NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5: Metode Unik Viona: Ksatria Anjing Golden Retriever

Pengesahan dokumen pernikahan di Biro Urusan Sipil pagi itu berlangsung sepi, cepat, dan sepenuhnya formal.

Tidak ada gaun putih mewah, tidak ada janji suci di depan altar, dan tidak ada kilatan kamera wartawan.

Hanya ada goresan pena hitam di atas kertas segel negara, cap resmi, dan sepasang buku nikah merah yang langsung disimpan di dalam tas kerja Pak Pelayan.

Detik itu juga, Viona resmi menyandang nama keluarga Oliver di belakang namanya.

Namun, bagi Viona, identitas barunya sebagai istri sang miliarder tidak mengubah apa pun.

Prioritas utamanya tetap berada di lantai dua mansion, menjaga jiwa kecil yang baru saja mulai membuka diri.

Setelah kembali dari Biro Urusan Sipil, Oliver langsung berangkat kembali ke kantor pusat untuk menyelesaikan sisa pembersihan terhadap bisnis keluarga Lin.

Viona pun memiliki waktu penuh di mansion untuk mulai menyusun rencana pemulihan Yoyo.

Siang itu, matahari bersinar cerah setelah badai mereda.

Viona berdiri di balkon lantai dua, memandang ke arah halaman belakang mansion yang sangat luas.

Taman itu memiliki rumput jepang yang terpangkas sempurna, labirin tanaman hias, dan air mancur marmer yang megah.

Namun, taman seindah itu kosong melongpong.

Tidak ada mainan anak-anak, tidak ada perosotan, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Tempat itu lebih mirip dengan area pameran arsitektur daripada rumah yang dihuni oleh anak berusia lima tahun.

"Nona Viona,"

Pak Pelayan mendekat membawa secangkir teh kamomil hangat untuk Viona.

"Apakah Anda sedang memikirkan menu makan siang untuk Nona Kecil?"

Viona menerima cangkir teh itu sambil tersenyum tipis.

"Bukan, Pak Pelayan. Saya sedang memikirkan cara untuk membawa Yoyo keluar dari kamarnya. Makanan adalah langkah pertama, tetapi membiarkannya terus mengurung diri di dalam ruangan tertutup dengan memori buruknya akan memperlambat penyembuhan traumanya."

Pak Pelayan menghela napas panjang, gurat penyesalan tampak di wajah tuanya.

"Tuan Besar sudah mencoba segala cara. Beliau bahkan pernah menyewa seluruh badut dari taman hiburan kota untuk tampil di taman belakang, tetapi Nona Kecil justru histeris dan melempar mereka dengan pot bunga.

Sejak kecelakaan dua tahun lalu yang merenggut nyawa Ibunya, Nona Kecil sangat takut pada keramaian dan orang asing. Beliau merasa dunia di luar kamarnya penuh dengan bahaya."

"Badut terlalu berisik dan agresif untuk anak yang mengalami trauma," ujar Viona tenang.

"Mereka memaksa anak untuk tertawa ketika hatinya sedang menangis.

Yoyo tidak butuh hiburan yang dipaksakan.

Dia butuh pelindung yang tidak menghakimi, sesuatu yang bisa memberikan rasa aman tanpa perlu banyak bicara."

Viona meminum tehnya sedikit, lalu menoleh ke arah Pak Pelayan dengan mata yang berbinar penuh sebuah ide.

"Pak Pelayan, apakah di sekitar sini ada tempat penangkaran atau penyelamatan hewan? Khususnya anjing?"

Pak Pelayan agak terkejut dengan pertanyaan yang tidak biasa itu.

"Ada, Nona. Salah satu anak perusahaan Oliver Group mendanai suaka hewan terlantar di pinggiran kota. Kebetulan, kemarin mereka baru saja menyelamatkan seekor anjing Golden Retriever dewasa yang ditinggalkan pemilik lamanya. Mengapa Anda menanyakannya?"

