NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Reno mengernyit.

"Kamu rajin ikut kajian, hafal banyak dalil, cara bicaramu selalu membawa-bawa agama. Aku pikir, perempuan yang menikah dengan laki-laki sepertimu akan hidup tenang." Nadia tertawa lirih. Tawanya terdengar begitu getir. "Tapi ternyata..." Ia menggeleng pelan sambil tersenyum mengejek. "Yang kamu pelajari hanya dalil yang menguntungkanmu."

Wajah Reno langsung mengeras. "Nadia!"

"Kamu bicara soal poligami, tapi lupa bagaimana Islam mengajarkan amanah, kejujuran, dan menjaga kehormatan istri. Kamu sembunyikan perselingkuhanmu, menghamili perempuan lain, lalu ketika semuanya terbongkar, kamu menyebutnya sebagai jalan untuk beribadah."

Ruangan kembali sunyi. Tidak ada satu pun anggota keluarga Reno yang berani memotong ucapan Nadia.

"Bahkan hari ini..." Nadia melirik Karin sekilas. "Kamu masih ingin terlihat sebagai laki-laki bertanggung jawab, padahal yang sebenarnya kamu lakukan hanyalah memaksa orang lain menerima akibat dari kesalahanmu."

Reno mengepalkan kedua tangannya. "Cukup!"

"Kenapa? Sakit mendengarnya?" Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya sejak Nadia datang, Reno tidak mampu langsung membalas ucapan istrinya. Nadia tahu, setelah malam ini mungkin hidupnya akan jauh lebih sulit. Ia akan menjadi janda tanpa pekerjaan tetap, membesarkan anak seorang diri, sementara laki-laki yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga berdiri di hadapannya dengan penuh kesombongan. Namun entah mengapa, melihat wajah Reno yang mulai kehilangan kata-kata membuat sesak di dadanya sedikit berkurang. Hari ini hatinya memang hancur berkeping-keping. Tetapi setidaknya, untuk sekali ini, ia berhasil membuat Reno merasakan perih yang sama meski hanya sedikit. Dan itu sudah cukup menjadi pengingat bahwa tidak semua luka harus dibalas dengan air mata. Ada kalanya, kebenaran yang diucapkan di waktu yang tepat jauh lebih menyakitkan daripada seribu makian.

Ia menarik napas panjang, lalu menatap seluruh penghuni ruang tamu itu bergantian. "Baiklah," ucapnya tenang. "Sebelum aku pergi, izinkan aku memberi dua nasihat." Semua mata tertuju kepadanya.

"Nasihat?" Reno mencibir. "Sekarang kamu mau menggurui kami?"

Nadia tersenyum tipis. "Nggak. Aku cuma menyampaikan sesuatu yang mungkin belum kalian pikirkan." Ia memandang Reno terlebih dahulu. "Pertama." Nadia berhenti sejenak. "Kalian belum menikah, kan?" Tidak ada yang menjawab. "Tapi perempuan itu sudah hamil." Karin refleks memegang perutnya. "Kalau nanti bayi yang lahir perempuan jangan jadi wali nikahnya ya." Nadia menatap Reno tanpa berkedip. "Setahuku, nasab anak hasil zina tidak dinisbatkan kepada laki-laki yang menghamili, melainkan kepada ibunya. Jadi sebelum sibuk mencari pembenaran atas perselingkuhanmu dengan membawa-bawa agama, mungkin kamu perlu belajar lagi tentang konsekuensi dari perbuatanmu."

Raut wajah Reno berubah seketika. Ibu mertuanya tampak gelisah. Sementara kakak iparnya yang sejak tadi paling banyak bicara mendadak terdiam.

Nadia tidak memberi kesempatan siapa pun menyela. "Kedua." Ia menoleh kepada Karin. "Mbak... siapa tadi namanya?"

"Ka ... Karin," jawab perempuan itu lirih.

"Oh, iya. Karin." Nadia mengangguk pelan. "Sebenarnya aku nggak terlalu peduli siapa kamu. Tapi sebagai sesama perempuan, aku cuma mau kasih satu peringatan." Karin menelan ludah. "Laki-laki yang sudah pernah berselingkuh itu seperti penyakit kambuhan."

Reno langsung memotong, "Nadia, jaga ucapanmu!"

