NovelToon NovelToon
The Sarcastic Survival Log

The Sarcastic Survival Log

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Isekai / Survival
Popularitas:181
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.

Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Tembakan Penyelamat dan Tarif Komisi Penyelamatan Darurat

TAK! TAK! TAK!

​Tiga peluru jamur batu keras melesat beruntun berkat peningkatan kecepatan tangan 40% dari [Gelar: Manajer Grosir Sachet]. Peluru-peluru itu tidak diarahkan ke kulit tebal babi hutan yang dilapisi duri besi, melainkan meluncur akurat menghantam lubang hidung sensitif ketiga binatang tersebut.

​"NGGHEEEEEEK?!"

​Ketiga babi hutan Level 12 itu mendadak mengerem masif hingga moncong mereka mencium tanah. Rasa sakit yang luar biasa dari jamur batu yang menyumbat saluran pernapasan membuat mereka guling-guling histeris di atas rumput, melupakan niat mereka untuk mencabik-cabik ketiga petualang lokal.

​Ding!

​[Efek Tembakan Presisi Berhasil]: 3x Babi Hutan Berduri Besi terkena status [Trauma Hidung Akut]. Tingkat pertahanan fisik mereka turun sebesar 50%.

​"Kalian berdua, serang sekarang selagi mereka lengah!" teriah Raditya lantang sembari melesat maju, tangan kanannya mencabut Belati Taring Serigala Bayangan dari paha kanan.

​Dua petualang pria yang tadinya sudah pasrah mati langsung tersadar dari syok. Melihat musuh mereka terkapar pening, keduanya menggeram kompak dan menghantamkan pedang usang mereka ke leher babi hutan terdekat yang sudah tak terlindungi energi besi.

​CRASH! CRASH!

​Sementara itu, Raditya melompat ke atas punggung babi hutan terbesar. Dengan insting bertarung yang makin terlatih, dia menghunjamkan Belati Taring miliknya tepat ke sela-sela tengkorak kepala monster itu. Bilah obsidian hitam membelah tulang sekeras baja itu seperti memotong mentega hangat.

​"NGGHEEEEE—"

​Babi hutan raksasa itu ambruk seketika, tewas menjadi tumpukan poin digital. Babi hutan ketiga yang melihat kedua temannya tewas mengenaskan langsung membalikkan badan dan kabur terbirit-birit menembus semak belukar dengan ekor melingkar ketakutan.

​Ding!

​[Pertempuran Selesai]:

​Anda mengeksploitasi kelemahan biologis monster secara barbar namun taktis.

​Hadiah Diperoleh: +100 Poin Survival.

​Sisa Saldo Poin Anda Saat Ini: 330 Poin.

​Suasana lapangan kembali sunyi, menyisakan suara aliran sungai kecil dan deru napas terengah-engah dari ketiga petualang.

​Gadis penyihir berambut pirang itu menurunkan tongkat kayunya dengan tangan gemetar. Mata birunya menatap Raditya dari ujung kepala sampai ujung kaki—menatap kemeja flanel kotak-kotak, celana kargo dua belas kantong, dan terutama ketapel hitam aneh di tangannya.

​"K-Kau... siapa? Penyihir dari faksi mana yang bertarung mengenakan pakaian bangsawan asing dan menggunakan sihir pelontar kayu?" tanya gadis itu dengan nada bicara yang masih shock namun berusaha formal.

​Raditya membersihkan bilah belatinya dari darah hitam menggunakan selembar daun pakis, lalu menyarungkannya kembali ke paha dengan gerakan seringkas mungkin agar terlihat berwibawa.

​"Perkenalkan, nama saya Raditya. Saya hanya seorang pengembara independen yang kebetulan sedang lewat," Raditya membungkuk hormat dengan sopan ke arah sang gadis, lalu beralih ke dua pria di depannya. "Kalian tidak apa-apa?"

​Dua petualang pria yang bertubuh kekar langsung menyarungkan pedang mereka dan membalas penghormatan itu dengan takzim. "Terima kasih atas bantuan daruratnya, Tuan Raditya! Saya Bob, ini adik saya, Rob. Dan ini Nona Lira, penyihir magang yang menyertai kelompok kami. Jika Anda tidak muncul, kami bertiga sudah menjadi pupuk organik bagi hutan ini."

​"Ah, sebuah kehormatan bisa membantu Anda sekalian, Nona Lira, Bro Bob, dan Bro Rob," Raditya tersenyum ramah tamah standar pramuniaga supermarket Bumi. "Nah, karena urusan keselamatan nyawa sudah aman, sekarang mari kita bicarakan sedikit urusan administrasi pasca-penyelamatan."

​Ketiga petualang itu saling pandang dengan dahi berkerut. "Administrasi...?"

​Ding!

​[Sistem v3.0 Membuka Menu Transaksi Lokal]:

​Rekomendasi Tarif Penyelamatan Darurat: Berdasarkan standar kapitalisme grosir, tarif nyawa per kepala untuk petualang pemula adalah 15 Koin Perak. Total tagihan untuk 3 orang: 45 Koin Perak.

​Catatan Sarkas: Sopan santun di awal sangat bagus untuk menaikkan harga jual. Sekarang, saatnya memeras kantong mereka demi kemakmuran warung Anda. Jangan beri diskon hanya karena senyuman Nona Lira.