"Tolong minta mereka mengantarkan anjing itu ke sini. Sekarang juga," ujar Viona dengan nada penuh keyakinan.

"Tapi pastikan anjing itu berkarakter sangat tenang, penyabar, dan sudah terlatih untuk tidak menggonggong sembarangan."

Meskipun bingung dengan metode unik yang akan diterapkan oleh sang nyonya kontrak baru, Pak Pelayan tidak berani membantah.

Bagaimanapun, Viona adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat Nona Kecil mereka menghabiskan dua porsi makanan berturut-turut.

Pria paruh baya itu segera menghubungi pihak suaka hewan.

Dua jam kemudian, sebuah mobil van khusus dari suaka hewan tiba di halaman belakang mansion.

Seorang petugas keluar sambil menuntun seekor anjing Golden Retriever bertubuh besar dengan bulu berwarna emas yang lebat dan bersih.

Anjing itu memiliki sepasang mata cokelat yang sangat teduh, bergerak dengan langkah yang lambat dan tenang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda agresif meskipun berada di lingkungan baru yang asing.

"Namanya Goldie,"

jelas petugas suaka kepada Viona.

"Dia berusia empat tahun. Pemilik lamanya bangkrut dan membuangnya di jalanan, tetapi Goldie memiliki sifat yang luar biasa penyabar.

Dia dilatih sebagai anjing terapi sebelum pemiliknya membuangnya. Dia hampir tidak pernah menggonggong kecuali dalam keadaan sangat darurat."

"Dia sempurna,"

bisik Viona sambil berlutut dan membiarkan Goldie mengendus telapak tangannya.

Anjing itu kemudian menjulurkan lidahnya, menjilat lembut jari Viona, lalu menyandarkan kepala besarnya di lutut wanita itu.

Kehangatan dan ketenangan yang dipancarkan oleh hewan itu membuat Viona semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.

Viona meminta petugas dan para pelayan lainnya untuk masuk ke dalam rumah dan menutup tirai jendela bawah, menyisakan halaman belakang yang sepi hanya untuknya, Goldie, dan target utama mereka di lantai dua.

Viona berjalan ke arah gudang penyimpanan mainan lama di dekat garasi.

Setelah mencari-cari selama beberapa menit, ia menemukan sebuah kardus besar berisi mainan-mainan yang sudah berdebu.

Dari dalam kardus, ia mengambil sebuah helm mainan plastik berwarna perak ala ksatria abad pertengahan dan sebuah pedang busa mainan yang sudah agak pudar warnanya.

Ia memakaikan helm ksatria mainan itu ke kepala Goldie.

Bentuk helm yang agak kebesaran itu membuat Goldie terlihat sangat menggemaskan sekaligus gagah, seolah-olah ia adalah seorang pelindung kerajaan yang siap menjalankan misi suci.

Goldie sama sekali tidak berontak;

anjing pintar itu justru duduk tegak dengan dada membusung, seolah tahu bahwa ia sedang mengemban tugas penting.

Viona tersenyum puas. Ia mengambil pedang busa mainan tersebut, lalu berjalan ke area taman belakang yang posisinya tepat berada di bawah jendela kamar Yoyo.

Viona menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berakting.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat heboh dan dramatis, ia mengayunkan pedang busanya ke udara kosong.

"Hai, Ksatria Emas! Benteng ini sedang dikepung oleh monster bayangan yang tak terlihat!"

seru Viona dengan suara yang cukup lantang agar terdengar hingga ke lantai dua.

"Kita harus menjaga gerbang ini agar sang Putri di atas sana tetap aman!"

Goldie, seolah memahami sandiwara itu, menegakkan telinganya.

Anjing itu berdiri, berjalan mendekati Viona, lalu duduk dengan anggun di sampingnya, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan waspada yang dibuat-buat.

Di lantai dua, tirai jendela kamar Yoyo perlahan bergerak.

