Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malapetaka datang tanpa peringatan
Aku langsung berjalan mengambil segelas air, lalu membawanya kepada Ayah yang sudah duduk di kursi. Aku menatapnya dengan perasaan sedih yang menyesak di dada. Ayah hanya tersenyum tipis, lalu berkata lembut:
“Jangan sedih, Nak. Ayah ini kuat, lihat saja.”
Dia berusaha terlihat santai seolah lukanya tak terasa apa-apa, tapi matanya tak bisa menyembunyikan betapa lelahnya dia. Meski begitu, aku dan Aslan tetap tak bisa menghilangkan rasa cemas itu. Di samping kami, Ibu sudah sibuk menyiapkan air hangat dan ramuan untuk membersihkan serta mengobati luka-luka di tubuh Ayah.
Malamnya, saat aku sudah berbaring di tempat tidur hendak memejamkan mata, pintu kamar terbuka pelan. Ibu masuk membawa secangkir minuman berwarna hijau yang sudah sangat kukenal.
“Minumlah dulu,” katanya lembut sambil meletakkannya di samping tempat tidur.
Aku hanya menatap cangkir itu, menarik napas panjang menahan rasa berat hati, lalu meminumnya sampai habis. Begitu selesai, aku membaringkan badan dan segera memejamkan mata.
Di ruang tamu, Ayah masih duduk termenung sendirian, pikirannya melayang jauh. Ibu datang dan duduk tepat di sampingnya. Belum sempat dia bertanya apa-apa, Ayah lebih dulu membuka suara dengan nada berat:
“Ke depannya… semuanya akan jauh lebih sulit dari yang sudah-sudah.”
Wajahnya datar, tapi tatapannya terasa kosong dan penuh beban. Ibu hanya menunduk, hatinya terasa perih mendengarnya, lalu bertanya lirih:
“Kalau begitu… apa yang harus kita lakukan?”
Ayah langsung menoleh, menatap mata istrinya dalam-dalam, lalu menggenggam tangannya erat sekali — seolah ingin menyalurkan semua kekuatan dan keyakinan yang dia miliki.
Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi aku tak perlu berangkat sekolah. Pagi itu aku menjemur pakaian yang sudah kucuci tadi pagi di tali jemuran sederhana di samping rumah. Suasana terasa sepi — Aslan pergi bermain ke desa sebelah bersama kawan-kawannya, sedangkan Ayah dan Ibu pergi ke ladang.
Baru saja aku hendak duduk bersandar di bawah pohon, mataku menangkap sosok beberapa pria tak dikenal berbadan tegap muncul dari arah jalan masuk. Semua memakai pakaian serba hitam, dan dari kejauhan saja tatapan mereka terasa menusuk, langsung tertuju padaku. Jantungku berdegup kencang, tanpa pikir panjang aku lari secepat kaki bisa melangkah. Tapi aneh, gerakan mereka begitu cepat dan ringan, tak seperti lari orang pada umumnya.
Beberapa di antaranya langsung menyerang warga yang kebetulan lewat, dan satu orang melesat ke arahku hendak menangkap. Belum sempat aku berteriak, sesosok tubuh besar tiba-tiba melompat menghadang tepat di depanku — ternyata itu Ayah. Dia mendorong tubuhku ke belakang sambil berteriak keras: “Pergi masuk ke dalam rumah!”
Aku berlari tergopoh-gopoh, sempat menoleh sebentar dan terkejut luar biasa. Baru kali ini aku melihat Ayah bergerak secepat itu, menangkis serangan dengan gerakan yang terlatih dan teratur. Beberapa warga desa juga datang membantu melawan, tapi jumlah orang berbaju hitam itu makin banyak saja.
Tak lama kemudian Ibu tiba sambil menarik lengan Aslan yang masih terengah, segera mendorong adikku masuk ke dalam rumah. Ibu berteriak panik memanggil namaku: “Zara! Zara di mana?”
“Aku di sini, Bu!” jawabku sambil keluar dari sudut dapur, wajah pucat dan tubuh masih gemetar ketakutan.
Ibu segera memeriksa seluruh tubuhku dengan cepat, memastikan tak ada luka sedikit pun. “Tunggu di sini, jangan ke mana-mana,” katanya singkat. Dia berbalik, masuk sebentar ke dalam dapur, lalu keluar kembali sambil membawa sesuatu yang terbalut kain usang di tangannya.
Ibu membuka sedikit kain itu — terlihat sebuah botol kaca berbentuk persegi agak membulat, permukaannya terukir pola rumit yang terlihat sudah berumur sangat lama. Tutupnya dari logam berukir timbul, agak kusam tapi masih memantulkan cahaya redup. Di dalamnya ada bubuk pekat berwarna hitam legam, gelap seperti malam tanpa bintang, sedikit tembus cahaya namun tetap terasa gelap dan menyimpan rahasia. Bagian lehernya juga dihias ukiran logam serasi, membuat benda itu terlihat antik, penuh rahasia, dan jelas menyimpan sesuatu yang tak biasa.