​Raditya mendehem kecil, memunculkan selembar daun pakis kosong dan sebatang arang kecil dari kantongnya seolah-olah itu adalah nota kontan. "Sesuai regulasi Asosiasi Warung Lintas Dimensi, terdapat biaya komisi operasional untuk intervensi taktis darurat sebesar lima belas koin perak per kepala. Jadi totalnya empat puluh lima koin perak. Bisa dibayar tunai, atau kalau tidak ada, jaminan barang berharga juga boleh."

​Mendengar kata "empat puluh lima koin perak", wajah Bob dan Rob langsung pucat pasi.

​"E-Empat puluh lima?!" Bob menggeledah kantong kulit di pinggangnya dengan panik dan hanya mengeluarkan segenggam koin perak kecil yang kusam. "Tuan Raditya, kami ini cuma petualang kelas bawah yang sedang mencari tanaman obat. Seluruh modal kami yang terkumpul di kantong ini hanya ada tiga puluh koin perak!"

​"Hanya tiga puluh?" Raditya pura-pura mendesah kecewa, membuat ekspresi wajah seolah-olah dia adalah pihak yang paling dirugikan di dunia. "Aduh, Bro. Tiga puluh koin perak bahkan gak cukup buat ganti modal peluru jamur batu impor saya yang langka ini."

​Nona Lira maju selangkah dengan wajah cemberut. "Jangan memeras kami, Tuan Pengembara! Kami benar-benar tidak punya uang lagi! Lagipula, kau ini penyelamat sopan atau perampok berbaju kotak-kotak sih?!"

​"Hei, Nona, ini namanya bisnis logistik keselamatan. Sopan santun tetap nomor satu, tapi profesionalisme nomor nol," sahut Raditya santai tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Tapi tenang, sebagai Manajer Grosir yang berhati emas, saya punya solusi skema pembayaran alternatif."

​Raditya menunjuk ke arah tas selempang linen besar yang digendong oleh Bob. "Apa isi tas besar itu? Kalau ada bahan makanan mentah, bumbu-bumbuan kuno, atau biji-bijian aneh, saya bersedia menerima itu sebagai pelunas sisa lima belas koin perak kalian."

​Bob buru-buru membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa ikat akar tanaman berwarna merah tua dan sebotol kecil cairan kental sewarna madu hitam. "Ini... ini adalah Akar Jahe Bara (Level 10) dan Madu Sengat Ratu. Kami mencarinya sejak pagi untuk dijual ke kota. Apakah ini cukup?"

​Ding!

​[Pindai Bahan Baku Sukses v3.0]:

​Akar Jahe Bara: Memiliki tingkat kepedasan termal 150%. Sangat cocok untuk komponen wedang ronde magis atau bumbu penyedap soto level dewa.

​Madu Sengat Ratu: Mengandung glukosa murni berkonsentrasi tinggi dengan efek pemulihan mana instan.

​Nilai Konversi Sistem: Setara dengan 25 Koin Perak! Anda untung 10 Koin Perak dari skema barter ini.

​Mata Raditya berbinar, tapi dia menahan diri agar tidak tertawa lepas. Dia mengambil koin perak dan bahan-bahan obat tersebut dengan gerakan tangan yang sangat cepat, langsung memasukkannya ke dalam Gudang Grosir Sistem.

​"Oke, karena kalian punya iktikad baik, saya anggap lunas! Transaksi sukses, selamat atas kelangsungan hidup kalian," ujar Raditya sambil menjabat tangan Bob dengan erat.

​Ding!

​[Notifikasi Sukses]: Anda berhasil melakukan transaksi komersial pertama dengan penduduk asli Aethelgard! Hubungan faksi dengan 'Greenwood Pemula' meningkat menjadi: [Pedagang Licik yang Berguna].

​Bob mengusap dadanya lega, meskipun merasa agak sedih karena hasil jerih payahnya seharian ini harus berpindah tangan. "Terima kasih, Tuan Raditya. Tapi... kalau boleh tahu, ke mana tujuan Anda selanjutnya dengan pakaian bersih seperti ini? Hutan bagian bawah sangat berbahaya jika Anda sendirian."

​"Saya mau mencari tempat pemukiman terdekat untuk membuka cabang usaha dagang saya," jawab Raditya jujur.

​Nona Lira menunjuk ke arah jalur setapak di belakang mereka yang sejajar dengan aliran sungai. "Jika kau mencari pemukiman, ikuti saja sungai ini selama satu jam. Di sana ada Kota Benteng Oakhaven, pusat perdagangan terbesar di sektor selatan ini. Kami juga berencana kembali ke sana."

​"Oakhaven? Sempurna," Raditya membetulkan posisi tali ketapelnya, matanya menatap tajam ke arah jalur yang ditunjukkan Lira.

​Sebuah kota benteng penuh dengan manusia, petualang, dan pedagang. Bagi Raditya yang baru saja meng-upgrade sistemnya ke versi Grosir v3.0, kota itu bukan sekadar tempat bernaung, melainkan pasar raksasa yang siap dia jajah dengan produk sachet dan kuliner ekstrem Bumi.

​"Mari kita berangkat bersama, Teman-teman. Anggap saja ini fasilitas pengawalan gratis dari saya untuk sisa perjalanan," ajak Raditya dengan seringai penuh rencana kapitalis di wajahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!