Celah kecil terbuka, dan sebuah wajah bulat dengan mata besar mengintip ke bawah.

Yoyo memperhatikan pemandangan aneh di taman dengan alis berkerut.

Biasanya, orang-orang dewasa di rumah ini selalu bersikap kaku, formal, atau menangis membujuknya.

Namun, Bibi Viona yang baru ia kenal sejak kemarin justru sedang bermain perang-perangan di atas rumput bersama seekor monster berbulu emas yang memakai helm plastik.

"Serangan dari kiri!"

Viona kembali berseru, menjatuhkan dirinya secara dramatis ke atas rumput seolah-olah baru saja terpukul oleh musuh tak terlihat.

"Aduh! Ksatria Emas, aku membutuhkan bantuanmu! Monster-monster ini terlalu kuat untukku sendiri!"

Melihat Bibi Viona "terluka" dan jatuh di atas rumput, rasa cemas dan penasaran Yoyo seketika mengalahkan ketakutannya.

Pintu balkon kamarnya yang selalu terkunci rapat selama berbulan-bulan perlahan didorong terbuka.

Gadis kecil itu melangkah keluar ke area balkon lantai dua, mencengkeram pagar besi sambil berseru ke bawah dengan suara kekanak-kanakannya yang cemas.

"Bibi Viona! Apa yang sedang Bibi lakukan? Siapa monster itu?"

Viona menoleh ke atas dengan pura-pura terkejut, wajahnya mengekspresikan rasa lega yang luar biasa.

"Putri Yoyo! Syukurlah Anda baik-baik saja! Ini bukan monster jahat, ini adalah Ksatria Emas dari Kerajaan Retriever! Dia diutus ke sini untuk menjadi pengawal pribadi Anda!"

Viona berdiri, menepuk-nepuk rumput dari roknya, lalu menunjuk ke arah Goldie.

Goldie yang pintar langsung mendongakkan kepalanya ke arah balkon, menatap Yoyo dengan sepasang mata cokelatnya yang teduh, lalu mengibas-ngibaskan ekor tebalnya dengan perlahan, memberikan getaran kehangatan yang instan.

"Ksatria Emas?"

gumam Yoyo, matanya terpaku pada sosok Goldie yang mengenakan helm perak miring.

Rasa takutnya terhadap dunia luar perlahan-lahan mencair, tergantikan oleh rasa gemas yang teramat sangat.

 Anak-anak memiliki radar alami untuk mengenali ketulusan, dan Yoyo bisa merasakan bahwa makhluk berbulu di bawah sana sama sekali tidak berniat menyakitinya.

"Iya! Tapi Ksatria Emas tidak bisa naik ke atas karena kakinya terlalu pendek untuk tangga marmer yang licin," bohong Viona dengan ekspresi serius.

"Dia bilang, dia ingin memberikan penghormatan langsung kepada Putri Yoyo, tetapi dia hanya bisa melakukannya jika sang Putri mau turun ke taman. Apakah Putri Yoyo berani turun dan menerima sumpah setianya?"

Yoyo terdiam di atas balkon.

Ia melihat ke arah pintu kamarnya yang gelap, lalu kembali melihat ke arah taman belakang yang dipenuhi sinar matahari sore yang hangat.

Di sana, ada Bibi Viona yang menatapnya dengan senyum protektif, dan seekor anjing besar yang tampak sangat menantikannya.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kaki kecil Yoyo melangkah keluar dari area amannya. Ia berbalik, berlari kecil memasuki kamarnya, membuka pintu depan, dan berjalan menuruni tangga marmer utama dengan langkah tergesa-gesa.

Pak Pelayan yang menyaksikan kejadian itu dari balik pilar ruang tamu utama hampir saja meneteskan air mata.

Nona Kecil mereka... akhirnya mau turun ke lantai bawah atas kemauannya sendiri tanpa paksaan atau tangisan.