Namun Nadia mengabaikannya. "Hari ini dia meninggalkan istrinya demi kamu. Besok, bukan tidak mungkin dia meninggalkan kamu demi perempuan lain." Karin memucat. "Semoga saja kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan hari ini dan berdoalah aku nggak mendoakan kalian yang buruk-buruk sebab doa orang terzalimi, apalagi istri yang diselingkuhi, cepat diijabah Allah!" Suasana menjadi begitu sunyi hingga suara hujan di luar kembali terdengar jelas. "Oh ya..." Nadia tersenyum tipis. "Kalau boleh memberi saran lagi, tetaplah bekerja." Karin mengernyit bingung. "Soalnya..." tatapan Nadia beralih kepada ibu mertua dan ipar-iparnya. "Dari tadi yang paling sering mereka banggakan dari kamu bukan akhlakmu, bukan juga hubunganmu dengan Reno." Ia berhenti sejenak. "Yang mereka banggakan adalah usahamu, relasimu, dan uangmu."

Tidak seorang pun mampu membantah. Senyum di wajah ibu mertua perlahan memudar. Kakak iparnya menundukkan kepala. Bahkan Reno terlihat kehilangan kata-kata.

Nadia mengangguk pelan, merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. "Sudah dulu, ya." Ia menggenggam tangan Kian. "Assalamu'alaikum." Tanpa menunggu jawaban, Nadia berbalik dan melangkah menuju pintu. Kian menoleh sebentar ke arah ayahnya, lalu kembali menggenggam tangan ibunya lebih erat. Pintu rumah itu tertutup pelan di belakang mereka. Begitu sampai di halaman, Nadia mengangkat wajah menatap langit yang masih diguyur hujan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Hatinya memang hancur. Rumah tangganya telah berakhir. Namun setidaknya malam ini, untuk pertama kalinya, ia pergi tanpa merasa kalah. Ia meninggalkan rumah itu dengan kepala tegak, sementara orang-orang yang tadi begitu lantang menghakiminya hanya mampu saling berpandangan dalam kebungkaman.

***

Mobil yang dikemudikan Nadia melaju meninggalkan rumah mertuanya tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Gerbang perumahan perlahan menjauh di kaca spion, bersama semua kenangan yang selama bertahun-tahun ia perjuangkan mati-matian. Kedua tangannya menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pandangannya mulai kabur, bukan karena hujan yang membasahi kaca depan, melainkan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya.

Begitu keluar dari kawasan perumahan, Nadia menepikan mobil di bawah sebatang pohon yang rindang. Mesin dimatikan. Suara hujan yang menghantam atap mobil langsung memenuhi keheningan. Dadanya naik turun, napasnya memburu. Rasanya baru sekarang semua tenaga yang ia gunakan untuk berdiri tegar di hadapan Reno dan keluarganya benar-benar habis.

Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tidak. Ia tidak boleh menangis. Bukan di depan Kian. Mulai hari ini, tidak ada lagi bahu suami yang bisa ia andalkan. Ia harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi putranya. Kalau dirinya runtuh sekarang, kepada siapa Kian akan bersandar? Nadia menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menelan sesak yang memenuhi dadanya. Namun tangan yang sejak tadi mencengkeram setir tak berhenti gemetar.

Tiba-tiba sebuah tangan kecil menyentuh punggung tangannya. "Bu..." Suara Kian terdengar sangat pelan.

Nadia menoleh. Putranya yang baru tujuh tahun itu sedang menatapnya dengan mata yang memerah. Entah sejak kapan anak itu ikut menahan tangis.

"Ibu pasti sedih, ya?"

Nadia buru-buru menggeleng sambil memaksakan senyum. "Nggak kok. Ibu kuat."

Kian mengerucutkan bibirnya. Ia menggeleng pelan, seolah tahu ibunya sedang berbohong. "Nggak apa-apa kalau ibu mau nangis." Kalimat sederhana itu langsung meruntuhkan benteng yang sejak tadi Nadia bangun. "Kian akan pura-pura nggak lihat." Air mata Nadia akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Ibu nggak usah kuat terus."

Kian melepaskan sabuk pengamannya, lalu merangkak mendekati kursi pengemudi. Dengan kedua tangan kecilnya, ia memeluk lengan ibunya sekuat yang ia bisa. "Kian akan menggantikan Ayah menjaga Ibu."

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!