Selain botol itu, di tangannya juga tergenggam segenggam tanaman obat segar yang baru saja dipetik dari pinggir pekarangan. Ibu masuk sebentar ke kamar, tak lama keluar lagi sambil menggenggam kantung kain kecil berisi uang. Dan di telapak tangan kirinya, aku melihat tergenggam erat sebuah benda lain yang terbalut kain tipis.
Ibu perlahan membuka kain pembungkusnya — ternyata itu sebuah belati tajam. Bilahnya panjang dan mengilap, dengan ukiran halus yang memanjang di sepanjang sisi besinya. Gagang dan sarungnya dihias ukiran logam rumit, terasa kokoh, berat, dan jelas bukan benda sembarangan.
Dia langsung menyodorkan semuanya ke tanganku. Aku terbelalak, bingung dan tak mengerti apa yang terjadi, aku hanya bisa menerimanya karena Ibu mendesakku. Aku menatap wajahnya yang berusaha tersenyum, tapi senyum itu terasa sangat dipaksakan.
“Zara, ambil dan bawa semuanya. Pergilah sejauh mungkin. Kalau ada yang menyerang, gunakan belati ini. Ingat baik-baik, jaga benda ini. Dan untuk botol itu — ambil sedikit saja, sejumput bubuknya, lalu kau harus meminumnya setiap hari,” ucapnya tegas.
Aku menatapnya tak percaya, lalu menggeleng keras sementara air mata mulai menetes deras: “Tidak, Bu… aku tak mau…”
Wajah Ibu perlahan berubah jadi serius, matanya yang tadinya berkaca-kaca kini menatap tajam, suaranya sedikit meninggi namun tetap lembut dan tak bisa dibantah: “Zara, kau harus mengerti. Ini demi keselamatanmu dan adikmu. Kalian harus pergi, dengarkan perkataan Ibu. Bawa Aslan menjauh dari sini, jangan pernah kembali lagi. Rahasiakan siapa dirimu dan asal usulmu. Minum ramuan itu setiap hari — kalau tanaman obat ini habis, kau bisa menanamnya kembali, kau bisa meraciknya sendiri nanti. Dan ingat satu hal yang paling penting: jangan percaya pada siapa pun, jangan ceritakan apa pun soal dirimu ke orang lain. Kau harus berjanji, Zara.”
Aku hanya mengangguk sambil menangis, menggenggam tangan Ibu yang perlahan mulai bergetar. Ibu bangkit berdiri, lalu menuntun aku dan Aslan keluar rumah. Begitu melangkah ke luar, jantungku terasa seakan mau copot — desa kami sudah berubah menjadi lautan api, asap hitam mengepul tinggi ke mana-mana. Beberapa warga tergeletak diam di tanah, sementara yang lain masih berusaha lari terbirit-birit.
Belum sempat kami melangkah jauh, seorang wanita tua yang selama ini paling membenci kami tiba-tiba menghadang, wajahnya merah padam menahan amarah. Dia melangkah mendekat sambil berteriak histeris: “Ini semua gara-gara dia! Anak pembawa sial inilah yang membawa malapetaka ke desa kita! Kenapa kau melahirkan makhluk sejenis iblis seperti dia?! Biar kubunuh dia sekarang juga!”
Dia tiba-tiba menerjang sambil mengacungkan pisau. Ibu berusaha menangkis sekuat tenaga, tapi sayang ujung pisaunya tetap melukai lengan Aslan. Darah segar langsung mengalir dan membasahi seluruh lengan baju adikku. Tanpa ragu, Ibu menendang keras tubuh wanita itu sampai terjatuh, lalu segera menarik kami terus berlari masuk ke dalam lebatnya hutan, menuju jalan raya yang biasa dilalui kendaraan umum.
Namun dari arah belakang, dua orang berbaju hitam sudah mengejar dan makin mendekat. Ibu mendorong kami ke depan sambil berhenti sejenak untuk menghadang mereka. “LARI! LARI SEKARANG!” teriaknya sekuat tenaga.
Aku masih menangis karena ketakutan, begitu juga dengan Aslan — wajahnya pucat dan matanya penuh air mata. Tapi sebagai kakak, aku mengeratkan genggamanku di tangannya, meski rasanya berat sekali melewati semak-semak yang tajam. Kami terus melangkah sekuat tenaga, sampai tanpa sadar kaki kami tergelincir, dan kami jatuh terjerembab ke dalam sebuah jurang yang cukup dalam.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya aku perlahan tersadar. Cahaya matahari menyelinap turun lewat celah dedaunan di atas. Perlahan aku mencoba bangkit, seluruh tubuhku terasa ngilu dan sakit luar biasa, seolah habis dipukuli habis-habisan. Aku menengadah melihat tebing yang tinggi menjulang di atasku, lalu langsung teringat pada Aslan. Dengan suara yang parau dan lemah aku memanggil:
“Aslan… Aslan, kau di mana? Jawab kakak…”