Begitu pintu kaca menuju taman belakang digeser terbuka oleh Pak Pelayan, Yoyo langsung berlari kecil menghampiri Viona.

Langkahnya sempat melambat dan ragu saat jaraknya tinggal beberapa meter dari Goldie.

Tubuh besar anjing itu sempat membuatnya sedikit ciut.

"Jangan takut, Putri Yoyo,"

bisik Viona, berlutut di samping Yoyo dan menggandeng tangan kecilnya yang hangat.

"Ksatria Emas, berikan salammu pada sang Putri."

Viona memberikan isyarat tangan yang sebelumnya diajarkan oleh petugas suaka.

Goldie perlahan merebahkan tubuh besarnya di atas rumput, meletakkan kedua kaki depannya secara lurus, lalu menundukkan kepala besarnya hingga helm plastiknya menyentuh tanah—sebuah gerakan membungkuk hormat yang sempurna layaknya seorang ksatria sejati.

Yoyo terpekik kecil, sebuah tawa riang yang sangat murni akhirnya keluar dari bibir mungilnya setelah sekian lama terkunci dalam kepedihan.

Ia melepaskan gandengan tangan Viona, melangkah maju satu langkah, lalu dengan ragu mengulurkan tangan kecilnya untuk menyentuh kepala Goldie.

Begitu jemarinya merasakan kelembutan bulu emas Goldie, anjing itu mengangkat kepalanya perlahan dan memberikan jilatan lembut di punggung tangan Yoyo.

Rasa geli dari jilatan itu membuat Yoyo tertawa semakin keras.

Gadis kecil itu langsung menjatuhkan dirinya, memeluk leher tebal Goldie dengan erat, membenamkan wajahnya di bulu hangat anjing tersebut.

"Ksatria Emas... harum sekali. Rasanya hangat," bisik Yoyo di sela-sela pelukannya.

Viona yang menyaksikan pemandangan itu merasakan matanya mendadak panas karena haru.

Metode uniknya berhasil. Jiwa kecil Yoyo yang selama ini menolak dunia luar karena menganggapnya berbahaya, kini telah menemukan jangkar pelindung baru dalam diri seekor anjing terapi.

Tepat pada saat itu, dari arah koridor dalam mansion, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat.

Pintu kaca kembali digeser terbuka, dan Oliver melangkah keluar ke taman belakang.

Sang CEO baru saja kembali dari kantornya, berniat memeriksa keadaan rumah setelah proses pendaftaran pernikahan mereka selesai.

Namun, pemandangan yang menyambutnya di taman belakang seketika membuat langkah kaki Oliver terhenti.

Di bawah siraman cahaya matahari sore yang keemasan, putrinya—yang selama dua tahun terakhir menolak keluar kamar dan membenci dunia luar—kini sedang berguling-guling riang di atas rumput bersama seekor anjing Golden Retriever besar berhelm plastik.

Dan di samping mereka, Viona berdiri dengan senyuman paling tulus dan paling indah yang pernah Oliver lihat, dengan pedang busa mainan yang masih digenggamnya.

Atmosfer taman yang biasanya sunyi dan beku kini dipenuhi oleh suara tawa renyah Yoyo dan gonggongan rendah Goldie yang bahagia.

Oliver mematung di ambang pintu, kebekuan di wajahnya runtuh sepenuhnya, menyisakan ekspresi terkejut yang mendalam sekaligus rasa lega yang tak terlukiskan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di lubuk hatinya yang paling dalam.

Tatapan mata elangnya beralih dari putrinya yang tertawa menuju wajah Viona yang bercahaya di bawah sinar matahari.

Detik itu juga, di taman belakang yang hangat itu, sang tirani dingin menyadari bahwa wanita berjiwa rapuh yang ia sewa dengan status kontrak ini... ternyata membawa keajaiban terbesar yang pernah masuk ke dalam hidupnya dan putrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!