aurelia menggeleng, namun Lucien melemparkan sebuah senyum tipis padanya. “Karena kau memang anak mereka. Darah tidak selalu membuat seseorang menjadi keluarga. Terkadang, hati yang memilih.” Sahut Lucien.

Penuturan Lucien membuat kedua mata Aurelia berkaca-kaca, ia pun segera menundukkan kepalanya agar Lucien tidak melihatnya. Sejak kecil, ia selalu takut menjadi beban bagi keluarga Arvendis. Namun mereka tak pernah sekalipun memperlakukannya berbeda.

Ditempat lain, jauh dari kediaman Arvendis. Di sebuah menara hitam yang berdiri ditengah hutan mati, seorang pria berjubah hitam tampak tengah duduk di singgasana yang terbuat dari batu. Rambut panjangnya berwarna perak, mata merahnya menatap bola kristal yang ada dihadapannya.

Di dalam bola kristal itu terlihat bayangan seorang gadis berambut hitam—Aurelia, dan melihat Aurelia spontan membuat pria itu menyunggingkan smirknya seakan sedikit merasa puas akan sesuatu.

“Akhirnya.”

“Tuan.” Seorang wanita berjubah merah masuk dan berlutut dihadapan pria itu. “Kami sudah mencari ke seluruh wilayah utara, namun tidak ada hasil.” Sambungnya dan pria itu masih tidak mengalihkan pandangannya dari bola kristal dihadapannya.

“Kalian mencari di tempat yang salah.” Wanita itu pun langsung mengangkat kepalanya, mencoba menatap pria yang berada dihadapannya.

“Apa Anda sudah menemukannya?” Pria itu mengangguk cepat.

“Tapi biarkan dia tumbuh sedikit lagi, karena semakin besar kekuatannya, semakin mudah untuk kita mengambilnya.” Pria itu kembali mengukir senyuman, sedangkan wanita berjubah merah itu hanya menunduk patuh.

Tak lama kemudian, bola kristal itu memperlihatkan cahaya keperakan yang keluar dari tubuh Aurelia. Melihat cahaya itu, senyum pria tersebut semakin lebar.

“Sudah hampir bangkit. Setelah dua puluh tahun, pewaris Astralis akhirnya ditemukan.”

Malam kembali menyelimuti kastel Arvendis. Aurelia duduk di balkon kamarnya, angin musim gugur mulai bertiup pelan. Aurelia memainkan liontin miliknya yang selalu tergantung di lehernya. Entah kenapa, liontin itu terasa hangat sejak pagi.

“Siapa aku sebenarnya?” Tanpa sadar ia mengucapkan pertanyaan itu. Nada suaranya terdengar pelan, bahkan nyaris tidak terdengar.

Kemudian, Aurelia menatap langit hitam yang penuh dengan bintang, dan di waktu bersamaan, sebuah bintang jatuh melintas di angkasa. Cahayanya terlihat sangat terang, begitu terang hingga menerangi seluruh langit malam.

Tak ada seorang pun di kastel yang menyadari bahwa dibalik cahaya itu, seseorang tengah mengawasi Aurelia dari kejauhan. Seorang pemuda berjubah hitam berdiri di atas tebing tinggi, wajahnya tertutup bayangan. Namun matanya yang berwarna abu-abu menatap lurus ke arah kediaman Arvendis.

Tepat ditangan pria itu terdapat sebuah pita biru yang sudah usang karena dimakan waktu. Ia memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya sebuah senyuman terukir di bibirnya.

“Akhirnya aku menemukanmu.” Gumamnya.

Ditempat yang berbeda, disebuah kamar yang diterangi cahaya bulan, Aurelia perlahan memejamkan kedua matanya tanpa mengetahui bahwa roda takdir telah bergerak lebih cepat dari pada yang pernah ia bayangkan, dan pertemuan yang telah ditunggu selama empat belas tahun, kini hanya tinggal menghitung hari.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!